Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Menenangkan Pertarungan


"Baiklah, Tuan Shi. Tapi, jangan sebut kami berdua telah berlaku curang. Sebab hal ini adalah keinginanmu sendiri," kata Zhang Fei kepadanya.


"Hahaha ... tenang saja, anak muda. Aku bukan manusia munafik seperti itu," jawab datuk sesat itu sambil tertawa lantang.


Sringg!!! Sringg!!!


Zhang Fei segera mencabut Pedang Raja Dewa. Sedangkan Yao Mei segera mengeluarkan pedang kembar dari punggungnya.


Kilatan cahaya warna putih keperakan segera berkilau ditempa sinar matahari. Ketajaman pedang pusaka kedua anak muda itu tidak perlu diragukan lagi.


Setelah melihatnya secara langsung, Yao Shi sendiri tidak berani memandang rendah.


"Tuan Shi, kau sudah siap?" tanya Zhang Fei.


"Sejak tadi aku siap,"


"Baik. Lihat ini!"


Wutt!!!


Zhang Fei menjejakkan kakinya ke atas tanah. Setelah itu dia langsung meluncur dengan cepat ke depan sana.


Baru satu kedipan mata saja, Ketua Dunia Persilatan sudah berada di hadapannya. Datuk sesat tersebut benar-benar tidak menyangka bahwa Zhang Fei mampu bergerak secepat itu.


Tidak hanya itu saja, bahkan ancaman yang datang pun bukan hanya dari Zhang Fei. Melainkan dari Yao Mei juga.


Dua jurus pedang yang dahsyat sudah membayangi seluruh tubuh Yao Shi. Karena tidak mau mengambil resiko, datuk sesat itu segera mengambil tindakan lebih lanjut.


Wushh!!!


Tiba-tiba ia melompat tinggi ke atas. Setelah tiba di tengah udara, Yao Shi lambung mengeluarkan serangan jarak jauh dari atas sana.


Wutt!!! Wutt!!!


Pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sakti dilancarkan beberapa kali. Mau tak mau kedua anak muda itu harus menahan jurusnya dan menghindari pukulan tersebut.


Setelah usaha itu berhasil, Yao Shi segera memperlihatkan senyuman dingin. Tubuhnya langsung kembali ke tanah, dilanjutkan lagi dengan jurus-jurus kelas atas yang dia miliki.


"Bayangan Cakar Kepedihan!"


Wutt!!!


Jari-jari tangan Datuk Dunia Persilatan aliran sesat itu segera diliputi oleh tenaga sakti yang membentuk kuku agak panjang.


Serangan cakaran segera datang. Cepatnya bukan main. Baik gerakan maupun kekuatannya, tidak bisa dipandang rendah.


Apalagi, jurus tersebut dilancarkan oleh seorang tokoh kelas atas seperti dirinya.


Pertarungan sengit langsung terjadi kembali. Kali ini, yang berada di pihak menyerang adalah Yao Shi. Dua pendekar muda yang sedang bertarung dengannya tidak bisa berbuat banyak.


Sekarang mereka telah merasakan dengan jelas setinggi apa kemampuan orang tua itu. Walaupun Yao Shi hanya mengeluarkan kekuatannya hingga delapan bagian, tapi kedahsyatan dari setiap jurus dan serangannya sudah cukup untuk membunuh beberapa orang sekaligus.


Para tokoh dunia persilatan yang menyaksikan di pinggir arena ikut tegang. Mereka berharap kedua pendekar muda itu bisa keluar sebagai pemenang.


Namun kalau melihat situasi saat ini, rasanya untuk memenangkan pertarungan itu memerlukan perjuangan dan tenaga yang tidak sedikit.


"Menurutmu, apakah Ketua Fei dan Nona Mei bisa menang dari tua bangka itu?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan kepada Pendekar Pedang Perpisahan.


"Aku rasa, iya. Mereka berdua bisa memenangkannya," jawabnya dengan tegas dan penuh rasa yakin.


"Sepertinya kau begitu yakin," Orang Tua Aneh Tionggoan ikut bicara. Ia berkata sambil tertawa ringan.


"Ya, aku memang yakin,"


"Kenapa begitu?"


"Karena Ketua Fei dan Nona Mei punya kelebihannya masing-masing. Salah satunya adalah tenaga mereka masih prima jika dibandingkan dengan Yao Shi,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan mengakhiri percakapan. Setelah itu mereka kembali fokus kepada pertarungan yang masih berlangsung.


