
Zhang Fei yakin bahwa pengemis tua itu adalah orang-orang persilatan. Ia beranggapan demikian karena dirinya bisa melihat ketenangan dan keyakinan dalam diri si pengemis tua.
Ia pun bisa dengan jelas menyaksikan bahwa kedua bola mata orang tua itu hitam bening. Di satu sisi lain, Zhang Fei juga merasakan ada tekanan wibawa yang terpancar keluar dari dalam tubuhnya.
Atas semua alasan itu, terpaksa dia pun duduk kembali di tempatnya.
Sementara itu, pengemis tua tadi segera memesan makanan.
"Aku ingin satu bungkus nasi," katanya kepada pemilik warung.
Sambil berkata demikian, pengemis tua itu juga memberikan beberapa keping uang perak.
"Baiklah, tunggu sebentar, Tuan," jawab pemilik warung segera melayani pesanannya.
Beberapa saat kemudian, pesanan si pengemis tua telah selesai dibuat. Pemilik warung makan langsung memberikannya.
"Terimakasih," ucapnya.
Ia kemudian berjalan keluar dari warung makan itu.
Sepanjang kejadian tersebut, Zhang Fei terus memperhatikan gerak-gerik si pengemis tua.
Begitu melihat 'target'nya keluar, ia pun segera mengikutinya.
Pengemis tua itu berjalan di tengah suasana yang ramai. Kemudian menuju ke jalanan yang sepi. Jauh dari keramaian orang-orang berlalu-lalang.
Zhang Fei terus mengikutinya. Ia tetap mengawasi dalam jarak sekitar dua puluh langkah.
Ketika dirinya tiba di tempat yang benar-benar sepi, mendadak si pengemis tua menghentikan langkahnya.
"Anak muda, apa yang kau inginkan dariku? Kenapa sejak keluar dari warung makan, kau selalu mengikuti aku?" tanya si Pengemis tua dengan suara lantang.
Anak muda itu kaget. Ia tidak menyangka bahwa ternyata si pengemis tua sudah mengetahui dirinya, bahkan sejak dari awal.
Karena kehadirannya telah diketahui, maka tidak ada alasan lain lagi bagi Zhang Fei untuk terus bersembunyi.
Ia segera keluar dari tempat persembunyiannya. Lalu berjalan menghampiri si pengemis tua.
"Sebelumnya maafkan aku, Tuan. Tapi, aku tidak ada maksud jahat apapun juga," ucapnya sambil memberikan hormat.
Pengemis tua itu tidak menjawab. Dia tetap memperhatikan Zhang Fei mulai dari atas sampai bawah.
"Perkenalkan, margaku Zhang, namaku Fei. Aku mempunyai beberapa pertanyaan yang ingin diajukan kepadamu," tukas anak muda itu lebih jauh.
"Hemm, apa yang ingin kau tanyakan kepada si pengemis tua ini?" tanyanya dengan hambar.
"Aku hanya ingin bertanya, apakah di sekitar ini, terdapat markas cabang dari Partai Panji Hitam?"
Zhang Fei tidak mau basa-basi lagi. Karena itulah dia langsung bertanya ke inti persoalannya.
"Kenapa kau menanyakan hal ini?"
Pengemis tua itu mengangkat kedua alisnya. Setelah mengambil nafas, dia kembali mengajukan pertanyaan. "Kalau pun ada, kau mau apa? Kalau tidak ada, apa pula yang akan kau lakukan?"
Nadanya semakin hambar. Seolah-olah dia sudah malas bicara.
Melihat sikap pengemis tua yang bersikap dingin, Zhang Fei sebenarnya merasa tidak enak. Tapi demi mengetahui informasi tentang keberadaan Partai Panji Hitam, terpaksa dia harus menahan dirinya.
"Aku mempunyai sedikit persoalan yang harus segera diselesaikan. Kalau benar di sini ada markas cabang Partai Panji Hitam, maka aku akan segera menuju ke sana," jawab anak muda itu dengan tegas dan penuh keyakinan.
Lagi-lagi, pengemis tua tersebut memandangi Zhang Fei. Kali ini, tatapan matanya sangat tajam. Seolah-olah tatapan mata itu adalah sebilah pisau tajam yang siap menembus jantungnya kapan saja.
"Kau orang persilatan?" tanyanya tiba-tiba.
