
Zhang Fei mengangguk. Sedikit demi sedikit, akhirnya dia mulai paham dengan apa yang telah terjadi di Partai Pengemis.
Setelah terdiam beberapa waktu, Pengemis Tongkat Sakti kembali melanjutkan ceritanya.
"Singkatnya, aku mulai bertarung melawan orang tersebut. Pertarungan kami berjalan dengan sengit. Ternyata orang itu mempunyai kemampuan yang sangat tinggi. Bahkan jurus-jurusnya juga terhitung aneh. Selama mengembara dalam dunia persilatan, rasanya aku baru melihat jurus seperti itu,"
Pengemis Tongkat Sakti masih ingat dengan jelas bagaimana jalannya pertarungan tersebut. Dan sampai saat ini, ia masih dibuat penasaran oleh jurus yang digunakan lawan.
Jurus orang itu aneh. Gerakan-gerakannya juga sulit ditebak ke mana arahnya.
"Tapi, Tuan Bai tetap bisa mengimbanginya, bukan?" tanya Zhang Fei.
"Sebetulnya masih, Ketua Fei. Kalau tidak salah, pertarungan tersebut berjalan hingga lebih dari seratus jurus. Tetapi tidak lama setelah itu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh satu kejadian,"
"Kejadian apa?"
"Kejadian tentang munculnya dua orang lain. Kedua orang itu melesat sangat cepat dari sisi kanan dan kiri. Begitu tiba di tengah arena, kedua orang itu langsung menyerangku dengan jurus-jurus yang tidak kalah hebat dan aneh,"
"Pada saat kejadian, kebetulan aku datang ke sana seorang diri. Jadi, tidak ada satu pun yang membantuku. Aku diserang oleh tiga musuh tangguh sekaligus. Posisiku saat itu semakin terancam. Mereka terus menggempur dengan tiga macam jurus dahsyat dan berbeda, jika melakukan sedikit kesalahan saja, aku yakin nyawa yang akan menjadi taruhannya,"
Tokoh dari Partai Pengemis itu mengepalkan kedua lengannya cukup kencang. Kalau ia sudah teringat akan pertarungan tersebut, pasti otot-otot di punggung lengannya akan langsung terhilar jelas. Amarahnya juga seketika meluap-luap.
Setinggi dan sehebat apapun seorang pendekar, kalau dia dikeroyok oleh beberapa orang dengan kemampuan yang hampir setara, niscaya pendekar itu akan merasa kewalahan.
Bagaimanapun juga, para pendekar itu adalah manusia yang masih mempunyai kekurangan dan kelemahan masing-masing.
Tidak terkecuali dengan Pengemis Tongkat Sakti sendiri.
Setelah kemunculan dua orang itu, ia langsung berada di bawah angin. Posisinya semakin terpojok. Apalagi ketiga orang musuhnya tidak pernah berhenti menyerang.
"Aku sudah berusaha dan mempertahankan diri semaksimal mungkin. Sayang sekali, semua usahaku gagal. Dan selanjutnya, Ketua Fei bisa melihat sendiri,"
Orang tua itu langsung memandangi seluruh tubuhnya yang kini sudah jauh berbeda. Setelah selesai bercerita, Pengemis Tongkat Sakti segera terlihat berduka.
Ia merasa miris dengan nasib yang dialaminya saat ini. Tokoh tua tersebut merasa kasihan terhadap dirinya sendiri.
"Tuan Bai, kalau boleh tahu, bagaimana ciri-ciri kedua orang tersebut?" tanya Zhang Fei setelah Pengemis Tongkat Sakti selesai bercerita.
"Kedua orang itu mempunyai ciri-ciri yang sama seperti orang pertama, Ketua Fei. Namun yang membuatku kaget, ternyata ketiga orang itu mempunyai jurus yang saling menyempurnakan satu sama lain. Sehingga jurus-jurus yang tadinya kurang hebat, tiba-tiba menjadi dahsyat setelah kehadiran mereka berdua," jawab Pengemis Tongkat Sakti.
Ketua Dunia Persilatan mengangguk beberapa kali. Dari cerita orang tua tersebut, dia sudah bisa menduga bahwa ketiga tokoh sesat itu pasti mempunyai hubungan satu sama lainnya.
Entah itu hubungan darah, hubungan antar jurus silat, ataupun hubungan yang lainnya.
"Jadi, semenjak pertarungan di tepi danau itulah, Tuan Bai menjadi seperti ini?"
