Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Berkumpulnya Lima Malaikat Putih


Sekarang guru dan murid itu sudah saling berhadapan satu sama lain. Mereka telah berada dalam keadaan siap.


Pedang Raja Dewa sudah dicabut keluar dari sarungnya. Batang pedang pusaka itu mengeluarkan cahaya putih keperakan karena terkena sentuhan sinar matahari.


Angin pegunungan berhembus. Pakaian dua orang itu berkibar.


"Mulai!" Si Telapak Tangan Kematian memberikan aba-aba.


Zhang Fei mengangguk. Begitu ucapan itu selesai, dia langsung menyerang ke arah gurunya.


"Membayangi Gerakan Dewa!"


Wushh!!!


Begitu turun tangan pertama, tanpa tanggung lagi anak muda itu langsung mengeluarkan jurus pedangnya.


Dia tahu, gurunya bisa menghadapi jurus yang dikeluarkan. Maka dari itu, Zhang Fei tidak mau menyerang dengan setengah-setengah.


Bayangan pedang langsung mengurung seluruh tubuh Pek Ma. Angin dari senjata itu sangat tajam. Bahkan daun-daun berguguran akibat terkena hawa pedang yang keluar.


Pertarungan guru dan murid itu berlangsung dengan seru. Pek Ma juga tidak menaruh belas kasihan. Malah dalam pertarungan ini, dia memperlakukan Zhang Fei seperti musuh-musuhnya.


Setiap serangan yang dia keluarkan mampu mencabut nyawa manusia. Jurus yang digelar juga tidak bisa dipandang sebelah mata.


Melihat keseriusan gurunya dalam menyerang, mau tidak mau Zhang Fei pun harus mengeluarkan seluruh tenaga dan kemampuannya.


Anak muda itu tidak marah karena gurunya berlaku serius. Dia justru merasa senang.


Sebab secara tidak langsung, ia telah dipandang tinggi. Tidak dipandang rendah lagi!


Jurus kedua pun kini sudah digelar. Serangan anak muda itu semakin cepat dan ganas.


Walaupun dia tahu usahanya sia-sia, tapi Zhang Fei tetap tidak mau berhenti. Dia tidak ingin dianggap lemah oleh gurunya.


Gerakan dua orang itu sangat cepat. Debu dan batu kerikil kecil berterbangan bagai ditiup oleh angin kencang.


Semakin lama bertarung, Zhang Fei tampak makin bersemangat. Tanpa dia sadari, dirinya malah sudah mengeluarkan jurus keempat dari Kitab Dewa Pedang.


Gerakannya mulai mematikan. Setiap titik di tubuh Pek Ma menjadi incaran anak muda itu.


Dia sendiri tidak main-main lagi. Dirinya ikut mengeluarkan jurus pamungkasnya.


Jurus ketiga dari jurus Sembilan Telapak Sesat sudah dikeluarkan. Meskipun jurus-jurus itu tidak sadis seperti dahulu, namun tetap saja sangat berbahaya.


Terbukti sekarang, baru beberapa saat menyerang saja, Zhang Fei sudah kewalahan. Dia tidak bisa keluar dari sergapan gurunya.


Untunglah Pek Ma tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya. Coba kalau dia melakukan hal itu, mungkin sudah sejak tadi Zhang Fei mampus di tangannya.


Puluhan jurus sudah berlalu kembali. Keadaan masih seimbang. Baik gurunya maupun muridnya, sama-sama berusaha keras untuk saling melumpuhkan.


Mencapai jurus kedelapan puluh, mendadak Pek Ma mendorong telapak tangan kanannya ke depan. Segulung angin yang membawa kekuatan tinggi langsung menerjang ke arah Zhang Fei.


Pemuda itu terdorong mundur ke belakang. Ia pun merasakan sakit di bagian dada.


'Ternyata jurus guru benar-benar dahsyat. Padahal aku sudah berusaha menahannya dengan segenap tenaga,' batin anak muda itu setelah ia merasakan betapa hebatnya serangan barusan.


Sesaat kemudian, Zhang Fei ingin melanjutkan lagi serangannya. Tapi tepat pada saat itu, terdengar Pek Ma berseru.


"Cukup, anak Fei. Kita sudahi latih tanding ini,"


"Baik, guru,"


Zhang Fei segera menarik kembali serangan yang sudah disiapkan. Ia juga memasukkan Pedang Raja Dewa ke sarungnya.


