Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Keluar Dari Hutan


Tepat setelah perkataannya selesai, Pendekar Pedang Perpisahan langsung mencabut senjatanya dari tubuh Jenderal Gu.


Begitu pedangnya tercabut, darah segar langsung keluar membasahi seluruh tubuh. Jenderal Gu sudah kehilangan seluruh tenaganya. Jangankan untuk membalas, untuk bicara pun dia sudah tidak sanggup lagi.


Brukk!!!


Tubuhnya seketika jatuh tersungkur ke atas tanah. Bersamaan dengan itu nyawanya juga langsung melayang.


Pendekar Pedang Perpisahan memandangi tubuhnya dengan perasaan benci. Kebenciannya itu tidak bisa lagi dilukiskan dengan kata-kata.


Memang benar bahwa dia adalah Datuk Dunia Persilatan aliran sesat, tindak-tanduknya tidak berbeda jauh dengan iblis. Dunianya adalah dunia hitam.


Dalam hal membunuh atau mencabut nyawa manusia, baginya sudah bukan sesuatu yang asing lagi. Jangankan membunuh satu orang, bahkan kalau harus membunuh seribu orang sekali pun, baginya bukan suatu masalah berarti.


Selama dia mengembara dalam dunia persilatan yang dipenuhi dengan pertumpahan darah, entah sudah berapa banyak kebahagiaan yang dia ubah menjadi kesedihan dan kepedihan.


Entah sudah berapa banyak pula nyawa manusia yang melayang di ujung pedang pusaka miliknya.


Kalau membahas soal itu, rasanya dia tidak berbeda jauh dengan Malaikat Maut!


Ya, Pendekar Pedang Perpisahan memang dapat menentukan mati hidupnya manusia lain.


Dengan kemampuan yang dia miliki, memangnya apa pula yang tidak bisa dia lakukan?


Tetapi walaupun seperti itu, seumur hidup dia tidak pernah bertindak seperti pecundang. Bagi Pendekar Pedang Perpisahan, hal itu sangat pantang untuk dilakukan.


Semua orang yang tewas di ujung pedangnya, pasti mampus secara cara jantan!


Dari dulu sampai sekarang, rasanya belum pernah dia menyerang dan membunuh dari belakang secara gelap, seperti yang dilakukan oleh Jenderal Gu tadi.


Karena alasan itulah, maka dirinya benar-benar marah ketika melihat jenderal itu melakukan tindakan memalukan.


Sementara itu, entah sejak kapan, tahu-tahu Zhang Fei sudah membuka matanya kembali. Ketika melirik ke sisinya, anak muda itu terkejut ketika mendapati Jenderal Gu sudah berubah menjadi mayat.


Pendekar Pedang Perpisahan menyadari kalau Zhang Fei sudah sadar. Ia melirik ke arahnya, lalu kemudian berkata.


"Dia berniat untuk membunuhmu dari belakang. Tapi aku telah membunuhnya lebih dulu. Aku paling tidak suka kepada manusia rendahan seperti dia!" katanya sambil menginjak tubuh Jenderal Gu.


Zhang Fei tersentak mendengarnya. Dia tidak percaya bahwa tokoh sesat itu rupanya adalah orang-orang yang mengutamakan kejantanan.


"Terimakasih, Tuan Wu," katanya tanpa sadar mengucapkan ucapan tersebut.


"Aku melakukannya bukan untuk menolong nyawamu,"


Tentu saja anak muda itu mengetahui hal tersebut. Karena sesaat yang lalu, Pendekar Pedang Perpisahan sudah berniat untuk membunuh Zhang Fei.


Jadi, untuk apa pula dia membantunya?


"Aku membunuhnya karena tidak suka dengan cara yang dia lakukan. Aku pun paling benci kepada manusia yang suka ikut campur urusan orang lain," lanjut Pendekar Pedang Perpisahan menjelaskan alasannya.


Zhang Fei berusaha bangkit dari posisinya. Dia ingin mengucapkan beberapa patah kata, tapi dengan cepat orang tua itu mendahului.


"Rawat lukamu dengan baik. Latihlah ilmu pedangmu sampai benar-benar tinggi. Suatu saat nanti, duel ini akan dilanjutkan lagi," katanya dengan nada tegas.


