
"Hahaha ..." Orang Tua Aneh Tionggoan kembali tertawa. Suara tawanya cukup kencang, sehingga para pengunjung yang terdapat di lantai atas pun, bahkan ada beberapa yang melirik ke arahnya. Tapi, Kai Luo sendiri justru tidak memperdulikan hal itu. Ia tidak menghiraukannya sama sekali.
"Anak muda, memang begitulah hidup. Terkadang apa yang kita harapkan, tidak pernah terjadi. Tapi apa yang tidak kita harapkan, justru malah sering terjadi,"
Hidup adalah suatu hal yang tidak pasti. Apa yang kita inginkan, belum tentu terwujud. Apa yang menjadi khayalan pun, belum tentu akan menjadi kenyataan.
Zhang Fei menganggukkan kepala. Dia tidak bicara, ia menunggu Kai Luo melanjutkan ucapannya.
"Justru karena kau tidak berharap menjadi bahan perbincangan, maka ada banyak orang yang memuji tindakanmu itu. Jujur saja, aku sendiri pun salut. Tidak disangka, seorang pendekar muda yang baru muncul, malah sudah berani mengambil resiko tinggi dengan menyerang langsung salah satu markas cabang Partai Panji Hitam,"
Orang Tua Aneh Tionggoan sedang bicara jujur. Dia memang kagum kepada Zhang Fei.
Lagi-lagi, firasat hatinya telah terbukti.
Ternyata pemuda itu memang lain daripada orang lain!
"Terimakasih, Tuan. Aku merasa belum pantas menerima pujianmu," kata Zhang Fei merendah.
"Tapi kalau aku boleh memberikan saran," dia berbicara lagi dan tidak menghiraukan ucapan Zhang Fei barusan. "Lain kali kau harus berpikir matang-matang sebelum melakukan suatu hal. Apalagi kalau hal itu berhubungan dengan keselamatan dirimu sendiri. Kau tahu, sekarang sedikit banyaknya, pasti ada tokoh-tokoh sesat yang menginginkan nyawamu,"
"Kenapa mereka menginginkan nyawaku?" tanya Zhang Fei sambil mengerutkan kening.
Dia sendiri merasa heran setelah mendengar ucapan barusan. Sebab seingatnya, ia tidak pernah mencari masalah kepada siapa pun.
Mereka yang tewas di tangannya, memang sudah pantas untuk hal itu. Orang-orang yang ia bunuh, sudah seharusnya untuk mampus!
"Karena kau sudah berani menyinggung Partai Panji Hitam. Kau tahu? Sekarang, dunia persilatan telah dikuasai oleh dua partai sesat,"
"Dua partai sesat?"
"Benar," ia menganggukkan kepalanya. "Pertama adalah Partai Lembah Iblis. Dan kedua adalah Partai Panji Hitam. Banyak dari tokoh kalangan sesat yang menggabungkan diri ke dalam dua partai besar ini. Karenanya, tindakanmu terlampau beresiko,"
Kai Luo berbicara dengan ekspresi serius. Sehingga Zhang Fei pun mendengarkan ucapannya dengan seksama.
"Tapi kau jangan khawatir. Selain kabar buruk itu, kabar baiknya yang lain adalah sekarang dirimu mulai dikenal orang. Mereka yang berasal dari aliran putih, pasti akan membantumu apabila kau mengalami kesulitan,"
"Tuan, kebanyakan dari mereka belum bertemu denganku. Bagaimana bisa orang-orang mengenalku?"
"Dulu belum, tapi sekarang sudah mulai tahu. Terutama sekali namamu. Asal kau sebut namamu, mereka pasti akan tahu. Di Tionggoan ini, marga Zhang memang banyak. Tapi marga Zhang yang bernama Fei, aku rasa hanya kau seorang,"
Semakin berbicara jauh, Zhang Fei merasa makin tidak enak. Perlu diketahui, dia bukan orang yang senang dipuji. Ia justru merasa malu apabila mendapatkan pujian dari orang lain.
Maka dari itu, sebelum Orang Tua Aneh Tionggoan membicarakan dirinya lebih jauh, ia segera mengalihkan pembicaraan.
"Tuan, kalau aku boleh atau, siapa orang tua berjubah merah tadi?" tanyanya penasaran.
"Kau tidak tahu?" Kai Luo seperti terkejut ketika Zhang Fei mengajukan pertanyaan itu.
