Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Jenderal Gu


Dia berhenti sebentar. Kemudian segera melanjutkan lagi ucapannya. "Gadis itu sedang disekap dengan kedua tangan dan kaki terikat. Dia ... dia juga mengalami banyak luka di tubuhnya,"


Wajah prajurit itu tiba-tiba berubah menjadi sedih. Seolah-olah dia juga merasakan betapa hebatnya penderitaan yang dirasakan olehnya.


Sedangkan Zhang Fei, ketika mendengar penjelasannya barusan, dia langsung kaget.


'Tidak salah lagi, dia pasti adalah Yin Yin,' batinnya berkata.


Zhang Fei lalu menatap kembali ke arahnya. Setelah itu bertanya lagi. "Kau tidak berbohong?"


"Ti-tidak, Tuan Muda. Tentu saja tidak," jawab prajurit itu sambil menggelengkan kepala. "Kalau Tuan Muda tidak percaya, boleh melihatnya sendiri,"


"Baik. Kalau sampai gadis itu tidak ada, aku pastikan kau akan tewas mengenaskan," Zhang Fei berkata dengan nada dingin kepadanya.


Sesaat kemudian, dirinya langsung berjalan masuk. Begitu tiba di depan pintu, Zhang Fei tidak membukanya. Melainkan langsung mendobrak pintu itu begitu saja.


Brakk!!!


Pintu yang kokoh tersebut seketika hancur menjadi beberapa bagian. Sepasang matanya menatap ke sekeliling ruangan.


Ternyata di sana kosong! Tidak ada seorang manusia pun yang bisa Zhang Fei temukan.


Ke mana orang-orang itu? Apakah bangunan tersebut memang kosong?


Tidak. Tidak mungkin bangunan itu kosong. Kalau diluar ada banyak prajurit, maka di dalamnya pun tidak akan berbeda jauh.


Tetapi, mengapa dia tidak menemukan seorang manusia pun? Apakah dirinya telah dijebak?


Zhang Fei sempat berpikir sampai ke situ. Dan dia yakin dugaannya tidak akan salah.


Pada saat itu, ia berniat untuk kembali keluar dan mengajak para prajurit tadi masuk bersamanya. Tetapi Zhang Fei membatalkan niat tersebut. Karena secara tiba-tiba saja sepasang matanya melihat ada sesuatu yang ganjil di ruangan depan sana.


Perlu diketahui, pintu ruangan tempat pesta minuman tadi saat ini dibiarkan terbuka begitu saja. Sehingga secara lamat-lamat Zhang Fei bisa melihat ke dalamnya.


Dalam penglihatan tersebutlah instingnya mengatakan bahwa di sana ada seseorang.


Wushh!!!


Tanpa berlama-lama lagi, Zhang Fei segera melesat masuk ke dalam sana. Betapa kaget dan terkejutnya ketika ia menyaksikan bahwa di sana terdapat seorang gadis.


Gadis cantik yang sedang disekap. Gadis yang sedang dia cari-cari selama ini.


Siapa lagi kalau bukan Yin Yin?


Dengan gerakan cepat dia mendekat ke arahnya. Zhang Fei semakin marah ketika melihat bagaimana kondisi Yin Yin saat itu.


"Nona Yin ... Nona Yin, kau masih ingat aku, bukan?" tanyanya ketika sudah berada di depan mata.


Tiba-tiba Yin Yin mengangkat wajah dan membuka matanya. Ia sendiri sedikit kaget ketika melihat Zhang Fei ada di situ.


"Zhang Fei ..." katanya dengan suara lemah. "Kenapa ... kenapa kau bisa ada di sini? Apa yang kau lakukan?"


"Nona Yin, jangan banyak bicara dulu. Aku kemari untuk menyelematkanmu. Kita akan segera keluar dari tempat terkutuk ini," ujarnya merasa sangat gemas.


"Jangan ... jangan kau lakukan apapun. Lebih baik cepat pergi dari sini," Yin Yin berusaha mencegah Zhang Fei. Karena pada dasarnya dia sudah tahu bahwa anak muda itu sedang dijebak.


"Nona Yin, kau ini berkata apa? Sudahlah. Diam saja dulu. Biarkan aku melepaskan ikatan ini. Setelah itu kita akan segera keluar," kata Zhang Fei kembali mengulangi perkataannya.


Mulutnya berkata, kedua tangannya bekerja. Ia berniat untuk memotong tambang yang mengikat Yin Yin menggunakan pedangnya.


