
Zhang Fei pun akhirnya bangkit berdiri kembali. Dalam hatinya, dia benar-benar tidak menyangka bahwa kakeknya itu akan membantunya melatih ilmu pedang.
Sungguh, ini adalah suatu kebahagiaan yang sulit untuk digambarkan. Selama hidup, rasanya ia tidak pernah sebahagia saat ini.
Pancaran mata Zhang Fei menjadi cemerlang. Seolah-olah di dalam bola matanya terdapat bintang timur yang sangat terang.
Senyumannya kembali cerah. Cerah seperti sinar mentari pagi.
"Sudah masuk sore. Saatnya kita mencari makan," kata Zhang Liong tiba-tiba.
Dia kemudian berjalan mendekat ke arah dua hewan peliharaannya.
"Carikan aku makanan. Sekaligus juga makanan untuk kalian berdua," ujarnya memberikan perintah.
Dua binatang buas itu mengangguk. Seolah-olah mereka mengerti ucapan kakek tua tersebut.
Secepat kilat, keduanya langsung berlalu pergi dari sana. Sedangkan dia dan Zhang Fei, mencari kayu bakar untuk nanti.
Lewat beberapa waktu kemudian, dua binatang buas peliharaan Zhang Liong telah kembali lagi. Masing-masing dari mereka membawa hewan hasil buruan.
Monyet putih membawa dua ekor ayam hutan. Sedangkan harimau membawa seekor kijang dewasa.
Zhang Liong segera menerima hasil tangkapan itu. Ia berjalan ke sungai yang terdapat di sekitar sana, lalu kemudian membersihkan kijang dan ayam hutan.
Di satu sisi, Zhang Fei saat ini sedang membuat api unggun guna membakar hewan buruan tadi. Ia ditemani oleh harimau dan monyet putih.
Walaupun dirinya masih merasa sedikit takut terhadap dua binatang itu, tapi Zhang Fei berusaha untuk tetap membiasakan diri.
Apalagi, sekarang kedua hewan itu tidak memperlihatkan sinar permusuhan dengannya. Mungkin hal tersebut terjadi karena mereka telah mengetahui siapa Zhang Fei sebenarnya. Mungkin pula, mereka sudah tahu bahwa anak itu akan menjadi penghuni baru di tempat tersebut.
Waktu terus berlalu. Ayam hutan bakar itu kini telah matang. Matang setelah matahari lenyap dibalik gunung-gunung hijau.
Zhang Liong dan Zhang Fei sedang menyantap ayam hutan bakar dengan lahap. Sedangkan harimau dan monyet, juga sedang menyantap kijang yang besar itu.
"Kakek, berapa lama kau sudah tinggal di sini?" tanya Zhang Fei di tengah-tengah kegiatan makan.
"Entahlah. Aku sendiri sudah lupa," jawab kakek tua itu sambil tertawa. "Yang pasti, lebih dari dua puluh tahun,"
"Dua puluh tahun? Kau sudah tinggal di sini lebih dari dua puluh tahun?"
Hampir saja anak muda itu tidak percaya dengan ucapan kakeknya. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana mungkin seseorang bisa hidup dalam suasana seperti ini, selama dua puluh tahun?
Dengan waktu selama itu, benarkah kakeknya tidak pernah merasa bosan? Sungguh kah orang tua itu tidak ada keinginan untuk beralih tempat tinggal, dan hidup di dunia ramai?
"Benar," Zhang Liong menganggukkan kepala dan membenarkan pertanyaan Zhang Fei.
"Apakah selama itu, kau tidak pernah turun gunung lagi?"
"Tidak,"
"Sama sekali?"
"Sama sekali," katanya menirukan perkataan Zhang Fei.
Ia menghela nafas panjang dan berat. Anak muda itu tidak habis pikir, kenapa kakeknya mau hidup di tengah-tengah gunung seperti ini?
Teringat akan hal tersebut, karena tidak bisa menahan penasaran, maka akhirnya dia memutuskan untuk bertanya secara langsung.
"Kalau kau tidak pernah turun gunung, lantas bagaimana caramu berganti pakaian? Lalu jika ingin minum arak, dari mana kau mendapatkan arak itu?"
"Ada seseorang yang selalu membantuku,"
"Siapa dia?"
"Dia adalah Cong Lai. Biasa disebut Hartawan Cong, ia merupakan saudagar kaya di desa ini. Selain berdagang, dia pun membuka usaha biro pengawalan barang. Setiap satu bulan sekali, dia pasti akan mengirim orang untuk memenuhi segala kebutuhanku," jawab kakek tua itu menerangkan.
