
'Ya, hal ini tidak perlu diragukan lagi. Mereka pasti adalah bagian dari Empat Datuk Dunia Persilatan. Apalagi sebelumnya, dua orang tua ini secara tidak langsung telah mengakui akan hal tersebut,' batin Zhang Fei merasa lebih yakin lagi.
Kini, setelah mengetahui siapakah dua orang itu, bukan main girangnya perasaan Zhang Fei. Itu artinya, selama ini dia sudah melakukan pengembaraan bersama dengan tokoh yang ditakuti lawan disegani kawan.
'Pantas saja saat terjadinya pertempuran di Partai Pengemis, Orang Tua Aneh Tionggoan bisa melakukan hal yang mustahil bagi orang lain,' batinnya sambil tanpa sadar menganggukkan kepala beberapa kali.
Sementara itu, kini matahari sore sudah menghilang dari pandangan mata. Sang Surya telah tenggelam dibalik bukit-bukit hijau nun jauh di sana.
Malam telah tiba. Kegelapan menyelimuti muka bumi. Pada saat seperti ini, bayang-bayang pohon yang tinggi besar, rasanya sangat mirip seperti raksasa.
Dua orang Datuk Dunia Persilatan itu masih berbincang-bincang. Sampai sekarang, mereka terus membicarakan banyak hal. Terutama sekali tentang dunia persilatan. Baik itu membicarakan tokoh-tokohnya, maupun kejadian-kejadian yang mulai sering terjadi.
Zhang Fei tetap tidak banyak bicara. Sebab ia menyadari bahwa dirinya masih berada jauh dari mereka.
Pada saat seperti itu, tiba-tiba Dewa Arak Tanpa Bayangan memungut ranting pohon yang tidak berada jauh dari tempatnya duduk.
Wutt!!!
Orang tua itu melempar ranting pohon dengan tangan kanannya. Seketika ranting tersebut melesat dengan sangat cepat. Mirip seperti anak panah yang dilepaskan dari tali busur dengan sekuat tenaga.
Ranting itu terus meluncur ke sela-sela pepohonan.
Crapp!!!
Suara yang agak ganjil terdengar. Tidak lama setelah itu, segera terdengar jerit yang memilukan.
Wushh!!!
Dengan satu kali genjotan ke tanah, Orang Tua Aneh Tionggoan telah memburu ke arah sumber suara. Begitu tiba di sana, ternyata sudah ada satu sosok manusia yang tewas karena ulu hatinya ditembus oleh ranting pohon tadi.
Dengan cepat ia segera berjongkok dan memeriksa kondisinya.
"Siapa dia?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan begitu tiba di sisinya. Tidak mau ketinggalan, Zhang Fei pun sudah ada bersama mereka.
"Entahlah. Tapi sepertinya orang ini sengaja mencuri dengar obrolan kita untuk dilaporkan kepada atasannya," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan.
Sembari menjawab, ia pun kembali meneruskan pemeriksaannya. Dia menggeledah tubuh orang yang sudah tewas itu, berharap akan menemukan sesuatu.
Tapi sayangnya, tidak ada sesuatu apapun yang dia temukan. Padahal biasanya, orang-orang seperti mereka selalu membawa lencana untuk menunjukkan identitas dari partai atau kelompok mana kah dirinya.
Beberapa tarikan nafas kemudian, Orang Tua Aneh Tionggoan terkejut. Dia buru-buru melompat ke belakang.
"Orang ini bukan tewas karena ranting pohon yang kau lemparkan," katanya sambil melirik ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Ya, aku tahu. Dia pasti tidak akan tewas karena ranting itu,"
"Lalu, kenapa dia bisa tewas?" tanya Zhang Fei secara tiba-tiba.
"Dia tewas oleh Racun Tanpa Obat,"
Lagi-lagi Racun Tanpa Obat!
Diam-diam, Zhang Fei mengepalkan kedua lengannya. Sebenarnya siapa pemilik racun yang sangat ganas itu? Mengapa belakangan ini, ada cukup banyak orang yang tewas karenanya.
"Hemm ... sepertinya gejolak sudah dimulai. Pertikaian yang tidak akan pernah usai, sudah terjadi," gumam Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Sekarang, kau percaya bukan bahwa apa yang aku katakan tadi, adalah kenyataan?" tanya sahabatnya dengan nada hambar.