"Ternyata jurus yang kau kuasai itu sudah semakin matang. Kemajuanmu bagus juga. Aku bangga," katanya atas kemajuan yang diperoleh Zhang Fei.


Zhang Fei sadar, semua yang dia peroleh saat ini adakah karena gurunya, Lima Malaikat Putih.


Kalau tidak ada mereka, bagaiman mungkin dia bisa jadi seperti sekarang?


Karena alasan tersebut, maka ia sangat menghormati lima gurunya.


"Sekarang bersihkan dulu tubuhmu. Di sana ada sungai jernih," ujar orang tua itu sambil menunjuk ke tempat yang dimaksud.


Zhang Fei menganggukkan kepala. Dia kemudian segera berjalan menuju ke tempat tersebut.


###


Malam telah tiba kembali. Zhang Fei dan Pek Ma saat ini sedang berada di sebuah rumah makan. Yang duduk di satu meja bukan hanya mereka saja.


Di sana pun masih ada empat orang lainnya. Mereka bukan lain adalah guru dari anak itu sendiri.


Lima Malaikat Putih sudah lengkap. Mereka tiba di Kota Luoyang belum lama ini.


Sekarang guru dan murid itu sedang bercengkrama sembari menunggu makanan yang mereka pesan.


Suara gelak tawa terdengar. Kadang kala mereka pun bercanda satu sama lain.


Rumah makan itu terletak di tengah-tengah kota, sehingga tidak heran apabila keadaan di dalamnya sangat ramai.


Para pengunjung yang datang pun berasal dari berbagai usia dan kalangan. Ada yang tua, ada pula yang muda. Ada pedagang biasa, bahkan ada pula hartawan dan orang-orang persilatan.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pesanan pun tiba juga. Mereka segera menyantapnya dengan lahap.


Tanpa perlu waktu yang lama, semua makanan itu sudah masuk ke dalam perut masing-masing.


"Aku sudah sangat merindukan suasana seperti ini," kata Pek Ciu. Salah satu anggota dari Lima Malaikat Putih.


"Benar. Aku juga," sahut rekannya yang bernama Pek Sin.


Keenam orang itu bercengkerama lagi. Mereka berbagi pengalamannya masing-masing atas apa yang sudah dilewatkan setelah beberapa waktu berpisah.


Ternyata apa yang dikatakan oleh empat dari Lima Malaikat Putih lainnya hampir sama dengan Pek Ma.


Zhang Fei yang mendengar hal itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa berusaha menguatkan tekadnya.


Dia yakin, selama kita mau berusaha, masalah apapun pasti akan ada jalan keluarnya.


Termasuk juga masalah dunia persilatan yang sekarang sedang menimpa negeri Tionggoan!


Ketika hari sudah mulai larut malam, mereka pun segera pergi dari rumah makan dan mencari penginapan yang sederhana.


Setelah menemukan penginapan, orang-orang itu segera masuk ke dalamnya. Mereka tidak langsung tidur, melainkan berkumpul di sebuah ruangan kamar yang cukup luas.


Kebetulan, di sana ada beberapa buah bangku. Tiga orang guru Zhang Fei duduk di sana. Satu orang di atas jendela. Pek Ma duduk di tempat tidur. Sedangkan anak muda itu sendiri duduk di lantai.


"Apakah kalian mendapatkan informasi tentang penyerangan yang akan dilakukan oleh Partai Gunung Pedang?" tanya Pek Ma mengawali pembicaraan serius.


"Ya, kami mendapatkannya, Ketua," anggota yang bernama Pek Ciu menjawab dengan cepat. Setelah berhenti sebentar, dia segera melanjutkan kembali ucapannya. "Penyerangan itu sudah disetujui untuk dimulai besok saat tengah malam. Pihak Partai Gunung Pedang akan dibantu oleh beberapa perguruan kecil dan dua orang petinggi dari Keluarga Suma," katanya menjelaskan.


"Jadi, Keluarga Suma setuju untuk membantu mereka?"


"Ehmm, benar, Ketua," jawab Pek Ciu sambil menganggukkan kepala.


"Baiklah. Berapa banyak bantuan itu?"


"Sekitar dua puluh orang,"


"Apakah semuanya merupakan petinggi dari tempat asalnya masing-masing?"