"Aku tidak tahu. Malah bertemu dengannya pun baru tadi saja,"
"Aih, tapi hal itu wajar. Sebab pengalamanmu belum banyak," dia meneguk dua cawan arak, lalu melanjutkan ucapannya. "Orang tua itu bernama Yao Shi. Dalam dunia persilatan, dia mempunyai julukan si Cakar Maut," katanya menjelaskan.
"Si Cakar Maut?"
"Benar. Ilmu tangan kosongnya sangat tinggi sekali. Malah aku sendiri kurang yakin bisa menang apabila bertarung dengannya,"
Zhang Fei tersentak kaget. Kalau Orang Tua Aneh Tionggoan saja tidak yakin menang melawan dirinya, jadi sehebat apa kemampuan pria tua berjubah merah itu?
"Apakah dia sehebat itu?" tanyanya lebih jauh.
Bagaiamana juga, Zhang Fei masih merasa tidak percaya. Apalagi dia belum pernah menyaksikan orang itu turun tangan.
Hampir saja anak muda itu melompat dari bangku karena saking kagetnya.
Jadi, pria berjubah merah tadi adalah Datuk Dunia Persilatan?
Pantas, hanya dengan hembusan anginnya saja, Zhang Fei bisa terdorong cukup jauh.
Untung dia tidak membalas serangannya. Kalau dia sampai melakukan hal itu, mungkin sekarang ia akan berada dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Tapi, aku tidak merasakan nafsu pembunuhnya,"
"Itu karena ia sudah bisa menguasai nafsu pembunuhnya. Orang-orang yang sudah terlalu banyak membunuh manusia, justru seakan tidak mempunyai nafsu pembunuh. Tapi sekali dia mengeluarkan nafsu pembunuhnya, niscaya para pendekar kelas bawah akan langsung pingsan,"
Zhang Fei menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali. Dia kagum sekaligus negeri mendengarnya.
Diam-diam, dia pun mencoba mengamati Kai Luo. Dan ia pun mendapati bahwa orang tua tersebut seperti tidak memiliki nafsu membunuh.
Lalu, apakah Orang Tua Aneh Tionggoan juga merupakan Datuk Dunia Persilatan?
Entahlah, dia belum mengetahui hal itu secara pasti.
"Lantas, siapa gadis yang ada di sisinya itu, Tuan?" tanya Zhang Fei lebih jauh lagi.
Dia masih penasaran akan hal ini. Sungguh, dia ingin mengetahuinya secara pasti.
"Oh, itu adalah anak si tua bangka Yao Shi. Namanya Yao Mei. Tapi kehebatan gadis itu mungkin sedikit berada di bawahmu,"
Yao Shi? Yao Mei?
Jadi, mereka adalah ayah dan anak?
Zhang Fei langsung diam tanpa bicara lagi. Entah kenapa, ketika mendapat kenyataan barusan, dia merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya.
Sesuatu apa itu? Apakah harapannya? Ataukah perasaannya?
Tiada yang tahu akan hal tersebut. Apalagi dia sendiri tidak mengerti.
Yang jelas, ia seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga dari dirinya.
"Kenapa kau anak muda? Apa yang terjadi padamu?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan ketika melihat perubahan di wajah Zhang Fei.
"Ah ... ti-tidak. Aku ... aku hanya mengagumi Ayah dan anak itu, mereka benar-benar hebat," katanya berusaha menutupi hal yang sebenarnya.
"Kau sedang berbohong kepadaku?" Kai Luo menatap wajah Zhang Fei lekat-lekat. Terutama sekali dia memandang mata anak muda itu.
Sebagai orang yang sudah berpengalaman, tentu saja dirinya tahu banyak hal.
"Tidak, Tuan. Sungguh. Aku ... aku tidak berbohong,"
"Aih, baiklah, baiklah," ujarnya sambil mengulapkan tangan.
Orang tua itu kemudian menuangkan arak dalam guci. Arak itu adalah tetesan yang terakhir.
"Ngomong-ngomong, ke mana tujuanmu?" tanyanya setelah menghabiskan arak.
"Aku belum punya tujuan pasti. Hanya saja aku ada niat pergi ke Kotaraja,"
"Untuk apa kau pergi ke sana?"
"Aku ingin menyelidiki sesuatu. Aku yakin, masalah di Tionggoan ini, salah satu sumbernya ada di Kotaraja,"