
Semua orang yang menyaksikannya langsung bergidik ngeri. Tidak bisa dipungkiri lagi, jurus yang dikeluarkan oleh Pendekar Pedang Perpisahan barusan memang sangat keji dan dan telengas.
Selain daripada hal tersebut, jurus itu juga sangat cepat. Yang mampu menyaksikannya secara jelas mungkin hanya tokoh-tokoh kelas atas saja.
Di bawah tingkatan itu, jangan harap dia mampu melihat bagaimana dia bergerak.
"Ketua Fei, lihatlah ke sana," datuk sesat itu menoleh ke arah pertarungan antara Biksu Bian Ji Hung dan juga Raja Telapak Hitam.
Zhang Fei juga segera melihat, rupanya di sana, Biksu Hung tampak terdesak hebat oleh lawannya.
Sudah beberapa kali dia terkena jurus lawan yang memberikan rasa sakit dan perih di tubuhnya. Wajah biksu tua itu juga mulai pucat. Gerakannya pun mulai melambat. Tidak selincah dan secepat sebelumnya.
Semua hal tersebut bisa dilihat dengan jelas oleh Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan. Keduanya juga merasa khawatir akan keselamatan biksu tua tersebut.
"Ketua Fei, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya sambil menoleh kepada Zhang Fei.
"Tentu saja kita harus membantunya, Tuan Wu,"
"Apakah kita akan mengeroyoknya?"
"Ya, sepertinya memang itu yang harus kita lakukan,"
"Hemm ... apakah hal ini tidak akan menjatuhkan harga dirimu di mata orang banyak?"
Pendekar Pedang Perpisahan takut nama Zhang Fei akan dipandang rendah. Apalagi dengan kedudukannya yang sekarang, tentu hal itu akan sangat berbahaya bagi dirinya.
"Kau tenang saja, Tuan Wu. Sekarang adalah pengecualian," jawab Zhang Fei dengan tegas.
Dalam hati, Zhang Fei lebih baik dipandang rendah oleh orang luar daripada harus diam saja saat melihat salah satu tokoh aliran putih berada dalam posisi terdesak hebat.
Tidak, dia tidak akan pernah tinggal diam!
"Ketua Fei, apakah kau sungguh-sungguh?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan kembali memastikan.
"Aku tidak main-main, Tuan Wu,"
Pendekar Pedang Perpisahan terdiam sejenak. Yang dia khawatirkan dalam hal ini hanyalah nama baik Zhang Fei. Terkait nama baik dirinya sendiri, dia tidak pernah memikirkan hal tersebut.
Apalagi selama ini dia dikenal sebagai Datuk Dunia Persilatan aliran sesat. Masalah harga diri dan embel-embel lainnya, orang-orang seperti mereka tidak pernah mempermasalahkannya.
"Baiklah, Ketua Fei. Kalau memang itu keputusanmu, aku akan menurut saja,"
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Pendekar Pedang Perpisahan pun mengambil keputusan.
Dia setuju untuk mengeroyok Raja Telapak Hitam!
Wushh!!! Wushh!!!
Mereka berdua langsung menerjang ke depan secara bersamaan. Dua orang itu segera menebaskan pedangnya di tengah udara hampa.
Kelebatan dua batang pedang pusaka berkilat di tengah udara. Cahaya putih keperakan berkilau ditempa sinar matahari sore.
Melihat adanya serangan yang datang secara tiba-tiba itu, Raja Telapak Hitam tersentak kaget setengah mati.
Dia yang pada saat itu sedang menggempur Biksu Bian Ji Hung, terpaksa harus menarik kembali serangannya supaya tidak termakan pedang lawan.
Hanya satu kali kakinya menjejak tanah, datuk sesat itu telah mundur sejauh tujuh langkah.
"Biksu Hung, kau baik-baik saja?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan.
"Ya, aku baik-baik saja, Tuan Wu. Terimakasih atas bantuannya,"
Pendekar Pedang Perpisahan mengangguk. Dia segera diam dan tidak banyak bicara lagi.
Sementara Raja Telapak Hitam, saat ini dirinya sedang menatap ke arah mereka bertiga. Dari pancaran mata tokoh sesat itu, siapa pun bisa tahu bahwa sekarang dia sedang merasakan amarah yang luar biasa.