Sementara di tengah arena, terlihat sejak tadi si Cakar Maut terus menguasai jalannya pertarungan. Berbagai macam jurus tangan kosong ia gelar tanpa henti.


Jurus-jurus cakar maut yang membuatnya terkenal sampai ke empat penjuru mata angin, sebagian sudah dikeluarkan.


Dia sangat berharap bisa mengalahkan keduanya setelah mengeluarkan jurus-jurus itu. Namun sayang sekali, harapan Yao Shi tidak berjalan mulus.


Karena meskipun sudah digempur sejak tadi, tetapi nyatanya mereka berdua masih bisa memberikan perlawanan berarti.


"Hujan Datang Bunga Bermekaran!"


Wutt!!!


Yao Mei berteriak nyaring. Dia langsung mengeluarkan salah satu jurus pedang warisan dari Ratu Pedang Kembar Kesunyian.


Dua batang pedang langsung datang mengancam. Permainan pedang gadis itu berubah hebat. Yao Shi dibuat kelabakan karena serangan tersebut tidak bisa dibaca ke mana arahnya.


Untunglah dia sudah mempunyai segudang pengalaman. Sehingga posisinya bisa kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama.


Sayangnya, belum sempat dia membalas serangan Yao Mei, dari sisi sebelah kanan tahu-tahu sudah muncul lagi ancaman yang lain.


Kali ini, ancaman yang datang itu sama sekali tidak bisa dipandang rendah.


Bahkan jauh lebih hebat dari ancaman sebelumnya!


Rupanya pada saat itu, Zhang Fei telah tiba dengan jurus Pedang Tak Kasat Mata!


Meskipun dia hanya mengeluarkan sembilan bagian tenaga dalam, namun hasilnya tetap luar biasa. Apalagi, bisa dibilang jurus itu adalah jurus pamungkas Zhang Fei pada saat ini.


Setelah terciptanya jurus tersebut, belum ada satu pun lawan yang mampu menangkis atau menghindarinya.


Lalu, apakah Yao Shi akan mampu menghalaunya?


'Sialan! Jurus pedang macam apa ini? Mengapa aku tidak bisa melihatnya dengan jelas?' Yao Shi menggerutu dalam hati. Seumur hidup, rasanya dia baru menghadapi jurus pedang semacam ini.


Wutt!!! Wutt!!!


Bayangan pedang terus berdatangan tanpa mengenal kata berhenti. Tusukan dan tebasan itu sangat tepat. Beberapa kali Yao Shi hampir terkena serangan Zhang Fei. Untung ia mempunyai kecepatan yang luar biasa. Sehingga tubuhnya masih bersih dari luka.


Namun hal itu kembali tidak bisa berlangsung lama. Karena secara tiba-tiba Zhang Fei bergerak lebih cepat lagi.


Ia bagaikan kilat. Cepatnya tidak bisa dibayangkan lagi. Yao Shi dibuat bingung. Pakaiannya di beberapa tempat sudah terdapat robekan.


Sementara di sisi lain, Yao Mei juga sudah kembali melancarkan jurus yang berikutnya. Pedang kembar itu berubah gerakannya.


Tiga macam pedang pusaka datang memberi ancaman. Pertarungan sengit terjadi sampai belasan jurus. Si Cakar Maut benar-benar terdesak.


Dia tidak bisa lagi memberikan serangan balasan. Untuk bertahan pun rasanya sangat sulit.


Sekitar tiga jurus kemudian, mendadak sekelebat bayangan melesat ke depannya. Setelah itu semuanya langsung berhenti.


Pertarungan itu telah selesai setelah mencapai tujuh puluhan jurus.


Ujung Pedang Raja Dewa telah berhenti tepat satu jari di depan tenggorokan Yao Shi. Di kanan kirinya, ada lagi pedang kembar Yao Mei yang hampir mengenai bagian pinggang!


"Kau kalah, Ayah," kata gadis cantik itu sambil tersenyum girang.


Zhang Fei ikut tersenyum. Hanya saja dia tidak mengatakan apapun juga.


Dua pendekar muda itu segera menarik pedangnya dan memasukkan kembali ke dalam sarung.


Si Cakar Maut Yao Shi menghembuskan nafas panjang dan berat. Ia langsung membenarkan posisi dan bajunya.


"Baiklah, aku mengaku kalah dari kalian," kata orang tua itu dengan nada hambar.