
Setelah beberapa waktu berusaha dengan keras dan sekuat tenaga, akhirnya usaha Zhang Fei membuahkan hasil juga. Pedang Raja Dewa dengan telak menusuk leher lawannya.
Orang itu sempat mengeluarkan suara memberikan sebelum nyawanya lepas dari raga.
Ketika dipastikan nyawa musuhnya sudah melayang, cepat-cepat Zhang Fei mencabut pedangnya dari leher.
Brukk!!!
Tubuh orang tersebut jatuh telungkup ke atas tanah. Seketika darah segar langsung menggenangi area sekitar.
Kini semua pertarungan yang tadi berlangsung sengit di halaman itu sudah selesai. Para tokoh dunia persilatan Tionggoan, khususnya di Kekaisaran Song, keluar sebagai pemenang.
Meskipun tubuh mereka masing-masing dipenuhi oleh luka-luka akibat pertarungan tadi, namun hal itu tidak dirasakan sama sekali.
Lukanya telah terbayar lunas dengan nyawa lawan, jadi, apa yang mereka rasakan sekarang, itu bukanlah apa-apa.
Sementara di sebelah belakang sana, terlihat ada Tabib Dewa Dong Yin dan Ketua Cabang Partai Pengemis bersama beberapa orang anggotanya sedang berdiri memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan di hadapannya.
Mereka belum turun tangan sama sekali. Karena semua masalah yang tersedia, ternyata sudah bisa diatasi oleh lima tokoh rimba hijau itu.
Di dalam hati masing-masing, mereka memuji kehebatan para tokoh tersebut.
Pada saat yang bersamaan, sebelum ada yang berbicara, tiba-tiba Dewa Arak Tanpa Bayangan melesat dan melompat masuk ke kamar Ketua Dunia Persilatan.
Dia teringat akan Ketua Beng Liong dan ingin memastikan bagaimana kondisinya.
Tidak lama setelah dia melompat, yang lain juga segera melakukan hal serupa.
Setelah berada di dalam kamar, Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung memeriksa Ketua Beng Liong. Para tokoh yang lain berdiri tepat di belakangnya.
"Bagaimana kondisi Ketua?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan dengan cepat.
"Beliau sudah meninggal," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan nada lemah.
Degg!!!
Semua orang yang mendengarnya langsung merasakan tubuh lemas tak berdaya. Mereka benar-benar tidak menyangka, nasib Ketua Beng Liong yang berjuluk Pendekar Dewa Langit itu, ternyata harus berakhir secara tragis.
Suasana di dalam kamar langsung sepi hening pada saat itu juga. Semua tokoh memandangi tubuh Ketua Dunia Persilatan dengan perasaan hancur lebur.
Sungguh, walaupun buktinya sudah ada di depan mata, tetapi mereka masih belum percaya bahwa Ketua Beng Liong benar-benar tewas.
"Kalau takdir langit sudah menentukan, manusia bisa apa?"
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari luar. Kemudian masuk seseorang yang usianya sudah tua. Dia bukan lain adalah si Tabib Dewa Dong Ying.
"Kematian Ketua Dunia Persilatan jangan terlalu disesali. Percayalah, dia mati sebagai orang yang baik dan gagah. Oleh karena itu, kalian selaku orang sealiran, sekaligus yang mempunyai hubungan dekat dengannya, harus bisa mendamaikan dunia persilatan seperti semula. Jangan sampai apa yang sudah dikorbankan oleh Ketua selama ini sia-sia. Kalian harus bisa mewujudkan impiannya yang belum tercapai,"
Tabib Dewa Dong Ying bicara dengan nadat tegas. Meskipun dia bukan orang persilatan, tapi setiap patah kata yang diucapkannya sangat berwibawa.
Para tokoh yang ada di dalam kamar juga bisa merasakan hal tersebut. Buktinya saja, selama Tabib Dewa Dong Ying berbicara, tidak ada satu pun dari mereka yang berani memotongnya.
"Bersedih boleh, tapi jangan terlalu berlebihan. Apalagi, kalian ini adalah seorang pendekar. Tokoh-tokoh berpengaruh dalam dunia persilatan. Percayalah kepadaku, setelah kepergian Ketua Beng Liong ini, dunia persilatan akan bertambah kacau. Sebab akan ada banyak orang yang ingin merebut jabatannya. Dalam hal ini, kalian Empat Datuk Dunia Persilatan lah yang harus bertanggungjawab,"
Ucapan Tabib Dewa Dong Ying mengejutkan para tokoh yang dimaksud. Sekaligus juga menyadarkan mereka semua dari kesedihan saat ini.
