
Setelah berjalan cukup jauh, ketika matahari pagi sudah mulai meninggi, saat itu Pengemis Tongkat Sakti sudah sampai di tengah-tengah kota.
Sebenarnya perut orang tua itu sudah terasa lapar. Tapi karena ingat di sana ada markas cabangnya, maka niat awal yang ingin mencari rumah makan pun segera dibatalkan.
Pengemis Tongkat Sakti lebih memilih makan di cabang markasnya sendiri.
Ia mempercepat langkah kakinya. Jalanan besar itu menyimpan banyak hal. Di kanan kiri terdapat deretan toko. Semua yang diperlukan oleh siapa pun, pasti bisa ditemukan di jalan besar tersebut.
Beberapa ekor kuda dan bahkan kereta kuda yang cukup mewah, terus hilir-mudik tidak pernah berhenti. Suara orang-orang yang berbicara terus masuk ke dalam telinganya.
Pengemis Tongkat Sakti menyadari semua hal itu. Tapi dia tidak terlalu menghiraukannya.
Pada saat matahari hampir berada di atas kepala, ia telah tiba di markas cabang. Dua orang pengemis yang bertugas menjaga gerbang depan langsung membungkukkan badan ketika mengetahui siapa yang datang.
Pengemis Tongkat Sakti mengangguk perlahan. Dia kemudian berjalan memasuki markas cabang tersebut.
Semua anggota partai yang kebetulan sedang berada di sana tampak terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Ketuanya akan datang berkunjung. Bahkan secara tiba-tiba pula.
Mengetahui hal tersebut, tentu saja halaman yang sebelumnya sepi, mendadak jadi ramai. Puluhan pengemis membukukkan badan memberikan hormat.
Sebelum dia berhasil mencapai pintu masuk, tiba-tiba dari dalam terlihat ada seseorang yang keluar dengan tergesa-gesa.
"Ketua, maafkan aku kalau tidak bisa menyambut kedatangan Ketua dengan mewah," Ketua cabang Partai Pengemis Kota Gi Nian Jing terlihat seperti menyesal karena tidak bisa menyambutnya.
"Tidak perlu khawatir, Ketua Lun. Kedatanganku kali ini juga bukan apa-apa. Aku hanya ingin berkunjung sekalian minta makan," jawab Pengemis Tongkat Sakti sambil tertawa lepas.
"Ah, baiklah. Mari masuk, Ketua. Aku akan menyiapkan hidangan yang lezat untukmu," Ketua cabang itu memberikan isyarat.
Mereka kemudian berjalan masuk ke dalam dan langsung menuju ke ruang makan.
Kebetulan, saat ini adalah jamnya makan siang. Sehingga meja yang cukup besar itu sudah diisi penuh dengan berbagai macam hidangan lezat yang akan memanjakan mulut.
Lima menit kemudian, di ruang makan sudah bertambah beberapa orang lagi. Mereka bukan lain adalah para petinggi yang terdapat di markas cabang.
"Mari, Ketua. Silahkan dimakan hidangannya," ujar Ketua Cabang mempersilahkan.
Pengemis Tongkat Sakti mengangguk sambil tersenyum. Baru saja makanan pertama akan masuk ke mulut, tiba-tiba saja ada sebuah suara orang yang terdengar dengan jelas.
"Bagus, bagus sekali. Ternyata, sekarang kau bahkan tidak sudi lagi menawarkan makan kepadaku,"
Suaranya terdengar oleh setiap orang yang hadir. Tapi pemilik suaranya tidak bisa dilihat oleh siapa pun.
"Setan arak, kalau memang mau makan bersama, silahkan turun saja. Jangan bertingkah seperti seorang Kaisar yang harus disembah-sembah," jawab Pengemis Tongkat Sakit sambil menatap ke atap ruangan.
"Hahaha ... baiklah. Aku juga ingin makan dengan kalian"
Brakk!!!
Belum lagi ucapannya selesai, atap ruangan tersebut tiba-tiba saja dijebol oleh orang. Para petinggi yang ada sudah siap untuk bertindak. Namun sebelum terlambat, Pengemis Tongkat Sakti telah memberikan isyarat kepada mereka untuk tidak melakukan apapun.
Seperti biasanya, di tangan sebelah kiri ada paha ayam, di tangan sebelah kanan ada guci arak yang terbuat dari emas murni.
