Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kota Sichuan


"Percuma saja, Tuan Muda. Dia pasti tidak akan memberitahu di mana markas cabangnya," kata orang tua yang merupakan guru dari Perguruan Sabuk Biru.


Ia menjawab sebelum si pemimpin gendut bicara.


Zhang Fei penasaran, pemuda itu segera menoleh dan berjalan ke arahnya.


"Benarkah apa yang kau katakan itu, orang tua?"


"Ehmm, aku serius Tuan Muda,"


"Hemm ..."


Zhang Fei tidak bicara lagi. Ia segera membalikkan tubuh dan menghadap ke arah si pemimpin gendut.


Tapi alangkah kagetnya pemuda itu saat menyaksikan apa yang terjadi di sana. Si pemimpin itu tahu-tahu telah tewas. Tewas dengan mulut berbusa!


"Dia telah bunuh diri," ucap orang tua tadi.


Pemuda itu mengangguk. Ia segera berjongkok dan memeriksanya.


Ternyata apa yang dikatakan olehnya barusan memang benar. Si pemimpin gendut tewas karena bunuh diri. Setelah ditelisik lebih jauh, rupanya ia telah menelan racun bubuk yang diselipkan di saku bajunya.


Zhang Fei hanya bisa menghela nafas berat. Sebenarnya dia ingin tahu di mana markas cabang Partai Panji Hitam yang terdapat di kota sekitar.


Bagaimanapun juga, partai itu mempunyai dendam kesumat yang teramat dalam dengannya. Mereka telah membunuh orang tuanya.


Sampai kapan pun, ia tidak akan pernah melupakan peristiwa berdarah itu!


"Orang tua, maafkan, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Masih ada urusan yang harus segera diselesaikan," katanya setelah dia diam beberapa waktu.


"Ah, baiklah, Tuan Muda. Aku mengerti, terimakasih atas bantuan yang telah kau berikan,"


Orang tua itu membungkuk memberikan hormat kepada Zhang Fei. Ia sangat berterimakasih karena telah membantu menyelamatkan perguruan dan beberapa orang muridnya.


Anak muda itu menganggukkan kepala dan membalas hormat itu. Setelahnya, Zhang Fei langsung pergi dari sana.


Tidak lupa juga, ia melemparkan sedikit keping emas untuk membantu meringankan beban yang dideritanya.


Hanya dalam waktu sesaat saja, Zhang Fei telah menghilang dari sana.


###


Siang hari sudah tiba lagi. Zhang Fei baru saja selesai menyantap makanan di sebuah warung yang terdapat di kota itu.


Suasana di sana cukup ramai. Hampir semua meja telah dipenuhi oleh pelanggan setia.


Mereka yang ada bukan cuma dari kalangan orang awam. Bahkan ada pula orang-orang persilatan yang singgah di warung makan tersebut.


Saat ini mereka sedang membicarakan situasi dunia persilatan yang sedang bergejolak hebat. Terlebih lagi Partai Panji Hitam.


Ternyata saat ini, partai itu sudah menjelma menjadi partai yang jauh lebih besar daripada lima tahun silam. Cabangnya di mana-mana. Anggotanya juga semakin banyak lagi.


Malah menurut satu orang di antara mereka, partai tersebut berpotensi untuk menguasai dunia persilatan.


"Kalau situasinya terus seperti ini, niscaya Partai Panji Hitam akan menjadi partai terkuat di dunia persilatan," katanya bercerita.


"Aku setuju. Tapi, kalau sampai partai itu berkuasa, tentu saja orang-orang seperti kita ini akan tersingkirkan,"


"Kalau kita mau bergabung dengan mereka, aku rasa tidak," sahut rekannya yang lain.


"Hemm, daripada ikut bergabung bersama Partai Panji Hitam, aku lebih memilih mati saja,"


"Aku juga,"


"Sebenarnya aku pun begitu. Tapi mau bagaimana lagi, kenyataan berkata lain," ujar orang tadi sambil menghela nafas berat.


Ia terus mengumpulkan berbagai macam informasi yang bisa didapatkan selama dirinya berada di warung makan itu.


