
"Walaupun aku tahu siapa nama dalang utama dalam perebutan itu, tapi aku tetap tidak akan menyebutkannya. Sebab namanya tidak bisa dibeli dengan harga semahal apapun,"
Si Tua Tempat Informasi berkata dengan nada serius. Dia tidak sedang kain-kain. Maka dari itu, mau tak mau Zhang Fei dan Yao Mei pun harus mempercayai ucapannya.
"Benarkah tidak ada cara lain lagi?" tanya anak muda itu lebih jauh.
"Sebenarnya masih ada," jawabnya. "Tapi aku yakin, Tuan Muda tidak akan mampu menyanggupinya. Sebab informasi ini tidak akan bisa dibeli dengan uang,"
"Lalu, dengan apa?"
"Dengan nyawa," kata si Tua Tempat Informasi dengan perlahan. Setiap perkataannya penuh dengan tekanan. Seakan dia sengaja melakukan hal itu supaya bisa didengar dengan jelas.
"Begitu berhargakah informasinya, sehingga menyebut namanya saja harus dibayar dengan nyawa?" tanya Yao Mei mulai berbicara lagi.
Dia sendiri kurang yakin dengan apa yang didengarnya barusan. Gadis cantik itu menganggap bahwa orang tua tersebut sedang bercanda.
"Sangat berharga sekali, Nona. Lagi pula, hal ini terlampau berisiko,"
Mendengar perkataannya lebih jauh, Zhang Fei tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia hanya mampu menghela nafas panjang dan berat.
Ia kemudian menuangkan arak ke dalam cawan. Zhang Fei minum beberapa kali, sekedar untuk menenangkan pikirannya.
"Baiklah, kita lewati saja soal ini," katanya setelah selesai minum arak. "Tuan, aku ingin bertanya lebih lanjut lagi,"
"Silahkan. Aku pasti akan menjawabnya,"
"Apakah dalam peristiwa ini, Partai Iblis Sesat juga ikut terlibat?"
Si Tua Tempat Informasi tiba-tiba melirik ke arah Zhang Fei. Ia tersenyum sinis. Kemudian segera menjawab. "Benar. Partai besar tersebut memang terlibat. Karena itulah Tuan Muda bisa menemukan lencana Partai Iblis Sesat,"
Zhang Fei dibuat tertegun dengan jawaban itu. Ia memandang Yao Mei, seolah-olah sedang mempertanyakan sesuatu. Tapi gadis yang dipandangnya tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepala sambil mengangkat kedua bahunya.
Bagaimana orang tua itu bisa tahu kalau dirinya menemukan Lencana Partai Iblis Sesat? Siapa dia sebenarnya? Apa jangan-jangan ... si Tua Tempat Informasi masih merupakan bagian dari mereka?
Berbagai macam pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam benaknya. Entah kenapa, tapi Zhang Fei mulai merasa curiga. Hanya saja, dia tidak mau memperlihatkan hal tersebut.
"Jadi, Tuan juga tahu kalau aku sudah menemukan lencananya?"
"Ah, aku hanya menebak saja," kata si Tua Tempat Informasi sambil tertawa. Dia pun segera menuang arak ke dalam cawan dan langsung meminumnya sampai habis.
Keadaan di dalam ruangan hening cukup lama. Gadis belia berkuncir dua tadi sudah tidak ada di pojok ruangan. Entah ke mana perginya gadis itu. Sebab di antara mereka tidak ada yang menyadari bahwa ia telah lenyap.
"Tuan, apakah dua benda pusaka itu benar-benar asli?" tanya Zhang Fei lagi.
"Tentu saja. Benda pusaka di dalamnya memang asli,"
"Kalau begitu, kenapa orang-orang tersebut mau memberikannya kepada puluhan pendekar dunia persilatan?"
"Itu hanyalah pancingan belaka. Seperti pepatah mengatakan, kalau mau mendapat ikan yang besar, maka kita juga harus memberikan umpan yang bagus,"
"Benar juga," kata Zhang merasa setuju. "Lalu sekarang, di mana dua kotak hitam yang berisi benda pusaka itu?"
"Di goa yang menjadi tempat perebutan itu. Dua kotak hitam tersebut masih utuh dan tersimpan di ruang bawah tanah," si Tua Tempat Informasi menjawab dengan cepat. Namun tidak lama setelah itu, buru-buru dia berkata lebih lanjut.
