
Pada saat posisi si biksu tua semakin terdesak karena gempuran serangan tiga orang musuhnya yang tidak pernah berhenti, pada saat itu pula Zhang Fei telah melompat tinggi dari kuda yang dia tunggangi.
Wushh!!!
Tubuhnya melenting tinggi di tengah udara. Zhang Fei berjumpalikan beberapa kali lalu kemudian turun di tengah halaman. Tepat di tengah-tengah pertarungan yang sedang berlangsung tersebut.
Wutt!!!
Zhang Fei langsung mencabut Pedang Raja Dewa dari sarungnya. Dengan cepat dia memberikan serangan beruntun yang tidak bisa diikuti oleh mata telanjang.
Tiga orang pendekar sesat itu terkejut dengan kemunculannya. Mereka tidak menyangka pertarungannya akan mendapat gangguan dari pihak luar.
Namun karena kesempatan untuk bicara sudah tidak ada, terpaksa mereka bertiga harus menangkis dulu serangan yang diberikan oleh Zhang Fei.
Benturan tiga batang senjata pusaka terdengar keras. Bunyi nyaringnya bahkan sampai menyakitkan gendang telinga.
Beberapa jurus mereka bertempur, tiga orang tersebut kemudian terdorong mundur ke belakang sejauh lima langkah.
Walaupun ketiganya tidak mengalami luka, tapi wajah mereka jelas menggambarkan rasa heran yang besar.
"Biksu, apakah kau baik-baik saja?" tanya Zhang Fei setelah berada di dekatnya.
"Aku baik-baik saja, Tuan Muda," jawab biksu tua itu sambil tersenyum getir. Sesaat kemudian dia langsung mengeluh menahan sakit. Semua luka di tubuhnya mulai menimbulkan lagi rasa perih dan sebagainya.
"Sepertinya luka yang kau terima lumayan parah," ujar Zhang Fei sambil melirik ke semua luka yang diderita oleh biksu tua itu.
Ia kemudian mengambil sesuatu dari saku bajunya, kemudian segera berkata lagi. "Telan pil ini, biar tiga keparat itu aku yang mengurus,"
"Tapi ..."
"Jangan banyak bicara dulu, biksu. Kesehatanmu lebih penting," jawabnya dengan ekspresi wajah serius.
"Baiklah, Tuan Muda. Aku mengerti," biksu tua itu mengeluhkan nafas panjang. Walaupun dia merasa tidak enak hati kepada anak muda di depannya, tapi apa boleh buat. Apa yang dikatakannya barusan memang tidak salah.
Biksu tersebut kemudian berjalan ke pinggir. Setelah menemukan tempat yang cocok, dia langsung menelan pil itu lalu duduk bersila untuk menyerap manfaatnya.
Sementara Zhang Fei, saat ini dia sudah kembali ke tengah arena. Dia menatap tiga orang pendekar sesat yang berdiri di depan sana.
"Siapa kau bocah muda? Berani sekali mencampuri urusan kami," kata pria tua yang berada di posisi tengah. Ia bicara dengan nada lantang.
Penampilannya benar-benar kasar. Wajahnya seram dengan beberapa luka bacokan yang cukup dalam. Di tangan kanannya ada golok hitam yang bergagang wajah setan.
"Siapa pun aku, kalian tidak perlu tahu. Yang jelas, aku paling tidak suka melihat kawanan tikus yang mengeroyok seorang tua," kata Zhang Fei sambil tersenyum sinis.
"Persetan!" bentak pria tua di sisinya. "Mulutmu benar-benar cerewet. Sepertinya aku harus merobek mulut busuk itu dengan pusaka ini," sambil berkata demikian, tangan kanannya tampak mengangkat pedang melengkung yang berbentuk bulan sabit.
"Sudahlah, tidak perlu bicara dengan manusia sepertinya. Kita sudah sepakat sejak awal, siapa pun yang berani ikut campur urusan kita, maka kita akan membunuh orang itu secara sadis," pria yang satunya lagi ikut bicara.
Dari tiga orang pendekar sesat, rasanya yang mempunyai penampilan paling menarik, adalah dia sendiri.
Pria tua itu mengenakan pakaian tiga warna. Baik baju maupun celana, semuanya terlihat longgar. Mulutnya lebih lebar dan hidungnya berbentuk paruh elang. Siapa pun yang memandang wajahnya, ia pasti akan langsung merasa muak.
