
Ketika usahanya membuahkan hasil, Zhang Fei langsung mengembuskan nafas lega. Sungguh, dia merasa seolah-olah seperti baru saja keluar dari lubang kematian.
Meskipun ukuran Rawa Iblis tidak terlalu luas, tapi memang rawa itu mampu mendatangkan kengerian tersendiri. Zhang Fei sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Yang jelas, dia merasakan hal seperti itu.
Sekarang dia masih berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh, ia sedikit mengurangi kecepatannya karena mulai merasa lelah.
Tetapi belum lagi jaraknya benar-benar jauh dari Rawa Iblis, tiba-tiba Zhang Fei menghentikan langkah. Alasannya karena kini di depan sana, sudah ada seseorang yang sedang berdiri menunggunya!
Orang itu berdiri membelakangi. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Di punggungnya juga ada sebatang pedang dengan warna sama.
Dari jarak sepuluh tombak, Zhang Fei sudah bisa merasakan pekatnya hawa pembunuh yang keluar dari tubuh orang tersebut.
Siapa dia? Mengapa menghadang langkahnya? Apakah sosok itu adalah kaki tangannya Jenderal Gu?
Berbagai macam pertanyaan tiba-tiba muncul. Namun dari semua itu, tidak ada satu pun pertanyaan yang berhasil terjawab.
Ia memandangi punggung orang itu untuk beberapa saat. Sekitar tiga helaan nafas kemudian, Zhang Fei mulai berjalan lagi.
"Maaf, siapa Tuan ini?" tanya Zhang Fei setelah jaraknya semakin dekat.
Cukup lama dia menunggu jawaban. Sayangnya sampai beberapa menit kemudian, orang itu tidak memberikan jawaban apapun. Dia tetap berdiri tegak tanpa berkata!
"Permisi Tuan, aku ingin menumpang lewat," lanjutnya berkata lagi.
Zhang Fei kembali melangkah. Tapi baru saja berjalan tiga langkah, tiba-tiba hawa pembunuh yang dikeluarkan oleh orang tersebut malah terasa lebih pekat lagi. Saking pekatnya, sampai-sampai membuat ia tidak bisa bernafas dengan leluasa.
"Tuan, mengapa tuan menghalangi jalanku? Apakah Tuan ada keperluan lain?" Zhang Fei bertanya lagi. Nada suaranya masih sopan. Bagaimanapun juga, dia belum mengetahui siapa sosok di depannya.
Lebih daripada itu, ia juga beranggapan bahwa orang tersebut pasti bukan manusia sembarangan.
Kalau bukan pendekar pilih tanding, pastilah dia itu adalah pendekar tanpa tanding, atau sosok yang berpengaruh dalam dunia persilatan.
Ya, dia sangat yakin akan hal tersebut. Karena hanya orang-orang seperti itu saja yang mampu mengeluarkan hawa pembunuh sepekat ini.
"Apakah margamu Zhang dan namamu Fei?" setelah sekian lama membungkam mulut, akhirnya orang itu mulai berbicara.
Suaranya datar dan dingin. Dari setiap patah kata yang ia ucapkan, seolah-olah keluar satu kekuatan ghaib yang tidak bisa ditolak.
Sementara itu, ditanya demikian, seketika Zhang Fei pun langsung menjawab.
"Benar, Tuan," katanya sambil mengangguk.
"Kau berhasil menyelamatkan gadis itu?" tanya orang tersebut lebih jauh lagi.
"Ya, aku berhasil membawanya pergi. Bahkan sekarang ada dalam pangkuanku,"
Walaupun sosok itu tidak menyebutkan nama gadis yang dimaksud, tapi Zhang Fei sudah tahu arah pembicaraannya.
Kalau bukan Yin Yin gadis yang dia maksud itu, memangnya siapa lagi?
"Bagus. Kerja yang bagus. Kau memang tidak pernah mengecewakan,"
"Terimakasih. Sekarang, apakah aku boleh melanjutkan perjalanan, Tuan?"
"Tidak boleh!" jawab orang itu dengan tegas.
"Tidak boleh? Kenapa tidak boleh?" Zhang Fei merasa penasaran. Dia pun mulai kesal, tapi dirinya mencoba untuk tetap bersikap sopan.
"Kau baru boleh melanjutkan perjalanan setelah berhasil mengalahkanku,"
Sembari bicara seperti itu, orang tersebut juga memutarkan tubuhnya. Sekarang dia menghadap ke arah Zhang Fei.
