Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Tiga Iblis Bawah Tanah I


"Bagus. Kalau demikian, mari kita mulai!" orang tersebut tersenyum dingin.


Dibalik kegelapan, senyumannya benar-benar terlihat bengis. Persis seperti senyuman iblis di neraka yang diceritakan dalam dongeng.


Belum lagi selesai ucapannya, orang tersebut tahu-tahu sudah lenyap. Zhang Fei tidak tahu kapan musuhnya bergerak.


Dia hanya tahu bahwa saat ini, di belakangnya ada serangan dahsyat yang datang secara tiba-tiba.


Blamm!!!


Sebuah ledakan keras kembali terdengar. Empat batang tiang besar di tengah ruangan langsung bergetar setelah terkena serangan barusan.


Zhang Fei menarik nafas panjang. Jantungnya berdebar-debar. Tidak bisa dipungkiri, saat ini dia sedang berhadapan dengan para tokoh kelas atas dunia persilatan.


Wushh!!!


Ia kemudian melayang keluar. Zhang Fei tidak mau bertarung dalam gelap. Sebab hal itu hanya akan mendatangkan bahaya bagi dirinya.


Kalau melawan satu orang saja, mungkin dia masih bisa menghadapinya. Tapi kalau melawan tiga orang sekaligus, ceritanya lain lagi.


Saat ini, Ketua Dunia Persilatan yang berjuluk Dewa Pedang Dari Selatan itu sudah berada di tengah-tengah halaman hutan. Ia sedang berdiri dan menanti tiba sosok misterius tadi.


Hujan masih turun cukup deras. Jalan setapak di hutan itu telah digenangi oleh air yang bercampur lumpur.


Angin tiba-tiba berhembus cukup kencang. Hawa dingin yang terasa semakin menusuk tulang.


Beberapa saat selanjutnya, ketiga sosok misterius tadi sudah datang. Mereka datang secara bersamaan.


Walaupun malam ini cukup gelap, tapi hal itu masih mending jika dibandingkan dalam ruangan tadi.


Samar-samar Zhang Fei mulai bisa melihat wajah tiga orang di hadapannya. Yang paling kiri mempunyai postur tubuh gemuk. Kulitnya hitam legam. Namun sepasang matanya mencorong tajam.


Di pinggangnya terlihat ada golok besar. Seperti golok pemotong daging. Bedanya, golok yang dia miliki mempunyai panjang seperti golok pada umumnya.


Orang yang paling tengah sendiri bertubuh tinggi kurus. Di punggungnya ada senjata yang menyilang. Senjata itu berwarna hijau tua. Besarnya sepadan dengan jempol kaki.


Zhang Fei sempat memandang selidik senjata itu. Awalnya dia mengira bahwa yang dilihatnya tersebut adalah sepasang pedang kembar. Namun setelah diteliti lebih lanjut, ternyata bukan.


Sepasang senjata itu bukan pedang. Melainkan sebuah bambu!


Sesaat dia mengerutkan kening. Alasannya karena selama ini, rasanya baru sekarang saja Zhang Fei melihat ada pendekar yang menggunakan sepasang bambu sekaligus.


Sekilas pandang, bambu itu mirip dengan pedang kembar. Namun atas dasar itulah Zhang Fei merasa heran.


'Orang ini sangat aneh. Kalau bambunya mirip seperti pedang, mengapa dia tidak langsung menggunakan pedang saja? Bukankah itu jauh lebih baik?' Ia bertanya-tanya dalam batinnya.


Tetapi meskipun sangat penasaran, Zhang Fei tidak menanyakannya secara langsung.


Selesai mengamati orang kedua, kini tatapannya mulai beralih ke orang ketiga.


Untuk orang yang terakhir, dia terlihat jauh lebih seram dan berwibawa. Tubuhnya tinggi tegap. Wajahnya sangar dengan belas luka tebasan di pipi sebelah kanan.


Di pinggang kanan dan kirinya ada ruyung yang terbuat dari baja. Selain itu, orang tersebut juga menggunakan jubah warna merah.


Zhang Fei kembali mengerutkan kening. Dia merasa ada yang aneh dari jubah tersebut. Warnanya lain. Kerut yang diciptakan juga berbeda.


Ketika jubahnya dibahasi oleh air hujan, warna merah tersebut malah semakin mengental!


"Darah! Dia menggunakan jubah darah!" serunya tertahan.


Tanpa sadar, bulu kuduknya langsung berdiri. Apalagi setelah mengetahui kenyataan tersebut.