Siapa lagi kalau bukan Dewa Arak Tanpa Bayangan?
Begitu muncul di ruang makan tersebut, Datuk Dunia Persilatan itu langsung tertawa dengan lantang. Ia kemudian berjalan menghampiri meja makan.
Pengemis Tongkat Sakti bangkit berdiri dan juga berjalan ke arahnya. Kedua orang sahabat lama itu kemudian berpelukan. Sementara petinggi Partai Pengemis lainnya membungkukkan badan memberikan hormat.
"Setan arak, apa kabar kau?" tanya Pengemis Tongkat Sakti setelah mereka selesai berpelukan.
"Ah, bicaranya nanti saja, pengemis tua. Perutku sudah terasa lapar sekali," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tertawa.
"Ah, baiklah. Kalau begitu mari kita langsung saja," Pengemis Tongkat Sakti ikut tertawa. Mereka kemudian berjalan bersama-sama menuju ke meja makan.
Begitu tiba di sana, tanpa banyak membuang waktu lagi, orang-orang gagah tersebut segera melangsungkan makan bersama.
Sekitar lima belas menit kemudian, kegiatan makan siang sudah selesai. Kini Pengemis Tongkat Sakti dan Dewa Arak Tanpa Bayangan, diikuti oleh Ketua cabang sedang berjalan menuju ke sebuah ruangan khusus untuk menerima tamu.
Ruangan tersebut jaraknya tidak seberapa jauh. Karena itu beberapa tarikan nafas kemudian mereka sudah sampai di sana.
Kini ketiganya telah duduk di kursi yang telah tersedia. Di atas meja ada tiga guci arak berukuran besar dan daging segar yang cukup banyak.
Tidak menanti dibukakan, Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung menyambar arak itu dan meminumnya sampai hampir habis separuh.
"Ketua, maaf sebelumnya, kalau boleh tahu, apa tujuan lain Ketua datang ke Kota Gi Nian Jing ini?" Ketua cabang Partai Pengemis langsung bertanya serius kepadanya.
Sebagai orang sendiri, tentu saja dia sangat mengetahui kebiasaan Ketuanya tersebut. Apabila dia mendatangi suatu kota, selain untuk melihat keindahan atau lainnya, pasti masih ada tujuan tersendiri yang berhubungan langsung dengan dunia hitam.
Sedangkan terkait Kota Gi Nian Jing, pemandangan di sekitar sana sebenarnya tidak terlalu indah. Di samping itu, ia pun bisa menebak kalau kedatangan Ketuanya punya maksud lain.
"Kedatanganku kemari memang bukan hanya untuk berkunjung kemari saja, Ketua Lun. Melainkan juga untuk mencari informasi tentang cabang Partai Iblis Sesat yang kabarnya sering melakukan tindak kejahatan,"
Ketua Lun tidak terkejut ketika mendengar jawaban tersebut. Karena sebenarnya dia pun sudah menduganya.
"Oh, soal ini memang benar, Ketua," jawabnya membenarkan. "Markas cabang Partai Iblis Sesat di kota ini seringkali membuat onar. Para warga sekitar selalu menjadi korbannya. Selama beberapa bulan belakangan, entah sudah berapa banyak warga yang kebahagiaan dan haknya di rampas oleh mereka,"
Ketua Lun berhenti sebentar. Sepasang matanya menatap langit yang kelam dari balik daun jendela ruangan. Setelah mengambil nafas beberapa kali, ia mulai bicara lagi.
"Bahkan anggota partai kita pun ada yang turut menjadi korban ketika membantu para warga. Selama ini, aku belum berani turun tangan secara langsung karena tidak ada perintah dari Ketua. Lagi pula, menurutku hal ini terlalu berisiko,"
Ia tahu bagaimana kekuatan Partai Iblis sesat. Meskipun Ketua Lun punya keyakinan bisa menang apabila menghadapi mereka, namun yang dia takutkan justru adalah serangan balasannya.
Sebab kalau sampai hal itu terjadi, bisa jadi markas cabang Partai Pengemis di kota tersebut akan langsung rata dengan tanah.
Sementara itu, Pengemis Tongkat Sakti juga tidak menyalahkan Ketua Lun. Dia sendiri memahami isi hatinya.