Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pergi Dari Kuil Seribu Dewa


Darah segar keluar dengan jumlah sangat banyak. Baru sekejap saja tubuhnya sudah digenangu oleh cairan warna merah.


Zhang Fei masih berdiri di tempatnya. Ia menatap mayat Raja Telapak Hitam dengan tatapan mata penuh dendam. Tangan kanannya menggenggam gagang pedang lebih erat lagi.


Dalam dadanya saat ini sedang terjadi pergolakan hebat. Zhang Fei sebenarnya ingin berteriak karena dia berhasil membunuh salah satu tokoh utama dari Partai Panji Hitam.


Tapi di sisi lain, dia juga masih merasa belum puas. Sebab tokoh utamanya masih hidup sampai saat ini.


"Selamat, Ketua Fei. Akhirnya kau berhasil membalaskan dendammu," kata Pendekar Pedang Perpisahan tiba-tiba bersuara tepat di belakang Zhang Fei.


Ketua Dunia Persilatan membalikkan tubuh, ia kemudian memandang ke arahnya.


"Terimakasih, Tuan Wu. Tapi, dendamku belum tuntas sepenuhnya," jawab Zhang Fei sambil menghembuskan nafas panjang.


"Ya, aku tahu. Tapi, aku yakin suatu saat nanti, dendam itu akan segera terbalaskan,"


Zhang Fei mengangguk. Ia kemudian menyarungkan kembali Pedang Raja Dewa.


Dua orang tersebut lalu berjalan menghampiri Biksu Bian Ji Hung. Biksu tua itu tersenyum menyambut kedatangan keduanya.


"Terimakasih, Tuan berdua. Berkat bantuan kalian, pihak Kuil Seribu Dewa bisa meraih kemenangan," katanya sambil tersenyum lembut.


"Kau terlalu berlebihan, Biksu Hung. Kami tidak pantas menerima penghormatan darimu," kata Pendekar Pedang Perpisahan.


Orang tua itu tersenyum lembut. Dia kemudian mengajak dua orang tersebut masuk ke dalam kuil. Di tengah perjalanan, ia juga menyuruh kepada murid-muridnya supaya membereskan bekas-bekas pertempuran di sana.


Selain daripada itu, dia pun menyuruh para muridnya untuk membekuk pasukan lawan yang masih ada di sana. Meskipun kebanyakan dari mereka berada dalam keadaan parah, tapi Biksu Hung tidak perduli akan hal tersebut.


Bagaimanapun juga, mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal karena perbuatannya.


Sementara itu, setelah berjalan beberapa waktu, akhirnya ketiga orang tersebut sudah tiba di ruang pertemuan.


Satu orang murid segera datang sambil membawa teh hangat dan hidangan ringan.


Setelah murid tersebut pergi, Biksu Bian Ji Hung segera berbicara kepada dua orang tamunya.


"Aku benar-benar merasa beruntung karena bisa mengalahkan mereka," katanya langsung bicara ke inti persoalan.


"Ya, langit sedang berpihak kepada kita," kata Pendekar Pedang Perpisahan.


Biksu Hung menganggukkan kepala beberapa kali. Dalam hati, tadinya dia berniat untuk memberikan penghormatan dan menyampaikan rasa terimakasihnya lagi.


Tetapi niat itu segera dibatalkan karena Biksu Hung teringat bagaimanakah sifat dan karakter kedua tamunya tersebut.


Maka dari itu, dia hanya bisa mengangguk beberapa kali.


"Biksu Hung, setelah peristiwa ini, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Zhang Fei setelah beberapa waktu kemudian.


"Sepertinya, aku akan menarik murid-murid yang berada diluar, Ketua Fei. Selain itu, aku juga akan menutup kuil ini untuk beberapa waktu ke depan," jawab Biksu Hung sambil menghela nafas berat.


Peristiwa yang baru saja berlangsung itu telah memberikan akibat besar nagk Kuil Seribu Dewa. Banyak anak murid mereka yang tewas menjadi korban.


Walaupun masih ada banyak murid-murid yang lain, tetapi yang menjadi korban itu adalah murid-murid senior dan sangat berbakat.


Maka dari itu, kekuatan Kuil Seribu Dewa sekarang telah berkurang cukup drastis. Alasan mengapa Biksu Hung ingin menutup diri bukan lain adalah karena dia ingin memulihkan kekuatan kuilnya kembali.


