
Siang hari sudah tiba. Zhang Fei baru saja keluar dari sebuah rumah makan yang terdapat di sana. Sekarang perutnya sudah kenyang.
Ia berjalan di tengah jalan raya sambil membawa satu guci arak. Sembari melihat-lihat keadaan sekitar, sesekali Zhang Fei akan menenggak guci arak tersebut.
Tujuannya saat ini, tentu saja adalah pergi ke markas Organisasi Pedang Cahaya. Meskipun dia belum tahu organisasi itu berasal dari aliran putih ataupun aliran hitam, walaupun belum tahu siapakah pemimpinnya, namun Zhang Fei tetap akan pergi ke sana.
Apapun yang akan terjadi, dia pasti akan pergi.
Kalau Zhang Fei sudah berjanji, maka dia tidak akan pernah mengingkari.
Walau apapun yang terjadi terhadapnya, dia pasti akan berusaha menepati janjinya tersebut. Janji apapun itu!
Suasana di jalan raya pada saat itu sangat ramai. Para wisatawan yang berdatangan dari berbagai daerah, seiring berjalannya waktu selalu bertambah banyak lagi.
Zhang Fei tahu, di antara para wisatawan tersebut, terdapat pula orang-orang dari dunia persilatan. Dia pun tahu kalau setiap saat selalu ada saja orang yang memandangnya dengan berbagai macam arti tatapan.
Hanya saja, Zhang Fei tidak terlalu menghiraukan itu semua. Kalau dia tidak diganggu, maka dirinya juga tidak akan mengganggu.
Kecuali terhadap orang-orang yang memang harus mendapatkan gangguan darinya!
Tanpa terasa, perjalanannya itu sudah tiba di tempat tujuan. Sekarang dia telah berada di tengah-tengah kuil yang saling berdampingan satu sama lain.
Keadaan di sana pada waktu itu sangat ramai. Apalagi tersedia begitu banyak orang yang datang berkunjung ke dua kuil tersebut.
Mereka yang berkunjung datang dengan berbagai macam tujuan. Ada yang sengaja ingin melakukan ibadah di sana, ada pula yang datang hanya sekedar menikmati keindahan dan kemegahannya.
Zhang Fei berdiri di pinggir jalan. Sepasang matanya menatap ke arah dua kuil tersebut secara bergantian. Sesekali, dia pun mencari-cari markas yang dimaksud oleh orang bernama Zhi Yun Yadi.
Hanya saja dia tidak berhasil menemukannya.
Di tengah-tengah kuil tersebut tidak ada bangunan megah. Kecuali hanya rumah makan sederhana yang dindingnya sudah dipenuhi oleh asap hitam dan bekas-bekas cat yang mulai mengelupas.
Kalau begitu, di mana markas Organisasi Pedang Cahaya itu? Bukankah Zhu Yun menyebutkan bahwa markas organisasinya terletak di antara dua buah kuil yang berdampingan? Mengapa sekarang, ia tidak bisa melihatnya?
"Dua kuil itu dikenal dengan nama Kuil Kembar. Kuil Kembar sendiri adalah salah satu ikon dari Kota Shangguan ini. Banyak orang yang datang dari tempat-tempat jauh hanya untuk berkunjung kemari. Mereka yang datang juga berasal dari berbagai macam kalangan. Bukan hanya dari kalangan orang-orang awam saja. Bahkan dari kalangan pendekar aliran sesat pun, juga tidak sedikit yang memasukinya,"
"Kuil Kembar itu dihuni oleh masing-masing belasan orang biksu yang sudah berusia tua. Setiap biksu yang menjadi pengurusnya sendiri merupakan murid-murid yang sudah lulus dari Kuil Seribu Dewa. Maka dari itu, walaupun ada banyak pendekar sesat yang datang berkunjung, namun keadaan di sana tetap aman. Sebab hanya orang-orang bodoh atau bosan hidup saja yang berani mencari masalah di Kuil Kembar,"
Sebuah suara yang sudah pernah didengarnya, secara tiba-tiba terdengar kembali di sisi telinganya.
Zhang Fei langsung menoleh ke asal suara. Ternyata, saat ini tepat di sisi sebelah kanannya, ada Zhu Yun yang juga sedang berdiri sambil memandangi dua kuil yang disebut dengan Kuil Kembar itu.
