
Dua orang tokoh angkatan tua yang mempunyai kemampuan tinggi bergerak dengan sangat cepat. Jarak di antara mereka tidak terlalu jauh.
Jadi, tidak heran kalau hanya dalam satu tarikan nafas saja, keduanya sudah tiba di depan mata.
Pada saat itu, Pendekar Kumbang Hitam sudah menarik tangan kanannya ke belakang. Dia siap melancarkan jurus pamungkas yang akan mengakhiri pertarungannya tersebut.
Di satu sisi, Zhang Fei masih tetap berdiri diam. Seolah-olah dia tidak melihat akan adanya serangan yang sudah tiba di depan mata itu.
Pendekar Kumbang Hitam merasa heran, dalam hatinya dia bertanya-tanya tentang langkah apa dan bagaimana yang akan diambil oleh anak muda itu.
Sungguh, dia dibuat sedikit bingung karenanya. Namun bukan berarti hal itu membuat surut niatnya. Justru niat ingin membunuh tersebut malah bertambah besar lagi.
"Berakhirlah hidupmu, anak muda," katanya berteriak dengan lantang.
Wutt!!!
Tangan kanannya dijulurkan ke depan secepat kilat.
Bersamaan dengan itu, di belakangnya terlibat ada secercah titik hitam yang berkelebat melebihi cepatnya serangan yang dia berikan.
Slebb!!!
Jurus pamungkas Pendekar Kumbang Hitam tiba-tiba berhenti. Berhenti tepat di depan mata Zhang Fei. Padahal, tingga beberapa inci lagi jurusnya akan mengenai sasaran dengan telak.
Siapa sangka, gerakannya mendadak terhenti. Jurusnya berhenti. Tubuhnya juga berhenti.
"Aku akan ikut turun tangan. Lebih tepatnya, turun tangan untuk membunuhmu," kata Pendekar Pedang Perpisahan dengan nada sedingin es.
Pendekar Kumbang Hitam terkejut ketika mendengar nada suara itu. Dia ingin menolehkan kepalanya, tapi ia tidak sanggup.
Tokoh sesat tersebut hanya mampu memandang ke bawah. Dan ketika dilihat, ternyata sebatang pedang tahu-tahu sudah menembus jantungnya tepat dari bagian belakang punggung.
Dia tidak perlu bertanya lagi, sebab dirinya sudah tahu siapakah pemilik dari pedang tersebut.
"Ke-kenapa kau ... menusukku dari belakang?" tanya Pendekar Kumbang Hitam dengan susah payah.
"Sejak awal aku memang sudah berniat untuk membunuhmu,"
"Ta-tapi ... bukankah kita, akan bekerja sama?"
"Itu hanya omong kosong saja. Aku yang dulu, sudah berbeda dengan aku yang sekarang,"
"Ka-kau ... kau akan merasakan akibatnya nanti,"
Walaupun seluruh tenaganya sudah hilang, meskipun ia kesulitan berbicara, tapi Pendekar Kumbang Hitam tetap memaksakan dirinya.
Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang menimpa dirinya sendiri. Andai saja dia tahu sejak awal tentang niat Pendekar Pedang Perpisahan, sudah tentu ia tidak sudi untuk bekerja sama dengannya.
Naas, dia mengetahui niat itu justru tepat sebelum nyawanya melayang.
"Hentikan omong kosongmu. Pergilah ke alam baka untuk mempertanggungjawabkan semuanya,"
Pendekar Pedang Perpisahan segera mencabut senjatanya dari tubuh lawan. Bertepatan dengan itu, Pendekar Kumbang Hitam langsung ambruk ke atas tanah.
Tubuhnya sempat mengejang beberapa kali sebelum akhirnya dia benar-benar tewas.
Darah segar di ujung pedang masih menetes. Setetes demi setetes, darah itu terus turun membasahi bumi. Seolah-olah ia sedang menjadi dari kejadian tersebut.
"Tusukan yang sangat tepat. Aku benar-benar kagum," ujar Zhang Fei memuji.
Dia tahu, melakukan tusukan dengan sangat tepat seperti itu sangatlah sulit. Terutama lagi adalah karena pada saat yang bersamaan, targetnya sedang melesat dengan cepat.
Siapa sangka, ternyata Pendekar Pedang Perpisahan bisa melakukannya dengan sempurna.
"Ketua Fei terlalu memuji. Maaf kalau aku turun tangan terlambat," katanya sambil tersenyum simpul.
Pendekar Pedang Perpisahan tidak melanjutkan pembahasan tersebut. Dia lebih memilih membahas persoalan lain.
