Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pengemis Tua Tanpa Pamrih


Saat ini Zhang Fei sudah berada di sebuah kuil kuno yang terdapat di sekitar kota kecil itu. Kuil tersebut letaknya berada di pinggir hutan.


Keadaan kuil sangat bobrok. Banyak atap yang sudah jebol. Cat di sana pun sudah mengelupas. Belum lagi dengan banyaknya sarang laba-laba yang terdapat di setiap penjuru kuil.


Mungkin, semua hal itu diakibatkan karena kuil kuno tersebut sudah lama tidak dipakai.


Si pengemis tua membawa Zhang Fei ke bagian belakang. Di sana ada tempat tidur yang hanya beralaskan jerami.


"Kuil ini sudah lama kosong. Aku tinggal di sini sudah cukup lama, dan ini adalah tempat tidurku," katanya menjelaskan.


Dia kemudian duduk, lalu mengambil guci arak sisa kemarin.


Zhang Fei ikut duduk. Ia kemudian bertanya. "Apakah kau tinggal di sini seorang diri?"


"Apakah kau masih melihat ada manusia lain, selain kita berdua?"


Pengemis tua itu tertawa. Suara tawanya cukup keras. Tapi dibalik itu, terselip kesedihan yang tidak bisa ditutupi.


Zhang Fei bisa menyaksikan hal tersebut. Namun ia tidak berani menyinggungnya. Ia yakin, si pengemis tua pasti akan mengatakan sesuatu kepadanya.


Sementara itu, setelah ia menenggak arak, pengemis tua tadi segera berkata lebih lanjut.


"Anak muda, bisakah kau ceritakan, mengapa dirimu sangat ingin sekali mengetahui informasi tentang markas Panji Hitam yang ada di sini?"


Ditanya demikian, tentu saja Zhang Fei tidak mau membuang waktu lagi. Dengan cepat dia pun segera menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Semua peristiwa ia ceritakan dengan jelas dan gamblang. Tidak ada sesuatu apapun yang ia tutupi.


"Hemm, jadi karena Keluarga Hartawan Cong Lai selama ini selalu baik kepada Kakekmu, maka kau memutuskan untuk menyelesaikan semua persoalan ini?"


"Benar," jawab Zhang Fei membenarkan.


"Bagaimana kalau keluarga itu tidak membantu Kakekmu, apakah kau juga akan melakukan hal yang sama?"


"Ehmm, tentu saja,"


"Kenapa begitu?"


"Karena Keluarga Hartawan Cong Lai adalah orang-orang baik. Tidak sepantasnya orang-orang seperti mereka mati dengan membawa rasa penasaran,"


Bicara anak muda itu penuh dengan emosi. Setiap kali teringat akan peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Hartawan Cong Lai, Zhang Fei memang selalu merasakan hal seperti ini.


Lebih dari itu, ia pun selalu teringat akan peristiwa berdarah yang dulu menimpa keluarganya sendiri.


Dan semua hal itu, diakibatkan karena satu masalah.


Masalah utamanya adalah Partai Panji Hitam!


Maka dari itu, sejak turun gunung, dia sudah bertekad akan menghancurkan setiap partai aliran hitam yang terdapat dalam dunia persilatan.


Minimal, ia akan membuat semua partai sesat itu berpikir seribu kali sebelum melakukan tindakan kejahatan!


Sementara itu, setelah mendengar jawabannya, pengemis tua tersebut juga kembali tertawa.


"Hahaha ... bagus, bagus sekali. Ternyata kau adalah pendekar muda yang mau mengulurkan tangan. Aku suka kepadamu. Kau sangat berbeda dengan orang-orang pada umumnya,"


Ia berhenti sebentar untuk mengambil nafas. Beberapa saat kemudian, orang tua itu segera melanjutkan lagi bicaranya.


"Kau tahu, dewasa ini, rasanya sangat sulit sekali membedakan mana pendekar aliran hitam dan mana aliran putih. Kau tahu kenapa alasannya?"


Zhang Fei tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya saja.


Pengemis tua itu semakin bersemangat dalam bicaranya. Pandangannya terhadap Zhang Fei menjadi berubah. Ia jadi mengagumi sosok pemuda yang baru dikenalnya tersebut.


