Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Menjalankan Rencana


"Tapi, di mana letak kamar Hartawan Wang?" tanya Mo Bian kemudian.


Tujuan mereka adalah untuk membunuh Hartawan Wang. Hal utama yang harus mereka tahu, tentu saja adalah di mana letak kamar ataupun ruang pribadi miliknya.


Hal ini sangat penting. Sehingga mereka harus tahu sejak awal sebelum benar-benar memulai langkahnya.


Kalau hanya mengetahui di mana sudut yang kurang penjagaan, tanpa tahu di mana Hartawan Wang berada, untuk apa?


Bukankah hal itu sama dengan kebodohan?


Kediaman orang itu sangat besar sekali. Sehingga ruangan yang terdapat di dalamnya juga pasti sangat banyak. Maka dari itulah, Mo Bian ingin mengetahuinya secara pasti supaya mereka tidak salah dalam mengambil tindakan.


Di satu sisi, hal ini pun bisa menghemat waktu. Sehingga mereka bisa melakukan hal-hal yang lainnya.


"Untuk kamarnya, kalau tidak salah, ada di pojok sebelah barat. Di sana ada sebuah ruangan besar yang dijaga ketat oleh enam orang penjaga. Itu adalah kamar utama Hartawan Wang," kata Lien Hua memberi tahu.


Zhang Fei menganggukkan kepalanya. Meskipun dia tidak tahu apakah rencananya ini bisa berjalan lancar atau tidak, yang jelas ia sudah mempunyai tekad kuat.


Dia yakin, dirinya bisa menghadapi musuh-musuh yang nantinya bakal ditemui. Apalagi, sekarang dia sudah menguasai jurus dari Kitab Pedang Dewa.


Walaupun Zhang Fei belum menguasai semua jurus, tapi jurus-jurus yang ada saja rasanya sudah lebih daripada cukup untuk menghadapi orang-orangnya Hartawan Wang.


Karena itulah dia mempunyai rasa percaya diri dalam rencana ini.


"Baiklah, bagaimana pendapat kalian, Paman? Apakah kalian mau bekerja sama denganku?" tanya Zhang Fei setelah beberapa waktu kemudian.


Tiga orang tua itu saling pandang satu sama lain. Mereka cukup lama menutup mulut. Hanya matanya saja yang terus bergerak-gerak.


Ketiganya tahu, ini bukan pekerjaan yang mudah. Malah pekerjaan yang penuh dengan resiko besar. Sedikit melakukan kesalahan, nyawa menjadi taruhan.


Maka dari itu, mereka tidak mau mengambil keputusan sebelum ada jawaban dari benaknya yang paling dalam.


Lama sekali suasana di ruang belakang itu hening. Tidak ada yang bicara sampai matahari berada tepat di atas kepala.


"Karena sudah terlanjur ke sini, maka baiklah. Aku setuju bekerja sama denganmu, saudara kecil,"


Yang memecahkan keheningan adalah Mo Bian. Ia berkata sebelum kedua sahabatnya.


Entah kenapa, dia merasakan hal yang sama seperti Lien Hua. Dia merasa yakin terhadap pemuda di hadapannya itu.


Entah kenapa. Sebab dia sendiri tidak tahu alasan pastinya.


"Baik, aku juga setuju,"


"Aku ikut,"


Dua orang sahabatnya berkata secara bergantian.


Zhang Fei tersenyum hangat. Dia sangat bersyukur karena ketiga orang tua itu mau bekerja sama dengannya.


"Kalau begitu, kita akan memulai rencana ini nanti malam,"


"Apakah aku juga harus ikut?" tanya Lien Hua setelah semua orang setuju.


"Kalau Nyonya tidak keberatan, boleh saja," jawab anak muda itu.


"Tentu saja tidak. Apalagi dia sudah hampir membuat murid kesayanganku tewas," katanya dengan semangat yang membara.


"Hemm, baiklah kalau begitu. Nanti malam, kita berlima akan bergerak,"


"Baik,"


Lima orang itu segera beristirahat setelah keputusan diambil. Ruang belakang yang tadi ramai, sekarang jadi sepi hening.


###


Malam hari sudah tiba lagi. Lima orang yang siang tadi melakukan rencana, sekarang sudah siap sepenuhnya.


Kelima orang itu saat ini berada di halaman depan perguruan. Mereka mengenakan cadar penutup wajah.


"Tapi ..."


