
"Menurutmu, siapa orang-orang itu, anak Fei?" tanya Dewi Rambut Putih sambil memandang Zhang Fei dengan tatapan serius.
"Entahlah," jawabnya sembari mengangkat kedua pundak. "Tapi firasatku mengatakan bahwa mereka itu adalah orang-orang dari dua Kekaisaran,"
"Dua Kekaisaran?" semua orang yang ada di sana langsung terkejut setelah mendengar jawaban Zhang Fei.
"Apakah Kekaisaran Zhou dan Kekaisaran Jin?" tanya Yao Mei memastikan.
"Siapa lagi kalau bukan mereka?"
"Tapi ... bukankah dua Kaisar itu sudah menyatakan menyerah?" Yin Yin tidak tinggal diam. Dia pun ikut angkat bicara.
"Menurutku, hal itu hanya akal-akalan saja. Yang benar adalah mereka ingin menjalankan rencana lainnya. Rencana yang jauh lebih keji dari sebelumnya," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Hemm ... benar juga. Sepertinya ucapanmu cukup masuk akal. Apalagi, kita sudah tahu bagaimana sifat dua orang Kaisar itu," kata Orang Tua Aneh Tionggoan.
Para tokoh dunia persilatan itu langsung terdiam. Walaupun di antara mereka belum ada yang berbicara lagi, namun saat ini orang-orang itu sedang memikirkan hal yang sama.
Dalam waktu yang bersamaan, diam-diam mereka pun terlihat melakukan persiapan.
"Situasinya sudah tidak memungkinkan lagi. Daripada membicarakan hal-hal yang tidak penting, lebih baik kita meningkatkan kewaspadaan saja," tukas Zhang Fei kepada mereka semua.
"Ya, kau benar, anak Fei,"
"Setuju,"
"Aku rasa memang kita harus segera melakukannya,"
Tujuh orang yang lain langsung merasa setuju dengan ucapan Zhang Fei. Maka dari itu, setelah selesai berbicara, mereka segera melakukan persiapan.
Para tokoh itu membentuk lingkaran yang cukup besar. Langkah tersebut dilakukan supaya mereka bisa melihat ke setiap arah yang berbeda.
Dengan demikian, maka mereka tidak akan bisa dikecoh oleh pihak musuh.
Masing-masing langsung memegangi senjatanya. Mereka juga memasang semua inderanya dengan tajam.
Sementara itu, rembulan di atas langit tiba-tiba tertutup awan kelabu. Hal itu menyebabkan keadaan di tengah hutan menjadi lebih gelap dari sebelumnya.
Suara-suara binatang penunggu hutan semakin terdengar ramai. Lolongan anjing terdengar di kejauhan sana.
Semilir angin dan hawa dingin mulai terasa menusuk tulang.
Semua hal tersebut telah menyebabkan keseraman dan ketegangan di tempat itu semakin menjadi.
Ketika semua orang sedang merasa tegang, pada saat keadaan gelap gulita, tiba-tiba dari setiap penjuru mata angin, ada api yang menerangi keadaan di sekitar hutan.
Semakin lama, api itu makin terang dan jelas. Setelah diselidiki, ternyata semua api tersebut berasal dari obor yang digenggam oleh seseorang.
"Hahaha ..."
Berbagai macam suara tawa mendadak ikut terdengar pula. Suara tawa itu ada yang serak parau, berat, bahkan ada pula yang menyeramkan mirip suara tawa setan gentayangan.
"Mereka datang!" seru Zhang Fei kepada semua orang.
Yang lain segera mengangguk. Sekarang mereka yakin bahwa keadaannya memang sudah tidak memungkinkan lagi.
Wushh!!! Wushh!!!
Deru angin kencang tiba-tiba berhembus dari beberapa arah berbeda. Hal itu terjadi untuk beberapa waktu.
Setelah beberapa waktu berikutnya, tiba-tiba sebuah suara yang sudah tidak asing langsung terdengar.
Suara itu ditujukan kepada Zhang Fei. Begitu mendengarnya, ia pun langsung menoleh ke sumber suara.
Rupanya dalam jarak sepuluh langkah, di sana terlihat sudah ada Kaisar Zhou dan yang lainnya. Mereka juga telah berdiri dengan posisi siap sambil mengepung pihak Zhang Fei.
"Hemm ... jadi benar, apa yang kau lakukan beberapa hari sebelumnya, itu hanyalah bagian dari rencanamu saja?" tanyanya sambil berusaha untuk tetap tenang.
