Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Ilmu Tentang Wanita


"Tentu saja aku tahu," katanya setelah ia berhenti tertawa.


Zhang Fei tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi. Saat ini, dia hanya bisa menundukkan kepala sambil menahan rasa malu.


"Anak Fei," orang tua itu memanggil Zhang Fei kembali setelah dia meneguk arak di dalam guci miliknya.


Zhang Fei segera mengangkat wajah dan memandang ke arahnya.


"Kau ingin belajar soal wanita?" tanyanya kemudian.


"Apa? Memangnya ... wanita juga bisa dipelajari?" Zhang Fei kebingungan.


Seumur hidup, rasanya dia baru mendengar bahwa di dunia ini ada semacam ilmu yang khusus mempelajari wanita.


"Bukan itu maksudku. Lebih tepatnya, ilmu ini khusus untuk menghadapi para wanita diluar sana. Seperti tadi contohnya,"


"Aku tidak mengerti, Tuan Kiang," jawab Zhang Fei masih kebingungan.


"Sebentar lagi kau akan paham,"


Anak muda itu menganggukkan kepala. Walaupun pada awalnya tidak percaya, tapi sekarang, dirinya harus percaya. Sebab Zhang Fei bisa melihat keseriusan di wajah Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Asal kau tahu saja, walaupun begini, dulu waktu muda, aku justru adalah penakluk wanita," kata Kiang Ceng lalu tertawa bangga.


"Benarkah?"


"Tentu saja. Wanita yang sudah aku taklukan selama hidup, mungkin tidak terhitung lagi berapa banyaknya,"


"Wah, kalau begitu, Tuan Kiang ini pasti ahli menghadapi kaum wanita," kata Zhang Fei merasa sedikit kagum.


"Bisa dibilang begitu, hahaha ..."


Datuk Dunia Persilatan yang itu menenggak arak kembali. Setelahnya ia mulai bicara lagi.


"Kalau kau sedang berhadapan dengan wanita, siapa pun wanita itu, usahakan kau harus mempunyai kepekaan tinggi. Karena pada dasarnya, seluruh wanita di muka bumi ini mempunyai perangai yang hampir sama," katanya mulai bicara serius.


"Apa itu, Tuan Kiang?"


"Mereka selalu ingin dimengerti. Maka dari itulah, kau harus mengerti apa yang dia inginkan. Meskipun mustahil untuk bisa benar-benar mengerti dan memahami wanita, tapi setidaknya kau harus mempunyai cara jitu untuk mengatasinya,"


"Bagaimana contohnya?"


"Sudah aku katakan, contohnya seperti tadi. Kau tahu, bahwa dua gadis itu sebenarnya mempunyai perasaan kepadamu?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menatap Zhang Fei lekat-lekat.


"Perasaan? Mereka mempunyai perasaan apa terhadapku?"


Zhang Fei semakin bingung. Sebab dia sendiri belum pernah mengalami hal-hal semacam ini. Pokoknya, semua hal yang menyangkut lawan jenis, dia benar-benar masih awam. Jadi tidak perlu heran apabila dia kurang mengerti terkait apa yang diucapkan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Dasar anak bodoh," ucapnya memaki. "Mereka itu mempunyai perasaan kagum kepadamu. Bahkan bisa jadi, keduanya menyukaimu,"


"Ah, aku tidak tertarik membahas hal ini, Tuan," ucap Zhang Fei sedikit mengeluh.


Bagi dirinya, membahas tentang ilmu-ilmu silat dan berbagai macam aliran bela diri, jelas lebih seru apabila dibandingkan dengan membahas wanita.


Maka dari itulah ia tidak ada niat untuk mempelajari 'ilmu tentang wanita' yang tadi dikatakan oleh Kiang Ceng.


"Kau ini benar-benar bodoh. Walaupun sekarang belum tertarik untuk membahasnya, tapi ke depannya, kau pasti akan sering mengalami hal seperti tadi. Karenanya kau harus mempunyai dasar tentang cara bagaimana menghadapi wanita,"


"Nah, modal pertama untuk menghadapi para wanita adalah kepekaan. Selain itu, kau harus bisa menangkap gerak tubuh yang mereka lakukan. Kadang kala, apabila sedang berhadapan dengan wanita, lalu mereka melakukan gerakan atau bicara dengan bahasa isyarat, hal itu sebenarnya mengandung arti tersendiri,"


"Jadi pada saat itulah aku harus mengerti apa maksud dan keinginan mereka?" tanya Zhang Fei dengan cepat.