"Jangan khawatir. Kami percaya kepadamu, saudara kecil," ucap Tung Pek tersenyum.


"Hahh ..., baiklah,"


Zhang Fei menghela nafas panjang tanpa bisa melakukan penolakan lagi.


Malam semakin larut. Saat ini sudah tengah malam. Suasana di Perguruan Teratai Putih mulai sepi. Puluhan murid sudah tidur dengan lelap.


Cuaca malam ini terang bulan. Sehingga memudahkan rencana mereka untuk membunuh Hartawan Wang yang dikenal dengan sifat binatangnya itu.


"Mari kita berangkat," kata Zhang Fei.


Empat orang tua di sisinya mengangguk. Mereka kemudian berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya masing-masing.


Jarak dari Perguruan Teratai Putih ke rumah kediaman Hartawan Wang ternyata tidak begitu jauh. Mungkin hanya memerlukan waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di sana.


Dengan kepandaian yang sudah dimiliki oleh orang-orang itu, tentu saja jarak tersebut bukanlah suatu persoalan yang serius.


Karena ditempuh dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, maka hanya dalam waktu sepuluh menit saja, Zhang Fei dan yang lain sudah tiba di sekitar kediaman Hartawan Wang.


Ternyata kediamannya itu persis berada di tengah kota. Suasana di sana masih ramai. Meskipun waktu sudah tengah malam, tapi masih ada banyak orang-orang yang berlalu-lalang.


Kehidupan malam hari di Kota Sichuan ini terasa megah. Ada banyak lampion yang menyala terang. Ada banyak pula pertokoan buka yang dipenuhi oleh pelanggannya masing-masing.


Kehidupan malam dan kehidupan siang di kota itu ternyata sangat jauh berbeda. Sangat bertolakbelakang.


Zhang Fei yang menyaksikannya merasa sangat miris. Tapi ia sadar, dirinya tidak bisa apa-apa. Kecuali hanya menghela nafas berat.


"Itu adalah kediaman Hartawan Wang," kata Lien Hua sambil menunjuk ke depan sana.


Mereka segera menatap ke depan sana. Persis ke tempat yang dimaksud oleh Lien Hua.


Ternyata apa yang dikatakan oleh wanita tua itu memang tidak salah. Rumah kediaman Hartawan Wang memang sangat besar. Sama besarnya dengan istana kerajaan kecil.


Zhang Fei sendiri sampai berdiri mematung. Ia tidak bisa berkata apa-apa kecuali hanya menatap kosong.


Di tengah kemiskinan yang sedang merajalela, di tengah penderitaan rakyat yang terus bertambah, kenapa masih ada orang setega Hartawan Wang? Apakah dia tidak punya hati nurani?


Kenapa dia hanya mementingkan diri sendiri, tanpa pernah memikirkan orang lain?


Zhang Fei tidak habis pikir dengan semua itu.


Mendadak benaknya bertanya-tanya. Apakah di dunia ini, ada banyak orang seperti Hartawan Wang? Kalau pun ada, berapa jumlahnya? Lalu, mau sampai kapan mereka seperti itu?


"Tuan Muda, apa yang kau pikirkan?" tanya Lien Hua setelah beberapa saat kemudian.


Anak muda itu terkejut. Ia buru-buru menjawab dengan gugup. "Ah, tidak, Nyonya Lien. Aku hanya membayangkan betapa besarnya keadaan di dalam sana,"


"Hahaha ..." Mo Bian tiba-tiba tertawa cukup lantang. "Saudara kecil, jangan berpikir macam-macam. Mari kita bergerak sekarang," katanya mengajak.


"Baik. Sekarang adalah waktu yang tepat. Kita bergerak,"


Yang lain menganggukkan kepala. Mereka kemudian melanjutkan rencananya yang sempat terhenti beberapa saat itu.


Wushh!!! Wushh!!!


Lima bayangan manusia melesat secara bersamaan. Mereka bergerak menuju ke sudut yang sudah ditentukan sebelumnya.


Rencana itu berjalan cukup lancar. Tidak perlu mengeluarkan tenaga yang banyak, mereka telah bisa masuk ke dalamnya.


Sekarang kelima orang tersebut sudah berada di dalam halaman kediaman Hartawan Wang. Di sana ada banyak penjaga yang sedang bertugas.


"Paman Tung, kau alihkan perhatian mereka. Kami akan masuk ke dalam," kata Zhang Fei kepadanya.