"Aku bertemu dengan mereka di daerah perbatasan. Tepatnya sekitar tiga hari lalu. Mereka memang berasal dari Kekaisaran Jin," ia tiba-tiba mengatakan semuanya dengan singkat.
Zhang Fei mengangguk. Dia pun segera mengajukan pertanyaan kepadanya. "Bagaimana Tuan Wu bisa melakukan 'kerja sama' dengan mereka?"
"Itu soal mudah. Sebab sebelumnya, orang-orang itu sudah mengenalku,"
"Hebat. Bahkan orang dari Kekaisaran lain pun sampai mengenalmu,"
Pendekar Pedang Perpisahan tersenyum kaku, dia berkata, "Suatu saat, Ketua Fei juga bisa terkenal di Kekaisaran lain. Bahkan menurutku, kau akan melampaui kami semua,"
"Tidak berani, tidak berani. Hal itu terlalu mustahil bagiku," Zhang Fei menjawab sambil tertawa cukup lantang.
Setelah berada di posisi sekarang, dia menjadi tidak bersemangat lagi untuk mencari nama. Apalagi setelah dirinya sadar bahwa menjadi orang terkenal itu bukan sesuatu yang mengenakan.
Ada hal-hal tidak enak yang jarang diketahui oleh orang lain. Dan yang mampu mengetahuinya, hanya mereka yang berada di posisi serupa.
Andai saja dia tidak terikat dengan berbagai macam janji dan tanggungjawab, sudah tentu Zhang Fei tidak ingin melakukan ini semua.
Dia lebih memilih untuk bergerak secara diam-diam tanpa diketahui oleh banyak orang.
Sayangnya, sekarang hal seperti itu sudah tidak bisa lagi dilakukan olehnya.
"Ketua Fei, ngomong-ngomong kau akan pergi ke mana?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan mengalihkan pembicaraan.
"Kebetulan, aku akan pergi ke Gedung Ketua Dunia Persilatan. Empat orang tua itu ingin mengadakan pembicaraan denganku,"
Pendekar Pedang Perpisahan sudah tahu siapa empat orang tua yang dimaksud. Maka dari itu, dia tidak banyak bertanya lagi.
"Oh, kalau begitu, hati-hati di perjalanan,"
"Terimakasih, Tuan Wu. Kau sendiri, ke mana tujuanmu sekarang?"
"Aku tidak punya tujuan pasti,"
"Bagaimana jika kita pergi bersama ke Gedung Ketua Dunia Persilatan?"
Datuk sesat itu memandang Zhang Fei untuk beberapa saat. Dia belum berbicara lagi.
Dari sorot mata yang kelabu itu, Zhang Fei sudah tahu apa yang saat ini sedang dirasakan olehnya.
"Tuan Wu tenang saja, aku pastikan semua akan baik-baik saja,"
"Aku bukan takut menghadapi mereka. Aku hanya takut akan mencoreng nama baikmu, Ketua Fei. Kau adalah sosok utama dari aliran putih setelah Empat Datuk Dunia Persilatan. Sedangkan aku disebut iblis dari aliran sesat. Aku khawatir mereka akan mengubah pandangannya terhadapmu,"
Zhang Fei sedikit tersentuh setelah mendengar ucapan itu. Dia tidak menyangka, ternyata, orang yang selama ini dikenal kejam, bisa berkata seperti barusan.
Untuk beberapa saat, Zhang Fei ikut terdiam. Dia sedang berusaha menguasai perasaannya yang bergemuruh.
"Terimakasih atas perhatianmu ini, Tuan Wu. Tapi sekali lagi aku tegaskan, semuanya akan baik-baik saja. Percayalah," kata Zhang Fei setelah dirinya kembali tenang.
"Hemm ... baiklah. Kalau Ketua Fei tetap memaksa, apa boleh buat," ujarnya sambil menghela nafas.
"Jadi, Tuan Wu akan ikut denganku?" ia memastikan kembali.
"Ya, aku akan ikut," jawabnya seraya mengangguk.
"Bagus. Kalau begitu, mari kita pergi sekarang juga,"
Pendekar Pedang Perpisahan mengangguk. Mereka berdua kemudian langsung pergi dari sana dengan ilmu meringankan tubuhnya masing-masing.
Zhang Fei merasa senang karena pada akhirnya ia bisa mengajak orang seperti Pendekar Pedang Perpisahan ke pihaknya. Dan dia lebih senang lagi karena hubungannya semakin akrab dari waktu ke waktu.