
Kedua sahabat itu berpelukan cukup lama. Zhang Fei yang menyaksikan langsung peristiwa dengan mata kepalanya sendiri, merasa sangat terharu.
Dia tidak menyangka, ternyata dibalik sifatnya yang suka tidak menentu itu, Orang Tua Aneh Tionggoan merupakan manusia yang mengutamakan kepedulian. Terutama sekali kepedulian terhadap sahabat sendiri.
Kalau situasi dalam dunia persilatan sedang baik-baik saja, mungkin ia sendiri tidak akan sampai merasa terharu seperti itu.
Tapi, keadaan sekarang lain lagi. Karenanya, tidak heran apabila Orang Tua Aneh Tionggoan itu disamakan dengan Malaikat Penolong yang langsung turun dari langit.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah selesai berpelukan. Sekarang mereka sudah duduk kembali di tempatnya masing-masing.
"Anak muda, bagaiamana denganmu? Apakah kau juga akan membantu Partai Pengemis?" tanya Pengemis Tongkat Sakti Chen Mu Bai seolah-olah ingin mengetahui pilihan Zhang Fei.
"Tentu saja, Ketua. Aku juga akan berjuang bersama kalian. Bila perlu, aku malah siap untuk mengorbankan nyawa," jawabnya dengan tegas.
"Bagus. Kalau begitu, sebelumnya aku ucapkan terimakasih,"
Mereka kembali berbincang-bincang. Walaupun kentongan kedua sudah terdengar, namun obrolan di antara tiga orang tersebut terus berlangsung.
Beberapa waktu berikutnya, pada saat kentongan keempat terdengar, barulah Zhang Fei berkata bahwa ia mulai mengantuk.
Kemudian, Pengemis Tongkat Sakti memanggil satu orang anggotanya untuk mengantarkan Zhang Fei ke kamar yang sudah tersedia.
"Antarkan anak muda ini ke kamar tamu," katanya setelah anggota itu ada di dalam ruangan.
"Baik, Ketua," jawab si anggota sambil membungkuk hormat.
"Tuan berdua, maaf aku tidak bisa menemani lebih lama. Rasa kantuk ini sudah menggerogoti seluruh tubuhku," ucap Zhang Fei sambil tertawa kepada kedua orang tua itu.
"Hahaha ... baiklah. Tidur saja, anak Fei. Sebentar lagi aku akan menyusulmu," tukas Orang Tua Aneh Tionggoan.
Anak muda itu kemudian pergi bersama anggota tadi. Saat ini, di dalam ruangan tersebut hanya ada Pengemis Tongkat Sakti dan juga Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Orang aneh, siapa sebenarnya anak itu?" tanyanya setelah Zhang Fei menghilang dari pandangan mata.
"Aku sendiri belum tahu secara pasti. Hanya saja, firasataku mengatakan bahwa dia mempunyai latar belakang yang tidak biasa,"
Meskipun ia sudah berjalan bersama Zhang Fei cukup lama, namun jujur saja, orang tua itu sendiri belum mengetahuinya riwayatnya secara pasti.
Dia hanya tahu bahwa Zhang Fei adalah seorang pendekar muda yang berilmu tinggi dan juga berbeda daripada yang lain.
Ia hanya tahu soal itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih.
"Hemm ..." Pengemis Tongkat Sakti menganggukkan kepala beberapa kali. "Walaupun aku belum melihat kemampuannya secara langsung, tapi aku merasa bahwa ia memang merupakan anak yang istimewa,"
"Jangan khawatir. Sebentar lagi, kau akan segera tahu bagaimana kemampuan anak muda itu," ujar Orang Tua Aneh Tionggoan seraya tertawa.
Seorang anggota tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Dia datang sambil membawa guci arak baru yang disimpan di atas nampan.
Setelah menaruhnya di atas meja, dengan segera ia keluar lagi.
Dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu terus bercerita banyak hal sampai fajar menyingsing.
###
Tanpa terasa, dua hari sudah berlalu kembali. Selama dua hari belakangan, keadaan di markas Partai Pengemis masih sama seperti biasanya.
Namun meskipun begitu, keamanan di Partai Pengemis tetap dijaga ketat. Malah sekarang jauh lebih ketat daripada sebelumnya.