"Jangan salah duga, aku bukan sedang memberikan kesempatan hidup kepadamu. Hanya saja, niat untuk membunuhmu pada saat ini sudah sirna karena bajingan ini," ucap Pendekar Pedang Perpisahan sambil melirik ke arah mayat Jenderal Gu. "Kelak aku pasti akan menuntaskan dendam di antara kita,"


Selesai berkata seperti itu, dia langsung membalikkan tubuh dan segera pergi dari sana. Langkahnya terlihat lambat. Tapi baru beberapa helaan nafas berikutnya, datuk sesat tersebut malah sudah berada di tempat yang cukup jauh.


Sesaat kemudian, tubuhnya langsung lenyap ditelan pepohonan yang rimbun.


Kepergian orang tua itu disaksikan juga oleh Yin Yin yang berada di bawah pohon. Walaupun setiap hal yang mereka lakukan bisa dilihat dengan jelas, tapi gadis itu tidak mampu mendengar apa yang diucapkan oleh keduanya.


Entah kenapa hal tersebut bisa terjadi. Mungkin juga karena kesadarannya belum pulih benar.


Yang jelas, Yin Yin sangat penasaran ketika melihat Pendekar Pedang Perpisahan pergi begitu saja.


Mengapa dia tidak membunuh Zhang Fei? Bukankah tadi, dia bilang ingin menghabisinya?


Entah apapun alasan orang tua tersebut, yang jelas dirinya sangat bersyukur karena Zhang Fei masih bisa bernafas.


Sekitar lima belas menit kemudian, setelah bersemedi beberapa saat dan tenaganya kembali pulih, Zhang Fei langsung bangkit berdiri dan berjalan ke arah Yin Yin.


"Nona Yin, mari kita pergi dari sini,"


Sambil bicara, Zhang Fei juga sudah siap untuk merangkulnya kembali. Tapi sebelum kedua tangan menyentuh tubuhnya, gadis cantik itu sudah bicara.


"Sekarang keadaanku sudah mulai baikan. Aku bisa berjalan sendiri,"


Yin Yin langsung bangkit. Tanpa banyak berkata lagi, dia langsung mengajak Zhang Fei untuk melanjutkan perjalanannya.


Dua pendekar muda itu akhirnya mulai melangkahkan kaki. Mereka berjalan seperti orang awam. Zhang Fei dan Yin Yin tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh seperti biasanya.


Selangkah demi selangkah, keduanya mulai menjauh dari tempat pertarungan tadi. Walaupun langkahnya lambat, tapi mereka tidak pernah berhenti.


Sebenarnya kedua pendekar muda itu sedang merasakan hal yang sama. Tubuh mereka sejatinya sudah tidak kuat melakukan hal-hal yang luar biasa lagi. Walaupun diluar tampak biasa, tapi bagian dalamnya justru lain lagi.


Entah kenapa, luka-luka yang dideritanya akibat goresan dan tusukan pedang milik Pendekar Pedang Perpisahan terasa memberikan sesuatu yang berbeda.


Rasa sakit itu tidak pernah hilang. Malah makin lama, justru semakin bertambah hebat. Kalau saja hawa murninya tidak terganggu, mungkin sudah sejak tadi ia pulih seperti sedia kala.


Namun kenyataan berkata lain. Hawa murni dan tenaga dalamnya tiba-tiba terganggu sehingga tidak bisa digunakan. Aliran tenaga sakti yang bersarang di pusar, sekarang telah menjalar ke seluruh tubuh dengan kacau.


Tenaga sakti itu tidak beraturan. Seolah-olah ada sesuatu yang telah membuatnya tercerai berai. Zhang Fei sangat kebingungan, sebab dia baru merasakan hal seperti ini.


"Zhang Fei, apakah dunia luar masih jauh?" tanya Yin Yin secara tiba-tiba. Suaranya mulai melemah kembali. Wajahnya juga pucat seperti sebelumnya.


"Aku rasa tidak. Tinggal beberapa tombak lagi, kita akan keluar dari hutan ini," jawab Zhang Fei dengan nada yang sama. "Nona Yin, apakah kau merasakan hal yang sama denganku?"


Zhang Fei kemudian menceritakan apa yang dia rasakan sekarang secara singkat. Yin Yin mendengarkan ceritanya dengan serius.


"Benar. Setelah bertarung dengan tua bangka itu, aku juga mengalami hal yang serupa denganmu. Entah apa penyebabnya, sampai sekarang aku pun belum tahu pasti," jawab Yin Yin dengan ekspresi kebingungan.


Sementara itu, sambil terus bercerita, tanpa sadar mereka sudah berhasil keluar dari hutan tersebut.


Ketika mencapai pemukiman warga, tiba-tiba saja kedua pendekar muda itu langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri.