
Dalam hati, dua gadis cantik itu sama-sama merasa heran. Mereka heran saat mengetahui hubungan Zhang Fei dan Tabib Dewa Dong Ying seperti sangat dekat.
"Ngomong-ngomong, di mana Ketua Partai Pengemis? Mengapa aku tidak melihatnya?" tanya orang tua itu lebih lanjut.
"Ini Ketuanya, Tabib Ying," jawab Zhang Fei sambil melirik ke arah Yin Yin.
"Oh, jadi ... Nona ini adalah Ketua Partai Pengemis yang sekarang? Ah, maafkan karena aku sudah lancang. Sungguh, aku tidak mengetahui hal ini,"
Dia kemudian memberi hormat sebagai tanda permintaan maaf. Sejujurnya, orang tua itu memang tidak tahu. Dia mengira bahwa Ketua Partai Pengemis masih dijabat oleh Chen Mu Bai.
"Tidak perlu sungkan, Tabib Dewa. Memang, pergantian Ketua di partai kami tidak dirayakan besar-besaran. Jadi wajar kalau masih banyak orang yang belum tahu," ucap Yin Yin dengan hambat.
Tabib Dewa Dong Ying mengangguk beberapa kali. Kemudian dia segera bertanya lebih lanjut. "Kalau boleh tahu, siapa sebenarnya Nona ini?"
Ia merasa heran setelah mengetahui siapa Ketua Partai Pengemis yang sekarang.
Sejak dulu, Partai Pengemis memang selalu dipimpin oleh pria tua yang sudah banyak pengalaman. Tabib Dewa Dong Yin tentu penasaran mengapa Ketua yang sekarang adalah wanita. Ditambah lagi, umurnya bahkan masih berada di bawah Zhang Fei.
Yin Yin bisa memahami arah pembicaraan orang tua itu. Karenanya dia langsung menjawab dengan jujur. "Tabib Dewa, sebelumnya perkenalkan, namaku adalah Chen Liu Yin. Aku biasa dipanggil Yin Yin. Dan si Pengemis Tongkat Sakti adalah Kakekku, dia yang telah mengurusku sejak kecil,"
"Ah, jadi ... Nona ini adalah gadis kecil yang sejak dulu diasuh olehnya? Aih ... ternyata sekarang kau sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik," katanya seraya tertawa nyaring.
"Eh, apakah Tabib Dewa mengenalku?" tanya gadis itu keheranan.
"Kenal sih tidak," katanya menjawab cepat. "Tapi, aku sudah tahu sejak dulu bahwa si Pengemis Tongkat Sakti mempunyai seorang cucu yang sangat disayanginya. Dulu, aku sering melihat kau digendong olehnya. Bahkan tak jarang, dia membawamu mengembara,"
"Aih, aku jadi malu," kata Yin Yin sambil tersenyum kecil.
Para tokoh dunia persilatan itu sempqt berbicara panjang lebar untuk beberapa waktu. Setelah matahari mulai bergeser ke sebelah barat, mereka kemudian pergi menuju ke ruangan pribadi si Pengemis Tongkat Sakti.
Kedatangan Tabib Dewa Dong Ying benar-benar membuat mantan Ketua Partai Pengemis itu kaget. Dia masih tidak percaya dengan kejadian ini.
Untuk beberapa saat, si Pengemis Tongkat Sakti hanya bisa terbengong sambil memandangi wajah Tabib Dewa.
"Tuan Bai, apakah kau sudah melupakanku?" tanyanya sambil tersenyum.
"Ti-tidak. Mana mungkin aku melupakanmu, Tuan Ying? Aku hanya tidak menyangka, ternyata di usia yang sudah tua ini, kita bisa bertemu lagi," jawabnya sedikit gugup.
"Hahaha ... benar. Mungkin semua ini sudah ditakdirkan oleh langit,"
"Betul, betul sekali," Pengemis Tongkat Sakti mengangguk beberapa kali. "Tak kusangka, ternyata kau berhasil menjadi tabib ternama di Kekaisaran Song,"
"Aku pun tidak menyangka kau bisa menjadi salah satu tokoh penting dalam dunia persilatan. Lebih dari itu, aku kagum karena kau berhasil mendidik cucu kecilmu,"
Dua tokoh itu saling tertawa. Mereka berbincang-bincang tentang masa lalunya masing-masing.
Setelah puas basa-basi, Tabib Dewa Dong Ying segera bertanya terkait kenapa si Pengemis Tongkat Sakti bisa menjadi seperti sekarang ini.