Siapa sangka, baru saja berhasil membuka ikatan tersebut, tiba-tiba dari luar sana terdengar seseorang yang berseru dengan suara lantang.


"Anak muda, kau sudah terkepung!"


Ia terkejut. Begitu juga dengan Yin Yin.


"Sudah aku katakan sebelumnya. Tapi kau tidak mau mendengar," ujar Yin Yin mengeluh.


Zhang Fei tidak menjawab. Tapi jelas wajahnya menggambarkan kemarahan yang teramat sangat. Tanpa menghiraukan seruan orang diluar itu, ia lebih dulu membebaskan seluruh tapi yang mengikat tubuh Yin Yin.


Setelah gadis cantik tersebut bebas, dengan gagah berani dirinya berdiri di tengah-tengah ruangan.


"Anak muda, kalau kau ingin selamat, aku sarankan supaya menyerahkan diri sekarang juga. Tapi kalau kau tidak mau mendengarkan perintah, aku pastikan nyawamu akan melayang," suara itu kembali terdengar. Malah kali ini lebih keras dan terdengar dingin seperti es.


"Zhang Fei, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Yin Yin merasa panik.


"Tenang saja, Nona Yin," tukasnya berusaha menenangkan gadis tersebut. "Kita pasti bisa keluar dari tempat ini,"


Ia menggenggam Pedang Raja Dewa dengan kencang. Sepasang matanya mengawasi keadaan sekitar. Dia takut ada senjata atau jebakan lain yang dipasang oleh pihak musuh.


Untunglah setelah diamati beberapa saat, ternyata keadaan di dalam terbilang aman. Tidak sedikit pun ada tanda-tanda terdapat jebakan.


Namun secara tiba-tiba, telinga Zhang Fei yang sangat tajam mendengar sesuatu. Suaranya sangat kecil dan mendengung.


"Nona Yin, merunduk!" katanya sambil merangkul gadis itu.


Dua pendekar muda tersebut bergulingan di atas lantai. Bersamaan dengan itu, puluhan anak panah melesat dari luar menembus ke celah-celah bilik.


Crapp!!! Crapp!!! Crapp!!!


Satu-persatu dari anak panah itu menembus semua benda yang ada. Zhang Fei dan Yin Yin sudah bersembunyi di balik meja. Ia kemudian mencari tempat persembunyian yang lebih aman. Setelah menemukannya, dia langsung menyuruh Yin Yin masuk ke sana.


"Tunggu aku di sini. Nona Yin," ucapnya sambil mendudukan gadis itu di atas kursi.


Zhang Fei kemudian menuju lagi ke tengah ruangan. Begitu tiba di sana, dia langsung melompat cepat ke atas dan menembus atap bangunan.


Wushh!!!! Brakk!!!


Atap bangunan itu hancur seketika. Sekarang dia sedang berdiri tegak sambil memandang ke bawah sana.


Ternyata bangunan kuno itu sudah dikelilingi oleh banyak prajurit. Dia telah terkepung!


Prajurit itu jumlahnya ada sekitar tiga puluh orang. Masing-masing dari mereka memegang busur yang sudah siap untuk ditembakkan.


Di posisi paling depan, ada empat orang pria tua. Yang satu mengenakan pakaian prajurit mewah, lengkap dengan zirah perangnya. Sedangkan tiga orang lain berpenampilan seperti para pendekar dunia persilatan.


"Bagus. Rupanya kau memang bukan pemuda biasa," katanya dengan lantang.


"Siapa kau?" tanya Zhang Fei.


"Panggil saja Jenderal Gu. Aku yang memimpin di tempat ini,"


"Oh, tapi aku tidak menanyakan apa jabatanmu,"


"Aku tahu. Tapi aku hanya ingin memberitahumu saja," katanya seraya tertawa hambar.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Zhang Fei dengan nada dingin.


"Aku hanya ingin kau turun dari atap dan menyerahkan diri secara sukarela,"


"Sayang sekali. Hal itu tidak akan mungkin terjadi," jawabnya tersenyum sinis.


"Baiklah. Kalau begitu, bererrti kau ingin mampus!"


Jenderal Gu melirik ke arah para prajuritnya. Kemudian dia segera menurunkan perintah tegas. "Tembak!"


Wungg!!! Wungg!!!


Puluhan batang anak panah kembali melesat dengan sangat cepat. Semuanya mengincar Zhang Fei yang sedang berdiri sambil menatap ke arahnya.