"Rupanya kau," kata Zhang Fei pura-pura terkejut atas kehadirannya.
"Benar, Tuan Muda. Ini aku, Zhu Yun," jawabnya sambil tersenyum hangat.
"Mengapa kau ada di sini?"
"Karena Tuan Muda juga ada di sini,"
"Hemm ... di mana markas Organisasi Pedang Cahaya yang kau maksudkan tadi pagi?" tanpa banyak basa-basi, Zhang Fei langsung bertanya ke intinya saja.
"Itu hanya sebuah rumah makan sederhana saja. Kau jangan bergurau,"
"Aku tidak bergurau. Silahkan Tuan Muda ikut aku,"
Zhu Yun memberi hormat kepadanya. Dia kemudian berjalan lebih dulu. Zhang Fei pun segera mengikuti di belakangnya.
Dua orang itu lalu berjalan di antara kerumunan manusia yang terdapat di sana. Zhu Yun kemudian masuk ke dalam rumah makan sederhana. Begitu juga dengan Zhang Fei.
Keadaan di rumah makan pada saat itu cukup ramai. Di sana ada beberapa pelanggan yang sedang menyantap menu makan siang.
Zhu Yun berjalan begitu saja mulai dari depan sampai dapur bagian belakang. Pemilik rumah makan dan satu orang pekerjanya tampak memberikan hormat ketika melihat mereka berdua.
"Ternyata ini adalah jalan rahasia," ujar Zhang Fei setelah berhasil keluar lewat pintu belakang.
"Benar, Tuan Muda. Pemilik serta pekerja rumah makan itu masih termasuk orang-orang kami. Karena itulah mereka memberi hormat ketika melihat kedatangan kita,"
Zhang Fei cukup terkejut dibuatnya. Ia baru tahu akan hal ini.
"Jadi, kalian sengaja membuat jalan rahasia ini?"
"Benar, Tuan Muda," sahut Zhu Yun tanpa menampik. "Tujuannya adalah untuk menjaga kerahasiaan organisasi kami,"
Zhang Fei menganggukkan kepala beberapa kali. Dia tidak perlu lagi bertanya di mana letak markasnya. Sebab pada saat ini, dia sudah bisa melihat bahwa di hadapannya ada sebuah bangunan yang cukup megah.
Zhu Yun terus berjalan ke sana. Di pintu depan ada dua orang penjaga. Mereka juga turut memberikan hormat ketika melihat kedatangan dua orang tersebut.
Zhang Fei dibawa masuk ke dalam bangunan itu. Tidak lama kemudian, mereka sudah memasuki sebuah ruangan yang cukup besar.
Di dalam ruangan besar itu, ternyata sudah ada dua belas orang yang menunggu kedatangannya. Mereka semua memberikan hormat saat melihat Zhang Fei.
"Kami siap menjalankan perintah dari Tuan Muda," kata mereka secara serempak.
Zhang Fei kembali dibuat terkejut. Dia tidak tahu-menahu tentang apa yang terjadi di hadapannya sekarang.
Sampai saat ini, ia masih bingung dan belum mengerti sama sekali.
Siapa mereka sebenarnya? Mengapa orang-orang itu sangat memandang tinggi dirinya?
Zhang Fei menatap mereka secara bergantian. Rupanya usia orang-orang itu hampir setara. Yang berbeda hanya satu orang saja. Usia orang itu sendiri setidaknya sudah mencapai enam puluhan. Tanpa diberitahu pun, Zhang Fei sudah paham bahwa dialah yang paling tua.
"Apakah kau Ketuanya?" tanya Zhang Fei kepada lr5os paling tua itu.
"Aku hanya orang yang paling tua. Tetapi aku bukan menjabat sebagai Ketua," jawab pria tua itu dengan nada penuh hormat.
"Hemm ... kalau begitu, lalu siapa Ketua Organisasi Pedang Cahaya ini?"
"Tuan Muda lah orangnya,"
"Eh? Apa maksudmu? Kita baru saja bertemu. Bahkan di antara kita belum saling kenal. Lalu, kenapa aku bisa menjadi Ketua Organisasi Pedang Cahaya ini? Tolong jelaskan semuanya sekarang juga," Zhang Fei berkata dengan nada tegas. Ekspresi juga tampak begitu serius.