"Maksudku, begitulah informasi yang aku dengar siang hari tadi. Tapi saat ini, entah berada di mana dan di tangan siapakah kota hitam tersebut," ujar orang tua itu meralat ucapan sebelumnya.
Keduanya adalah muda-mudi yang mempunyai kecerdasan tinggi. Maka dari itu, dengan cepat mereka menyadari ada gelagat yang mencurigakan dari si Tua Tempat Informasi.
"Baiklah. Terimakasih atas informasi yang telah Tuan berikan. Ini bayaran untuk semua jawaban tadi. Lebihnya ambil saja," kata Zhang Fei sambil memberikan satu kantung kecil uang berisi emas.
Setelah membayar, mereka segera bangkit berdiri. Tanpa menunggu jawaban dari si Tua Tempat Informasi, keduanya langsung keluar dari ruangan tersebut.
Begitu tiba di tengah halaman, Zhang Fei dan Yao Mei segera mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya sampai ke titik tertinggi.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua pendekar muda itu melesat dengan sangat cepat. Baru sebentar saja, mereka sudah berada cukup jauh dari kediaman si Tua Tempat Informasi.
Sementara itu di dalam ruangan, si Tua Tempat Informasi tiba-tiba bangkit berdiri dan segera membalikkan tubuh.
Rupanya wajah orang tua itu cukup sangar dan dipenuhi oleh keriput. Sepasang matanya mencorong tajam. Sekilas pandang, siapa pun bisa menilai bahwa dia bukan orang baik-baik.
"Keluar kalian!" teriak orang tua itu cukup keras.
Begitu ucapannya selesai, tiba-tiba dari balik ruangan tersebut muncul sepuluh orang dengan pakaian berbeda. Malah di antara mereka ada pula di gadis berkuncir dua.
"Kejar dua bocah tadi. Jangan sampai mereka tiba lebih dulu!" tegasnya memberikan perintah.
"Baik, kami siap menjalankan perintah," jawab mereka secara serempak.
Sepuluh orang itu lalu melesat keluar. Gerakan mereka cukup cepat. Dari sini saja bisa dinilai bahwa orang-orang tersebut mempunyai kemampuan yang lumayan.
Sementara si Tua Tempat Informasi sendiri, setelah kepergian sepuluh orang itu, dia langsung masuk ke dalam ruangan lain. Dirinya juga berniat untuk menuju ke tempat yang dimaksud.
###
Sore sudah tiba kembali. Matahari akan tenggelam di balik bukit yang hijau. Cahaya kemerahan sudah menyapa alam mayapada. Saat itu Zhang Fei dan Yao Mei telah tiba di Gunung Lima Jari.
Sekarang keduanya sedang berdiri persis di tengah-tengah halaman yang beberapa waktu lalu menjadi saksi bisu terkait pembunuh masal yang menimpa puluhan pendekar Tionggoan.
"Zhang Fei, kau yakin di Tua Tempat Informasi itu mengatakan yang sejujurnya?" tanya Yao Mei sambil melirik ke arahnya.
"Aku sangat yakin, Nona Mei. Aku bisa melihat gelagat mencurigakan dari dirinya," jawab Zhang Fei serius.
"Aku juga merasa dia bukan orang sembarangan,"
"Bicaranya nanti saja. Sekarang, lebih baik kita masuk ke dalam goa dan mencari dua kotak hitam yang dimaksud oleh si tua bangka itu,"
"Baik, aku setuju. Mari,"
Dua orang muda itu lalu berjalan masuk ke dalam goa. Begitu tiba di dalam sana, mereka cukup dibuat kaget. Rupanya keadaan di dalam terbilang komplit. Di sana terdapat cukup banyak benda-benda yang diperlukan untuk melancarkan rencananya.
"Pantas saja rencana mereka berjalan mulus. Rupanya persiapan yang dilakukan sudah benar-benar sempurna," kata Zhang Fei sambil memandangi seluruh ruangan.
"Kalau begini caranya, jangankan mereka, kita bisa melakukan hal serupa,"
Sembari berbicara, Zhang Fei dan Yao Mei juga terus mencari-cari ruangan rahasia. Setelah beberapa saat kemudian, tiba-tiba ia menemukan sebuah tombol yang mencurigakan.