Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Berkumpulnya Para Kaisar Il


Kaisar Qin menggelengkan kepalanya sebanyak tiga kali. Setelah melemparkan senyuman, dia kembali berkata. "Keliru, kau keliru besar, Kaisar Zhou," ucapnya dengan nada lembut.


"Aku keliru?" Kaisar Zhou menunjuk dirinya sendiri.


"Benar, kau keliru," ucap Kaisar Qin seraya mengangguk. "Memang benar apa yang kau katakan itu. Semua yang kita lakukan ini adalah demi rakyat, demi orang banyak. Tapi, alasan tersebut bukan merupakan alasan utama. Yang sebenarnya adalah bahwa kita selaku penguasa ingin menjadi orang nomor satu yang tidak tertandingi. Bukankah begitu?"


Kaisar Qin mengangkat kedua alisnya sambil memandangi Kaisar Zhou lekat-lekat.


Dua orang penguasa saling pandang untuk beberapa waktu. Walaupun mulut mereka tidak bicara, tapi tatapan mereka sudah menciptakan percikan api yang tak kasat mata.


"Lagi pula, kalau caranya seperti ini, aku yakin seratus persen bahwa rakyat tidak akan setuju. Nantinya, semua orang akan menyalahkan penguasa di negeri tersebut. Mereka akan berkata, 'Yang bahagia kalian, mengapa kami yang harus menanggung deritanya?'. Jika rakyat sudah seperti itu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


"Jangan banyak bicara omong kosong, Kaisar Qin. Kau pikir, kami tidak tahu siapa dirimu? Kami tahu, kau ini tak lebih dari seekor serigala berbulu domba. Pembunuh berdarah dingin. Mulutmu seolah-olah mengandung madu, padahal kenyataannya, madu itu merupakan racun yang sangat mematikan," Kaisar Jin tiba-tiba ikut membuka suara.


Dia berkata dengan nada sedingin es. Kaisar Jin meliriknya dengan ekspresi tidak suka.


"Ya, tentu saja. Apa yang Kaisar Jin katakan itu merupakan kenyataan yang tidak dapat dibantah. Jadi menurutku, saat ini kita tidak perlu saling menyalahkan satu sama lain," sambung Kaisar Zhou.


Ruang pertemuan itu kembali dibuat lebih tegang dari sebelumnya. Para pengawal Kaisar Qin memperlihatkan kemarahan di wajah mereka.


Orang-orang itu jelas tidak terima dengan ucapan Kaisar Zhou yang secara tidak langsung telah menghina Kaisarnya sendiri.


Otot-otot di tangan mereka sudah terlihat keluar. Bola matanya juga memerah dan melotot besar.


Kaisar Qin bisa merasakan dengan jelas kemarahan para pengawal tersebut. Maka dari itulah dia segera berkata kepada mereka.


"Tetap tenang, jangan sampai terpancing emosi. Ingat! Kita datang kemari bukan untuk bertarung, melainkan untuk memenuhi undangan dari Kaisar Song," ucapnya memberi peringatan.


"Baik, Kaisar. Hamba mengerti soal itu. Tapi Kaisar Zhou itu ..." seorang pengawalnya menjawab cepat. Tapi ucapan itu tidak bisa diteruskan, sebab Kaisar Qin segera memotongnya.


"Biarkan saja. Kita jangan menanggapinya terlalu serius," Kaisar Qin menjawab dengan nada lembut dan senyuman yang teduh.


"Ba-baiklah, Kaisar," semua pengawalnya langsung menundukkan kepala.


Dalam hati, para pengawal itu masih tidak terima dengan perlakuan Kaisar Zhou Li Ming. Andai saja situasi mengizinkan, masing-masing dari pengawal tersebut telah bersumpah untuk memberikan pelajaran kepadanya.


Sementara di satu sisi, pada saat yang bersamaan, Kaisar Song diam-diam juga memperhatikan serta mendengarkan percakapan mereka. Dan dia merasa sangat kagum kepada orang nomor satu di Kekaisaran Qin itu.


Memang, di antara empat Kaisar yang ada, rasanya hanya Kaisar Qin saja yang mempunyai kesabaran seluas samudera. Selama menjabat sebagai Kaisar, dia tidak pernah memperlihatkan amarahnya.


Jangankan orang diluar sana, bahkan orang-orang yang tinggal dan selalu ada di sisinya pun, tidak pernah melihat dia marah.


