
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan manusia bergerak bagaikan setan gentayangan. Tanpa banyak bicara lagi, mereka langsung mencari lawannya masing-masing.
Setelah menemukan lawan yang pas, Dewa Pedang Dari Selatan dan Dewa Arak Tanpa Bayangan segera mengambil tindakan pertama.
Kedua tokoh besar itu mulai melancarkan jurus-jurus dahsyat miliknya. Karena sadar bahwa pertarungan ini sangat menentukan hidup dan mati, maka mereka tidak mau lagi membuang waktu dan tenaganya secara percuma.
Di satu sisi, Zhang Fei tampak telah mengeluarkan Pedang Raja Dewa. Pedang pusaka itu langsung bergerak cepat menyambar ke sana kemari.
Walaupun dikeroyok oleh tiga Datuk Dunia Persilatan sekaligus, meskipun Zhang Fei sadar bahwa untuk menghadapi mereka tidaklah mudah, namun Ketua Dunia Persilatan itu tetap bertekad untuk tidak putus asa.
Putus asa itu hanya berlaku bagi orang-orang yang pengecut. Orang-orang yang penakut terhadap kenyataan!
Sedangkan Zhang Fei bukan tipe orang seperti itu. Karenanya, pantang bagi dia untuk berputus asa dalam sebuah keadaan.
Selama nyawa masih dikandung badan, apapun yang terjadi, dia tetap akan berusaha!
Wutt!!!
Jurus Murka Pedang Dewa mulai digelar. Tiga tokoh sesat yang menjadi lawannya seketika kaget. Mereka segera menjaga jarak supaya tidak terlalu dekat.
"Hati-hati, jurus pedang itu tidak bisa dipandang ringan. Kita harus selalu waspada terhadap setiap serangannya," ujar salah satu Datuk Dunia Persilatan memberi peringatan kepada yang lain.
Dua orang rekannya mengangguk. Mereka pun langsung mengambil langkah yang sama.
Zhang Fei masih menyerang dengan jurus yang sama. Saat ini dia sedang berusaha untuk bisa mencapai semua musuhnya.
Kilatan cahaya putih keperakan telah memenuhi angkasa. Hawa pedang yang begitu pekat juga telah menyelimuti seluruh arena pertarungan.
Ketiga Datuk Dunia Persilatan itu tercekat. Semakin lama jurus itu digelar, mereka makin merasa kesulitan untuk bergerak lebih jauh.
Setelah berusaha belasan jurus, akhirnya usaha yang dilakukan oleh Zhang Fei tidak sia-sia. Salah satu dari ketiga lawannya berhasil termakan jurus pedang yang dahsyat itu.
Tangan kirinya mengalami robekan yang cukup besar. Luka itu tercipta karena tebasan pedang yang datang bagaikan kilat.
Darah segar telah mengucur membasahi pakaiannya. Tokoh sesat itu buru-buru menotok beberapa titik di dekat mulut luka supaya darahnya bisa berhenti.
Setelah berhasil dengan usahanya, ia langsung menggeram marah. Sebelum dua rekannya menerjang, ia telah memutuskan untuk bertindak lebih dulu.
"Akan kupotong lehermu itu, anak setan!"
Wutt!!!
Ia menerjang dengan cepat. Golok antik yang sejak awal terosren di pinggangnya sudah dikeluarkan. Jurus golok maha dahsyat segera datang menyapa Zhang Fei.
Kilatan batang golok bagaikan kilat yang menyambar tanpa henti. Namun karena dia pun sedang menggelar jurus pamungkasnya, maka pertarungan pun menjadi berjalan lebih sengit.
Dua jurus kelas atas bertemu. Adu senjata terjadi sampai beberapa waktu. Datuk sesat itu tercekat, ternyata walaupun dia telah mengeluarkan jurus pamungkas, pihak lawan masih bisa mengimbangi, bahkan membalas serangannya cukup mudah.
Melihat kenyataan tersebut, dua tokoh sesat di sisinya tidak tinggal diam. Mereka berdua segera turun tangan untuk membantunya.
Wutt!!!
Hujan senjata rahasia tiba-tiba datang dari segala arah. Disusul kemudian dengan datangnya tiga bola besi berduri yang langsung mengancam batok kepala.
Zhang Fei bisa melihat semua serangan tersebut. Sadar akan posisinya yang berbahaya, buru-buru dia melompat mundur dan segera mengeluarkan jurus yang lain.