Ia tidak menjawab. Dirinya hanya bisa menghela nafas panjang.
"Tuan, mungkinkah orang ini berasal dari salah satu partai aliran hitam terbesar di Tionggoan?" tanya anak muda itu lagi.
Mereka memandangi orang itu cukup lama. Semakin lama dipandang, ternyata perubahan di tubuhnya semakin ngeri.
Ketiganya memutuskan untuk kembali ke tempat awal. Namun baru saja membalikkan tubuh, mereka kembali dikejutkan oleh kehadiran satu orang pendekar.
Usianya masih muda. Mungkin tidak berbeda jauh dengan Zhang Fei sendiri.
Pendekar muda itu mempunyai postur tubuh tinggi. Kulitnya putih. Wajahnya cukup tampan, hanya saja ia tampil dingin. Dingin seperti es.
Di mulutnya yang mirip seperti busur panah itu tidak terlihat ada senyuman ramah. Yang ada hanya senyuman sinis.
Dilihat lebih teliti, terlihat di punggung pendekar muda tersebut tersimpan sebatang pedang. Pedang yang merah pekat. Mirip seperti merahnya darah segar.
"Luo Sun memberikan hormat kepada kalian semua," katanya dengan nada dingin. Sambil bicara seperti itu, pemuda yang mengaku bernama Luo Sun tersebut segera membungkukkan badannya.
"Apakah ada yang bisa aku bantu, anak muda?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan cepat.
"Luo Sun hanya ingin bertanya, benarkah pemuda ini bernama Zhang Fei?" tanyanya kembali sambil melirik ke arah Zhang Fei.
"Benar. Ada keperluan apa kau mencari dirinya?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan menyela pembicaraan mereka.
"Aku hanya ingin bicara sebentar dengannya,"
Orang tua itu segera melirik Zhang Fei. Tanpa banyak berkata, dirinya langsung maju ke depan.
"Ada apa saudara mencariku? Apakah ada urusan penting?" tanyanya.
"Ada," Luo Sun berhenti sebentar, seolah-olah dirinya sedang mengumpulkan tenaga untuk bicara. Sesaat kemudian, dia segera melanjutkannya. "Aku datang dari ujung Kota Lijiang, datang kemari sengaja mencarimu. Aku ingin beradu ilmu pedang denganmu,"
Adu ilmu pedang? Apakah ia tidak salah bicara?
Zhang Fei dan dua Datuk Dunia Persilatan saling pandang satu sama lain. Sepertinya mereka terkejut dengan ucapan Luo Sun.
"Maaf, apakah saudara tidak salah bicara?"
"Tidak,"
"Tapi kenapa kau ingin beradu ilmu pedang denganku? Bukankah di antara kita tidak pernah ada perselisihan? Lagi pula ... aku rasa kita baru bertemu," kata Zhang Fei kebingungan.
Dia merasa aneh akan kejadian tersebut. Ini adalah pertama kalinya ia ditantang tanpa sebab yang jelas.
"Ya, kita memang tidak punya persoalan. Kita pun baru bertemu kali ini. Hanya saja, namamu sudah lama kudengar. Banyak orang-orang yang membicarakan kehebatan permainan pedangmu," jawab Luo Sun sambil memandang Zhang Fei dengan tatapan sedingin es.
"Jadi, kau jauh-jauh datang kemari karena merasa penasaran dengan ilmu pedangnya?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan kembali.
"Benar, Tuan,"
"Anak muda, nyalimu sangat besar. Tapi, kau tahu bukan? Dari niatmu ini ada resiko tidak main-main yang harus ditanggung?"
"Ya, aku tahu. Tapi aku sudah siap dengan segala resikonya," katanya dengan tegas.
Apabila ada dua orang pendekar yang bertarung sengit dan serius, niscaya salah satu dari mereka akan ada yang menerima kekalahan. Lebih dari itu, pasti akan ada juga yang terluka, atau bahkan sampai kehilangan nyawanya.
Setelah mendengar jawaban tegas dari Luo Sun, diam-diam Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Orang Tua Aneh Tionggoan saling pandang.
Terkait hal ini, mereka tidak bisa mencampuri, apalagi mengambil keputusan.
"Anak Fei, bagaianna?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan kemudian.