Setelah cukup lama, pemuda tersebut kemudian bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan ke kasir untuk membayar biaya makan. Kemudian dirinya segera keluar dan memulai lagi pengembaraannya.


Hari demi hari terus berlalu. Tiga hari kemudian, tepatnya setelah ia sepuluh hari turun gunung, dirinya telah tiba di sebuah kota besar yang bernama Sichuan.


Menurut informasi yang berhasil ia dapat selama di perjalanan, di kota Sichuan ini, katanya terdapat beberapa perguruan yang cukup besar. Dan yang paling penting, di Sichuan juga terdapat markas cabang Partai Panji Hitam yang sudah menyebar luas di setiap pelosok.


Semangatnya segera berkobar. Dia langsung mencari informasi lebih lanjut terkait keberadaan markas cabang tersebut.


Namun sebelum ia menemukannya, di tengah perjalanan, Zhang Fei kembali menemui satu pertarungan sengit yang berlangsung di sebuah jalanan sepi.


Pertarungan itu melibatkan empat orang pria tua yang sedang melawan seorang pendekar wanita seumuran dirinya.


Pendekar wanita itu sudah terpojok. Bahkan dilihat dari gerakan, sepertinya ia sudah mengalami luka dalam yang cukup berat.


Wajahnya pucat pasi. Seluruh kulitnya berubah warna jadi kehijauan.


Sepertinya dia juga mengalami keracunan. Entah racun apa yang ia derita. Tapi yang pasti, itu merupakan racun yang ganas dan berbahaya.


Rasa simpatinya segera hadir. Tanpa banyak membuang waktu, Zhang Fei langsung melesat ke depan dan ikut campur dalam pertarungan itu.


Wushh!!!


Saat jaraknya sudah dekat, dia segera melepaskan dua buah pukulan jarak jauh yang membawa hawa panas. Pukulan jarak jauh itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi serangan mengandung akibat yang cukup menakutkan.


Seorang di antara mereka ada yang melihat serangan dadakan tersebut. Karenanya orang tua itu langsung melepaskan juga serangan jarak yang sama hebatnya.


Blarr!!!


Benturan keras terjadi. Pertarungan sengit langsung berhenti saat itu juga. Empat orang tua terdorong mundur sejauh lima langkah.


Sedangkan si pendekar wanita terlempar sepuluh langkah. Untunglah Zhang Fei langsung bertindak cepat, sehingga si wanita tidak sampai jatuh tersungkur ke tanah.


Namun pada saat itu, ternyata si wanita telah berada dalam keadaan pingsan. Sepertinya dia sudah tidak kuat menahan luka yang diderita olehnya.


"Celaka, dia malah tidak sadarkan diri," gumam Zhang Fei sambil menahan tubuh itu.


Ini adalah kali pertamanya lagi ia bersentuhan langsung dengan seorang wanita. Jangan lupa, selama lima tahun, Zhang Fei tidak pernah bertemu dengan siapa pun. Kecuali hanya dengan gurunya sendiri.


Maka dari itu, ketika bersentuhan dengan lawan jenis, seolah-olah dari dalam tubuhnya mengalir getaran asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Tetapi karena situasi sekarang tidak mendukung, mau tidak mau ia harus menahan perasaan itu.


Zhang Fei segera menotok beberapa jalan darah penting di tubuhnya. Setelah selesai, dia segera menyenderkan tubuh wanita tersebut di sebuah pohon yang terdapat di sana.


Begitu rampung, ia segera berjalan ke tengah arena pertarungan kembali.


"Siapa kau, anak muda?" tanya seorang tua dengan nada tidak senang.


"Aku bukan siapa-siapa," jawabnya seenak hati.


"Hemm, aku tidak suka ada orang lain yang ikut campur dalam urusanku,"


"Sebenarnya aku juga tidak suka ikut campur urusan orang,"


"Kalau begitu, kenapa kau mengganggu pertarungan kami?"


"Karena aku lebih tidak suka kepada orang yang melakukan pengeroyokan. Apalagi terhadap seorang wanita," jawab Zhang Fei sambil tersenyum sinis.


"Cuih!!" seorang di antara empat orang tua meludah ke tanah. "Omong kosong,"