Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Ratu Pedang Kembar Kesunyian Il


Para tokoh dunia persilatan itu tertawa gembira. Suasana di ruang pertemuan, kembali diselimuti oleh kebahagiaan.


Zhang Fei dan Yao Mei tetap diam. Keduanya tidak berbicara sepatah kata pun.


"Nona Mei, ngomong-ngomong, siapa yang menyuruhmu pergi dari goa itu? Apakah Ratu Pedang Kembar Kesunyian, ataukah kau sendiri yang ingin pergi?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan setelah beberapa saat kemudian.


"Beliau yang menyuruhku pergi sendiri, Tuan Kai. Ia mengatakan bahwa keadaan Kekaisaran Song saat ini sedang dilanda oleh berbagai macam masalah. Situasinya sedang tidak baik-baik saja. Jadi, Ratu Pedang Kembar Kesunyian menyuruhku pergi dengan harapan aku bisa memberikan sedikit bantuan," jelas Yao Mei.


"Hemm ... begitu rupanya. Ternyata benar firasatku selama ini,"


"Firasat yang mana, Tuan Kai?" tanya Zhang Fei.


"Firasat bahwa tokoh-tokoh besar di masa lalu itu, sebenarnya belum mati. Dan selama ini, mereka selalu ada di belakang layar dan selalu memperhatikan tanah airnya sendiri. Terutama sekali adalah dunia persilatannya,"


"Kalau memang mereka masih hidup dan selalu mengawasi, lalu kenapa para tokoh itu tidak mau turun tangan dan membantu memulihkan keadaan?"


Orang Tua Aneh Tionggoan tersenyum ketika ditanya demikian. Namun sebelum dia menjawab, Dewa Arak Tanpa Bayangan malah telah bicara lebih dulu.


"Ketua Fei," katanya dengan suara lembut. "Asal kau tahu saja, sekarang sudah bukan waktu yang tepat bagi mereka untuk turun tangan. Usia mereka sudah tua, meskipun kemampuannya sangat tinggi, tapi tenaganya tidak seperti dulu. Lagi pula, sekarang adalah waktunya bagi generasi-generasi penerus untuk menjaga keamanan dunia persilatan dan tanah air,"


"Meskipun memang mereka tidak turun tangan secara langsung, tapi tanpa kau sadari, justru mereka telah memberikan banyak bantuan. Contohnya saja, Tuan Zhang Liong telah mencetakmu menjadi pendekar pilih tanding. Begitu juga dengan Ratu Pedang Kembar Kesunyian yang ikut mencetak Nona Mei. Lebih daripada itu, mungkin diluar sana juga masih banyak pendekar-pendekar muda lainnya yang sengaja dicetak oleh para tokoh seperti mereka,"


"Selain mereka, tokoh-tokoh angkatan tua seperti kami juga turut melakukan hal serupa. Kami pun telah memilih dirimu untuk menjadi orang yang dapat diandalkan dalam menjaga keamanan dunia persilatan,"


"Hal seperti ini akan terus berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya. Di masa yang akan datang, mungkin giliran kalian yang harus melakukan hal seperti ini,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan menjelaskan semuanya supaya Zhang Fei dan Yao Mei mengerti. Tujuannya agar mereka tidak salah paham.


Lagi pula, ia harus segera memberitahukan hal ini sebelum semuanya terlambat.


"Maka dari itu, sebagai orang-orang yang telah dipilih, kalian harus benar-benar serius dalam mempelajari ilmu silat. Selain demi diri kalian sendiri, hal tersebut juga demi kami yang sudah tua-tua ini. Kami mulai merasa lelah. Kami ingin beristirahat," katanya menyambung lagi.


Dua orang pendekar muda itu menganggukkan kepala beberapa kali. Sekarang, mereka telah mengerti dengan keadaan yang sesungguhnya.


Pembicaraan tersebut berlangsung sampai tengah malam. Setelah itu, mereka kemudian beristirahat ke kamarnya masing-masing.


###


Pagi harinya, tepat setelah semua orang selesai sarapan, seorang petugas tiba-tiba berjalan dengan cepat ke arah ruangan pribadi Zhang Fei.


Begitu diizinkan masuk, petugas tersebut segera membuka pintu dan memberikan laporannya.


"Ada apa? Mengapa pagi-pagi begini, kau sudah terlihat begitu cemas?" tanya Zhang Fei yang pada saat itu sedang menikmati secangkir teh hangat.


