Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Tugas Terakhir Dari Guru


Saat teriakan itu terdengar di telinganya, kebetulan Pemimpin Keempat sedang bertempur sengit melawan Zhang Fei. Ternyata jurus trisula yang selama ini dia andalkan, tidak mampu membunuh anak muda itu dengan cepat.


Walaupun kondisinya selalu berada di bawah angin, tapi nyatanya dia masih bisa bertahan. Tusukan trisula yang datang tanpa diketahui selalu gagal mengenai sasaran.


Dia sungguh kesal terhadap kenyataan itu. Di sisi lain, Pemimpin Keempat juga kagum terhadap anak muda yang sekarang menjadi lawannya.


Dalam hati, tokoh sesat itu berpikir bahwa untuk mengalahkannya, pasti butuh waktu yang tidak sebentar. Bukan mustahil pula dia harus berkorban dengan perjuangan berat.


Maka dari itu, ketika mendengar seruan Pemimpin Pertama yang menyuruhnya segera pergi, diam-diam dia merasa gembira.


Dengan cepat dia menjawab.


"Baik, Ketua. Aku mengerti,"


Pemimpin Keempat menambah kecepatannya dalam bergerak. Ketika menemukan situasi yang menguntungkan baginya, dia langsung melancarkan pukulan jarak jauh.


Wushh!!!


Segulung sinar kehitaman melesat ke arah Zhang Fei. Cepatnya bukan main.


Anak muda itu berseru tertahan. Buru-buru dia melompat ke samping supaya tidak terkena serangan jarak jauh barusan.


Blarr!!!


Pukulan jarak jauh tadi mengenai sebatang pohon. Pohon itu langsung hancur berkeping-keping karena dihantam tenaga yang dahsyat.


Zhang Fei telah selamat dari maut. Tapi sebagai gantinya, dia harus kehilangan musuh besar itu.


Sebab ketika situasi sudah berangsur normal, pada saat dirinya mengawasi keadaan sekitar, di tempat tersebut sudah tidak ada siapa-siapa lagi.


Ke mana perginya mereka?


Dia celingukan untuk beberapa waktu. Tapi hasilnya tetap nihil.


Para tokoh utama Organisasi Bulan Tengkorak itu sudah benar-benar pergi.


Pada saat demikian, mendadak Zhang Fei mendengar suara orang batuk. Saat diteliti, ternyata suara batuk itu berasal dari mulut gurunya, Pek Ma. Yang kini sudah terbaring lemah di atas tanah.


Dengan cepat dia melesat ke tempat di mana gurunya berada. Begitu tiba, hatinya kembali terasa sakit. Bahkan jauh lebih sakit dari sebelumnya.


Zhang Fei tidak sanggup menyaksikan kondisi Pek Ma yang sudah berlumuran darah. Lebih-lebih, ia tidak tega melihat tangan gurunya yang sudah terpotong.


"Guru, apa yang sudah terjadi kepadamu?" ia bertanya dengan cepat. Kepala Pek Ma diangkat dan diletakkan di atas pahanya.


"Mu-muridku ... aku, aku kalah," kata orang tua itu dengan susah payah.


"Tidak, guru. Kita belum kalah. Nanti, kita akan melakukan pembalasan kepada mereka,"


Suara Zhang Fei menjadi serak parau. Itu terjadi karena dia sedang menahan kesedihan dan amarah yang saat ini menggelora di dalam dadanya.


"Ti-tidak mungkin. Aku ... aku sudah tidak kuat lagi,"


"Guru, kau jangan seperti itu. Aku ... aku akan membawamu ke kota dan mencari tabib untuk merawat semua lukamu ini,"


Air mata mulai menetes membasahi pipinya. Bagaimanapun juga, Pek Ma sudah dianggap orang tua sendiri. Apalagi, dia lah yang mengurus dirinya sejak kecil sampai dewasa.


"Percuma, muridku," ia berkata. Namun ucapan itu segera berhenti karena lagi-lagi Pek Ma terbatuk-batuk. Batuk yang mengeluarkan darah.


Setelah mengumpulkan kekuatan, ia kembali melanjutkan ucapannya. "Aku sudah terkena racun ganas milik Pemimpin Pertama. Sekarang, tubuhku terasa panas seperti dibakar. Rasa sakit yang kurasakan ini, jauh lebih sakit saat tanganku terpotong oleh pedangnya," dia melirik ke tangan yang sudah kutung sebagian itu.