Ternyata alasannya adalah karena ada orang yang selalu menjamin kebutuhannya!
"Tapi, Kek. Selama kau tinggal di sini, pernahkah kau merasa bosan?"
Ditanya demikian, Zhang Liong tiba-tiba tersenyum. Ia melanjutkan dulu memakan paha ayam hutan sampai habis. Setelahnya langsung menjawab.
"Cucuku, rasa bosan itu sudah pasti ada. Setiap manusia, pasti pernah merasa bosan, begitu juga dengan aku sendiri,"
"Lalu, bagaiamana kau mengatasi kebosanan itu?"
"Ada banyak cara untuk mengatasinya. Salah satunya adalah melatih ilmu pedang,"
"Hemm ... aku masih belum mengerti," ujarnya sambil mengerutkan kening.
"Apanya yang belum kau mengerti?"
"Sebenarnya, apa alasan Kakek memutuskan untuk tinggal di tempat seperti ini?"
"Sudah aku katakan, aku hanya ingin melewati masa tua dengan tenang,"
"Aku tidak percaya. Pasti masih ada alasan lain dibalik semua ini,"
Zhang Fei menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dia adalah anak yang cerdas. Maka dari itu, dirinya tahu bahwa masih ada alasan lain dibalik keputusan kakeknya yang menetapkan untuk tinggal di tempat sepi.
Iya yakin, alasan utamanya bukan itu!
Zhang Liong menatapnya lekat-lekat. Lama sekali ia terdiam sambil terus memperhatikannya.
"Sebenarnya memang ada alasan lain, anak Fei," katanya setelah terdiam cukup lama.
Zhang Fei belum bicara. Dia menunggu kakeknya untuk melanjutkan lagi ucapannya.
"Aku menetepkan untuk tinggal di sini, tak lain adalah karena supaya dunia persilatan aman dan damai. Tadinya aku berharap, dengan lenyapnya aku dari dunia ramai, keadaan rimba hijau bisa tenang dan damai seterusnya. Siapa sangka, ternyata dugaanku salah besar. Ternyata benar apa kata leluhur, selamanya, dunia persilatan tidak akan pernah tenteram. Walaupun akan ada masa-masa seperti itu, tapi hal tersebut tidak mungkin berlangsung untuk selamanya,"
Sejak dulu, dunia persilatan memang selalu seperti itu. Pertarungan dan pertikaian antar partai selalu terjadi. Setiap detik, pasti akan ada saja pertempuran-pertempuran di berbagai penjuru.
Hanya saja, semua itu tergantung terhadap skala besar kecilnya saja.
Tergantung dari pokok persoalannya!
Yang disebut damai, bukan berarti benar-benar damai. Yang disebut tenteram, bukan berarti benar-benar tenteram pula.
Dunia persilatan itu seperti dunia orang awam.
Setiap saatnya, pasti ada saja masalah yang menimpa orang-orang. Baik itu masalah besar, maupun masalah kecil.
Singkatnya, di dunia fana ini, tidak ada kedamaian yang sejati. Tidak ada pula ketenteraman yang abadi.
Semua itu tak lebih tergantung dari anggapan diri sendiri. Anggapan dari diri masing-masing!
Zhang Fei termenung dalam waktu yang cukup lama. Setelah merasa tenang, ia kembali bertanya.
"Lalu, kenapa Kakek mengambil keputusan ini?"
"Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, keturunan Keluarga Zhang yang menjadi pendekar, pasti mempunyai banyak musuh. Tidak kecuali aku sendiri. Maka dari itu, aku memutuskan untuk menghilang supaya musuh-musuhku juga ikut lenyap. Supaya dunia persilatan kembali aman,"
Ia berhenti sebentar. Zhang Liong menenggak arak beberapa kali, kemudian segera melanjutkannya.
"Sayang sekali, dugaanku itu keliru besar. Bukannya menghilang, mereka justru malah semakin menjadi," ucapnya seraya menghela nafas berat.
"Kalau begitu, kenapa Kakek tidak kembali lagi ke dunia ramai?" tanya Zhang Fei lebih jauh
"Sudah bukan saatnya lagi, cucuku. Tugas untuk memberantas kejahatan, telah aku serahkan kepada Ayahmu. Sayang sekali, dia malah berumur pendek,"