Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Orang yang Dipilih Langit


Semua tokoh yang ada sama-sama terkejut. Untuk beberapa saat, orang-orang tersebut kesulitan bernafas. Alasannya adalah karena mereka tidak melakukan persiapan sebelumnya.


"Anak Fei, apa ... apa yang telah terjadi denganmu?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan sebagai orang yang pertama kali menyadari keadaan.


"Apa maksudmu, Tuan Kiang?" tanya Zhang Fei sambil tersenyum. Ia bersikap seolah-olah tidak mengerti.


"Mengapa ... mengapa tubuhmu bisa mengeluarkan hawa pedang?"


Orang tua itu sangat kebingungan. Bahkan bukan hanya dia saja, para Datuk Dunia Persilatan yang lain pun merasakan hal serupa.


Mereka sudah mempunyai banyak pengalaman, apalagi masing-masing sudah mengarungi dunia persilatan selama puluhan tahun.


Namun selama itu, rasanya mereka belum pernah bertemu dengan seseorang yang tubuhnya bisa mengeluarkan hawa pedang seperti Zhang Fei.


Lebih daripada itu, yang membuatnya terkejut adalah kenyataan bahwa hawa pedang itu sangatlah pekat. Seolah-olah hawa tersebut berasal langsung dari senjata pusaka.


Sementara Zhang Fei, ditanya demikian, dengan segera dia tersenyum gembira. Setelah beberapa saat berikutnya, dia baru menjawab.


Ketua Dunia Persilatan itu mulai menceritakan apa yang telah dialami dalam mimpinya kepada semua orang di sana.


Zhang Fei bercerita sejelas mungkin. Semuanya tidak ada yang berani memotong. Mereka kompak menjadi pendengar yang baik.


Dalam waktu yang bersamaan, ekspresi para tokoh tersebut terlihat berubah-ubah. Sekarang mereka terlihat terkejut, sesaat kemudian mereka tampak gembira.


Begitu Zhang Fei selesai bercerita, sontak saja mereka langsung berseru girang. Yang paling bahagia di antara orang-orang itu tentu saja adalah Yao Mei dan Yin Yin.


"Kau ... kau beruntung sekali Zhang Fei. Selamat, aku benar-benar merasa bahagia," seru Yin Yin sambil melemparkan tawa khasnya.


"Aku juga ikut bahagia," sambung Yao Mei mengangguk.


Zhang Fei menanggapi kedua gadis itu dengan senyuman hangat.


Tidak lama setelahnya, kini giliran para Datuk Dunia Persilatan yang memberi pujian.


"Selamat, Ketua Fei. Dengan begitu, aku yakin kau bisa memenangkan pertarungan penentuan nanti," ucap Pendekar Pedang Perpisahan.


"Ya, aku juga yakin bahwa pihak kita akan menang," Pendekar Tombak Angin juga ikut bicara.


Masing-masing dari tokoh besar itu memberi pujian yang hampir sama. Sedangkan Zhang Fei segera kebingungan.


Dia bingung harus menjawab apa dan bagaimana.


"Terimakasih semuanya," kata Zhang Fei setelah dia berpikir beberapa saat. "Ini semua berkat kalian. Apa yang aku capai sekarang, semua itu tidak lepas dari uluran tangan kalian,"


"Ah, tidak juga, anak Fei," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan seolah-olah kurang setuju. "Yang jelas, sepertinya kau memang dipilih oleh langit untuk membawa perdamaian bagi Daratan Tengah (Tionggoan). Buktinya saja, hal yang bagi orang mustahil, justru bisa kau alami. Bahkan bukan cuma sekali, melainkan berkali-kali,"


Memang, kalau diingat kembali, apa yang dikatakan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan itu tidak salah. Entah sudah berapa kali Zhang Fei mengalami hal-hal diluar nalar manusia.


Bahkan untuk hal tersebut, Zhang Fei sendiri menyadarinya. Namun kembali lagi, dia bukan tipe orang yang suka dipuji.


Jadi terhadap semua pujian tersebut, Zhang Fei memilih untuk tidak terlalu menanggapinya.


"Sudahlah, Tuan Kiang. Daripada membahas hal yang tidak terlalu penting, lebih baik kita bicarakan saja rencana pertarungan penentuan nanti. Bukankah waktunya tinggal sebentar lagi?"


Orang tua itu kembali mengangguk. Sebagai orang yang sudah sering bersama, tentu dia tahu betul bagaimana sifat dan karakter Zhang Fei.


