Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Penyesalan Para Petinggi Partai Pengemis


Ketiga pendekar muda itu sudah berada di dalam Kuil Kehidupan. Bahkan mereka pun sudah berpencar dan memeriksa seluruh ruangan kuil.


Sayangnya, tidak ada satu pun yang berhasil menemukan sesuatu berarti.


Kuil Kehidupan telah kosong! Di dalamnya tidak ada apa-apa kecuali hanya barang-barang yang dulunya sering digunakan oleh para biksu yang ada di sana.


Kini, ketiganya sudah kembali berkumpul di ruangan depan. Masing-masing belum ada yang berbicara. Mereka masih belum percaya kalau di kuil itu tidak ada apa-apanya.


"Aku rasa, mereka telah menyembunyikan semuanya," kata Yin Yin memecahkan keheningan di antara mereka.


"Ya, benar. Aku juga berpikir seperti itu," sambung Yao Mei sambil mengangguk. "Menurutku, rasanya sangat mustahil kalau orang-orang itu tidak meninggalkan jejak apapun. Bukankah mereka tidak mengetahui kedatangan kita kemari?"


Penyerangan ke Kuil Kehidupan itu bisa disebut sangat mendadak. Rencana yang disusun pun tidak terlalu rumit seperti rencana penyerangan pada umumnya.


Jadi bisa dipastikan kalau pihak Partai Pengemis Hitam tidak mengetahui sama sekali terkait hal ini.


Zhang Fei masih diam. Sebenarnya dia pun mempunyai pemikiran yang sama dengan kedua gadis cantik di sisinya. Tetapi seperti biasa, dia tidak pernah terburu-buru dalam memikirkan sesuatu.


Sebisa mungkin, Zhang Fei harus berpikir sampai maksimal. Dia pun harus tetap tenang supaya semuanya bisa dilihat dengan jelas.


Lewat beberapa waktu kemudian, mendadak ia berseru. "Ah, aku tahu. Mereka pasti menyembunyikan semuanya di ruang rahasia. Setahuku, setiap perguruan itu mempunyai sebuah ruang rahasia yang biasa digunakan untuk menyimpan sesuatu yang berharga,"


Yao Mei dan Yin Yin saling pandang satu sama lain. Mereka baru ingat akan hal tersebut.


"Benar juga. Tapi ... kira-kira di mana ruang rahasia Kuil Kehidupan ini?" tanya Yin Yin sambil memandangi Zhang Fei.


"Kalian tunggu di sini. Biar aku yang mencarinya,"


Selesai berkata seperti itu, Zhang Fei langsung pergi dari sana. Dia kembali masuk ke bagian dalam dan mencari ruangan yang diduga terdapat ruang rahasianya.


Pertama-tama ia masuk lebih dulu ke ruangan utama di Ketua. Setelah mencari beberapa saat, akhirnya Zhang Fei berhasil menemukan ruang rahasia itu.


Ruangan yang ia cari ternyata terletak di bawah meja. Begitu pintu terbuka, Zhang Fei langsung masuk ke sebuah ruangan bawah tanah.


Ukurannya tidak terlalu lebar. Di sana pun terdapat cukup banyak barang-barang berharga seperti keping emas dan sebagainya.


Zhang Fei membawa sebaguan keping emas itu untuk bekal di perjalanannya. Kemudian dia mencari obat penawar dari racun yang diderita oleh si Pengemis Tongkat Sakti.


Sayangnya, usaha mencari obat penawar itu tidak membuahkan hasil. Zhang Fei tidak bisa menemukan sesuatu yang dicarinya.


Sadar bahwa usaha itu akan sia-sia, dengan segera ia pergi dari sana. Setelah berhasil keluar, Zhang Fei kembali menuju ke ruangan yang lain.


Beberapa saat berikutnya, dia sudah berada di ruangan yang biasa digunakan untuk beribadah.


Ketua Dunia Persilatan itu kembali mencari tombol atau benda mencurigakan yang memungkinkan membawanya ke ruang rahasia. Setelah mencari-cari, akhirnya dia kembali menemukannya.


Zhang Fei menggeserkan sebuah patung Buddha yang ukurannya tidak terlalu besar. Setelah patung itu menggeser, ruangan tersebut bergetar cukup hebat. Seolah-olah di sana telah terjadi gempa bumi.


Selanjutnya, lantai yang ia pijak tiba-tiba menggeser ke sisi kanan dan kiri. Disusul kemudian dengan terlihat anak tangga yang menuju ke bawah.