Pengemis Tongkat Sakti bukanlah orang baru dalam dunia persilatan. Ia adalah angkatan tua, pengalamannya sudah teramat banyak. Ia telah melewati berbagai macam pertarungan besar kecil yang tidak perlu dijelaskan lagi.
Karena itulah, dia pun sudah mengetahui berbagai macam intrik dan strategi dalam rimba hijau.
Menurutnya, keadaan Kota Lijiang yang sampai saat ini terlihat aman-aman saja, justru merupakan bahaya yang sudah mengintai. Dia sangat yakin, apa yang dikatakan dua hari lalu, pasti akan terbukti di malam nanti.
###
Malam hari ini terasa sangat gelap. Rembulan yang biasa menggantung di atas langit, kini tidak menampakkan dirinya. Di angkasa pun tidak ada bintang yang biasanya bertaburan.
Cuaca memang sedang mendung. Suara guntur sesekali terdengar menggelegar di telinga. Hawa dingin menusuk tulang. Keadaan di sekitar Kota Lijiang semakin sepi.
Kota yang biasanya ramai di malam hari itu, kini malah sepi sunyi. Di jalan raya tidak terlihat ada banyak orang berlalu-lalang. Banyak toko dan tempat usaha lain yang sudah tutup lebih awal.
Ke mana perginya mereka? Kenapa suasana di sekitar Partai Pengemis sangat sepi? Apakah orang-orang itu pun sudah mempunyai firasat tentang hal buruk yang kemungkinan besar akan terjadi?
Sebenarnya, keadaan kota yang berbeda dari biasanya itu, tak lebih adalah karena perbuatan Pengemis Tongkat Sakti. Orang tua itu sengaja mengungsikan orang-orang sekitar ke tempat lain untuk sementara waktu.
Dengan kekuasaan dan nama besar yang ia miliki, rasanya tidak terlalu sulit untuk mengatur para warga di tempat sekitar.
Sementara itu di Partai Pengemis, keadaan di sana ternyata juga sepi. Para anggota yang berjaga tidak sebanyak bisanya. Malah di beberapa tempat, tidak terlihat adanya penjagaan seperti yang biasa dilakukan.
Ke mana pula para anggota Partai Pengemis? Apakah mereka pun diungsikan oleh Ketuanya?
Ketika suasana sedang sepi sunyi itulah, tiba-tiba dari empat penjuru mata angin, muncul puluhan bayangan manusia yang berkelebat dengan sangat cepat.
Saking cepatnya gerakan orang-orang itu, dalam waktu sekejap saja, mereka telah tiba persis diluar benteng Partai Pengemis.
"Semuanya, masuk secara serempak!" salah seorang di antara mereka memberikan perintah dengan suaranya yang besar dan penuh wibawa.
Puluhan orang lain segera menganggukkan kepala. Detik berikutnya, mereka telah berlompatan. Hanya sekejap saja, orang-orang itu telah berada di halaman depan Partai Pengemis.
"Ketua, keadaan di sini kosong. Sepertinya si tua bangka itu telah menyuruh semua anggotanya pergi,"
"Tidak. Mereka belum pergi," jawab orang yang diduga menjabat sebagai Ketua dari puluhan orang itu. "Kita telah terjebak!"
Si Ketua berkata dengan suara lantang. Wajahnya mencerminkan kepanikan.
"Semuanya, bersiaplah!" dia berteriak lagi dan memberikan perintah agar pasukannya melakukan persiapan.
Tepat setelah ia mengatakan terjebak, pada saat itu, mendadak dari empat penjuru pun bermunculan pula puluhan orang berpakaian pengemis.
Dalam waktu yang sangat singkat, halaman depan itu sudah dipenuhi oleh ratusan orang yang mengenakan pakaian berbeda.
"Hahaha ... kau sudah terlambat," sebuah suara lantang tiba-tiba terdengar.
Dari dalam pintu utama Partai Pengemis, tahu-tahu sudah muncul para petinggi dari partai itu. Termasuk pula Zhang Fei dan Orang Tua Aneh Tionggoan.
Orang yang berkata barusan tersebut adalah Pengemis Tongkat Sakti, ia tampak gembira setelah berhasil menjebak pasukan musuh yang ingin menghancurkan partainya.