Zhang Fei mengetahui dan memahami akan hal tersebut. Karenanya dia tidak bertanya lebih jauh lagi.


"Ke depannya, kau harus lebih berhati-hati lagi. Meskipun kemungkinan besar mereka tidak akan kembali, tapi dalam keadaan seperti ini, ancaman selalu datang tanpa pernah kita duga," ujar Pendekar Pedang Perpisahan memberi peringatan kepadanya.


"Ya, terimakasih, Tuan Wu. Aku pasti akan lebih berhati-hati lagi,"


Tiga orang tokoh dunia persilatan itu kembali membicarakan situasi negerinya pada saat ini. Pembicaraan tersebut selesai setelah sekitar satu jam ke depan.


Tadinya, Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan berniat untuk segera pergi dari Kuil Seribu Dewa. Hanya saja, niat mereka harus tertahan karena Biksu Hung meminta supaya keduanya tinggal sedikit lebih lama di kuil tersebut.


Pada akhirnya, kedua orang itu mau tak mau harus menginap di Kuil Seribu Dewa. Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan tinggal di sana selama tiga hari.


Pada hari keempatnya, mereka meminta izin untuk pamit undur diri.


Saat itu masih pagi, tetapi keadaan di kuil sudah cukup ramai. Murid-murid telah melaksanakan aktivitasnya masing-masing.


"Biksu Hung, maaf kami tidak bisa tinggal lebih lama lagi. Sebab kau tahu sendiri bagaimana keadaan negeri kita saat ini," kata Zhang Fei setelah menyelesaikan sarapan pagi.


"Aku harap kau mengerti, biksu tua. Apalagi, sosok seperti Ketua Fei ini sangat diperlukan oleh banyak orang. Kehadirannya di tengah-tengah situasi seperti sekarang sangat berarti," sambung Pendekar Pedang Perpisahan.


"Ya, ya, ya. Aku mengerti," katanya menjawab secara perlahan. "Kalau begitu, baiklah. Sekali lagi, aku ucapkan terimakasih kepada kalian. Lain waktu jika ada kesempatan, berkunjunglah kemari,"


"Tentu, Biksu Hung. Kalau aku ada tugas di kota ini, aku pasti akan berkunjung," jawab Zhang Fei sambil tersenyum.


Ia kemudian mengantarkan kedua orang tamunya sampai ke pintu gerbang depan. Semua murid yang pada saat itu ada di sana, terlihat membukukan badan ketika mereka lewat di halaman.


Tiga tokoh itu sempat basa-basi sebentar sebelum pergi. Beberapa saat kemudian, mereka saling hormat satu sama lain.


Wushh!!! Wushh!!!


Dua bayangan manusia melesat cepat bagaikan segumpal asap. Gerakan mereka benar-benar ringan seperti kapas.


Biksu Hung masih berdiri di sana. Dia menatap kepergian mereka dengan perasaan campur aduk.


"Ketua Dunia Persilatan yang sekarang, aku rasa akan mampu membawa perubahan luar biasa," gumamnya sambil mengangguk beberapa kali.


Setelah bayangan tubuh mereka berdua lenyap, Biksu Hung segera kembali lagi ke dalam kuil.


Sementara itu, Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan saat ini masih berlari cepat mengandalkan ilmunya masing-masing.


Tujuan mereka selanjutnya adalah pergi ke tempat-tempat yang menjadi sasaran pihak musuh. Di tengah perjalanan, keduanya juga sering mencari informasi tentang kondisi pada saat ini.


Sore harinya, mereka sudah tiba di kota lain. Zhang Fei mengajak Pendekar Pedang Perpisahan berhenti di sebuah rumah makan yang cukup mewah.


Keduanya kemudian masuk ke dalam. Mereka duduk di bangku bagian belakang. Seorang pelayan datang dan menanyakan pesanan.


Setelah memesan, sebelum pelayan itu pergi, Zhang Fei langsung mengajukan pertanyaan kepadanya.


"Tuan, kalau boleh tahu, apa nama kota kecil ini?" tanya Zhang Fei kepada pelayan pria yang usianya sudah berada di atas empat puluh tahun.


"Kota kecil ini bernama San Dong, Tuan Muda," jawab si pelayan penuh hormat.