Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kematian yang Cepat dan Tidak Menyakitkan


Setelah mencapa lima belas jurus, Pek Ma segera melompat mundur ke belakang. Apalagi dia tahu lawannya sudah kewalahan dalam menghadapi semua serangan yang dilancarkan.


"Apakah sekarang kau sudah percaya?" tanyanya sambil menatap tajam.


Orang tua yang baru saja menjadi lawannya tidak mampu berkata apa-apa. Ia hanya bisa menatap kosong ke depan sana.


Dua rekannya juga sama, mereka masih berdiri mematung di tempat dengan ekspresi wajah tidak percaya.


Ketiganya berdiri dalam diam. Entah apa yang sedang ada di pikiran mereka saat ini.


"Bebaskan muridku," suara Pek Ma si Telapak Tangan Kematian kembali terdengar.


Suaranya tegas. Siapa pun tidak bisa membantahnya. Termasuk Tiga Bandit Tua.


Si nenek tua tiba-tiba berjalan ke arah ruang tahanan Zhang Fei. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung membebaskan anak muda itu.


"Guru ..."


Zhang Fei langsung berlari menuju ke arahnya. Begitu tiba di hadapan orang tua itu, dia segera memberikan hormat.


"Maafkan aku, aku sudah menyusahkanmu," katanya penuh penyesalan.


"Dasar bodoh," jawab Pek Ma sambil mengelus kepala muridnya.


Zhang Fei tidak bicara lagi. Dia hanya bisa tersenyum dengan wajah polosnya.


Setelah bercengkrama beberapa saat, keduanya kemudian berniat pergi dari sana. Namun tepat pada saat itu, Tiga Bandit Tua yang sejak tadi berdiri seperti orang terkena sihir, tiba-tiba memberikan reaksi.


Mereka seolah-olah baru tersadar dari mimpinya.


"Tunggu!" kata orang tua yang menggunakan senjata pedang.


"Ada apa lagi?" tanya Pek Ma dengan nada tidak senang.


"Kau tidak bisa pergi dengan membawa anak itu," ujarnya sambil menunjuk ke arah Zhang Fei.


"Kalau aku tetap ingin membawanya?"


"Maka kami akan berusaha menahanmu,"


"Kau yakin bisa menahanku?"


"Kalau belum dicoba, mana bisa berkata seperti itu?"


"Baik, silahkan coba," Pek Ma menganggukkan kepala.


Dia kemudian menyuruh Zhang Fei untuk berdiri di sisi lain. Dalam hal ini, orang tua itu tidak mau melibatkan murid tunggalnya tersebut. Apalagi Pek Ma juga tahu bahwa Tiga Bandit Tua adalah kawanan perampok yang cukup mempunyai kemampuan.


Sementara di sisi lain, Tiga Bandit Tua itu sudah mengambil sikap. Mereka langsung berpencar dan berdiri di posisi masing-masing.


Karena sadar siapa orang yang akan dihadapi, maka tanpa banyak berpikir, ketiganya langsung berniat untuk mengeluarkan formasi andalannya.


Formasi Segitiga Hitam!


Tiga batang senjata sudah dicabut keluar. Mereka pun segera menyalurkan tenaga dalam dan hawa sakti ke seluruh tubuhnya.


Sepertinya, dalam pertarungan ini Tiga Bandit Tua telah nekad untuk bertarung sampai ke titik darah penghabisan.


"Bagus. Kalau kalian sudah bosan hidup, maka aku akan memberikan kematian yang cepat dan tanpa rasa sakit," kata si Telapak Tangan Kematian dengan tenang dan penuh keyakinan.


Perlu diketahui, setelah lima tahun menyembunyikan diri dari dunia ramai, ternyata sudah banyak perubahan yang terjadi, baik terhadap Pek Ma sendiri, maupun terhadap empat orang anak buahnya.


Sekarang mereka menjadi lebih tenang, lebih yakin, bahkan setiap jurus yang mereka miliki pun semakin matang dan sempurna.


Karena alasan itulah orang tua tersebut bisa menghadapi orang-orang Hartawan Wang tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga.


Kembali ke ruang tahanan, saat ini Tiga Bandit Tua sudah berada dalam kesiapan tinggi. Tidak lama setelah itu, si kakek tua berpedang segera memberikan perintah kepada dua orang rekannya.


Sembari berkata demikian, tubuhnya langsung menerjang ke depan. Pedang pusaka yang sudah banyak menelan korban, tampak melakukan gerakan menebas.


Dua orang rekannya ikut bergerak. Tombak bermata dua dan tongkat berkepala tengkorak pun ikut melayang di tengah udara.


Tiga serangan mematikan datang secara bersamaan. Karena ketiganya sudah menyalurkan kemampuan sampai ke titik tertinggi, maka mereka tidak memerlukan waktu yang lama untuk tiba di hadapan musuhnya.


Wushh!!!


Tiga orang manusia bergerak bagaikan kilat. Seluruh tubuh si Telapak Tangan Kematian sudah berada dalam incaran lawan.


Ketua dari Lima Malaikat Putih itu tersenyum dingin. Dia bergerak mundur dengan cepat pula, tiga serangan yang perdana, hanya lewat begitu saja di depan wajahnya.


Tetapi, usaha Tiga Bandit Tua tidak sampai di situ saja. Mereka sudah menduga langkah apa yang bakal diambil oleh Pek Ma. Maka dari itu, mereka pun sudah mempersiapkan rencana selanjutnya.


Si nenek tua tiba-tiba muncul di belakang Pek Ma. Tongkat miliknya menyapu ke arah batok kepala. Serangan tersebut dilancarkan sangat mendadak.


Tidak ada waktu lagi untuk menangkis serangan, apalagi untuk menghindarinya.


Namun Pek Ma bukanlah tokoh kelas rendah. Dia adalah mantan gembong iblis yang namanya sudah menggetarkan sungai telaga.


Jadi, bagaimana mungkin dia tidak bisa menghindari serangan lawan?


Kepalanya cepat menunduk. Disusun kemudian dengan hentakan telapak tangan kiri. Segulung angin tercipta dan langsung mendorong si nenek tua ke belakang.


Dua orang rekannya ternyata tidak tinggal diam. Sesaat setelah si nenek tua terdorong, mereka telah datang kembali dengan serangan dan jurus yang lebih hebat.


Hanya dalam beberapa kejap saja, seluruh ruang tahanan telah dibuat bergetar akibat dari pertarungan tersebut.


Empat bayangan manusia terus berkelebat. Hawa dari masing-masing senjata lawan sudah mulai menekan suasana.


Zhang Fei yang berdiri di pinggir saja terpaksa harus membuat benteng pertahanan untuk melindungi dirinya sendiri. Sebab kalau tidak begitu, ia pun bisa terlempar karena efek dari benturan mereka.


Pertarungan di ruang tahanan mulai berjalan dengan seru. Apalagi setelah si Telapak Tangan Kematian mulai memberikan serangan balasan pula.


Sesuai dengan janjinya semula, dia akan memberikan kematian yang cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit kepada Tiga Bandit Tua.


"Telapak Lingkaran Setan!"


Wushh!!!


Jurus ke delapan dari Sembilan Telapak Sesat sudah digelar. Meskipun jurus itu hanya digunakan dengan pengerahan tenaga enam bagian, tapi karena sekarang dia sudah bisa menguasai secara sempurna, maka hasilnya tentu jauh lebih hebat.


Seluruh arena pertarungan seolah-olah telah dipenuhi oleh bayangan telapak tangan setan yang menyeramkan.


Tiga Bandit Tua juga mulai terdengar raungan dan rintihan yang membuat tubuh mereka bergetar.


'Celaka. Ternyata jurus ini juga mengandung kekuatan sihir yang menyerang batin,'


Si nenek tua berkata dalam benaknya. Bersamaan dengan itu, ia pun tetap berusaha untuk mempertahankan dirinya.


Sayang sekali, baik dia maupun dua rekannya tidak mampu bertahan lebih lama.


Sekarang mereka sudah berada dalam kendali lawan. Ketiganya tidak punya kuasa apa-apa untuk memberikan perlawanan. Seluruh tubuhnya bergetar keras, semua tenaga seolah-olah hilang tanpa jejak.


Hal yang beberapa hari lalu dirasakan oleh Zhang Fei, sekarang dirasakan juga oleh ketiganya.


Plakk!!!


Telapak tangan Pek Ma mendarat dengan telak di dada Tiga Bandit Tua. Tak ayal lagi, mereka langsung melayang mundur ke belakang tanpa bisa berbuat apa-apa.


Ketiganya jatuh berdebum di atas lantai dengan kondisi sudah tidak bernyawa lagi.


"Benar-benar kematian yang sangat cepat dan tidak menyakitkan," gumam Zhang Fei setelah mengetahui bahwa Tiga Bandit Tua itu sudah tewas di tangan gurunya.