Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Memulai Pembicaraan


Waktu terus berlalu kembali. Matahari yang indah menawan itu, kini telah lenyap dibalik bukit-bukit hijau nun jauh di sana.


Malam hari pun telah datang menyapa bumi. Rembulan yang bulat sempurna telah memberikan sinarnya yang menenangkan. Sang Dewi Malam itu seolah-olah sedang tersenyum menyapa manusia di muka bumi.


Semilir angin pegunungan yang membawa rasa dingin menusuk tulang, masih berhembus dengan perlahan.


Suara kicau burung merdu yang tadi terdengar di dalam hutan, sekarang telah lenyap dan digantikan dengan gonggongan anjing ataupun serigala.


Zhang Fei dan orang tua asing itu masih duduk di tempat sebelumnya. Mereka juga masih menutup mulutnya masing-masing.


Sampai sejauh ini, anak muda itu tidak berani mengawali bicara. Ia sudah bertekad, sebelum si orang tua bicara, maka dia tidak akan bicara.


Entah kenapa, Zhang Fei merasakan bahwa orang tua di sisinya itu mempunyai wibawa yang sangat besar.


Dia sendiri bisa merasakannya dengan sangat jelas.


Tiba-tiba, si orang tua asing bangkit dari duduknya. Dia menyambar guci arak yang sudah kosong itu, lalu berjalan ke dalam gubuk. Begitu keluar lagi, dia sudah membawa guci arak yang baru.


"Arak ini sudah aku timbun di bawah tanah dengan waktu yang cukup lama. Arak ini bukan hanya berkhasiat untuk menghangatkan badan saja, melainkan berkhasiat pula untuk memulihkan tenaga yang sudah hilang," katanya sambil duduk di tempat semula.


Segel arak segara dibuka. Orang tua asing itu kemudian menuangkan arak ke dalam cawan.


Untuk yang kesekian kalinya, mereka kembali bersulang arak.


"Anak muda, sebenarnya siapa dirimu?"


Setelah sekian lama menutup mulut, akhirnya ia buka suara. Akhirnya dia mengajak Zhang Fei untuk bicara dengannya.


"Margaku Zhang, namaku Fei," ujarnya menjawab dengan sopan.


Si orang tua asing itu menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia tidak bertanya lebih jauh tentang marganya. Melainkan bertanya tentang hal lain.


"Kalau aku boleh tahu, kenapa kau bisa ada di tempat itu?" tanyanya lebih jauh.


Tempat yang dimaksud oleh dirinya, tentu saja adalah bekas markas Organisasi Bulan Tengkorak!


Zhang Fei sudah paham akan hal itu. Karenanya, dia langsung menjawab.


Pemuda itu menceritakan semua peristiwa yang terjadi di tempat tersebut. Mulai dari rencana penyerangan, bahkan sampai kepada peristiwa kenapa dia dan lima orang gurunya bisa terlibat dalam persoalan.


Tidak lupa juga, dia menceritakan tentang dirinya yang dikeroyok oleh rombongan pendekar tua saat pagi hari itu.


Sepanjang dirinya menjelaskan, si orang tua asing tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia tetap diam menutup mulut. Bahkan, ekspresi wajahnya juga terbilang datar.


Tidak ada sama sekali raut wajah terkejut ataupun sejenisnya. Seolah-olah dia memang sudah menduga atau bahkan mengetahuinya.


Setelah Zhang Fei selesai bercerita, terdengar ia menghela nafas berat.


Orang tua itu kembali menuangkan arak, lalu meminumnya dengan sekali teguk.


"Anak muda, apa yang dikatakan oleh gurumu itu memang benar. Organisasi Bulan Tengkorak adalah organisasi yang berbahaya. Karenanya, aku setuju dengan niat Partai Gunung Pedang yang ingin membasmi kelompok itu," katanya mulai menyampaikan pendapat.


"Hanya saja, sungguh sangat disayangkan. Setelah mendengar cerita yang kau sampaikan, aku jadi benar-benar kecewa terhadap partai itu. Kau tahu, bahwa Partai Gunung Pedang adalah salah satu partai besar di Kota Luoyang?"


Tentu saja Zhang Fei tahu akan hal tersebut!