"Benar sekali" seru Dewa Arak Tanpa Bayangan. "Memang harus seperti itu. Asal kau tahu saja, kaum wanita itu lebih suka memberikan kode atau isyarat tertentu, daripada berbicara dengan jelas dan gamblang,"


"Aih, rumit sekali,"


"Wanita memang rumit. Tapi kau justru harus bisa memecahkan kerumitan itu. Kalau kau sudah bisa menguasai modal utama yang aku ucapkan barusan, niscaya dirimu bisa mengikuti jejakku. Yaitu dapat menaklukkan wanita mana pun juga,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan kembali tertawa lantang. Dia tampak merasa bangga ketika membicarakan persoalan itu.


"Baiklah, Tuan Kiang. Aku akan mengingat semua perkataanmu," kata Zhang Fei. Dia berhenti sebentar, kemudian berbicara lagi. "Tuan, sebenarnya aku mempunyai pertanyaan yang sampai sekarang masih belum terjawab,"


"Apa itu?"


"Sebenarnya kenapa Yu Yuan dan Yin Yin bisa ada di Kota Yunnan? Aku rasa, kemunculan keduanya bukan tidak disengaja. Mereka pasti mempunyai alasan kenapa ada di sini,"


Sejak awal, Zhang Fei sangat penasaran dengan hal ini. Dia yakin dibalik kemunculan keduanya, pasti ada hal yang lebih penting lagi.


Sayangnya, walaupun sudah mencoba bertanya secara langsung kepada mereka, tapi dua gadis itu tidak ada yang memberikan jawaban jelas.


"Ah, kau ini. Padahal lebih seru membahas wanita," kata orang tua itu mengeluh. "Tapi baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan kemudian membetulkan posisi duduknya. Setelah menemukan posisi yang nyaman, dia menyambung kembali ucapannya.


"Menurut informasi yang aku dapatkan, kedua gadis itu memang sengaja diutus untuk datang ke Kota Yunnan. Lebih tepatnya ke Gunung Lima Jari,"


"Untuk apa? Mungkinkah mereka ditugaskan untuk ikut dalam perebutan benda pusaka nanti?" tanya Zhang Fei mulai bisa membaca arah pembicaraan.


"Benar. Mereka memang disuruh untuk itu. Lagi pula, hal ini bisa menambah pengalaman mereka,"


"Hemm, masuk akal juga," Zhang Fei menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia membenarkan perkataan Kiang Ceng.


"Tapi menurutku, perebutan benda pusaka nanti terlampau berbahaya untuk mereka berdua. Bukannya aku sedang merendahkan kemampuan orang lain, tapi aku rasa ... di Gunung Lima Jari pastinya akan ada banyak sekali tokoh-tokoh dunia persilatan yang hadir,"


"Hal itu sudah tentu. Tapi kau pun jangan khawatir, karena guru mereka juga tidak akan menyuruhnya begitu saja,"


"Jadi, Ketua Perguruan Teratai Putih dan Ketua Partai Pengemis juga ada di sini?"


"Ya, kemungkinan besar demikian. Walaupun sejauh ini kau belum pernah melihat kehadirannya, tapi aku yakin bahwa mereka selalu bersembunyi dibalik bayang-bayang,"


Zhang Fei merasa setuju. Ia kembali menganggukkan kepalanya.


"Tuan Kiang," katanya berbicara lebih jauh. "Sebenarnya, benda pusaka apa yang nanti akan diperebutkan oleh kaum dunia persilatan itu?"


"Untuk hal ini aku belum bisa mengetahuinya secara pasti. Hanya saja, dibalik ini pasti ada sesuatu yang sampai sekarang masih menjadi misteri. Maka dari itu, kau harus selalu berhati-hati apabila sudah sampai di Gunung Lima Jari. Sebab di sana, sebelum terjadinya perebutan benda pusaka, pasti akan ada cukup banyak pertarungan yang berlangsung,"


"Kenapa bisa begitu?"


"Seperti yang kau ucapkan sebelumnya. Perebutan benda pusaka itu terlalu berbahaya karena akan dihadiri oleh banyak tokoh-tokoh rimba hijau. Dalam pada itu, tidak mustahil pula mereka yang mempunyai masalah pribadi akan bertemu dan melangsungkan pertempuran sengit,"


"Mungkin aku sendiri akan terlibat," gumam Zhang Fei perlahan.