"Ketua ... di sana ... di sana ada seseorang yang datang dengan menunggangi kuda. Dilihat dari bentuk tubuh, kami rasa itu adalah Tuan Yao Shi," sahut petugas tersebut.


Mendengar nama Yao Shi, seketika ekspresi wajah Zhang Fei juga berubah hebat. Dia tidak menyangka bahwa tokoh sesat itu akan datang sepagi ini.


"Di mana dia?"


"Tadi masih berada diluar. Sekarang mungkin sudah tiba di pintu gerbang depan,"


"Baik. Biarkan dia masuk. Aku akan segera menyambut kedatangannya,"


"Baik, Ketua,"


Petugas tersebut memberi hormat. Ia kemudian segera keluar dari dalam ruangan.


Zhang Fei sendiri tidak tinggal diam. Setelah kepergiannya, dia juga segera berdiri dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Anak Fei, ada apa? Mengapa pagi-pagi begini, kau sudah terlihat serius seperti itu," sebuah suara tiba-tiba terdengar. Setelah dilihat, ternyata yang bertema adalah Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Oh, dia datang lagi," jawab orang tua itu dengan tenang. "Lalu, kenapa kau terlihat cemas?"


"Aku takut dia akan ..."


"Akan apa?" Dewa Arak Tanpa Bayangan memotong ucapannya. "Bukankah Nona Mei sudah ada di sini?"


"Eh ... benar juga," Zhang Fei baru ingat akan hal tersebut. Ia kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena merasa malu.


"Hahaha ... makanya, jangan terlalu memikirkan masalah dengan serius. Tenang saja, biarkan semua mengalir apa adanya,"


Zhang Fei menanggapi ucapan tersebut dengan senyuman canggung.


"Sudahlah, mari kita ke sana,"


Kedua orang tokoh itu langsung berjalan keluar. Kebetulan, yang lainnya juga sudah muncul dari kamar masing-masing. Pada akhirnya, mereka pun bersama-sama berjalan keluar untuk menyambut Datuk Dunia Persilatan aliran sesat tersebut.


Begitu tiba di depan pintu utama, ternyata pada saat itu, si Cakar Maut Yao Shi juga sudah berada di tengah-tengah halaman.


Ia berdiri di samping kuda miliknya sambil menatap tajam ke arah para tokoh tersebut.


"Apa kabar, Tuan Yao Shi?" tanya Zhang Fei setelah ia tiba di hadapannya.


"Kabarku sehat, anak muda. Bagaimana dengan kalian sendiri?" tanya balik datuk sesat itu sambil menoleh kepada para tokoh yang lainnya.


"Kabar kami juga baik,"


Yao Shi sedikit terkejut setelah menyadari bahwa di antara mereka, ternyata ada salah satu teman dekatnya. Yaitu Pendekar Pedang Perpisahan.


"Kau juga ada di sini?" tanyanya.


"Ya, aku ada di sini," jawab Pendekar Pedang Perpisahan sambil mengangguk.


"Sejak kapan?"


"Cukup lama,"


"Hemm ... sepertinya kau sudah berubah," katanya sambil tersenyum dingin.


"Aku tetap aku. Hanya suasananya saja yang berubah,"


Si Cakar Maut menanggapi jawaban itu dengan senyuman hambar. Setelah itu ia menoleh kembali ke arah Zhang Fei.


"Anak muda, aku harap kau tidak lupa dengan perjanjian kita," ia langsung berkata ke intim permasalahannya.


"Aku tidak lupa, Tuan. Tapi, aku rasa sekarang belum tiba waktunya,"


"Tiga bulan ternyata terlalu lama. Jadi, aku memutuskan untuk kemari saat ini,"


"Oh, baiklah,"


"Apakah kau sudah menemukan anakku?" tanyanya.


Kebetulan, pada saat itu Yao Mei memang belum hadir di sana. Tadi, Dewa Arak Tanpa Bayangan menyuruhnya untuk diam terlebih dulu dan keluar ketika waktunya tiba.


"Hemm ... maaf, Tuan," Zhang Fei langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi dipenuhi oleh kesedihan. "Aku ..."


"Hentikan ucapanmu itu!" si Cakar Maut memotong ucapan Zhang Fei.


Setelah membentak, ia langsung meluncur ke depan dan melancarkan serangannya!