Dia malah sedang menatapnya dengan tatapan misterius.
Zhang Fei tersentak kaget. Seketika bulu kuduknya berdiri ketika secara tidak langsung sepasang matanya bertemu dengan mata lawan.
Tapi justru dibalik kekosongan itulah terselip sebuah kekuatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Sesaat lamanya Zhang Fei tidak bicara. Ia malah menundukkan kepalanya sedikit sambil memejamkan mata beberapa helaan nafas.
"Siapa Tuan ini sebenarnya?" tanyanya lagi setelah dia berhasil menguasai diri.
"Namaku ... Wen Wu," jawab orang tersebut sepatah demi sepatah.
"Apa?" ia terkejut. Tanpa sadar Zhang Fei mengeluarkan seruan tertahan ketika mendengar nama itu.
Wen Wu?
Dia merasa tidak asing dengan nama itu. Bahkan Zhang Fei merasa pernah mendengar namanya sebelum ini.
Tapi, di mana?
Ketika dia sedang berpikir, tiba-tiba saja Yin Yin yang berada dalam pangkuannya bicara dengan suara perlahan.
"Dia ... dia adalah orang yang telah bertarung denganku dan Yu Yuan,"
"Ah ... jadi, dia orangnya?"
"Benar. Memang dia,"
Ia kemudian kembali menatap ke arah sosok di depannya. Walaupun sepasang bola mata itu masih memberikan sensasi yang sama seperti sebelumnya, tapi kali ini Zhang Fei terus menatap dan berusaha mengusir perasaan jeri di benaknya.
Sebelum dia mengambil tindakan selanjutnya, lebih dulu Zhang Fei berjalan ke sebuah pohon rindang. Dia menurunkan Yin Yin dan menyuruhnya untuk menunggu di situ.
"Nona Yin, kau tunggu sebentar. Aku akan menghadapi dulu orang ini," kata Zhang Fei berusaha menahan amarah.
"Tapi ... dia bukan pendekar biasa," ujar Yin Yin merasa khawatir.
"Aku tahu. Tapi aku yakin mampu menghadapinya,"
Tanpa menunggu jawaban dari gadis itu lagi, dengan segera Zhang Fei kembali ke tempat sebelumnya.
Suasana di sana masih hening. Kedua tokoh dunia persilatan yang sudah berhadapan itu, satu sama lain masih menutup mulutnya.
"Jadi, kau adalah Pendekar Pedang Perpisahan Wen Wu?" tanya Zhang Fei memastikan lagi.
"Benar. Dari mana kau tahu? Apakah gadis itu telah memberitahumu?" tanyanya sambil melirik sekilas ke arah Yin Yin.
"Tidak," jawab Zhang Fei sambil menggelengkan kepala. "Sebelumnya aku memang sudah tahu kepadamu,"
"Oh?" Pendekar Pedang Perpisahan mengangkat kedua alis. Tapi mulutnya tidak berbicara apa-apa.
"Kau ini adalah salah satu Datuk Dunia Persilatan aliran hitam. Sosok yang sangat ditakuti lawan disegani kawan. Kemampuanmu sudah sangat tinggi. Semua orang merasa jeri kepadamu. Dan lagi, kedudukanmu dalam rimba hijau juga tidak rendah,"
Zhang Fei berkata dengan lantang. Seakan-akan dia sengaja melakukan hal itu supaya semua penghuni hutan mendengar ucapannya.
Di satu sisi lain, Pendekar Pedang Perpisahan justru tidak memberikan respon. Dia masih tetap membungkam dan hanya menatap Zhang Fei dengan tajam.
"Tapi sayang sekali ..." ia kembali melanjutkan ucapannya. "Sosok seperti dirimu, justru sampai hati bertarung dengan dua orang gadis muda yang bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kemampuanmu. Aku jadi penasaran, bagaimana kalau dunia persilatan mengetahui tentang hal ini? Bukankah nanti, kau akan menjadi bahan tertawaan semua orang?"
Zhang Fei mengakhiri ucapannya sambil tersenyum sinis. Senyuman yang merendahkan!
Tapi ternyata, Pendekar Pedang Perpisahan justru seperti tidak perduli dengan ucapan tersebut. Wajahnya tidak berubah. Tatapan matanya juga masih sama.
"Kau tahu? Sebenarnya aku melakukan hal itu karena terpaksa," katanya menghela nafas berat.
"Omong kosong!"