Hanya saja, dia tidak menjawab. Anak muda itu sedang menunggu si orang tua melanjutkan bicaranya.


Dia berhenti sebentar, menatap wajah Zhang Fei cukup tajam. Setelah beberapa saat kemudian, dia kembali bicara lagi.


"Bukannya aku tidak percaya terhadap ceritamu, aku bahkan percaya sepenuhnya. Hanya saja, aku masih tidak percaya bahwa Pendekar Pedang Emas, ternyata adalah pecundang,"


Pada saat mengucapkan perkataan terakhir, seolah-olah ada rasa kecewa di dalam diri orang tua tersebut. Lebih dari itu, sorot matanya juga menggambarkan kebencian dan kekecewaan.


Suasana di sana hening kembali. Orang tua yang belum diketahui siapa dan bagaimana asal usulnya itu, terdiam lagi.


"Orang tua, apakah mungkin bahwa semua ini, adalah akibat dari kekacauan yang menimpa dunia persilatan kita?" tanya Zhang Fei.


Dia memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh. Karena ia sendiri sangat penasaran, kenapa petinggi dari sebuah partai besar, berani melakukan perbuatan itu?


"Bisa jadi," katanya membenarkan. "Walaupun kau masih hijau dan usiamu masih muda, tapi aku mengerti, sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia persilatan, kau pasti tahu apa yang saat ini sedang terjadi,"


Benar, Zhang Fei memang sudah tahu. Apalagi beberapa waktu lalu, gurunya pernah menceritakan keadaan dalam rimba hijau secara gamblang.


Ia menganggukkan kepala beberapa kali. Kemudian berkata lagi, "Tapi aku masih heran dengan kejadian kemarin,"


"Apa yang membuatmu heran?"


"Dalam penyerangan itu, yang hadir hanyalah Pendekar Pedang Emas dan beberapa petinggi saja. Itu pun menurutku, hanya petinggi palsu. Yang benar adalah mereka sebagian murid senior di Partai Gunung Pedang, sedangkan sebagian petinggi aslinya adalah tiga orang yang kemarin menyerangku habis-habisan,"


Si orang tua tampak terkejut dan langsung memandang Zhang Fei denga tatapan penasaran.


"Jadi, Ketua Partai Gunung Pedang itu tidak ikut dalam penyerangan?"


"Sama sekali tidak. Aku sendiri heran, padahal yang menyerukan penyerangan itu adalah dia. Tapi, pelaku utamanya justru tidak ikut terlibat, bukankah ini terlalu ganjil?"


Siapa pun orangnya, pasti dia akan merasakan hal yang sama seperti Zhang Fei.


"Maka dari itu, aku sangat yakin bahwa dibalik ini, pasti ada sesuatu yang terjadi di partai tersebut,"


"Apa maksudmu?" tanya si orang tua semakin heran.


"Entahlah. Tapi firasatku mengatakan bahwa Partai Gunung Pedang sedang tidak baik-baik saja,"


"Hemm, aku setuju atas apa yang telah kau katakan. Tapi untuk sekarang, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih lagi, kita tidak punya bukti yang kuat,"


Si orang tua berkata dengan ekspresi wajah serius. Diam-diam, dia pun merasa kagum juga kepada anak muda yang duduk bersamanya itu.


Usianya masih muda, tapi ia bisa menganalisa keadaan, bahkan hanya berawal dari hal-hal kecil.


Dari sini, dia sudah bisa menilai bahwa anak muda bernama Zhang Fei tersebut, adalah anak yang cerdas dan bisa diandalkan.


"Setelah ini, kau akan pergi ke mana?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Aku akan menuju ke Selatan. Aku akan menjalankan tugas terakhir dari guru,"


"Boleh aku tahu, siapa kelima gurumu itu?"


Sejak tadi, orang tua tersebut masih penasaran terkait siapakah guru dari Zhang Fei. Pasalnya, ketika bercerita, dia tidak pernah menjelaskan siapa gurunya.


Seperti yang diketahui, bertanya tentang guru atau asal perguruan, sebenarnya adalah hal yang kurang sopan.


Tapi karena orang tua itu penasaran, maka dia tidak mementingkan segala macam hal tersebut.