Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kemarahan si Golok Ampuh


Suasana kembali hening. Semua penghuni Kampung Hitam, dibuat terperangah dengan apa yang baru saja terjadi di sana.


Di antara semua orang yang terkejut, yang paling kaget adalah si Golok Ampuh Ho Nan sendiri. Walaupun dua tahun sudah berlalu, tapi ia masih ingat betul terkait peristiwa yang dulu menimpa anak muda itu.


Dulu, dia tidak seperti ini. Kemampuannya memang sudah lumayan, tapi kalau dibandingkan dengan yang sekarang, jelas hal itu sangat jauh sekali perbedaannya.


Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Bagaimana pula, di dunia ini ada seorang manusia yang bisa berubah menjadi sakti hanya dalam waktu singkat?


Jangankan orang lain, bahkan dia yang sudah matang akan pengalaman saja, setidaknya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh tahun, untuk menjadi seperti sekarang ini.


Tidak disangka, seorang pemuda asing, justru hanya membutuhkan waktu dua tahun saja untuk mempunyai kemampuan yang sangat tinggi.


Siapa gurunya? Siapa pula pemuda itu sebenarnya?


Lama sekali si Golok Ampuh Ho Nan berdiam sambil terus berpikir. Hingga pada akhirnya, ia disadarkan oleh suara teriakan anggotanya yang baru datang.


"Ketua ... Ketua," kata anggota itu dari kejauhan.


Ia terus berlari dengan cepat. Setelah tiba di hadapan pemimpinnya, orang itu terlihat sangat lelah. Nafasnya terengah-engah.


"Ada apa?" tanya si Golok Ampuh.


"Dia ... pemuda ini ... pemuda ini adalah orang yang sudah membunuh saudara kita yang terdapat di kota ini,"


Anggota tersebut berkata sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Walaupun di awal sedikit kesusahan, tapi toh pada akhirnya ia berhasil mengatakan semuanya.


"Saudara? Saudara yang mana?"


Golok Ampuh Ho Nan sendiri masih kebingungan. Saudaranya sangat banyak. Apalagi dalam dunia persilatan. Jadi, saudara mana yang dimaksudkan oleh anggota itu?


"Saudara kita ... cabang Partai Panji Hitam,"


"Apa? Kau ... kau serius?" ia kaget setengah mati setelah mendengar pernyataannya.


"Aku serius. Sekarang orang-orang sedang ramai membicarakan dirinya,"


"Keparat!"


Dia langsung marah. Sangat marah. Apalagi setelah mendengar semua penuturan tersebut.


Sementara itu, Zhang Fei sendiri merasa kaget ketika mendengar ucapan barusan. Dia tidak menyangka bahwa perbuatannya itu ternyata bisa menyebar ke dunia luar.


Bahkan katanya, sekarang orang-orang persilatan sedang membicarakan dirinya.


Benarkah ucapan orang itu? Apakah dia dapat dipercaya?


'Ah, sudahlah. Yang terjadi, terjadilah,' batin Zhang Fei berkata.


Dia tidak mau banyak pikiran. Apalagi hanya memikirkan soal begini.


"Anak muda, apakah yang dikatakan anggotaku itu benar?" tanya Golok Ampuh Ho Nan kembali.


"Sepertinya begitu," jawab Zhang Fei tidak mau basa-basi.


"Hemm, bagus. Kalau begitu kau memang harus mampus. Jangan harap kau bisa keluar dari sini!"


Orang itu segera memasang wajah sangar. Kemarahan tergambar jelas di mukanya. Selapis hawa pembunuh tiba-tiba keluar dari setiap inci tubuhnya.


"Bunuh pemuda keparat ini!"


Si Golok Ampuh Ho Nan memberikan perintah tegas. Begitu perintah diturunkan, puluhan penghuni Kampung Hitam serentak membuat persiapan.


Mereka mencabut senjata masing-masing, lalu menyiapkan posisi untuk menyerang.


Pada waktu yang bersamaan, Zhang Fei tampak tidak melakukan persiapan apapun juga. Ia masih berdiri dengan tenang. Seolah-olah dirinya sedang tidak berada dalam bahaya.


Tetapi begitu puluhan senjata hampir mengenai tubuhnya, mendadak ia melakukan sebuah gerakan.


Gerakan yang sangat cepat dan tanpa diduga.


Dalam waktu yang sangat singkat, Pedang Raja Dewa telah dicabut dari sarungnya.