"Ya, begitulah, Ketua Fei," jawabnya membenarkan. "Setelah mereka berhasil mengalahkanku, satu orang di antaranya langsung menjejalkan sebutir pil ke mulutku. Pil itu sepertinya mengandung racun tingkah tinggi yang bekerja secara lambat,"
"Setelah menelan pil itu, apa saja yang Tuan Bai rasakan?"
"Yang jelas, aku tidak bisa lagi menggunakan tenaga dalam dan tenaga saktiku. Ketika memaksa untuk melakukannya, aku pasti akan merasa sakit yang sulit untuk dibayangkan,"
"Hemm ... bolehkah aku memeriksamu, Tuan Bai?"
"Silahkan, Ketua Fei,"
Setelah mendapat persetujuan, Zhang Fei pun langsung melakukan pemeriksaan ke beberapa titik penting di tubuhnya.
Sepuluh menit kemudian, dia pun sudah selesai memeriksa tubuh Pengemis Tongkat Sakti. Orang tua itu segera bertanya, "Bagaimana, Ketua Fei?"
"Sulit ... sangat sulit sekali, Tuan Bai," jawab Zhang Fei dengan nada sedih. "Rasanya, aku tidak bisa akan mampu menyembuhkan luka-lukamu itu. Walaupun dengan kemampuanku saat ini, aku tetap tidak akan bisa melakukannya,"
Zhang Fei menghembuskan nafas berat. Begitu juga dengan orang tua itu.
Dalam hal ini, ia benar-benar merasa menyesal. Meskipun pengetahuannya tentang ilmu pengobatan dan racun sudah terbilang tinggi, namun Zhang Fei tetap tidak bisa berbuat apa-apa.
Luka dalam yang mengeram itu tidak bisa disembuhkan dengan mudah. Walaupun ia mengerahkan tenaga dalam sampai maksimal, hasilnya pasti akan sia-sia.
"Racun yang kau derita itu tidak bisa disembuhkan dengan pil atau pengobatan apapun juga. Kau baru akan sembuh setelah mendapatkan obat penawarnya," kata Zhang Fei menjelaskan lebih lanjut.
"Ya, aku tahu itu, Ketua Fei. Karenanya selama ini, aku tidak pernah melakukan banyak hal yang sia-sia. Jujur saja, aku juga tidak memiliki banyak harapan untuk bisa sembuh seperti sedia kala,"
Pengemis Tongkat Sakti menyadari betul akan keadaannya. Maka dari itulah, dia tidak pernah berharap lebih.
"Kau tenang saja, Tuan Bai, aku pasti akan membantumu," ucap Zhang Fei sambil tersenyum mengangguk.
"Terimakasih, Ketua Fei,"
Dua orang tokoh dunia persilatan itu meneruskan pembahasannya. Beberapa saat kemudian, Yao Mei dan Yin Yin dipersilahkan masuk kembali.
Malam itu, empat tokoh tersebut berbicara banyak hal terkait masalah yang terjadi di kota. Mereka pun telah berniat untuk langsung pergi menyambangi markas dari orang-orang yang telah merusak nama baik Partai Pengemis.
"Ketua Fei, apakah kau yakin akan langsung menyerang ke sana?" tanya Pengemis Tongkat Sakti menegaskan.
"Aku sangat yakin, Tuan Bai," katanya menjawab tegas.
"Tapi ... sampai sekarang kita masih belum tahu di mana markas mereka. Kita pun tidak tahu sampai di mana kekuatannya,"
"Jangan khawatirkan soal ini, Tuan Bai. Aku sudah mengurus semuanya,"
Pembicaraan mereka selesai saat tengah malam tiba. Zhang Fei dan yang lainnya kemudian keluar dari ruangan Pengemis Tongkat Sakti.
Mereka segera pergi ke kamarnya masing-masing. Tetapi sebelum Zhang Fei masuk kamar, mendadak pundaknya ditepuk oleh orang.
Ketika dilihat, ternyata orang itu adalah Yin Yin.
"Zhang Fei ..." kata gadis itu sambil menatapnya dalam-dalam.
"Ada apa? Mengapa kau menghentikanku?"
"Siapa wanita yang datang bersamamu itu?"
"Bukankah kau sendiri sudah tahu? Mengapa masih bertanya lagi?"
Tidak mau kalah darinya, Zhang Fei pun segera membalas tatapan tersebut.
"Maksudku bukan namanya. Tapi ... ada hubungan apa antara kau dan Yao Mei?"
"Tidak ada hubungan apa-apa, dia hanya temanku," jawab Zhang Fei secara jujur.