"Bisa dibilang demikian,"
"Hemm, urungkan saja niatmu itu, anak muda. Kemampuanmu masih belum cukup untuk menandingi orang-orang Partai Panji Hitam," ujarnya seolah merendahkan Zhang Fei.
"Hemm ..."
Pengemis tua itu mendehem. Tiba-tiba, dia melemparkan nasi yang telah dibelinya tadi setinggi mungkin.
Sesaat kemudian, mendadak ia melancarkan serangan dadakan kepada Zhang Fei.
Wutt!!!
Tiga pukulan keras dilayangkan dalam kecepatan kilat. Setiap pukulan itu mengandung tenaga besar. Dengan jarak yang sangat dekat, tentu saja tidak ada waktu lagi bagi Zhang Fei untuk menghindarinya.
Tapi yang terjadi berikutnya, pasti akan membuat siapapun kaget. Bahkan tidak terkecuali si pengemis tua itu sendiri.
Bagaimana tidak, dalam waktu yang sangat sedikit itu, tepat sebelum pukulannya benar-benar mengenai sasaran, mendadak Zhang Fei melakukan sebuah gerakan kilat.
Ia mundur tiga langkah ke belakang dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari serangan lawan.
Entah bagaimana dia melakukan hal itu. Yang jelas, sekarang dia telah selamat dari serangan pengemis tua.
"Hemm, cukup baik," katanya menutupi keterkejutan.
Tidak berhenti sampai di situ saja, kembali si pengemis tua melanjutkan serangannya lagi. Tubuhnya meluncur bagaikan awan. Sekarang serangan yang ia berikan jauh lebih banyak daripada sebelumnya.
Serangkaian pukulan dilancarkan dalam waktu yang bersamaan. Pukulan itu bertambah cepat. Juga bertambah kuat.
Angin tajam terdengar menderu-deru. Pakaian Zhang Fei dan rambut hitamnya bahkan berkibar akibat angin tersebut.
Wutt!!! Wutt!!!
Anak muda itu tidak mau menjadi samsak hidup. Dia pun tidak mau terus menghindar.
Karenanya, dengan cepat dia telah mengambil keputusan.
Zhang Fei segera menangkis semua pukulan si pengemis tua!
Dua tulang yang keras terdengar beradu. Pertarungan langsung terjadi di jalanan sempit itu.
Kedua belah pihak sama-sama terkejut. Sebab mereka merasakan tangannya kesemutan ketika terjadi benturan.
Si pengemis tua tidak menyangka bahwa pemuda asing tersebut ternyata mempunyai ilmu silat yang tinggi. Di satu sisi dia kaget, tapi di sisi lain, dia pun merasa senang.
Ia kembali memberikan serangan lainnya. Kali ini kedua kaki yang kurus kering itu juga ikut bergerak.
Tendangan yang mendatangkan deru angin panas digelar.
Pertarungan berjalan semakin seru. Apalagi setelah Zhang Fei juga turut memberikan serangan balasannya.
Belasan jurus telah berlalu kembali. Pertarungan masih berjalan seimbang.
Si pengemis tua tidak mampu berbuat lebih jauh lagi. Setiap serangan yang dia layangkan, ternyata selalu mampu dihalau oleh si anak muda.
Di sisi lain, Zhang Fei sebenarnya ingin mengeluarkan tenaganya lebih besar lagi. Tapi dengan cepat dia mengurungkan niat tersebut.
Apalagi setelah ia sadar bahwa walaupun si pengemis tua menyerangnya secara tiba-tiba, namun sepertinya dia pun tidak berniat mencelakainya.
Maka dari itu, pertarungan pun semakin berlanjut lagi.
Tapi beberapa jurus kemudian, mendadak si orang tua mengambil langkah mundur. Dengan cepat pula tangan kanannya diangkat ke atas.
Bersamaan dengan gerakan itu, nasi yang tadi dilempar pun, akhirnya jatuh tepat di genggamannya.
"Kemampuan yang bagus. Ternyata kau memang berilmu tinggi. Anak muda, ayo ikut aku," katanya sambil meneruskan langkah.
Zhang Fei tidak menjawab. Tapi dia langsung mengikuti si pengemis tua dari belakangnya.
Walaupun ia tidak tahu ke mana dirinya akan dibawa, tapi anak muda itu yakin bahwa si pengemis tua, pasti akan memberikan informasi sesuai dengan harapannya.