Begitu tangannya bergerak, serentetan cahaya keperakan langsung menutupi angkasa. Langit yang gelap mendadak terang sesaat ketika pedang pusaka itu berkelebat.


Suara beradunya senjata terdengar nyaring. Tidak lama setelah itu, teriakan kesakitan dari pemilik senjata segera terdengar menyusul.


Puluhan orang mengeluarkan suara secara bersamaan. Ada yang berseru kaget. Ada pula yang mengeluh tertahan.


Beberapa saat kemudian, Zhang Fei sudah berhenti bergerak. Pihak musuh pun sudah berhenti mengeroyok.


Di tubuh mereka masing-masing, saat ini sudah tercipta luka akibat sayatan pedang. Tidak hanya itu saja, bahkan semua senjata yang mereka genggam, kini telah terbabat kutung oleh pedang pusaka miliknya.


Kejadian itu berlangsung singkat. Tapi akibat yang ditimbulkannya, tentu akan teringat sampai kapan pun juga.


Si Golok Ampuh yang menyaksikan semua peristiwa itu semakin terkejut. Tapi karena sekarang dia sudah benar-benar marah, maka dirinya tidak lagi banyak berpikir.


Golok besar yang selalu ia bawa, sudah dicabut keluar. Begitu golok yang tajam berada di tangan kanan, ia langsung menerjang ke depan memberikan serangan pertama.


Bacokan golok datang bagaikan kilat. Ia menyerang dengan beberapa gerakan sekaligus. Sayangnya semua serangan itu berhasil dihindari dengan mudah.


Sadar akan kemampuan lawan, dengan cepat pula dia langsung mengeluarkan jurus golok yang selama ini ia banggakan.


Ia menyerang lagi dengan Jurus Golok Penarik Sukma.


Bayangan beberapa warna terlintas di tengah angkasa. Bacokan dan tusukan golok datang dari setiap penjuru mata angin.


Bukan cuma itu saja, dia bahkan mengeluarkan pula jurus tendangan atau tangan kosong menggunakan anggota tubuh yang lainnya.


Zhang Fei tersenyum dingin. Meskipun dia tahu si Golok Ampuh Ho Nan mempunyai kemampuan tinggi, jauh melebihi anggotanya, tapi sedikit pun dia tidak merasa takut.


Dengan lincah tubuhnya bergerak. Pedangnya juga bergetar keras, ia menangkis semua serangan golok. Kadang kala memberikan pula serangan balasan.


Baik itu menggunakan pedang, maupun menggunakan tangan dan kakinya.


Kedua orang tokoh berilmu tinggi itu segera terlibat dalam pertarungan sengit. Semakin berjalannya waktu, tubuh mereka berubah menjadi samar-samar akibat tertutupi oleh sinar dari kedua senjata.


Puluhan anggota yang sudah mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya, kini menjadi saksi akan pertarungan tersebut.


Di antara orang-orang itu tidak ada yang berbicara. Mereka hanya memandang jalannya pertempuran dengan tatapan mata tajam. Tidak ada satu pun yang berani berkedip. Seolah mereka tidak mau kehilangan kesempatan langka ini.


Di medan laga, si Golok Ampuh Ho Nan tidak bisa berbuat banyak. Walaupun pengalamannya sudah luas, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu silatnya masih kalah jauh dari pemuda yang sekarang menjadi lawannya itu.


Beberapa kali nyawanya hampir melayang karena serangan balasan lawan. Untunglah ia memiliki ilmu meringankan tubuh yang lumayan tinggi. Sehingga selembar nyawa itu bisa diselamatkan.


Namun sebagai gantinya, beberapa bagian anggota tubuh telah dimakan ujung pedang dengan telak.


Darah segar mengucur deras, membasahi pakaiannya yang hitam kelam itu.


Wajah si Golok Ampuh sudah pucat pasi. Ia benar-benar terdesak melawan anak muda itu.


"Kenapa kalian diam saja? Ayo bantu aku," katanya berteriak kepada semua anak buahnya.


Mendengar seruan tersebut, secara serempak mereka kembali menyerang. Namun karena sekarang di tubuhnya sudah terdapat luka, maka tentu saja serangan orang-orang itu tidak lagi seganas tadi.


Hanya dengan mengirimkan pukulan jarak jauh, mereka telah terpental beberapa langkah ke belakang.