"Ternyata di sini tempatnya," gumam Zhang Fei sambil tersenyum sinis.


Ia lalu masuk ke dalam sana. Tidak lama kemudian, Zhang Fei melihat ada sebuah pintu besi yang digembok.


Untuk menghancurkan gembok tersebut, buru-buru dia mengeluarkan Pedang Raja Dewa dari sarungnya.


Wutt!!!


Pedang itu diayunkan. Benturan terjadi, gembok pun langsung terbuka setelah ditebas oleh pedang pusaka yang sangat tajam tersebut.


Kondisi belasan orang tua itu seperti warga yang kelaparan. Tubuh mereka kurus kering. Wajahnya juga sangat kusut sekali.


"Ah, jadi Tuan-tuan ada di sini," kata Zhang Fei menyapa mereka dengan sopan.


Walaupun baru pertama kali melihatnya, namun Zhang Fei sudah tahu betul siapakah orang-orang itu.


Kalau mereka bukan para petinggi Partai Pengemis yang dikabarkan hilang tanpa jejak, memangnya siapa lagi?


Seorang di antara mereka segera tersenyum girang saat melihat kedatangan Zhang Fei. Wajah yang tadinya kusut dan terlihat sangat murung itu, tiba-tiba berubah menjadi secara.


"Salam hormat untuk Ketua Fei," katanya sambil membungkukkan badan.


Orang-orang di belakangnya segera memperlihatkan ekspresi yang sama. Mereka pun ikut memberikan hormat kepada Zhang Fei.


"Terimakasih, Tuan. Ayo cepat, keluarlah dari tempat ini," ucap Zhang Fei sambil memberi isyarat dengan tangannya.


Orang tua tadi mengangguk. Dia langsung mengajak yang lain untuk segera keluar.


Setelah belasan petinggi itu keluar dari ruang rahasia, Zhang Fei segera membawa mereka kembali ke ruang tengah di mana Yao Mei dan Yin Yin berada.


Kedua gadis cantik itu kaget bercampur girang setelah Zhang Fei berhasil menemukan hasil yang sesuai harapan.


"Akhirnya kau berhasil menemukan mereka," ucap Yao Mei tertawa bahagia.


Zhang Fei hanya menjawab dengan senyuman hangat. Ia kemudian berdiri di antara keduanya.


Sementara itu, saat ini belasan petinggi Partai Pengemis tadi sudah berdiri di hadapan tiga pendekar muda.


Di antara mereka tidak ada yang berani memandang Zhang Fei dan dua gadis di sisinya. Semuanya menundukkan kepala dalam-dalam.


Batin mereka merasa sangat bersalah. Terutama sekali kepada Yin Yin selalu Ketua Partai Pengemis saat ini.


"Ketua Yin, maafkan kami. Kami mengaku bersalah karena telah termakan omongan dan hasutan busuk dari pihak musuh," kata seorang tua tiba-tiba berbicara dengan tegas.


Dia langsung berlutut di hadapannya. Yang lain pun segera melakukan hal serupa.


"Ya, kami merasa bersalah, Ketua Yin," kata yang lainnya secara bersamaan.


Yin Yin masih diam. Dia memandangi mereka dengan tatapan tajam.


"Kami tahu bahwa Ketua Yin merasa kecewa dan bersalah kepada kami. Maka dari itu ... kami siap untuk dihukum seberat-beratnya,"


"Ya, benar, Ketua Yin. Kami siap menerima hukuman,"


Belasan orang tua itu berkata dengan serius. Mereka sangat menyesal dengan apa yang telah dilakukannya.


Sampai sejauh ini, Yin Yin masih menutup mulut. Dia tidak memberikan jawaban apapun.


"Yin Yin, maafkanlah mereka. Aku lihat, mereka tidak main-main," ucap Zhang Fei sambil berjalan mendekat.


Gadis cantik itu kemudian menoleh ke arah Zhang Fei. Ia seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.


"Baiklah, berdiri kalian!" katanya dengan tegas.


Belasan petinggi tadi langsung berdiri. Namun mereka tetap tidak berani mengangkat wajahnya.


"Walaupun kesalahan kalian tidak bisa dianggap sepele, tetapi karena demi memandang Ketua Dunia Persilatan, maka aku akan memaafkan kalian. Tapi ingat, hal ini hanya berlaku untuk kali ini saja. Jika di kemudian hari, kalian melakukan kesalahan yang sama, maka jangan salahkan jika nyawa yang menjadi taruhannya," ucap Yin Yin dengan tegas.