Kalau sedang menghadapi suatu masalah, dia selalu bersikap tenang seperti air di tengah danau.


Masalah apapun, sebesar dan serumit apapun, ia pasti akan bersikap sama.


Di satu sisi, orang-orangnya sangat bersyukur dan memuji terkait kesabaran Kaisar Qin. Tetapi di sisi lain, terkadang mereka juga merasa kesal.


Karena kesabarannya itu, Kaisar Qin tidak pernah berani bertindak tegas. Terhadap siapa pun, dia pasti akan bersikap lemah lembut.


Karena hal itu pula, wilayah kekuasaan Kekaisaran Qin paling sedikit di antara tiga Kekaisaran lainnya.


Tetapi jangan salah, meskipun paling sedikit, namun kehidupan di sana benar-benar damai. Rakyatnya tidak pernah kelaparan, ekonomi selalu berjalan lancar, bahkan setiap tahun, ekonomi di sana selalu bertumbuh.


Karenanya, wajar apabila Kaisar Song Kwi Bun sangat mengagumi sosok Kaisar yang satu ini.


'Ternyata Kaisar Qin tidak pernah berubah. Dia masih tetap istimewa seperti dulu,' batin Kaisar Song seraya tersenyum kepadanya.


Sementara itu, karena keadaan di ruang pertemuan sudah sangat genting, maka dengan segera Kaisar Song kembali mengambil alih pembicaraan.


"Sudah, sudah. Kalau terus seperti ini, maka pembahasan utama di antara kita tidak akan pernah selesai," katanya dengan tegas.


Mendengar ketegasannya, tiga orang Kaisar itu seketika langsung terdiam.


"Sekarang begini saja, kalian lebih memilih berperang terus seperti ini, atau mencari jalan lain? Kalau aku, ikut apa kata kalian saja. Mau berperang, silahkan. Mau mencari jalan lain, bagiku itu lebih baik lagi,"


Kaisar Song Kwi Bun menatap Kaisar Zhou dan Kaisar Jin secara bergantian. Ekspresi wajahnya sangat serius. Seperti juga nada bicaranya pada saat itu.


Alasan mengapa ia bicara dengan tegas, bukan lain adalah supaya bisa membungkam mulut dua Kaisar sombong itu.


"Hemm ... pertanyaanmu itu ditujukan kepada siapa?" tanya Kaisar Zhou.


"Kepada kalian berdua,"


"Mengapa kepada kami? Bukankah di sini ada tiga Kaisar?" tanya Kaisar Jin seraya mengangkat wajahnya.


"Ya, aku tahu itu. Tapi di antara tiga Kaisar, yang paling berambisi adalah kalian berdua. Buktinya saja, selama ini kalian terus-menerus menyerang negeriku tanpa henti. Segala macam cara sudah dilakukan, puluhan tokoh persilatan juga sudah dikerahkan. Sayangnya, dari semua usaha tersebut, tidak ada satu pun yang membuahkan hasil," ucap Kaisar Song sambil tersenyum dingin.


Dua orang Kaisar yang dimaksud langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Mereka seketika terdiam seribu kata.


Hatinya saat itu merasa sangat kesal. Tapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa lagi.


"Mengapa kalian terdiam? Ayo jawab! Mana yang kalian pilih?" Kaisar Song berkata dengan nada sedikit tinggi.


Tubuhnya sedikit bergetar, pertanda bahwa dia sudah tidak tahan dengan emosinya.


"Kaisar Song, tenangkan dirimu. Jangan terpancing emosi," ucap Kaisar Qin mengingatkan.


"Baik, Kaisar Qin. Terimakasih," jawabnya sambil memaksa untuk tersenyum.


Dalam pada itu, diam-diam Kaisar Zhou dan Kaisar Jin terlihat saling lirik satu sama lain. Seolah-olah mereka sedang mempertimbangkan keputusan yang akan diambilnya.


Lewat beberapa saat kemudian, tiba-tiba Kaisar Zhou menghembuskan nafas. Ia lalu menjawab, "Baiklah. Kami memilih cara lain saja," ucapnya dengan nada hambar. "Tapi ingat! Jangan kira kami takut kepadamu. Tidak, kami tidak takut. Kami memilih langkah ini sebagai upaya menghargai kalian saja,"


"Baik, aku mengerti," Kaisar Song menjawab dengan singkat.


Walaupun dia tahu bahwa dua orang 'musuhnya' itu sedang mencari pembelaan, namun dirinya tidak ingin berkata lebih jauh lagi.