Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Jurus Pukulan Tanah Merah


Lewat beberapa waktu kemudian, setelah rembulan sudah berada di titik yang cukup tinggi, si Pengemis Tua Tanpa Pamrih tiba-tiba menghentikan langkahnya.


Ia berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang besar. Dari kejauhan saja, bangunan itu sudah terlihat angker. Bahkan keangkeran tersebut bukan hanya bisa dilihat, malah bisa juga dirasakan.


Saat ini, dua orang itu sedang berdiri tegak di bawah sebatang pohon yang tinggi dan rimbun. Mereka mengawasi bangunan besar dengan berbagai macam perasaan.


"Apakah itu markas cabang Partai Panji Hitam?" tanya Zhang Fei tanpa berpaling.


"Benar. Itu adalah markasnya," jawab Pengemis Tua Tanpa Pamrih.


"Tuan tahu informasi tentang keadaan di dalamnya?"


Zhang Fei bertanya lebih jauh. Dia sengaja melakukan semua itu. Sebab hal tersebut sama dengan ajaran kakeknya.


Dalam melakukan sesuatu, ia harus berlaku sangat teliti.


"Anggota Partai Panji Hitam di kota kecil ini, jumlahnya sekitar lima puluh orang. Dari lima puluh itu, ada sepuluh orang yang merupakan pasukan khusus. Diluar jumlah barusan, ada juga satu Ketua dan satu Wakil Ketua," ucap Pengemis Tua Tanpa Pamrih menjelaskan.


"Tidak aku sangka, ternyata Tuan tahu banyak tentang partai itu,"


"Tentu saja aku tahu. Sebab mereka adalah manusia-manusia yang telah menghancurkan hidupku,"


Zhang Fei tidak menjawab. Apalagi setelah dia merasakan tekanan emosi yang keluar dari tubuh orang tua itu.


"Dari mana kita memulainya?" tanya pemuda itu lagi.


"Dari depan saja,"


"Baik. Setuju,"


Pengemis Tua Tanpa Pamrih segera menyiapkan tenaganya. Setelah selesai, ia langsung melesat lebih dulu.


Wushh!!!


Ilmu meringankan tubuh orang itu ternyata sudah cukup tinggi. Buktinya saja, baru beberapa saat, ia sudah tiba di depan pintu gerbang.


Kebetulan, di sana ada dua orang penjaga yang sedang menjalankan tugas.


Tanpa membuang waktu lagi, si Pengemis Tua Tanpa Pamrih langsung menyerang keduanya dengan tongkat bambu yang ia genggam.


Dengan serangan yang tiba-tiba, ditambah lagi dengan kemampuannya yang tinggi, tentu saja dua anggota tersebut tidak bisa melakukan sesuatu apapun.


Dalam waktu singkat, mereka telah tewas dihantam oleh tongkatnya.


Sementara itu, Zhang Fei juga tidak tinggal diam. Dengan cepat pula, dia langsung mendobrak gerbang yang terbuat dari kayu itu.


Brakk!!!


Gerbang hancur berkeping-keping. Serpihan kayu terlempar ke segala arah.


Suara yang ditimbulkan dari hancurnya pintu gerbang itu cukup keras. Sehingga dengan cepat, semua orang yang ada di sana langsung berlarian keluar.


Melihat ada dua orang asing yang berani membuat gara-gara, tanpa banyak bicara lagi, para anggota Partai Panji Hitam pun langsung melancarkan serangannya secara bersamaan.


Suara teriakan para anggota terdengar menggema ke empat penjuru. Bacokan golok dan senjata lainnya langsung menyerbu ke arah dua sosok itu.


Si Pengemis Tua Tanpa Pamrih tersenyum dingin.


Sudah lama dia tidak merasakan darahnya mendidih seperti sekarang. Sudah lama pula, dia tidak mengeluarkan kemampuannya.


Maka dari itu, sebelum semua serangan mengenai tubuhnya, ia langsung menggerakkan tongkatnya dengan sekuat tenaga.


Wungg!!! Wungg!!!


Tongkat bambu itu berputar seperti kincir angin. Suara seperti auman harimau terdengar menusuk telinga.


Baru sesaat ia turun tangan, akibatnya sudah cukup hebat. Beberapa anggota Partai Panji Hitam telah menjadi sasaran telaknya.


Pertarungan seketika berjalan sengit. Pengemis Tua Tanpa Pamrih mirip seperti harimau yang terluka.


Dia menyerang secara membabi buta.