Selain daripada itu, dia juga terlihat menggunakan senjata pisau sepanjang satu jengkal setengah. Walaupun pendek, tapi ketajaman pisau tersebut rasanya tidak perlu diragukan lagi.
"Hemm ..." Zhang Fei mendengus dingin setelah mendengar ucapan ketiganya. "Aku rasa kalian bukan berasal dari Kekaisaran Zhou. Bukankah benar apa yang aku ucapkan?" tanyanya tanpa menghiraukan perkataan mereka sebelumnya.
"Kalau benar, memangnya kenapa?" tanya pria bersenjata pisau itu.
"Kau tidak perlu tahu. Ini bukan urusanmu," ujarnya membentak.
"Tentu saja ini urusanku. Karena siapa pun yang berani mencari masalah di Kekaisaran ini, maka aku akan membunuhnya," Zhang Fei berkata dengan nada dingin. Sepasang matanya menatap tajam seperti kata elang.
"Hahaha ..." tiga orang itu berkata secara bersamaan.
"Banyak mulut! Terima ini!"
Pendekar sesat yang menggunakan golok berteriak nyaring. Setelah itu dia langsung melancarkan serangan pertamanya.
Wutt!!!
Bayangan golok seketika memenuhi angkasa. Jurus yang dia keluarkan benar-benar hebat. Kecepatannya juga tidak boleh dipandang ringan.
Zhang Fei sudah tahu bahwa kali ini dia sedang berhadapan dengan tiga pendekar yang termasuk ke dalam jajaran kelas satu dan mempunyai pengalaman banyak. Maka dari itu, setelah pendekar tersebut menyerang, dia pun langsung berlaku serius.
"Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan!"
Wutt!!
Rangkaian jurus dari Kitab Pedang Dewa segera digelar. Dua macam jurus kelas atas langsung bertemu di tengah jalan.
Dua orang rekan si pria tua tidak mau ketinggalan, dengan cepat mereka pun turun tangan secara serempak.
Sekarang Zhang Fei sedang dihadapkan dengan tiga macam jurus kelas atas yang berbeda-beda. Serangan mereka datang dari semua sisi.
Akan tetapi walaupun begitu, Zhang Fei tidak sedikit pun merasa takut. Justru dengan penuh kepercayaan, dia mulai menjajaki semua serangan itu.
Pertarungan sengit yang terjadi di halaman kuil itu menerbangkan dedaunan kering yang berserakan. Tiga pendekar sesat semakin gencar memberikan serangan kepada Zhang Fei.
Namun anak muda itu sendiri tidak mau kalah. Setelah pertarungan mencapai dua puluh lima jurus lebih, dengan segera dia mengeluarkan jurus pedang yang berikutnya.
"Pedang Penakluk Jagad!"
Wutt!!! Wungg!!!
Bayangan pedang tercipta. Kilatan cahaya putih keperakan memancarkan hawa pedang yang sangat menekan.
Pertarungan yang terjadi terlihat semakin seru lagi. Zhang Fei yang sebelumnya berada di bawah angin, sekarang dia mulai bisa mengembalikan posisinya.
Empat orang pendekar dengan senjata berbeda masih bertarung. Di antara mereka tidak ada yang mau mengalah. Masing-masing ingin memberikan jatah lebih untuk musuhnya.
Pada saat itu, sebenarnya Zhang Fei sudah mengeluarkan tenaga dalamnya sampai delapan bagian. Namun karena orang yang dihadapi bukan sembarangan, maka untuk melumpuhkan mereka pun bukan suatu perkara mudah.
Lebih dari itu, ketiganya adalah tokoh angkatan tua. Pengalaman bertarungnya tentu lebih banyak daripada Zhang Fei. Maka dari itulah, meskipun kalah dalam soal jurus, tetapi mereka masih bisa sedikit unggul dalam hal strategi.
Percikan bunga api yang tercipta karena pertarungan itu sudah tidak terhitung lagi. Pakaian tiga pendekar tua sudah mengalami robekan di sana-sini. Hal itu terjadi karena mereka tidak bisa menahan tubuhnya dari hawa pedang yang dikeluarkan oleh Pedang Raja Dewa.
Wutt!!! Wungg!!!
Zhang Fei melakukan gerakan tiba-tiba. Tubuhnya melompat tinggi, lalu dia mengirimkan serangan dari atas ke bawah.
Tiga kepala pendekar sesat menjadi incaran utamanya!