
Zhang Fei berdiri dalam diam cukup lama. Ia masih tetap berada di pinggir jalan sambil memandangi ke arah depan sana.
Kepulan debu langsung membumbung tinggi. Keadaan di jalan tiba-tiba gelap, seolah-olah waktu sudah berganti menjadi malam.
Suara derap langkah kuda semakin jauh terdengar. Makin lama makin kecil, hingga akhirnya menghilang kembali.
Ketika bayangan puluhan penunggang kuda dan derap langkah kakinya tidak terdengar lagi, pada saat itulah Zhang Fei baru bergerak.
Ia seakan baru bangun dari mimpinya.
Dalam pada itu, pikiran Zhang Fei juga langsung bekerja dengan cepat. Ia yakin, puluhan penunggang kuda barusan, pastinya adalah prajurit Kekaisaran.
Tetapi, mau pergi ke mana puluhan prajurit itu?
Dia sungguh heran, sebab tidak biasanya puluhan prajurit menunggang kuda di malam hari. Apalagi kuda yang mereka tunggangi adalah kuda jempolan yang mempunyai badan kekar.
"Pasti ada sesuatu dibalik kejadian ini," gumam anak muda itu.
Karena tidak mau menanggung penasaran, maka pada akhirnya dia memutuskan mengikuti jejak puluhan ekor kuda tadi.
Wushh!!!
Tubuh Zhang Fei melesat bagaikan anak panah yang ditarik lepas dari tali busur. Baru sekejap saja, dia sudah berada jauh dari tempat semula.
Saat itu, waktu semakin malam. Perlahan-lahan rembulan merayap naik tinggi ke atas. Cahaya kuning pucat menyinari muka bumi.
Semilir angin berhembus perlahan, menggetarkan dedaunan dan ranting-ranting pohon kecil.
Setelah mengeluarkan segenap ilmu meringankan tubuh, akhirnya Zhang Fei bisa juga menyusul rombongan puluhan ekor kuda yang ia anggap prajurit Kekaisaran tersebut.
Ternyata, puluhan orang itu memang merupakan prajurit Kekaisaran. Persis seperti yang ia duga sebelumnya.
Sekarang, para prajurit itu sudah berada di perbatasan sebuah kota besar. Entah apa nama kotanya, yang pasti, jauh di depan sana, terdapat padang rumput yang membentang luas.
Di tengah alam yang lenggang, hembusan angin malam semakin terasa dengan jelas. Hawa dingin segera menusuk tulang.
Puluhan prajurit itu duduk dengan gagah di atas punggung kuda mereka masing-masing. Sampai sekian lama, orang-orang itu tidak juga bergerak.
Tetapi, puluhan mata itu tetap memandang jauh ke depan sana.
Sebenarnya mereka sedang apa? Sedang menunggu? Lantas, siapa pula yang mereka tunggu?
Berbagai macam pertanyaan seperti itu tiba-tiba saja muncul di benak Zhang Fei. Baginya, pemandangan seperti ini sedikit aneh.
Walaupun jumlah prajurit itu tidak sampai empat puluh orang, paling-paling hanya dua puluh saja, tapi tetap, baginya ada sesuatu yang ganjil.
Rasanya, Zhang Fei baru melihat pemandangan seperti ini.
Kalau kejadiannya berlangsung saat siang hari, mungkin dia masih bisa mewajarkan. Sebab sedikit banyaknya, bisa jadi semua hal ini berhubungan langsung dengan tugas kenegaraan.
Tetapi kalau malam hari seperti ini, tugas apa? Rasanya, selain karena situasi yang genting, tidak ada alasan lain lagi yang masuk di akal.
Lama sekali ia berpikir. Sayangnya, tidak ada satu pun jawaban yang berhasil ia temukan.
Karenanya, secara nekad Zhang Fei langsung melesat ke depan sana. Ia menghampiri puluhan prajurit tersebut.
Setelah berada di garis paling depan, ia langsung berhenti. Sebelum bicara, Zhang Fei memberikan hormat lebih dulu kepada orang-orang itu.
Dalam waktu yang bersamaan, dua puluh prajurit tersebut tampak sedang memperhatikan dirinya mulai dari atas sampai bawah. Pandangan mata mereka sangat tajam. Seolah-olah ingin menelan Zhang Fei hidup-hidup.
"Siapa kau, anak muda?" tanya seorang prajurit dengan suara keras.
"Perkenalkan, margaku Zhang, namaku Fei," jawabnya dengan sopan.