Orang tua itu pun langsung menceritakan semuanya secara jelas. Dia bercerita panjang lebar tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Tabib Dewa Dong Ying mengangguk-angguk sepanjang si Pengemis Tongkat Sakti bercerita. Ia mendengarkan ceritanya secara seksama.
"Tapi ... apakah sekarang orang-orang itu masih hidup?"
"Sekarang mereka sudah mati, Tahun Dewa," jawab Yin Yin tiba-tiba bicara. "Sekitar satu mingg yang lalu, kami telah menyerbu markas mereka,"
"Oh, syukurlah kalau begitu. Manusia seperti mereka memang pantas mati," jawabnya sembari menghembuskan nafas lega.
Ia kembali memperhatikan tubuh si Pengemis Tongkat Sakti. Tabib Dewa Dong Ying kemudian memeriksa denyut nadinya. Ia mengangguk-angguk seolah-olah telah memahami sesuatu.
"Baik, Tuan Yin,"
Zhang Fei dan dua gadis cantik itu segera keluar dari ruangan. Setelahnya, Tabib Dewa Dong Ying segera memeriksa di Pengemis Tongkat Sakti lebih lanjut lagi.
Ia menyuruhnya untuk berbaring sambil membuka baju. Kedua telapak tangannya segera ditempelkan di dada.
Pengemis Tongkat Sakti segera merasakan ada hawa panas yang bersarang di dada. Saking panasnya hawa tersebut, sampai-sampai seluruh kulitnya memerah seperti dibakar.
Keringat telah membasahi tubuh. Peluh sebesar biji kacang kedelai juga mulai keluar.
Semakin lama, hawa panas itu makin menjadi. Sekarang bahkan dirinya kesulitan bernafas.
Sekitar lima menit kemudian, Tabib Dewa segera menarik telapak tangannya. Dia lalu menyuruh Pengemis Tongkat Sakti untuk duduk bersila.
"Pejamkan matamu dan kosongkan tubuhmu. Jangan pernah melawan kalau ada tenaga lain yang mencoba masuk," katanya memberitahu.
"Baiklah," Pengemis Tongkat Sakti mengangguk.
Dia lalu duduk bersila, mengambil sikap seperti bunga teratai. Matanya langsung dipejamkan, orang tua itu segera meningkatkan konsentrasinya.
Tabib Dewa kemudian mengambil posisi yang sama. Dia lalu menempelkan kembali kedua telapak tangannya di punggung Pengemis Tongkat Sakti.
Hawa hangat segera keluar dari telapak tangan itu. Hawa hangat tersebut segera masuk dan menyalur ke seluruh tubuh mantan Ketua Partai Pengemis tersebut.
Perasaan yang sama seperti sebelumnya, kini mulai dirasakan kembali oleh orang tua itu. Proses penyembuhan tersebut membutuhkan waktu setidaknya tiga puluh menit.
Setelah waktu yang dibutuhkan hampir selesai, tiba-tiba si Pengemis Tongkat Sakti merasa sangat mual. Dadanya juga kembali sakit. Bahkan rasa sakit yang sekarang jauh lebih hebat dari sebelumnya.
Hoekk!!!
Tiba-tiba dia memuntahkan darah kehitaman cukup banyak. Darah tersebut tumpah di pembaringan.
"Cukup! Buka matamu kembali dan tarik nafas dalam-dalam,"
Si Pengemis Tongkat Sakti mengangguk. Dia segera melakukan perintah Tabib Dewa Dong Ying.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya setelah selesai.
"Aku merasa jauh lebih segar. Nafasku juga mulai kembali normal,"
"Syukurlah," Tabib Dewa menghembuskan nafas panjang.
Akhirnya pengobatan yang berat itu selesai juga. Dia bersyukur karena bisa membantu memulihkan kondisi si Pengemis Tongkat Sakti.
Keringat dingin telah membasahi seluruh pakaiannya. Ia mengusut peluh di kening dengan ujung bajunya.
"Terimakasih, Tuan Ying," ucapannya dengan tulus.
"Tidak perlu berterimakasih, Tuan Bai. Sesama manusia, kita memang diwajibkan untuk saling membantu,"
Kedua orang tua itu melakukan semedi untuk beberapa saat. Setelah tenaganya kembali pulih, Tabib Dewa segera keluar dan memberitahu kepada yang lain bahwa proses penyembuhannya telah selesai.
"Bagaimana, Tabib Dewa?" tanya Yin Yin begitu ia berada di dalam.
"Sudah selesai, Nona Yin. Tapi untuk tiga hari ke depan, Kakekmu harus beristirahat total. Setelah lewat tiga hari, aku rasa dia akan kembali pulih sepenuhnya,"