Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Amarah Para Tokoh Dunia Persilatan III


'Sialan. Rupanya kemampuan Dewa Arak Tanpa Bayangan bukan omong kosong. Aku rasa terlalu sulit untuk bisa mengalahkannya,' Tuan Lu membatin di dalam hatinya.


Dia sadar kemampuannya sendiri masih berada sedikit di bawah lawan. Walaupun perbedaan itu tidak banyak, tapi terkadang justru yang sedikit itu bisa berakibat lebih besar.


"Mengapa kau malah melamun? Apakah kau takut bertarung dengan, setan tua Lu?"


Dewa Arak Tanpa Bayangan tahu-tahu sudah berada di depan mata. Ia kemudian mengeluarkan lagi jurus yang berikutnya.


"Menjemput Kematian di Dalam Kegelapan,"


Wutt!!!


Gerakan orang tua itu mendadak berubah. Serangkaian pukulan beruntun dia lancarkan ke beberapa titik penting. Setiap pukulan membawa hawa panas, tak heran kalau Tian Lu sedikit jeri dalam menghadapi jurus kedua tersebut.


Namun bersamaan dengan hal tersebut, dengan segera dia tersadar dari lamunannya. Buru-buru ia menarik langkah mundur. Begitu pukulan lawan kembali datang, dirinya sudah siap melawan dengan jurus-jurus yang dimiliki olehnya.


Pertarungan di antara dua tokoh itu segera berlangsung seru. Walaupun baru beberapa jurus, tapi keduanya sudah tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.


Masing-masing dari mereka sudah tertutup oleh sinar-sinar yang dihasilkan dari setiap jurusnya.


Tian Lu melompat ke atas. Di udara dia melancarkan tendangan kaki kanan uang mengerah ke batok kepala.


Plakk!!!


Benturan keras kembali terdengar. Dewa Arak Tanpa Bayangan menangkis serangan tersebut dengan telapak tangannya. Mereka terdorong mundur. Tian Lu berjumpalikan di tengah udara.


Begitu kakinya kembali menyentuh tanah, dia sudah menyerang lagi. Kali ini dirinya tidak mau main-main. Apalagi setelah menyadari bagaimana kemampuan lawan.


Sekecil apapun kesempatan yang tersedia, Tian Lu tidak mau menyia-nyiakannya begitu saja.


Wungg!!!


Serbuan telapak tangan sudah terlihat di tengah udara. Deru angin kencang dan hawa panas segera menyebar luas ke seluruh area pertempuran.


Dia mulai mencecar Dewa Arak Tanpa Bayangan menggunakan jurus-jurus andalan miliknya. Setiap jurus itu tidak boleh dipandang ringan, apalagi saat ini, Tian Lu sudah mengeluarkan setidaknya delapan bagian tenaga dalam.


Suara benturan antar tulang terus terdengar. Walaupun keduanya sempat beberapa kali terdorong mundur ke belakang, namun mereka tidak berhenti. Keduanya tetap menyerang lagi dengan rangkaian serangan yang hebat dan ganas.


"Dewa Arak Mabuk Berat!"


Datuk Dunia Persilatan tersebut berteriak cukup nyaring. Sesaat kemudian serangannya telah berubah hebat. Kedua jarinya ditekuk membentuk paruh burung elang.


Pukulan yang dia lancarkan terlihat semakin tidak karuan. Lebih kacau daripada jurus yang pertama dikeluarkan.


Akan tetapi, dalam jurus yang sekarang diperagakan olehnya, setiap serangan itu mengandung ancaman yang lebih serius lagi. Seluruh titik penting di tubuh manusia menjadi sasaran.


Tian Lu merasa kesulitan untuk mengimbangi gerakan lawan. Terutama lagi, dia tidak bisa membaca semua sekali ke mana arah serangannya.


Kalau ia menduga ke kanan, padahal serangan berikutnya adalah ke kiri. Begitu seterusnya sampai Tian Lu merasa benar-benar pusing menghadapi Dewa Arak Tanpa Bayangan.


Tetapi meskipun begitu, kemampuan orang tua tersebut memang tidak perlu diragukan lagi. Terbukti sekarang, walaupun Dewa Arak Tanpa Bayangan terus menyerang tanpa berhenti, namun Tian Lu masih bisa bertahan sampai detik ini.


Pertahanan yang dia ciptakan sangat sulit dijebol. Setiap inci tubuhnya seolah-olah telah berubah menjadi kebal.