"Kau benar, tabib tua," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung menyahut. "Terimakasih karena sudah mengingatkan kami,"
"Kita jangan bersedih lagi. Ketua Beng Liong belum meninggal, dia masih hidup. Selama di hati kalian masih ada namanya, selama itu pula dia akan terus hidup," katanya dengan tegas.
Dia minum arak dua kali. Setelah itu kemudian berkata lagi, "Tugas kita masih belum selesai. Sekarang, ayo periksa siapakah si tua bangka Lu itu sebenarnya,"
"Benar, kita harus mengetahui siapa mereka," kata Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Ya, kita wajib mengetahui identitasnya," sambung Dewi Rambut Putih.
Wushh!!! Wushh!!!
Mereka melompat dan kembali ke halaman luar. Sebelum kepergian itu, Dewa Arak Tanpa Bayangan telah menugaskan dulu Tabib Dewa untuk mengurusi jasad Ketua Beng Liong.
Setelah berada diluar, Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Orang Tua Aneh Tionggoan langsung melakukan pemeriksaan terhadap keenam jasad itu.
Sekitar beberapa menit kemudian, Dewa Arak Tanpa Bayangan terlihat menemukan sesuatu. Ia bangkit berdiri dan berkata. "Rupanya si tua bangka Lu ini adalah salah satu petinggi sekaligus mata-mata yang sengaja dikirim oleh Partai Panji Hitam,"
"Apa?" semua orang terkejut. Namun mereka harus percaya terhadap ucapannya. Apalagi di tangan Dewa Arak Tanpa Bayangan saat ini sudah ada sebuah lencana sebagai petunjuk.
"Kelima orang ini bukan berasal dari Kekaisaran Song. Juga bukan dari Kekaisaran Zhou. Jurus-jurus yang mereka gunakan sangat berbeda dengan kita. Lagi pula, mereka sepertinya bukan berasal dari sebuah partai," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan setelah melakukan pemeriksaan beberapa saat.
"Maksudmu?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil mengerutkan kening.
"Menurutku, lima orang ini merupakan pendekar yang berasal dari Istana Kekaisaran. Aku bisa mengatakan ini karena ..."
"Karena ada buktinya," Zhang Fei memotong ucapan orang tua itu.
Dia segera melompat ke salah satu jasad dan mengambil benda yang tanpa sengaja telah dilihat olehnya.
Benda yang dimaksud ternyata juga sebuah lencana. Lencana yang terbuat dari perak dan di atasnya terdapat kalimat.
"Jayalah Kekaisaran Jin."
"Apa? ..."
Empat Datuk Dunia Persilatan seketika berseru secara bersamaan. Mereka benar-benar kaget akan hal ini. Malah Orang Tua Aneh Tionggoan yang sudah menduganya pun tidak terkecuali.
"Jadi, mereka juga bekerja sama dengan partai sesat untuk menguasai Kekaisaran kita?" tanya Pendekar Tombak Angin seolah-olah masih belum yakin.
"Benar, sepertinya begitu. Buktinya sudah ditemukan oleh anak Fei," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Aihh!" Pendekar Tombak Angin mengeluh.
Dia benar-benar tidak menyangka sekaligus kecewa dengan kejadian ini. Yang merasakan hal itu bukan hanya dia seorang, tiga orang lainnya juga sama.
Perlu diketahui, hubungan Kekaisaran Song dengan Kekaisaran Jin itu cukup dekat. Meskipun beberapa waktu lalu dua Kekaisaran lain berniat menguasai Kekaisaran Song, tapi secara diam-diam Kekaisaran Jin sering memberikan bantuan.
Akan tetapi siapa sangka, dibalik kebaikannya tersebut, ternyata ada kebusukan yang sangat mengejutkan.
Padahal sebelumnya, para tokoh tersebut tidak percaya terkait kabar yang bereda luas di kalangan luar.
Namun setelah kejadian ini, anggapannya lain lagi.
"Kita harus segera melaporkan hal ini kepada Kaisar sebelum semuanya terlambat," seru Dewa Arak Tanpa Bayangan.