Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pertempuran di Gedung Ketua Dunia Persilatan Il


Pertempuran yang tersisa saat ini tinggal pertempuran utama saja. Para tokoh dunia persilatan sudah menemukan lawannya masing-masing.


Di sisi sebelah sana, terlibat Yao Mei sedang bertarung sengit melawan salah seorang petinggi dari Partai Panji Hitam.


Secara kebetulan, orang yang dia lawan pun ternyata merupakan pendekar pedang kembar. Hal itu membuat pertarungan yang berjalan, tampak lebih seru dan sengit lagi.


Sampai sejauh ini, setidaknya mereka telah bertarung lebih dari dua puluh jurus. Jalannya pertarungan masih seimbang.


Petinggi itu terus berusaha mendesak Yao Mei. Namun gadis itu sendiri, selalu bisa menahan atau menangkis setiap serangan yang diberikan.


Sepasang pedang kembar saat ini sedang melesat dari arah kanan dan kiri. Petinggi itu sudah melepaskan salah satu jurus pamungkas miliknya.


Tidak mau kalah dari pihak lawan, Yao Mei pun segera melakukan tindakan yang sama. Dia melompat lalu menerjang ke depan.


"Dua Pedang Menjadi Satu!"


Wutt!!!


Yao Mei berteriak lantang. Jurus pedang yang dahsyat langsung keluar. Sepasang pedang kembar di tangannya tiba-tiba bergerak begitu cepat.


Dua batang pedang itu seolah-olah telah menyatu satu sama lain. Hal tersebut menyebabkan serangannya yang semakin hebat dan mematikan.


Petinggi yang menjadi lawannya kewalahan. Jurus pamungkas yang ia gelar tidak mampu memberikan banyak keuntungan. Yang terjadi malah sebaliknya. Dia dipaksa untuk terus berada di posisi bertahan.


Jurus Yao Mei datang dari segala penjuru. Tendangan kaki kanan yang mengenai tulang rusuk lawannya, membuat dia terdorong sejauh tiga langkah. Petinggi itu terhuyung-huyung dan kehilangan keseimbangannya.


Dia hampir terjatuh ke atas tanah. Namun sebelum tubuhnya benar-benar tersungkur, tahu-tahu ada dua batang pedang yang datang dari arah depan.


Slebb!!!


Sepasang pedang kembar Yao Mei dengan telak menembus dadanya. Dada kanan dan kiri menjadi sasaran dari pedang pusaka tersebut.


Tidak mau membuang waktu lebih lama, Yao Mei segera mencabut kembali pedang kembarnya. Setelah itu, tubuh petinggi tersebut langsung ambruk ke tanah.


Sementara di sisi lain, di sana terlibat ada Pendekar Tombak Angin dan Orang Tua Aneh Tionggoan yang bertarung tidak terlalu jauh.


Kedua Datuk Dunia Persilatan tersebut sedang menggempur petinggi dari Partai Panji Hitam. Mereka terus menyerang dengan jurus-jurus dahsyat miliknya.


Masing-masing petinggi yang menjadi lawan dari mereka berdua tidak mampu memberikan perlawanan berarti.


Sekitar lima jurus kemudian, keduanya tahu-tahu sudah tewas! Tewas dengan kondisi mengenaskan.


Pendekar Pedang dan Dewi Rambut Putih, saat ini terlihat sedang berdiri tegak di hadapan lawannya masing-masing yang sudah tidak bernyawa lagi.


Mereka terlihat tenang dan santai. Walaupun di mata pendekar lain, para petinggi itu mempunyai kemampuan yang lumayan tinggi, tetapi di mata mereka berdua, petinggi itu bukanlah apa-apa.


Kemampuan yang dimiliki oleh keduanya bahkan masih berada cukup jauh di bawah dua tokoh tersebut.


Jadi, tidak heran kalau mereka mampu membereskannya dalam waktu sekitar dua puluh jurus saja.


Sementara beberapa jarak di depan sana, ada juga Dewa Arak Tanpa Bayangan yang sedang mempermainkan Wakil Ketua Partai Panji Hitam.


Datuk Dunia Persilatan yang satu ini memang mempunyai sifat lain daripada rekan-rekannya. Di suatu keadaan tertentu, dia sangat suka untuk mempermainkan lawan dengan caranya sendiri.


Dan kebetulan, saat ini sifat 'jahilnya' tersebut sedang keluar. Sehingga dia tidak pernah serius dalam melancarkan serangannya.