'Sepertinya tua bangka ini menguasai semacam ilmu Tubuh Besi. Kalau begini caranya, percuma aku menyerang dia dengan jurus Dewa Arak Mabuk Berat,' batin orang tua itu sambil mengamati lawannya.


Begitu menyadari akan hal tersebut, dengan cepat Dewa Arak Tanpa Bayangan melompat mundur ke belakang. Tetapi rupanya Tian Lu tidak mau berhenti begitu saja.


Dia terus memburu ke depan. Ia menerjang bagaikan seekor harimau yang akan menerkam mangsanya. Gerakannya tersebut dipenuhi oleh ancaman serius.


Dalam kepalan tangan tersebut saat ini sudah terkandung tenaga yang tidak sedikit. Kalau saja pukulannya nanti berhasil mengenai sasaran, niscaya Dewa Arak Tanpa Bayangan akan mengalami luka yang serius di bagian kepala.


Wutt!!! Plakk!!!


Telapak tangan kanannya di dorong ke depan. Pukulan Tian Lu berhasil dia tangkis. Sebagai gantinya, Dewa Arak Tanpa Bayangan terdorong sampai dua langkah. Selain itu, tangan digunakan untuk menangkis tersebut juga terasa pegal.


'Rupanya dia sudah mulai serius. Hemm ... baiklah, aku pun tidak akan kalah," batinnya berkata.


Sementara di satu sisi lain, awalnya para tokoh yang hadir belum ada yang ikut campur. Kedua belah pihak masih sama-sama berdiri di tempatnya semula.


Namun setelah pertarungan antara Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Tian Lu semakin memanas, mereka pun tidak bisa menahan dirinya lagi.


Tanpa komando atau isyarat apapun juga, tiba-tiba saja mereka yang tadi hanya berdiri, kini masing-masing sudah menerjang ke depan.


Orang Tua Aneh Tionggoan langsung melawan dua orang musuh. Menurutnya, kalau digabungkan, rasanya kemampuan mereka itu hampir setara dengan kemampuan Tian Lu.


Meskipun untuk mengalahkannya tidak mudah, tapi dia yakin mampu melakukannya.


"Aku rasa kalian bisa menemaniku bermain-main barang sebentar," katanya sambil melancarkan serangan ke arah mereka.


Sedangkan tiga orang tokoh lainnya, saat ini mereka masing-masing sudah berhadapan dengan satu orang.


Kalau yang lain sudah memulai pertarungannya, Zhang Fei malah belum. Dia masih berdiri di depan calon musuhnya yang berusia tua.


"Orang tua, lebih baik kau menyerah saja. Aku tidak tega kalau menghajarmu," kata Zhang Fei sambil tersenyum mengejek.


"Bocah ingusan! Lancang sekali mulutmu itu,"


"Bukan lancang. Aku hanya berkata sejujurnya. Aku takut sial karena sudah menghajar orang tua bau tanah sepertimu,"


"Kentut busuk! Rasakan ini!"


Sringg!!!


Orang tua itu sudah tidak bisa menahan amarahnya. Ia segera mencabut golok yang disimpan di pinggang, lalu kemudian melompat ke depan sambil mengirimkan bacokan keras.


Bacokan golok mengarah ke bagian kepala, dengan mudah Zhang Fei mampu menghindari serangan pertama tersebut.


"Kau tidak pantas bermain golok. Kau lebih pantas terbaring di atas kasur," ucap Zhang Fei memberikan ejekan kepadanya.


"Jangan banyak bicara. Cabut pedangmu sekarang juga!"


Sambil berkata demikian, orang tua itu sudah menyerang lagi ke arah Zhang Fei. Golok yang tajam melesat di tengah udara. Harus diakui, serangannya memang cepat.


Kalau lawannya pendekar kelas satu, mungkin dalam beberapa saat saja dia akan berada di posisi terdesak.


Untunglah kemampuan Zhang Fei sudah lebih tinggi daripada pendekar kelas satu. Maka dari itu, meskipun lawan terus menyerang, tapi dia masih bisa menghindar dengan caranya sendiri.


Jurus demi jurus sudah berlalu. Orang tua tersebut masih menyerang Zhang Fei sampai saat ini.


Karena tidak ada pilihan lain, terpaksa dia harus mencabut Pedang Raja Dewa yang tersimpan di punggungnya.


Sringg!!!


Cahaya putih keperakan menerangi tempat sekitar untuk sekejap. Detik berikutnya Zhang Fei mulai melayani setiap serangan golok yang dilancarkan oleh musuhnya.