"Ternyata kau sudah tahu akan hal ini. Baguslah, kau memang pemuda yang cerdas," kata Kaisar Zhou sambil menarik muka.
Ia terlihat sangat girang karena rencananya telah berjalan dengan lancar.
"Sudahlah, Zhang Fei," Kaisar Jin ikut berbicara. "Aku sarankan, lebih baik kau menyerah saja. Sebab semua wilayah hutan ini sudah dipenuhi oleh orang-orang kami,"
Kaisar Jin segera tertawa. Suara tawa yang menandakan bahwa ia benar-benar puas!
"Hemm ... benarkah kalian mampu menahan kami?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan dengan suara dingin.
"Mengapa tidak? Saat berada di Istana Kekaisaran Song, kami mungkin tidak bisa melakukannya. Tapi kalau diluar Istana, aku rasa itu bukan hal yang mustahil," jawab Kaisar Zhou penuh percaya diri.
Dua orang Kaisar itu tampil dengan penuh percaya diri. Mereka percaya seratus persen bahwa rencananya kali ini tidak akan pernah gagal.
Apalagi semuanya sudah berjalan lancar. Sampai detik ini, rasanya tidak ada satu pun hambatan yang menghalangi rencana mereka.
"Baiklah!" setelah sekian lama terdiam, akhirnya Zhang Fei mulai berkata lagi. "Kalau memang kalian sudah yakin, silahkan serang kami sekarang juga. Tapi ingat! Jika ingin menghabisi kami semua, maka kalian harus rela membayar dengan harga yang sangat mahal!"
Ucapan itu diutarakan dengan suara keras. Jangankan para musuh utama yang ada ada di depannya, bahkan semua prajurit dan anak buah yang ada di seluruh wilayah hutan pun, pasti bisa mendengar ucapan Zhang Fei dengan jelas.
Apalagi dia mengucapkannya dengan dorongan tenaga sakti. Sehingga tidak perlu heran kalau para pendekar kelas rendah akan langsung bergetar ketakutan.
Waktu terus berjalan. Walaupun Zhang Fei sudah memberikan tantangan terbuka, tapi ternyata sampai detik ini, belum ada satu pun dari mereka yang berani mengambil tindakan.
Orang-orang itu masih berdiri di tempatnya masing-masing. Rasa percaya diri yang sebelumnya terlihat jelas di wajah mereka, sepertinya kini mulai runtuh kembali.
"Mengapa kalian masih diam? Bukankah kalian menginginkan nyawa kami?" Zhang Fei kembali bersuara. Ia kembali menentang para tokoh dunia persilatan itu.
Sementara di posisi lain, Kaisar Zhou tampak mengepalkan kedua lengannya.
Dia tidak menyangka bahwa pihak musuh ternyata akan bersikap seberani ini. Padahal sebelumnya dia yakin, kalau pun tidak menyatakan menyerah secara sukarela, Zhang Fei dan yang lainnya pasti akan ketakutan.
Siapa nyana, semuanya malah jauh diluar dugaan!
"Tang San! Serang mereka lebih dulu," kata Kaisar Zhou memberikan perintah.
"Mengapa harus aku? Mengapa tidak yang lain saja?" sepertinya Tang San juga merasa ragu. Buktinya saja dia tidak mau ketika disuruh menyerang lebih dulu.
"Hemm ... rupanya kau sangat pengecut,!" maki Kaisar Zhou. Ia benar-benar kesal dengan sikap yang ditampilkan oleh salah satu tokoh besar di negerinya tersebut.
"Biar aku saja yang maju!" seorang pria paruh baya tiba-tiba berbicara. Suaranya terdengar berat, bersamaan dengan ucapannya, ia pun langsung maju ke posisi depan.
"Bagus, Tuan Yi. Aku tahu kau adalah pendekar yang pemberani. Sepulang dari sini, aku berjanji akan memberikanmu hadiah istimewa," ucap Kaisar Zhou sambil tersenyum kepadanya.
"Terimakasih, Kaisar," orang yang dipanggil Tuan Yi mengangguk.
Tanpa basa-basi lagi, ia langsung maju beberapa langkah ke depan. Setelah selesai mempersiapkan diri, Tuan Yi langsung melancarkan serangan pertamanya.
Dilihat dari bagaimana gerakannya, Zhang Fei sudah tahu bahwa orang tua itu pasti bukan pendekar biasa. Setidaknya, dia pasti termasuk ke dalam jajaran Datuk Dunia Persilatan.
"Biar aku yang melayaninya!" seru Dewi Rambut Putih setelah ia mengukur sampai di mana kemampuan lawan.