
"Zhang Fei?" Kaisar Song Kwi Bun tertegun. Dia menatap Empat Datuk Dunia Persilatan secara bergiliran. "Maksud kalian, pendekar muda yang sering kalian sebut anak Fei itu?" tanyanya memastikan.
"Benar. Di dunia ini hanya ada satu Zhang Fei yang merupakan keturunan terakhir dari Keluarga Zhang. Kalau bukan dia, siapa lagi?" Dewa Arak Tanpa Bayangan mewakili yang lain. Perkataannya tersebut dipenuhi dengan kepercayaan besar.
Kaisar Song Kwi Bun tidak berbicara untuk beberapa saat. Dia masih belum percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Tapi, mengapa harus anak Fei yang kalian tunjuk?"
"Karena hanya dia yang mampu menggantikan posisi Ketua Beng Liong," sahut Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Apakah dia tidak terlalu muda? Umurnya saja menurutku baru mencapai dua puluh atau dua puluh satu tahun. Bagaimana mungkin dia mampu menjabat Ketua Dunia Persilatan?"
Kaisar merasa sedikit ragu. Pertama karena dia belum pernah melihat sekaligus mengetahui kemampuan Zhang Fei yang sebenarnya. Kedua adalah karena menurutnya, Zhang Fei masih terlalu muda untuk menggantikan posisi Ketua Beng Liong.
Perlu diketahui, menjadi Ketua Dunia Persilatan itu bukan perkara mudah. Setidaknya orang yang akan mendudukinya harus memiliki kecerdasan tinggi, pengalaman banyak, dan juga kemampuan yang berada di atas rata-rata.
Yang mempunyai semua kriteria itu salah satunya adalah Ketua Beng Liong. Karena itulah tidak heran kalau hampir setiap orang setuju ketika dia menjabat sebagai Ketua Dunia Persilatan.
Akan tetapi untuk Zhang Fei ini ... usianya masih muda. Setinggi-tingginya kemampuan pendekar muda, bukankah tidak akan lebih tinggi dari kemampuan pendekar yang sudah cukup umur?
Di samping itu, pengalamannya juga pasti belum terlalu banyak. Apalagi kecerdasannya, hal itu masih sangat diragukan oleh Kaisar.
Meskipun benar bahwa dia adalah keturunan terakhir Keluarga Zhang, akan tetapi tidak ada jaminan pula bahwa dia mewarisi bakat, kecerdasan dan hal lain dari para leluhurnya.
Lama sekali Kaisar termenung. Semua orang bisa melihat bahwa dia merasa ragu dengan ucapan Empat Datuk Dunia Persilatan.
"Apakah Kaisar merasa ragu dengan keputusan yang kami ambil?" tanya Pendekar Tombak Angin memecah keheningan di dalam ruang pertemuan.
"Tidak, tapi ini ..."
"Kaisar tenang saja. Kami menunjuk dirinya bukan karena tanpa alasan. Justru karena beberapa alasan lah, kami percaya bahwa dia bisa menggantikan posisi Ketua Dunia Persilatan," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan berusaha meyakinkan Kaisar.
"Coba sebutkan alasan itu, Tuan Kiang," pinta Kaisar Song Kwi Bun.
"Baik," Dewa Arak Tanpa Bayangan mengangguk. Setelah minum arak tiga kali, dia kemudian berkata, "Alasan pertama adalah karena dia merupakan keturunan terakhir Keluarga Zhang. Seperti yang kita ketahui, para pendekar yang berasal dari Keluarga Zhang, di masa lalu pasti akan berhasil mencapai puncak kejayaannya. Kalau dia menduduki sebuah posisi, maka dirinya pasti akan bisa mengemban dan menjaga baik-baik posisinya itu,"
"Dari sini aku sudah yakin bahwa anak Fei juga tidak berbeda jauh dari para leluhurnya. Apalagi, kami telah melihat tanda-tanda di dalam dirinya,"
"Kedua, kemampuan anak Fei sebenarnya tidak rendah. Bahkan dia sudah setara dengan pendekar pilih tanding. Tinggal mengasah sedikit lagi, aku yakin dia akan mencapai tahap pendekar tanpa tanding. Apalagi, kau tahu bahwa gurunya adalah Kakek dia sendiri yang juga merupakan tokoh besar di masa lalu. Di samping itu, anak Fei juga mewarisi kitab sekaligus benda pusaka terhebat di zamannya. Dengan semua bekal ini, apakah masih belum cukup untuk mencapai tahap tertinggi dari para pendekar?"
