
Zhang Fei kemudian memundurkan diri dan kembali ke tempat semula. Dia tidak tahu harus bicara bagaiamana lagi. Zhang Fei bukan orang yang pandai berpidato.
Apalagi hal semacam ini baru terjadi pertama kali dalam hidupnya. Jadi wajar kalau dia merasa bingung sendiri.
Hatinya sudah bertekad, bahwa Zhang Fei tidak mau banyak bicara. Dia hanya mau banyak membuktikan bahwa dirinya memang layak menduduki posisi Ketua Dunia Persilatan.
Meskipun dia belum tahu seberat apa tugasnya nanti, tetapi Zhang Fei sangat percaya mampu melakukannya.
Sorak-sorai di kerumunan orang-orang kembali terdengar. Mereka sepertinya mendukung penuh.
Meskipun sebelumnya orang-orang itu belum percaya, namun setelah apa yang belum lama dia lakukan, setidaknya hal itu sudah cukup untuk membuat mereka percaya terhadap dirinya.
Kepercayaan itu harganya sangat mahal. Bahkan lebih mahal dari apapun juga. Karena itulah, Zhang Fei tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan oleh banyak orang kepada dirinya.
Kepercayaan pun sangat mirip dengan kaca. Sekali dihancurkan, maka tidak akan mungkin bisa kembali utuh seperti sedia kala.
Sayangnya meskipun semua orang sudah tahu akan hal ini, tetapi tidak sedikit dari mereka yang justru melakukannya.
Acara pelantikan tersebut akhirnya selesai ketika matahari sudah berada di sisi sebelah barat. Orang-orang yang hadir mulai kembali ke tempat masing-masing. Beberapa tamu undangan Istana Kekaisaran disuruh singgah dan makan bersama.
Halaman depan yang tadinya ramai dan dipadati oleh orang-orang, sekarang sudah lenggang kembali.
Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan sudah kembali ke kamar masing-masing. Mereka ingin beristirahat, apalagi khusus untuk Zhang Fei, seharian ini dia telah mengeluarkan tenaga yang tidak sedikit.
Sedangkan Kaisar sendiri, sekarang dia sedang berada di meja makan untuk menjamu para tamu undangannya.
Acara tersebut selesai setelah rembulan sudah berada cukup tinggi di atas kepala. Ketika tengah malam tiba, Kaisar Song Kwi Bun meminta seorang pengawalnya untuk memanggil Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan.
Mereka telah mengadakan perjanjian sebelumnya untuk melakukan obrolan penting. Khususnya menyangkut Zhang Fei.
"Ketua Fei," pintu kamar Zhang Fei tiba-tiba diketuk dari luar. Bersamaan dengan itu, ada pula seseorang yang memanggil namanya.
"Siapa?" tanya anak muda tersebut setelah menyelesaikan meditasinya.
"Ini aku. Aku disuruh oleh Kaisar untuk memanggilmu. Sekarang beliau sudah menunggu di ruang pertemuan,"
"Oh, baiklah. Sekarang juga aku akan ke sana,"
"Baik, kalau begitu aku pamit, Ketua,"
Pengawal tersebut memberikan hormat di depan pintu kamar. Setelah itu dia langsung pergi dari sana.
Beberapa waktu kemudian, Zhang Fei segera pergi ke ruang pertemuan yang dimaksud. Begitu tiba, rupanya Empat Datuk Dunia Persilatan yang telah datang lebih dulu.
Melihat Zhang Fei memasuki ruangan, secara bersamaan, Kaisar dan Empat Datuk Dunia Persilatan langsung bangkit dari posisi duduknya.
Mereka segera membungkukkan badan dan memberikan hormat kepada Zhang Fei.
"Semoga Ketua panjang umur," katanya serempak.
Zhang Fei langsung berdiri melongo. Dia benar-benar gugup karena baru pertama kali diperlakukan se-istimewa ini.
"Terimakasih ... terimakasih," katanya menjawab dengan susah payah.
"Silahkan duduk, Ketua," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menyiapkan tempat duduk.
Sebelum ada orang yang berbicara, ia malah sudah lebih dulu berkata.
"Sebelumnya maaf, aku minta supaya Kaisar dan kalian empat orang tua, tidak memanggilku dengan sebutan Ketua seperti itu. Sungguh, aku merasa bingung harus bersikap bagaimana," katanya sambil tersenyum getir.