"Hemm, mau apa kemari? Apakah kau adalah salah satu orang yang sedang kami tunggu?"
"Salah satu orang yang ditunggu? Apa maksud Tuan? Aku sungguh tidak mengerti," ujarnya masih dengan nada sopan.
"Omong kosong. Angkat senjata!"
Tanpa basa-basi, prajurit itu langsung menurunkan perintah kepada rekan-rekannya. Secara serempak, prajurit yang lain segera mencabut golok yang ada di pinggang mereka.
Puluhan golok tajam sudah diangkat ke tengah udara. Tapi tepat ketika mereka hendak turun tangan, mendadak ada suara lain yang terdengar.
"Tahan!"
Suara yang terdengar barusan lebih keras dan lebih berwibawa lagi.
Ketika Zhang Fei melirik ke arah sumber suara, ia mendapati ada seorang pria berusia lima puluh tahunan yang sedang menatapnya lekat-lekat.
Wajah pria itu sangar. Dari tubuhnya keluar wibawa yang sulit dijelaskan. Tidak hanya itu saja, bahkan menurut Zhang Fei, orang itu pun setidaknya mengerti tentang ilmu silat.
Di satu sisi lain, kalau dilihat lebih teliti, orang yang sedang memandangnya itu juga mengenakan pakaian yang lebih mewah. Malah golok yang terdapat di pinggangnya, tampak dipenuhi oleh intan permata.
Tidak salah lagi, pasti inilah pemimpin puluhan prajurit ini, pikir Zhang Fei.
Sementara itu, ketika terdengar seruan tadi, puluhan prajurit yang sudah siap menyerang tersebut, segera menahan gerakannya.
Detik berikutnya, ketika melihat isyarat, mereka pun langsung menyarungkan kembali goloknya.
"Anak muda, kau bilang tadi, namamu adalah Zhang Fei?" tanya orang tersebut setelah ia memandangnya cukup lama.
"Benar, Jenderal," jawabnya sambil menganggukkan kepala.
"Hemm, wajahmu sangat mirip dengan orang-orang Kekaisaran Song,"
"Hamba memang orang asli pribumi, Jenderal,"
"Oh, pantas," dia menganggukkan kepalanya beberapa kali. Kemudian berkata lagi, "Aku adalah Jenderal Li, salah satu Jenderal yang ditugaskan di Provinsi ini," lanjutnya menjelaskan singkat.
Zhang Fei tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya saja.
Beberapa saat kemudian, Jenderal Li segera bicara lagi. "Saudara muda, ada urusan apa sehingga kau datang kemari?"
"Sebenarnya tidak ada apa-apa, Jenderal. Aku hanya ingin mengajukan pertanyaan saja,"
"Pertanyaan apa?"
"Kenapa malam-malam begini, Tuan sekalian ada di sini?"
"Oh, masalah ini," Jenderal Li menghela nafas sebentar. Ia mengawasi Zhang Fei kembali. "Ini masalah kenegaraan. Seperti yang telah diketahui, sekarang negara sedang kacau. Kami mendapatkan informasi dari mata-mata bahwa ada penyusup dari Kekaisaran lain yang sedang menuju kemari. Karena itulah kami berjaga di sini,"
Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, dewasa ini, empat Kekaisaran yang terdapat di Tionggoan memang sedang mengalami konflik.
Masing-masing dari Kaisar tersebut mempunyai ambisinya tersendiri.
Zhang Fei sendiri mengetahui hal itu, karenanya dia tidak merasa heran setelah mendengar persoalannya.
"Saudara muda, sekarang lebih baik pergi saja. Aku takut kau menjadi korban salah sasaran nantinya," tukas Jenderal Li bicara lagi.
"Tapi, Jenderal, aku juga ingin membantu perjuangan kalian. Aku ingin membela tanah air kita,"
"Terimakasih. Niatmu ini aku terima dengan penuh rasa hormat. Tapi untuk sementara waktu ini, prajurit Kekaisaran juga masih sanggup menghadapi serbuan musuh. Karena itulah, kau tidak usah repot-repot mengeluarkan tenaga," ucap Jenderal Li menolaknya dengan halus.
Dia tahu, anak muda yang sekarang berdiri di depannya ini bukanlah orang sembarangan. Selain dari penampilan dan pedang di punggungnya, ia juga bisa merasakan hawa sakti yang keluar dari tubuhnya.
Maka dari itulah, sejak awal dia tidak bertindak gegabah. Apalagi setelah ia tahu bahwa si pemuda tampan ini masih merupakan orang pribumi.