"Ketiga, Meskipun pengalamannya belum banyak, tapi semakin berjalannya waktu, pengalaman tersebut akan bertambah dengan sendirinya. Perlu Kaisar tahu, setiap apa yang telah terlewati, anak Fei akan selalu memikirkan dan mengambil hikmah dari dalamnya. Karena itulah selama ini kami sering melibatkannya dalam mengatasi berbagai macam masalah,"
"Dan yang terakhir, kecerdasan yang dimiliki anak Fei itu sebenarnya berada di atas rata-rata orang kebanyakan. Bahkan di atas Ketua Beng Liong sendiri. Kalau Kaisar belum percaya, coba pikirkan saja. Mengapa di usia yang begitu muda, dia bisa sehebat ini?"
Dewa Arak Tanpa Bayangan mengatakan semua itu tanpa rasa ragu. Tiga Datuk Dunia Persilatan di sisinya juga menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.
Suasana di ruang pertemuan menjadi hening untuk beberapa saat. Empat Datuk Dunia Persilatan sedang menunggu Kaisar berbicara.
Sedangkan Kaisar sendiri, sekarang dia sedang memikirkan empat macam alasan yang baru saja disampaikan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Sekitar sepuluh menit kemudian, tiba-tiba terdengar dirinya menghembuskan nafas panjang.
"Baiklah. Kalau begitu, aku juga setuju jika anak Fei ditunjuk untuk menggantikan posisi Ketua Dunia Persilatan yang selanjutnya. Aku percaya kalian tidak sedang bercanda. Apalagi masalah ini sangat serius," kata Kaisar setelah dia berpikir matang-matang.
Setelah berganti nafas, dia melanjutkan lagi bicaranya. "Tapi aku mempunyai beberapa syarat,"
"Syarat apa?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan cepat menyahut.
"Apakah kalian siap bila benar-benar ada banyak penolakan diluar sana, karena Ketua Dunia Persilatan yang sekarang usianya snsbat muda?"
"Sangat-sangat siap. Bahkan kalau harus mengorbankan nyawa pun, kami tentu siap," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan tegas. "Bukankah demikian?" ia melirik ke arah rekan-rekannya.
"Benar, Kaisar. Kami siap," sahut Dewi Rambut Putih.
Mendengar jawaban yang mantap itu, Kaisar Song Kwi Bun menganggukkan kepala beberapa kali. Dia bisa melihat keseriusan di wajah empat tokoh tersebut.
"Baiklah. Kalau begitu sekarang aku merasa sedikit tenang," ucapnya dengan serius pula. "Tapi, sebelum anak Fei benar-benar menjabat sebagai Ketua Dunia Persilatan, aku juga ingin mengujinya. Terutama sekali dari segi kecerdasan dan kemampuan. Bagaimana, apakah kalian setuju?"
"Sangat setuju. Memang harusnya seperti itu, sehingga dengan sendirinya Kaisar bisa mengetahui bagaimana kemampuan dan kecerdasan anak Fei," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Baik. Secepatnya aku akan menguji anak Fei,"
Obrolan di antara lima orang itu belum selesai. Mereka masih melanjutkan lagi dengan pembahasan-pembahasan lainnya.
Pertemuan tersebut baru selesai ketika matahari hampir tenggelam di ufuk sebelah barat.
Setelah selesai dengan itu, Empat Datuk Dunia Persilatan kemudian pergi ke kamar Zhang Fei yang sebelumnya sudah disediakan oleh Kaisar. Kebetulan pada saat itu Zhang Fei baru saja selesai melakukan meditasi. Dia merasa terkejut ketika mendengar pintu kamarnya diketuk oleh orang.
"Siapa diluar?" tanyanya penasaran.
"Ini kami, anak Fei," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Oh, kalian. Baiklah, sebentar,"
Zhang Fei segera berjalan ke pintu kamar. Dia langsung membukanya.
"Anak Fei, kami ingin bicara denganmu selayang juga,"
"Bicara apa, Tuan Kiang?" Zhang Fei sedikit terkejut ketika dia melihat keseriusan di wajahnya.