Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Melibatkan Diri Dalam Peperangan Ill


Sementara di satu sisi lain, seperti biasa, Zhang Fei selalu saja mendapat 'jatah' lebih. Saat ini, tokoh sesat yang sedang dia hadapi cuma hanya satu orang. Melainkan ada dua orang.


Masing-masing dari mereka mempunyai kemampuan yang setara dengan pendekar kelas satu. Ditambah lagi pengalaman mereka sudah banyak. Baik itu dalam segi pertarungan, maupun dalam segi mengarungi kehidupan.


Kedua orang itu, masing-masing bertarung dengan menggunakan senjata. Yang satu menggunakan sebatang pedang lemas, dan satu lagi menggunakan toya yang terbuat dari baja murni.


Khusus untuk tokoh sesat yang memegang toya, dia mempunyai tubuh tinggi kekar. Persis seperti toya itu sendiri.


Wajahnya sangar. Rambutnya yang panjang diikat oleh sehelai kain warna merah darah. Setiap ayunan toyanya mengandung tenaga puluhan kilo. Kalau mengenai tubuh manusia, sudah pasti akan menciptakan luka yang cukup parah.


Kedua tokoh sesat itu mempunyai persamaan yang serupa. Yaitu, pakaian mereka berwarna hitam pekat dengan lambang kepala iblis di bagian dada dan belakang punggungnya.


Walaupun tidak pernah bertanya, namun Zhang Fei sudah tahu bahwa mereka berdua pasti adalah petinggi dari Partai Iblis Sesat. Partai aliran hitam yang menduduki nomor dua.


Walaupun keduanya menggunakan senjata dan jurus yang berbeda, namun masing-masing saling melengkapi satu sama lain.


Kalau yang satu sedang melancarkan serangan beruntun, maka yang satunya lagi bersiap untuk menjadi benteng pertahanan.


Formasi seperti itu sangat sempurna. Pihak musuh pasti akan kesulitan untuk membalikkan keadaan dan memberi serangan balasan.


Kalau orang yang menjadi lawannya tidak memiliki kemampuan tinggi dan pengalaman lebih, niscaya dia tidak akan bisa bertahan lama.


Untung saja Zhang Fei tidak termasuk hitungan. Sehingg walaupun dirinya sulit untuk memberikan serangan balasan, tapi kedua tokoh sesat itu pun tidak bisa mendesaknya lebih jauh lagi.


Akibat dari hal tersebut, maka pertarungan itu jadi berlangsung sengit dan seimbang. Posisi menyerang dan bertahan terus bergantian seiring jalannya pertempuran.


Kalau dihitung, mungkin dari awal sampai saat ini, ketiganya telah bertarung lebih dari tiga puluh jurus.


Sekarang pun mereka masih bertarung. Tetapi pertarungan tersebut terpaksa berhenti setelah Zhang Fei melepaskan serangan telapak tangan kosong menggunakan lengan kirinya.


Dua petinggi dari Partai Iblis Sesat itu terdorong mundur sejauh tiga langkah. Sedangkan Zhang Fei hanya dua langkah lebih sedikit.


Masing-masing pihak terlihat mulai kelelahan. Nafas mereka memburu. Maka dari itu, untuk beberapa saat, ketiganya saling diam dan mengumpulkan kembali tenaga serta hawa murni yang sudah banyak dikeluarkan.


Selama ini, kedua petinggi itu sudah banyak bertarung melawan berbagai macam tokoh dari semua penjuru. Tetapi, rasanya baru sekarang saja mereka merasa kesulitan seperti ini.


Apalagi orang yang dihadapi adalah seorang pendekar dari generasi muda.


Selain menyebalkan, hal itu pun tentunya sangat memalukan.


Kalau sampai sahabat-sahabat dalam dunia persilatan mengetahuinya, niscaya mereka akan diejek karena tidak becus melumpuhkan seorang pendekar muda yang umurnya jauh di bawah keduanya.


"Hehehe ... tidak kami sangka, ternyata Ketua Dunia Persilatan mampu memberikan perlawanan yang cukup menarik. Harus kami akui, julukan Dewa Pedang Dari Selatan, rasanya bukan omong kosong," kata petinggi yang memegang pedang lemas di tangan kanannya.


Ia berkata dengan nada seolah-olah mengejek. Padahal di dalam hatinya saat itu, ia benar-benar memuji Zhang Fei dalam hal ilmu pedang.