Melihat lawan sudah memulai aksinya, maka ia pun langsung turun tangan.


Wushh!!!


Tubuhnya bergerak dengan cepat ke depan sana. Puluhan golok yang ingin mencincang tubuhnya, ia hadapi dengan tangan kosong.


Pukulan jarak jauh digelar. Angin yang menderu segera melemparkan orang-orang itu cukup jauh.


Tidak berhenti sampai di situ, Zhang Fei juga melancarkan jurus tangan kosong lainnya.


Dengan kemampuannya yang sekarang, ia tidak merasa kesulitan sama sekali dalam menghadapi orang-orang tersebut.


Sepak terjang anak muda itu membuat pihak lawan jeri. Para anggota Partai Panji Hitam seketika merasakan hatinya tenggelam.


Mereka tidak menyangka, ternyata malam ini adalah malam berdarah. Mereka pun tidak pernah berpikir bahwa ternyata di dunia ini masih terdapat manusia yang berani berbuat nekad seperti kedua orang itu.


Waktu terus berlalu. Pertempuran di halaman itu sudah berlangsung selama puluhan jurus.


Puluhan mayat manusia juga sudah bergelimpangan di tengah halaman. Darah yang bau amis, kembali mengalir dengan deras.


Pengemis Tua Tanpa Pamrih berhasil menunjukkan kembali taringnya. Walaupun pihak lawan berhasil memberikan luka, tapi semua itu bukan apa-apa.


Baginya, rasa sakit akibat semua luka itu masih terlalu jauh jika dibandingkan dengan sakit hatinya.


"Mana pemimpin kalian? Suruh dia keluar! Apakah dia sudah tidak punya nyali lagi, sehingga tidak berani menyambut tamu dengan baik?"


Pengemis Tua Tanpa Pamrih berteriak kencang. Suaranya sampai menggetarkan udara.


Tidak lama setelah itu, dari dalam markas terlihat ada dua bayangan manusia yang melayang datang. Di belakang dua orang itu, masih ada sepuluh orang lagi.


"Hemm, manusia dari mana yang bertamu malam-malam begini?"


Sebuah suara serak parau terdengar. Tanpa ditanya pun, kedua orang tersebut sudah tahu bahwa yang bicara itu, bukan lain adalah Ketua Cabangnya.


"Hemm, kau masih ingat dengan aku, si Pengemis Tua Tanpa Pamrih?"


"Aku tidak ingat atau bahkan mengenalmu. Aku hanya tahu, kau adalah tua bangka yang sudah bosan hidup," jawab orang itu sambil tersenyum dingin dari balik cadarnya.


"Perduli setan apa yang kau katakan. Yang jelas, aku datang kemari bukan untuk mencari mati. Melainkan untuk membalas hutang di hari lalu,"


"Oh, benarkah? Kalau begitu, segera lakukan saja,"


Ia langsung memberikan tantangan!


Setelah berkata demikian, sepuluh orang di belakangnya langsung melompat. Mereka mengurung Zhang Fei dan Pengemis Tua Tanpa Pamrih.


"Lihat serangan!"


Orang tua itu langsung bergerak. Ia segera menyerang Ketua Cabang. Jurus-jurus tongkat bambu miliknya digelar dengan sekuat tenaga.


Bersamaan dengan tindakannya, Zhang Fei pun ikut melakukan hal sama.


Apalagi di satu sisi lain, sepuluh orang yang pastinya adalah pasukan khusus itu, juga sudah memburu ke arahnya.


"Bagus. Mari kita bersenang-senang,"


Ia tertawa. Kedua tangannya juga langsung bergerak cepat. Deru angin tiba-tiba muncul, sepuluh orang yang sudah hampir mengenai tubuhnya itu, mendadak terdorong mundur.


Wutt!!!


Zhang Fei tidak mau melepaskan mereka. Ia kembali menerjang sepuluh orang itu dengan Jurus Pukulan Tanah Merah.


Perlu diketahui, selama mengasingkan diri bersama kakeknya, ia telah diwarisi tiga rangkaian jurus tangan kosong andalan yang tidak perlu diragukan lagi kemampuannya.


Dan Jurus Pukulan Tanah Merah, adalah yang pertama.


Hawa panas langsung dirasakan oleh sepuluh orang pasukan khusus tersebut. Mereka merasa terkepung di tengah kobaran api yang membara.


Jurus pukulan yang diberikan oleh anak muda itu benar-benar hebat. Hingga membuat pihak lawan tidak bisa berbuat banyak.