"Dulu, tepatnya pada satu tahun yang lalu, aku ini adalah pendekar yang cukup terkenal. Orang-orang persilatan menyebutku si Pengemis Tua Tanpa Pamrih. Selain itu, aku juga pernah menjabat sebagai Ketua Cabang Partai Pengemis,"


"Sayang sekali, itu semua terjadi di masa lalu. Sekarang, aku justru hanya seorang pengemis yang tidak punya apa-apa. Walaupun kemampuanku masih ada, tapi semangat bertempurku sudah tidak ada,"


"Kenapa demikian?" tanya Zhang Fei cukup terkejut mendengarnya.


"Semua ini karena partai busuk itu. Mereka telah menyerbu markas Partai Pengemis yang aku pegang di sini. Mereka membunuh semua anggotaku, dan hanya menyisakan aku seorang,"


'Ah, ternyata begitu,' batin anak muda itu berkata.


Sekarang Zhang Fei mengerti kenapa keadaan Pengemis Tua Tanpa Pamrih seperti sekarang.


Ternyata alasannya, tak lain adalah karena dia telah putus asa.


"Tuan, apakah kau sudah melaporkan hal ini kepada sahabat-sahabat dunia persilatan, dan melaporkannya kepada markas pusat?"


"Semuanya sudah aku laporkan. Tapi tidak ada satupun usahaku yang berhasil. Dengan keadaanku yang seperti sekarang, memangnya apa yang bisa aku lakukan?"


Suasana di sana langsung dicekam oleh keheningan. Kedua orang itu tidak ada yang bicara.


Mereka adalah manusia yang bernasib sama. Keduanya mempunyai dendam pribadi dengan Partai Panji Hitam.


Bedanya, kalau yang satu sudah putus ada, maka yang satu lagi justru malah sebaliknya.


"Hemm, kalau begitu, kau tenang saja. Asal mau memberitahu di mana markas cabang Partai Panji Hitam yang ada di kota ini, maka aku berjanji akan membalaskan dendam mu juga," ucap Zhang Fei setelah ia terdiam cukup lama.


Mata Pengemis Tua Tanpa Pamrih berbinar-binar. Ia seperti sekuntum bunga layu, yang tiba-tiba disiram oleh air hujan.


Rasa putus asa yang selama ini membelenggu dirinya, kini telah lenyap. Digantikan dengan semangat baru yang berkobar.


"Bagus, bagus sekali. Kalau begitu malam nanti kita akan berangkat ke sana,"


Ia berkata dengan penuh keyakinan. Si Pengemis Tua Tanpa Pamrih tidak lagi memikirkan soal mati hidup dan berhasil atau tidaknya usaha nanti.


Cukup bertemu dengan orang seperti Zhang Fei saja, hal itu sudah melebihi segalanya.


"Baik. Aku setuju. Malam nanti, kita akan pergi ke sana," jawabnya penuh semangat.


Dua orang itu kembali bercerita banyak hal. Sesekali Zhang Fei juga bertanya-tanya tentang dunia persilatan saat ini.


Dia yakin, selama dua tahun dirinya mengasingkan diri, pasti telah terjadi banyak sekali perubahan di dalamnya.


Tanpa terasa, malam sudah tiba.


Rembulan telah muncul di sebelah timur. Dua orang yang tadi hanya duduk sambil terus bercerita, sekarang tiba-tiba bangkit berdiri.


"Sepertinya kita harus pergi sekarang," ucap Pengemis Tua Tanpa Pamrih.


"Benar. Lebih cepat, lebih baik lagi," kata Zhang Fei merasa setuju.


Orang tua itu menganggukkan kepala. Ia berjalan ke belakang, mengambil tongkat bambu yang dulu selalu dipakainya dalam setiap pertarungan.


Setelah semua persiapan selesai, dua orang itu pun langsung pergi dari kuil kuno itu.


Pengemis Tua Tanpa Pamrih melesat lebih dulu. Disusul kemudian dengan Zhang Fei di belakangnya.


Dua bayangan manusia berlari dengan kencang dibawah gelapnya malam. Dalam keadaan begini, mereka tampak seperti setan saja.