Telapak tangan kirinya dihentakkan ke depan. Jurus Telapak Buddha Maha Agung digelar. Segulung tenaga sakti segera menerjang.
Hujan senjata rahasia yang hampir merenggut nyawanya, seketika langsung sirna setelah jurus telapak itu keluar.
Jurus Tapak Buddha Maha Agung memang sangat dahsyat. Walaupun dikeluarkan dengan sebelah tangan, tapi hasilnya tetap tidak mengecewakan.
Zhang Fei tersenyum puas karena dia berhasil menghadapi tiga jurus maut tersebut. Namun sebagai gantinya, sekarang dia harus rela kehilangan banyak tenaga.
Wajahnya tampak sedikit pucat. Keringat dingin membasahi tubuh. Peluh sebesar biji kacang juga mulai terlihat di keningnya.
Tiga Datuk Dunia Persilatan yang menjadi lawan Zhang Fei bisa melihat semua perubahan tersebut. Sebagai orang yang sudah berpengalaman, tentu saja mereka telah mengetahui apa yang terjadi dengannya.
"Hei, kondisi tubuhnya mulai melemah lagi," kata salah seorang berteriak.
"Ya, kau benar. Sepertinya dia telah kehilangan sebagian tenaganya karena terlalu memaksakan diri,"
"Hemm ... kalau begitu, sekarang adalah saat yang tepat untuk balas dendam,"
Ketiganya tampak begitu gembira setelah menyadari kondisi Zhang Fei. Tanpa membuang-buang waktu lagi, secara serempak mereka langsung menerjang ke depan.
Masing-masing segera mengeluarkan jurus pamungkasnya. Posisi Zhang Fei kembali terancam!
"Celaka! Mereka berhasil mengetahui kondisiku," gumamnya sedikit panik.
Pada saat itu, dia ingin mengambil tindakan. Tapi sayangnya Zhang Fei sedikit terlambat. Ketiga musuh telah berhasil tiba lebih dulu.
Sebatang golok, tiga buah bola besi berduri dan puluhan senjata rahasia tahu-tahu telah berada di dekatnya.
Kalau sudah seperti ini, maka harapan untuk hidup sudah tidak ada lagi! Jika tidak ada keajaiban, niscaya nyawa Zhang Fei akan melayang seketika.
Trangg!!! Trangg!!!
Benturan nyaring terdengar beberapa kali. Rupanya walaupun tenaganya hampir habis, Zhang Fei tetap tidak mau tinggal diam.
Dia terus memberikan perlawanan semampunya. Bacokan dan tusukan golok berhasil dihalau. Begitu juga dengan tiga bola besi berduri yang terus melayang-layang di tengah udara.
Sayangnya, tenaga Zhang Fei lebih dulu habis. Sehingga ia tidak bisa menghalau senjata rahasia yang datang ke arahnya.
Crapp!!! Crapp!!! Crapp!!!
Tak kurang dari dua belas senjata rahasia yang berbentuk seperti paku emas telah menancap di beberapa bagian tubuhnya.
Zhang Fei menjerit tertahan. Rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tubuh. Saat itu, Ketua Dunia Persilatan sudah tidak mampu untuk berdiri lebih lama. Namun dengan cepat ia menancapkan Pedang Raja Dewa di tanah sehingga bisa menopangnya untuk tetap berdiri.
"Sialan! Mereka benar-benar tangguh," gumamnya sambil menahan rasa sakit.
Zhang Fei terus berusaha menyalurkan tenaganya kembali. Namun sayangnya hal itu percuma. Sebab beberapa titik penting di tubuhnya sudah tembus oleh senjata rahasia tadi.
"Hahaha ... mampus kau, Zhang Fei. Sekarang, kau tidak bisa berbuat apa-apa lagi," kata salah satu Datuk Dunia Persilatan.
Orang itu kemudian berjalan mendekat ke arahnya. Ia terlihat memberikan senyuman dingin. Wajahnya benar-benar gembira setelah melihat Zhang Fei tak berdaya.
"Bagaimana? Apakah kau ingin menyerah?" ia menjambak rambut Zhang Fei dan mengangkat wajahnya dengan paksa.
"Aku lebih baik mati daripada harus menyerah," katanya menjawab dengan susah payah.
"Ternyata kau keras kepala juga, ya,"
"Jauhkan tanganmu sebelum kau menyesal,"
"Apa? Menyesal? Hahaha ... kau pikir, saat ini ... apa yang bisa kau ..."
Wutt!!! Srett!!! Srett!!