Padahal kalau dia mau, mungkin sudah sejak tadi Wakil Ketua itu tewas. Tapi Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak mau melakukan hal tersebut.


"Cih! Menyentuh tubuhku saja kau tidak sanggup. Apakah benar seperti ini kemampuan seorang Wakil Ketua Partai Panji Hitam? Benar-benar memalukan!"


Dewa Arak Tanpa Bayangan melontarkan ejekan sambil terus melompat dan menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh lawannya.


Orang yang dimaki tidak menjawab. Dia menggertak gigi sekeras mungkin dan terus mencoba menyerang Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan berbagai macam jurus yang dikuasainya.


"Kalau aku menjadi Ketua Partai Panji Hitam, maka aku tidak akan menempatkanmu di posisi Wakil Ketua. Kau tidak pantas menjabat di posisi itu. Orang sepertimu hanya pantas menjadi tukang kebun,"


Orang tua itu tertawa lantang. Ia kemudian melompat tinggi dan bersalto di tengah udara sebagai upaya menghindarkan diri dari serangan tenaga sakti lawan.


"Julukanmu saja seram, si Pendekar Lembah Hitam. Tapi kenyataannya, kau tidak lebih seperti anj*ng yang bodoh,"


Makian demi makian terus ia lontarkan. Ekspresi wajah Wakil Ketua Partai Panji Hitam yang berjuluk Pendekar Lembar Hitam itu terus berubah-ubah.


Sebentar wajahnya memerah karena malu. Sebentar lagi memerah karena marah.


Sungguh, seumur hidup, rasanya dia baru mendapat makian seperti ini. Seumur hidup pula, dia baru bertemu lawan yang sangat tangguh seperti halnya Dewa Arak Tanpa Bayangan.


Sejak dimulainya pertarungan, padahal dia sudah mengeluarkan segenap tenaga dan kekuatannya. Tetapi ternyata, kemampuan yang dia miliki itu masih belum cukup untuk membunuhnya.


Padahal sejauh ini, orang tua itu sendiri belum mengeluarkan seluruh kemampuannya. Dia hanya mengeluarkan tujuh bagian tenaga dalam.


Dari sini, siapa pun yang melihatnya pasti sudah bisa mengukur setinggi dan sekuat apa Datuk Dunia Persilatan tersebut.


"Ah, sudahlah. Aku sudah tidak ingin bermain-main lagi denganmu. Kau terlalu lemah," katanya kembali memaki.


Kali ini, Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak hanya memberi makian saja. Satu tarikan nafas berikutnya, dia langsung melancarkan serangan dengan mengandalkan salah satu jurus pamungkas.


"Dewa Arak Mabuk Berat!"


Wushh!!!


Ia menerjang ke depan. Sepuluh jadi tangannya membentuk paruh burung elang. Orang tua itu menyerang dengan gerakan yang tidak beraturan.


Kadang-kadang dia memukul sekenanya, kadang-kadang pula dia menendang ke tempat yang kosong.


Serangannya seperti asal-asalan. Dia mirip layaknya orang yang mabuk berat.


Bagi orang awam, mereka pasti akan menganggap bahwa serangan itu tidak berbahaya sama sekali. Tetapi bagi para pendekar dunia persilatan, serangan tersebut justru sangat berbahaya sekali.


Katana dibalik gerakannya yang asal-asalan itu, ada suatu ancaman yang sulit untuk dihindari.


Pendekar Lembah Hitam bisa merasakan hal itu dengan jelas. Dan posisinya langsung berubah ketika Dewa Arak Tanpa Bayangan mempercepat gerakannya.


Untuk beberapa jurus lamanya, ia terus digempur dengan serangan yang bervariasi. Sekitar tujuh jurus kemudian, sebuah pukulan keras tiba-tiba dilancarkan oleh tokoh kelas atas itu.


Bukk!!! Bukk!!!


Ia memukul dengan punggung tangannya. Pukulan itu benar-benar dahsyat. Sampai-sampai Pendekar Lembah Hitam terlempar ke belakang sejauh sepuluh langkah.


Tubuhnya bergulingan beberapa kali. Ketika berhenti, nyawa Wakil Ketua Partai Panji Hitam itu sudah melayang.


Ia tewas akibat urat-urat penting di dekat jantungnya putus! Di bagian yang terkena pukulan tersebut, ada warna hitam yang dapat dilihat dengan jelas.


"Haah ..." Dewa Arak Tanpa Bayangan menghembuskan nafas panjang. Dia kemudian berjalan menghampiri para tokoh yang sudah menunggu di belakangnya.