Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Bayangan Hitam II


Pertarungan di dalam ruangan itu langsung terjadi tanpa bisa dihindari. Bayangan Hitam menyerang empat orang lawannya dengan ganas. Kerja sama yang mereka lakukan sangat teratur.


Hal itu membuat Zhang Fei dan yang lain kesulitan. Tapi bukan berarti mereka kalah. Apalagi tidak mampu memberikan perlawanan berarti.


Keempatnya justru saat ini sedang mengawasi bagaimana cara lawan menyerang. Mereka sedang mencari celah dari setiap serangan yang diberikan.


Karena itulah dalam dua puluh jurus pertama, mereka tidak pernah melakukan serangan pasti. Kecuali hanya memberikan serangan susulan untuk memecahkan kerja sama lawan.


Selama dua puluh jurus berada di posisi bertahan, akhirnya mereka mulai bisa membaca gerakan ataupun strategi pihak musuh.


"Nyonya Lien, apakah di sini ada jendela?" tanya anak muda itu di tengah pertarungan yang terus berlangsung.


"Ada," jawab Lien Hua dengan cepat.


"Baik, kita keluar sekarang,"


Walaupun tiga orang tua di sisinya belum mengerti rencana Zhang Fei selanjutnya, tapi mereka tidak banyak bertanya.


Setelah memberikan serangan balasan yang cukup tangguh sehingga bisa membuat lawan mundur, Lien Hua langsung bergerak ke tempat di mana ada jendela yang baru saja ia katakan.


Melihat lawan ingin kabur, Bayangan Hitam tidak tinggal diam. Tentu saja mereka tidak akan melepaskan musuh begitu saja. Apalagi empat orang itu sudah berani memasuki kamar majikannya.


Bagaimanapun juga, mereka harus bisa menangkapnya. Baik dalam keadaan hidup ataupun mati.


Kejar-kejaran terjadi untuk beberapa saat. Setelah Zhang Fei dan yang lain berhasil keluar dari ruangan, sekarang mereka ada di halaman yang sangat berdekatan dengan kamar utama Hartawan Wang tadi.


Begitu tiba di sana, pertarungan segera dilanjutkan kembali. Suara benturan antar tulang mulai terdengar. Kedua belah pihak juga mulai berlaku serius.


Halaman belakang itu jauh lebih luas dari ruangan tadi. Karenanya kedua belah pihak yang terlibat bisa bergerak lebih bebas dari sebelumnya.


Sepuluh orang pengawal pribadi Hartawan Wang kembali mencecar lawan. Pukulan dan tendangan yang mereka berikan mengandung bahaya. Kalau terkena serangan itu dengan telak, niscaya akan mengalami luka yang tidak ringan.


Andai tubuh tidak kuat menahannya, maka sudah tentu nyawa sendiri yang menjadi jaminan.


Pertarungan sudah berjalan selama puluhan jurus. Mencapai jurus tiga puluh lima, tiba-tiba Zhang Fei berseru nyaring.


Tubuhnya langsung melesat ke depan. Dia menyambut datangnya serangan lawan.


Kedua tangan berkembang. Seperti kepakan sayap burung rajawali.


Wutt!!!


Jurus tangan kosong digelar. Deru angin kencang terasa menyapu tubuh. Hawa dingin yang bercampur hawa panas langsung merasuki tubuh lawan.


Pertarungan pemuda itu terus berlanjut. Dua orang tua menyerang dari titik yang berbeda.


Di sisinya, Mo Bian dan Duan Dao juga sedang melakukan hal yang sama. Masing-masing dari mereka melawan dua orang anggota Bayangan Hitam.


Sementara itu, Lien Hua adalah orang yang mendapatkan lawan paling banyak di antara tiga rekannya.


Kalau mereka mendapat dua lawan, maka dia justru empat lawan.


Tapi meskipun begitu, Ketua dari Perguruan Teratai Putih tersebut tidak merasa kerepotan. Dengan kemampuan yang sudah dia miliki sekarang, rasanya ia masih sanggup untuk menghadapi mereka.


Mencapai lima puluh jurus, situasinya mulai berbalik. Sekarang Bayangan Hitam tampak kewalahan menghadapi serangan balasan dari empat lawannya.


Masing-masing dari mereka sudah merasakan kehebatan lawannya tersendiri. Pukulan dan tendangan yang bersarang di tubuhnya mengandung tenaga sakti yang tinggi.


Hal itu terbukti dengan rasa sakit yang tidak hilang bahkan sampai saat ini.


Karena situasinya mulai berubah, maka sepuluh orang tersebut memutuskan untuk menarik langkah mundur.


Pertarungan berhenti sebentar.


"Kalau kita tidak mengeluarkan senjata, rasanya cukup sulit untuk melumpuhkan mereka," kata salah satu anggota Bayangan Hitam.


"Benar. Ternyata mereka cukup tangguh," sahut rekannya.


"Bocah keparat itu juga lumayan hebat. Setiap serangannya sangat matang," orang di sisinya ikut bicara.


Dia adalah salah satu anggota yang bertarung melawan Zhang Fei. Dan setelah apa yang ia lewati, sekarang dirinya mulai mengerti bahwa pemuda itu pun tidak bisa dipandang sebelah mata.


"Kalau begini caranya, terpaksa kita harus mengeluarkan senjata masing-masing dan menggunakan jurus Formasi Bayangan,"


Ketua mereka berkata dengan wajah serius. Dia sendiri sadar dengan posisinya sekarang. Ia tahu, empat orang itu bukanlah lawan yang enteng. Maka dari itu, rasanya hanya cara barusan saja yang bisa diandalkan.


"Setuju. Sepertinya cuma ini saja jalan keluarnya," sahut orang yang berdiri di sisi sebelah kanan.


Bayangan Hitam kemudian mencabut senjatanya masing-masing. Lima orang di antara mereka menggunakan golok panjang yang berbentuk seperti pedang. Sedangkan lima orang sisanya menggunakan tombak berkata dua sepanjang setengah depa.


"Bentuk formasi!" pemimpinnya berseru. Sembilan anggotanya langsung mengambil posisi masing-masing.


Sementara itu, semua kejadian barusan bisa disaksikan dengan jelas oleh Zhang Fei bersama yang lain. Mereka juga menyadari bahwa pihak lawan mulai berlaku serius.


"Sepertinya kita juga harus melakukan hal yang sama," kata anak muda itu.


"Ehmm, aku setuju," ujar Lien Hua menimpali.


Tanpa panjang lebar, mereka juga segera menggunakan senjata andalannya masing-masing.


Kini kedua belah pihak sudah mencabut pusakanya. Persiapan sudah selesai, waktunya untuk beraksi kembali.


Wushh!!!


Tiga orang menyerang lebih dulu. Serangan yang ganas dan telengas.


Lien Hua maju lebih dulu. Ia menyabetkan pedang tipis di tangan kanannya dengan gerakan menggunting. Disusul kemudian dengan tusukan pedang yang mengincar titik utama.


Tapi belum sempat dirinya bergerak lebih jauh, tiga orang lainnya sudah tiba dari arah lain.


Tiga batang golok siap menebas tubuhnya menjadi beberapa bagian. Kedatangan mereka sangat mendadak. Sehingga Ketua Perguruan Teratai Putih itu dibuat kaget setengah mati.


Trangg!!!


Bersamaan dengan munculnya tiga musuh lain, Dua Dao juga tidak berpangku tangan. Dia bergerak telak pada waktunya.


Tongkat besi sebesar sebelah lengah dengan panjang satu depa miliknya berhasil memapak tiga batang golok yang ingin mencincang tubuh Lien Hua.


Akibat dari hal itu percikan api pun tercipta dan langsung membumbung tinggi ke atas.


"Kalian pikir rencana tadi bisa berjalan mulus?" ia berkata dengan nada mengejek. Sebelum lawan membalas ucapannya, ia sudah menyerang lebih dulu.


Pertarungannya langsung berjalan sengit. Seperti juga pertarungan Lien Hua di sisinya.


Dua pendekar angkatan tua sudah sibuk dengan tugasnya masing-masing. Pada saat-saat menegangkan, kembali terjadi peristiwa seperti sebelumnya.


Tiga batang tombak siap menusuk seluruh tubuh Duan Dao. Tapi lagi-lagi, ada Mo Bian yang sudah siap pula dengan golok melengkung miliknya.


"Jangan lupakan aku!" katanya berteriak. "Golok Bulan Sabit ini siap melayani tombak kalian,"


Wushh!!!


Dia melesat secepat angin berhembus. Jurus-jurus golok yang berbeda dari jurus golok kebanyakan langsung digelar pada saat itu juga.