Di antara mereka, yang paling membuat canggung adalah Empat Datuk Dunia Persilatan. Hubungan Zhang Fei dan mereka sudah sangat dekat. Seperti halnya guru dan murid. Atau orang tua dan anak.
Jadi kalau ada sebutan Ketua seperti tadi, ia benar-benar rikuh.
"Hahaha ..." suara tawa keras tiba-tiba terdengar menggema di ruang pertemuan tersebut. Orang yang tertawa itu adalah Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Hei, sekarang kau adalah Ketua Dunia Persilatan. Bagaimana mungkin kami tidak boleh memanggimu dengan sebutan Ketua?" tanyanya sambil menepuk pundak.
"Iya, aku tahu, Tuan Kiang. Tapi ..."
"Tapi apa, Ketua?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan sambil memberikan senyuman menggoda.
Zhang Fei melirik ke arahnya dengan gemas. Ia kemudian mencibir.
"Cihh!"
"Sudahlah, Ketua. Menurutku justru sangat cocok kalau dirimu dipanggil Ketua Fei," sambung Dewi Rambut Putih.
"Benar, sebutan itu sangat cocok sekali," kata Pendekar Tombak Angin juga tidak mau ketinggalan.
Zhang Fei semakin rikuh. Akan tetapi ia mencoba untuk tetap menguasai dirinya. Setelah perasaannya tenang, ia kembali bicara.
"Aku, tahu. Aku juga mengerti. Tetapi maksudku, jangan pakai sebutan itu kalau kita sedang bersama. Di sini kan tidak ada orang luar, jadi aku mohon supaya kalian tetap memanggilku seperti biasanya,"
"Bagaimana kalau kita sedang berada di dunia luar?"
"Ya, apa boleh buat. Mau tidak mau, terpaksa aku harus menerima sebutan itu dari kalian,"
Alasan mengapa Zhang Fei ingin dipanggil seperti itu adalah supaya di antara mereka tidak ada jarak. Menurutnya, panggilan anak Fei terdengar lebih pantas daripada Ketua Fei.
"Hahaha ... baiklah, baiklah. Kami akan menuruti keinginanmu, anak Fei," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan akhirnya mengalah.
"Itu baru benar," seru Zhang Fei dengan cepat.
Mereka yang ada di sana kemudian tertawa bersama. Orang-orang itu merasa gembira dengan kejadian singkat barusan.
Lewat beberapa waktu, suasana kembali dicekam oleh keheningan. Para tokoh yang hadir saat ini sudah memasang wajah serius.
"Anak Fei," kata Kaisar mengganti sebutannya, seperti yang diinginkan oleh Zhang Fei. "Sekarang kau sudah resmi menjadi Ketua Dunia Persilatan. Itu artinya, semua urusan yang menyangkut rimba hijau, ada di atas pundakmu. Saat ini beban yang kau tanggung lebih besar dari sebelumnya, kau harus banyak-banyak belajar jika ada waktu senggang,"
Kaisar tahu, kemampuan Zhang Fei sudah sangat tinggi. Tetapi di satu sisi, dia pun tahu bahwa anak muda seperti Zhang Fei, bagaimanapun juga masih harus tetap mendapat bimbingan dari orang yang usianya lebih tua.
"Baik, Kaisar. Aku pasti akan menuruti perkataanmu," ucap Zhang Fei sambil mengangguk. "Kalau aku boleh tahu, apa saja yang boleh dilakukan oleh seorang Ketua Dunia Persilatan?" tanyanya lebih jauh.
Meskipun dia sudah tahu sejak lama, tapi Zhang Fei masih belum paham betul apa saja yang boleh dilakukan oleh Ketua Dunia Persilatan. Dia yakin, semuanya tidak sesederhana seperti yang terlihat.
Karena itulah, daripada merasa pusing sendiri, Zhang Fei lebih memilih untuk menanyakannya secara langsung.
Mendengar pertanyaan tersebut, Kaisar langsung tersenyum. Kemudian dia menjawab, "Seperti yang kau ketahui, Ketua Dunia Persilatan itu adalah orang nomor dua di negeri tersebut setelah Kaisar. Bedanya, kalau Kaisar mengurus tata negara, sedangkan Ketua Dunia Persilatan hanya mengurusi rimba hijau saja,"