Beberapa saat berikutnya, mereka mulai berbicara ke hal-hal serius yang berhubungan langsung dengan pertarungan penentuan.


"Kalau menurut perhitungan, kita hanya mempunyai waktu sekitar lima hari lagi. Satu minggu yang berikutnya digunakan untuk perjalanan, dan dua hari sisanya digunakan untuk beristirahat," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan kepada semuanya.


"Benar," ucap Dewi Rambut Putih menyetujui. "Jadi singkatnya, persiapan yang akan kita lakukan ini mau tak mau harus selesai dalam waktu lima hari,"


Zhang Fei mengangguk beberapa kali. Dia juga setuju dengan ucapan Dewi Rambut Putih.


"Untuk menjaga segala sesuatu yang tak diinginkan terjadi, ada baiknya kita semua harus berangkat ke sana," kata Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Tapi, Tuan Kiang, bagaiamana dengan Gedung Ketua Dunia Persilatan ini?" tanya Yao Mei.


"Kau tenang saja, Nona Mei. Kita bisa mempercayakan gedung ini kepada yang lain. Walaupun kita semua ikut ke Kotaraja, tapi aku jamin keadaan di sini tetap aman terkendali. Sebab semua orang yang ada sudah disumpah untuk setia sehidup semati,"


Yao Mei terlihat mengangguk. Setelah mendengar ucapannya, dia menjadi tidak ragu lagi.


"Tuan Kiang, apakah yang berangkat hanya kita? Bagaiamana dengan yang lainnya?" tanya Zhang Fei lebih lanjut.


"Ya, mending kita saja. Biarkan yang lain menjaga di sini," orang tua itu menegaskan keputusannya.


"Hemm ... baiklah, aku ikut apa katamu saja,"


Persiapan awal sudah selesai. Sekarang mereka segera berlanjut untuk membicarakan persiapan yang selanjutnya.


Pembicaraan para tokoh tersebut selesai ketika hari sudah masuk tengah malam. Setelah itu, masing-masing segera pergi kembali ke kamarnya.


Setelah pembahasan tersebut, Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung berlatih lebih keras lagi. Mulai dari pagi sampai matahari tenggelam, selama lima hari berturut-turut, mereka terus melakukan latih tanding.


Latih tanding itu tidak lagi main-main. Bagi orang yang tidak tahu, mungkin akan menyangka bahwa keduanya sedang bertarung serius.


Sebab setiap kali mereka bertarung, masing-masing selalu mengeluarkan segenap tenaga dan kemampuannya sampai hampir maksimal. Sehingga jurus-jurus yang dihasilkan pun tidak perlu diragukan lagi.


Untunglah baik Zhang Fei maupun Dewa Arak Tanpa Bayangan, masing-masing sudah bisa membaca dan mengenal setiap gerakannya secara sempurna. Sehingga hal-hal yang tak diinginkan pun tidak pernah terjadi.


Seperti saat ini contohnya, sejak matahari masih berada di atas kepala, sampai sekarang saat matahari hampir tenggelam, dua tokoh dunia persilatan itu masih berlatih tanding.


Entah berapa ratus jurus yang telah mereka lewati. Arena pertarungan pun dipenuhi oleh debu kuning yang mengepul ke tengah udara.


Blarr!!!


Tepat ketika matahari tenggelam dibalik bukit, sebuah ledakan keras tiba-tiba terdengar. Dua tokoh yang terlibat langsung terdorong mundur ke belakang.


Beberapa saat berikutnya, masing-masing segera berjalan menghampiri.


"Anak Fei, jurus-jurus tangan kosongmu sudah meningkat tajam. Aku rasa, kau akan mampu menghadapi mereka dengan mudah," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan memuji Zhang Fei.


"Tuan Kiang terlalu memujiku. Padahal kemampuanmu sendiri juga meningkat pesat. Kalau tidak hati-hati, mungkin sudah sejak tadi aku terluka oleh seranganmu," balas Zhang Fei sambil tertawa.


"Ah, kau bisa saja, anak Fei," orang tua itu merangkulnya. Mereka lalu segera pergi dari saja. "Anak Fei, aku sarankan supaya kau jangan terburu-buru mengeluarkan kemampuan aslimu. Aku khawatir hal itu akan menguras banyak tenaga, sehingga pada saat puncak pertandingan, kau malah akan merasa lemas," katanya memberi peringatan.


"Baik, Tuan Kiang, terimakasih. Aku pasti akan mendengar ucapanmu,"