Ada rasa perih di hatinya saat melihat kenyataan tersebut. Tangan yang dulu sangat dibanggakan, tangan yang pernah membuat Dewa dan iblis takut kepadanya, sekarang harus kutung oleh sebatang pedang lawan.


"Mu-muridku ..." orang tua itu kembali berkata setelah diam cukup lama.


"Ada apa, guru?" tanya Zhang Fei berusaha untuk tetap tegar.


"Se-sebelum aku mati. Aku, mempunyai tugas untukmu,"


"Tugas apa guru? Katakan saja, murid pasti akan melaksanakan tugas itu,"


"Kau ... kau pergilah ke arah Selatan. Naiklah ke Gunung Awan Putih. Di sana, ada tokoh persilatan yang menyembunyikan diri. Bilang kepadanya, kau adalah anak dari si Pedang Kilat Zhang Xin,"


"Baik, guru. Baik, aku akan pergi ke sana," katanya sambil menganggukkan kepala beberapa kali.


"Bagus. Jangan lupa, balaskan kematian lima gurumu ini,"


Selesai berkata seperti itu, kepala Pek Ma langsung terkulai lemas tak berdaya.


Dia telah tewas! Tewas di pangkuan muridnya.


Tangis anak muda itu langsung pecah. Beberapa kali juga dirinya berteriak seperti orang kesetanan.


Sungguh, kematian Lima Malaikat Putih yang merupakan gurunya, membuat batin anak muda itu terpukul sangat keras.


Bayangan kepedihan yang pernah terjadi di masa lalu, kini berkelebat di depan wajahnya. Ayahnya, ibunya, bahkan guru-gurunya, seakan-akan terlihat melambaikan tangan kepadanya.


Seolah-olah mereka mengajak Zhang Fei untuk pergi menyusulnya.


Beberapa kali dia menggelengkan kepala. Sebagai tanda bahwa dia tidak atau belum mau menyusul mereka.


Bagaimanapun juga, meskipun dalam keadaan sedih, tapi alam sadarnya masih ingat. Dia masih bisa mengontrol dirinya.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Zhang Fei sudah kembali seperti sedia kala. Dia sudah sadar, sadar sepenuhnya.


"Suatu saat nanti, aku akan membalaskan kematian lima guruku. Dan aku juga akan membunuh para pendekar yang sudah melarikan diri itu!"


Kedua tangannya mengepal kencang. Saat berbicara, dia juga menggertakkan giginya dengan kuat.


Beberapa saat kemudian, Zhang Fei bangkit berdiri dari posisinya.


Dia mencari tempat yang pas untuk mengubur jasad orang-orang itu. Setelah menemukannya, dengan sekuat tenaga dan dengan peralatan yang ada, ia langsung membuat lubang yang cukup besar.


Puluhan orang dikubur bersama. Sedangkan khusus untuk lima orang gurunya, dia mengubur terpisah. Mereka tidak ditumpuk dalam satu lubang, melainkan dikubur satu persatu.


Pekerjaan tersebut selesai tepat pada saat mentari pagi memunculkan dirinya di ufuk sebelah timur.


Saat ini Zhang Fei sedang berada di dalam markas Organisasi Bulan Tengkorak. Ia mencari-cari sesuatu yang bisa disantap.


Begitu menemukan makanan, ia segera menyantapnya dengan lahap. Tidak sampai disitu saja, Zhang Fei juga berniat untuk mencari barang-barang berharga lainnya.


Bukan cuma uang, melainkan juga informasi yang misalkan ditulis di atas sebuah surat ataupun sejenisnya.


Sayang sekali, sekian lama mencari, Zhang Fei tidak bisa menemukan apa-apa. Dia hanya bisa menemukan satu kantong kulit yang berisi keping emas.


Karena merasa pencariannya sia-sia, maka anak muda itu pun memutuskan untuk pergi keluar.


Dia kemudian beristirahat di bawah pohon rindang yang berdekatan dengan kuburan lima orang gurunya. Baru sesaat ia merebahkan tubuh, dirinya sudah tertidur dengan pulas.


Suasana di bekas markas Organisasi Bulan Tengkorak itu masih kacau balau. Sisa-sisa pertarungan, noda darah di atas rumput, dan hawa kematian pun masih terasa cukup pekat.


Siapa pun yang ada di daerah sekitar itu, pasti akan melihat dan merasakan hal di atas.