"Ah, kau tidak perlu memujiku seperti itu. Semua orang juga sudah tahu kalau aku ini hebat," jawab Ketua Dunia Persilatan seraya tertawa.


Zhang Fei sengaja berkata demikian. Dia yakin, kalau dirinya berkata sombong, pasti dua tokoh sesat itu akan merasa kesal.


Dan faktanya memang demikian. Tepat setelah dirinya berkata seperti itu, tokoh sesat yang menggunakan pedang lemas langsung tersenyum dingin.


"Aku hanya tahu bahwa yang ada di depanku saat ini, adalah setan berwujud manusia,"


"Keparat! Semakin dibiarkan, mulutmu malah semakin berani. Lihat ini!"


Orang itu langsung menghunus pedangnya ke depan. Ujung pedang segera melesat bagaikan kilat. Dia mengincar ulu hati Zhang Fei.


Ketua Dunia Persilatan sudah siap untuk menggeser posisinya. Namun ketika ujung pedang itu hampir tiba, mendadak arah berbelok. Serangannya juga berubah.


Pukulan tangan kirinya tiba lebih dulu. Untung Zhang Fei masih bisa bergerak cepat. Ia melompat mundur ke belakang sehingga pukulan tersebut gagal mengenai sasaran.


Namun tepat setelah Zhang Fei berhasil menghindari pukulan itu, tiba-tiba pedang lemas tadi datang dari sisi sebelah kanan. Tokoh sesat itu mengincar bagian leher.


Kalau sampai mengenai sasarannya, niscaya leher Zhang Fei akan buntung seketika. Untung sekali dia masih sempat mengelak. Sehingga lehernya kembali selamat dari tebasan pedang tersebut.


Trangg!!!


Setelah pedang lemas lawan lewat di sisi lehernya, seketika itu juga Zhang Fei mengangkat Pedang Raja Dewa dan menangkisnya sehingga terdengar sebuah benturan keras yang memercikkan bunga api.


Petinggi Partai Iblis Sesat itu tersentak. Saking kerasnya benturan barusan, sampai-sampai ia merasakan tangan kanannya panas dan mati rasa. Tidak hanya itu saja, bahkan ia pun berhasil dibuat mundur setengah langkah.


Zhang Fei tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ketika lawannya belum siap, tiba-tiba Ketua Dunia Persilatan mengeluarkan jurus pedangnya yang dahsyat.


"Murka Pedang Dewa!"


Wutt!!!


Bayangan pedang memenuhi angkasa. Hawa pedang terasa begitu tajam seolah-olah mampu merobek kulit.


Tokoh sesat itu tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Dalam waktu singkat saja dia langsung terdesak hebat. Sekitar sepuluh menit kemudian, ujung Pedang Raja Dewa tahu-tahu telah menembus jantungnya.


Ia mengeluarkan suara seperti hewan disembelih. Bola matanya melotot besar. Satu tarikan nafas kemudian, nyawanya langsung melayang saat itu juga.


Sementara satu petinggi Partai Iblis Sesat yang tersisa, saat itu dia terlihat sangat marah ketika menyaksikan rekannya tewas mengenaskan.


Dengan bentakan keras dan menggelegar, tiba-tiba saja dia melompat serta menerjang ke arah Zhang Fei.


Toya yang terbuat dari baja itu digerakkan dari kanan ke kiri. Deru angin tercipta dan langsung menyerbu ke arah Zhang Fei. Walaupun toyanya belum tiba, tapi anginnya sudah cukup untuk mengibarkan pakaian Ketua Dunia Persilatan lumayan keras.


Memang, sebenarnya tokoh sesat itu tidak hanya terkenal dalam hal kekejaman. Tetapi dia pun terkenal karena tenaga luarnya yang sangat besar.


Apalagi kalau mengingat bahwa toya itu sendiri mempunyai berat hampir sepuluh kilogram atau mungkin lebih.


Jadi, bisa dibayangkan betapa berbahayanya setiap sambaran toya tersebut.


Menghadapi tokoh sesat seperti itu, Zhang Fei tidak berani main-main lagi. Dia segera mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya untuk berkelit dari setiap serangan yang datang.


Pertarungan segera berlangsung seru. Kalau yang satu mengandalkan tenaga besar dan serangannya yang berbahaya, maka yang satu lagi mengandalkan kecepatan serta ilmu meringankan tubuhnya.