"Rupanya kalian tidak punya rasa malu," katanya dengan nada sengit. "Aku tidak menyangka, ternyata pendekar aliran putih pun ada yang berani melakukan pengeroyokan,"
"Lalu, mengapa kau mau melakukannya?" si Raja Telapak Hitam bertanya dengan cepat. Sepertinya dia sudah tidak sabar.
"Aku terpaksa melakukan ini,"
"Terpaksa? Mengapa bisa terpaksa?"
"Terpaksa karena manusia iblis sepertimu, tidak pantas hidup lebih lama di atas muka bumi ini," ujar Zhang Fei sambil tersenyum dingin.
"Hahaha ... omong kosong, kau pikir dirimu siapa? Apakah kau merasa Malaika?" tokoh sesat itu tertawa sinis. Sepasang matanya memicing ke arah Zhang Fei.
"Aku memang bukan malaikat. Tapi, setidaknya aku bukan manusia iblis seperti dirimu,"
"Kurang ajar! Terima ini!"
Wutt!!!
Raja Telapak Hitam tiba-tiba mendorong kedua telapak tangannya. Gulungan angin yang datang dengan cepat, sangat mirip seperti ombak di lepas pantai.
Angin tersebut membawa bau busuk yang menyengat. Selain itu, hawa sesat juga terasa dengan jelas.
"Hati-hati, jurus itu mengandung racun," ucap Pendekar Pedang Perpisahan memberi peringatan.
Zhang Fei mengangguk. Tidak diberi tahu pun dia sudah memahami hal ini.
Wushh!!!
Ia melompat ke atas. Begitu jurus jarak jauh tadi hampir tiba, pada saat itulah Zhang Fei menurunkan tangan.
"Telapak Dewa Kebijaksanaan!"
Wutt!!! Blamm!!!
Ledakan langsung terjadi ketika dua jurus jarak jauh kelas atas bertemu di tengah jalan. Kedua orang tokoh yang terlibat terpukul mundur ke belakang.
Dalam hal ini, Zhang Fei masih sedikit kalah dari pihak lawan. Setidaknya ia terdorong dua langkah lebih jauh.
"Giliranku!"
Pendekar Pedang Perpisahan berteriak nyaring. Sesaat kemudian tahu-tahu tubuhnya sudah berada di depan mata. Si Raja Telapak Hitam kaget, buru-buru ia menarik tubuhnya ke pinggir supaya terhindar dari tusukan pedang lawan.
Setelah itu, dia langsung menangkis batang pedang menggunakan telapak tangannya. Disusul kemudian dengan mementalkan pedang tersebut, lalu melancarkan pula serangan balasan.
Dua tokoh sesat segera terlibat dalam pertarungan sengit. Bayangan pedang terus berkilat di tengah udara. Sepasang telapak tangan juga bergerak begitu cepat bagaikan kilat.
Pertarungan itu seolah-olah mirip seperti pertarungan antara satu ekor naga dan dua ekor rajawali.
Naga melambangkan Pendekar Pedang Perpisahan yang menyerang dengan ganas dan telengas. Dia tidak pernah basa-basi dalam setiap serangannya.
Sedangkan dua ekor rajawali itu melambangkan sepasang tangan Raja Telapak Hitam yang begitu lincah dan cepat. Walaupun sejak tadi seluruh tubuhnya mendapat ancaman dari pedang pusaka, tetapi sepasang telapak tangannya selau mampu memberikan bantuan.
Dia tidak takut apabila terjadi benturan. Sebab sepasang telapak tangannya sudah dilapisi oleh hawa murni kelas atas.
Wutt!!! Wutt!!!
Dia mulai memberikan serangan balasannya kembali. Sepasang telapak tangan itu meluncur tepat ke dada.
Pendekar Pedang Perpisahan menarik mundur tubuhnya. Satu buah telapak tangan berhasil dia hindari.
Sayangnya, dia lupa bahwa di samping itu masih ada satu telapak tangan lain yang sama berbahayanya.
Blamm!!!
Telapak tangan kiri berhasil mengenai tulang rusuk sebelah kanan. Pendekar Pedang Perpisahan terbanting keras. Untunglah dia telah melindungi tubuhnya lebih dulu, sehingga tulang-tulang rusuknya masih bisa diselamatkan.
Tetapi di sisi lain, tak urung juga dia mengalami luka dalam akibat serangan barusan. Pendekar Pedang Perpisahan merasa ulu hatinya sakit seperti ditusuk oleh seribu jarum.