Dalam waktu yang bersamaan, sebenarnya Zhang Fei juga sedang menunggu. Menunggu kedatangan Yao Mei dan Yin Yin.


Menurut dugaannya, sangat mustahil kalau kedua gadis itu tidak mendengar ledakan keras dan pertarungan tadi ketika berada di dalam ruangan.


Tapi, mengapa sampai sekarang, mereka belum juga menampakkan diri? Apakah hal buruk telah menimpa keduanya?


Dewa Pedang Dari Selatan menengok ke kiri. Matanya juga memandang ke sekeliling.


"Percuma saja, dua orang istrimu itu tidak akan datang. Sebab sekarang mereka telah tertidur pulas," kata orang yang bertubuh gemuk.


"Maksudmu? Apa yang telah kalian lakukan kepadanya?" Zhang Fei berkata dengan nada tinggi. Zhang Fei sangat khawatir kalau mereka telah membuatnya celaka.


"Tenang saja, anak muda," sambung pria tua yang bertubuh tinggi kurus. "Dua orang istrimu masih baik-baik saja. Kami hanya menotok urat tidurnya supaya mereka bisa bermimpi lebih lama,"


Zhang Fei tidak langsung percaya dengan ucapannya. Ia lebih dulu mengawasi wajah orang itu dan menebak apakah dia sedang berbohong atau tidak.


Begitu dipastikan ia berkata serius, saat itulah Zhang Fei bisa bernafas lega.


"Sebelum kita bertarung lebih serius, aku ingin tahu dulu siapa kalian ini," katanya sambil menatap mereka secara bergantian.


"Hemm ... sepertinya kau benar-benar ingin tahu siapa kami. Baiklah, anggap saja ini hadiah supaya kematianmu tidak penasaran," kata si gemuk sambil tertawa.


Setelah berganti nafas, ia segera memperkenalkan dirinya. "Namaku Yo Han. Aku biasa dipanggil si Golok Pembelah Gunung,"


"Aku Wu Long. Orang-orang persilatan memanggilku si Pendekar Bambu Kembar," kata orang yang paling tengah.


"Namaku Yang Ji. Julukanku adalah si Pendekar Jubah Darah," ucapnya dengan nada dingin.


Zhang Fei menahan nafasnya untuk beberapa saat. Mendengar julukan mereka saja, dia sudah tahu setinggi apa kemampuannya.


"Di negeri Lhasa tempat kami mengembara, orang-orang persilatan memberikan kami julukan Tiga Iblis Bawah Tanah!" ucap si Golok Pembelah Gunung menerangkan lebih lanjut.


"Hemm ... dari semua julukan itu saja, aku sudah tahu bahwa kalian ini tentunya adalah tokoh kelas atas," ucap Zhang Fei dengan nada hambar.


"Hahaha ... ternyata kau pintar juga, anak muda. Jadi bagaiamana. Setelah mengetahui siapa kami, apakah kau akan menyerah sekarang juga?"


"Kalau soal itu, sampai mati pun aku tidak akan melakukannya," jawab Zhang Fei sambil tersenyum sinis.


"Rupanya kau ketas kepala juga. Tapi baiklah, aku pun ingin tahu setinggi apa kemampuanmu yang sebenarnya!"


Wushh!!!


Si Golok Pembelah Gunung langsung menerjang ke depan. Dia memberikan pukulan dan tendangan dalam waktu yang hampir bersamaan.


Walaupun tubuhnya gemuk seperti bola, tali ternyata gerakannya sangat cepat. Ilmu meringankan tubuh yang dia kuasai tidak berada jauh dari Zhang Fei sendiri.


Benturan tangan dan kaki segera terdengar. Kedua tokoh dunia persilatan itu terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.


Mereka tidak mau berhenti sampai di situ saja. Keduanya kembali menyerang dengan jurus tangan kosongnya masing-masing.


Kepalan tangan si Golok Pembelah Gunung yang besar dan kekar itu sudah tiba di depan mata. Ia siap memukul ke arah wajah.


Tapi dengan cepat Zhang Fei menggerakkan kepalanya ke kiri. Sehingga pukulan tersebut bisa lewat begitu saja.


Namun detik selanjutnya, tangan kiri orang itu sudah datang menyusul. Ia melancarkan pukulan ke arah lambung.


Plakk!!!


Zhang Fei menahan dengan tangan yang sama. Selanjutnya dia langsung memukul orang itu dengan tangan kanannya. Tetapi hasilnya juga sama. Pukulan tersebut bisa ditahan cukup mudah.