Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Dikeroyok


Zhang Fei tiba-tiba tersenyum dingin. Melihat reaksi dari ketiga orang tua yang masih merupakan petinggi Partai Gunung Pedang itu, dia mendapati firasat bahwa mereka sebenarnya tahu atas apa yang telah dilakukan oleh Wakil Ketuanya beberapa waktu lalu.


Hanya saja, orang-orang tersebut sengaja menyembunyikan hal itu supaya tidak menjadi bahan olok-olok kaum dunia persilatan.


Bahkan dia pun mempunyai firasat, kedatangan mereka kemari bersama yang lain, adalah untuk membunuhnya.


Bagaimanapun juga, Wakil Ketua itu pasti mempunyai anggapan bahwa Zhang Fei akan menyebarkan berita memalukan ini. Karena itulah, sebelum hal yang ditakutkan benar-benar terjadi, dia telah mengutus orang-orangnya ke bekas markas Organisasi Bulan Tengkorak.


"Yang membuat malu itu bukan aku, melainkan Wakil Ketua kalian sendiri. Sungguh, aku tidak habis pikir. Kenapa orang tua berjuluk Pendekar Pedang Emas itu, ternyata mau melakukan perbuatan rendahan ini?"


Ucapan yang dilontarkan oleh Zhang Fei semakin pedas terdengar di telinga. Dia sengaja melakukan hal tersebut, tak lain adalah karena ingin memancing emosi lawan.


Terutama sekali tiga petinggi Partai Gunung Pedang itu!


"Bocah busuk! Semakin lama, mulutmu semakin berani. Aku jadi ingin merobeknya," petinggi yang berdiri di posisi paling tengah bicara. Nampaknya kemarahan di tubuhnya sudah naik sampai ke ubun-ubun kepala.


"Sudahlah, orang tua. Lebih baik akui saja kenyataan ini. Jangan pernah sembunyi dibalik kesalahan seperti orang-orang pengecut,"


Anak muda itu masih mencoba memancing emosi lawannya. Dia ingin tahu, sampai di mana kesabaran ketiga orang tua itu.


Memang, di antara lima belas pendekar yang datang ke bekas markas Organisasi Bulan Tengkorak, yang paling merasa kesal hanyalah tiga orang tersebut.


Tentu saja, sebab hal itu sangat beralasan.


Pertama, karena yang melarikan diri dari medan pertempuran itu adalah Wakil Ketuanya. Kedua, adalah karena mereka tidak ingin kejadian memalukan ini sampai bocor ke dunia ramai.


"Tutup mulutmu, anak muda! Rasakan ketajaman pedangku ini!"


Karena sudah tidak bisa menahan amarahnya, petinggi di posisi tengah itu tiba-tiba menerjang ke depan. Begitu turun tangan, dia langsung mencabut sebatang pedang yang selalu dibawanya.


Tebasan pedang datang dari samping kanan. Dia langsung mengincar batok kepala!


Tapi Zhang Fei sudah siap dengan hal itu. Bahkan ia juga sudah menduganya sejak awal.


Karenanya, begitu lawan menyerang, dia bisa menghindar dengan cukup mudah.


"Bagus. Pantas mulutmu berani. Ternyata cukup mempunyai kemampuan juga," kata orang tua itu setelah serangan pertamanya gagal.


"Ini belum seberapa. Aku bahkan bisa membunuhmu dengan mudah," ujarnya mengejek.


"Kentut busuk! Mampus kau!"


Orang tua itu pun akhirnya menyerang kembali. Kali ini, serangan yang ia berikan lebih ganas dan berbahaya dari sebelumnya.


Sebatang pedang itu sekarang sedang berusaha mencabik-cabik seluruh tubuh Zhang Fei. Hawa pedang terasa merobek udara hampa.


Anak muda itu tersenyum dingin. Beberapa kali ia melakukan gerakan untuk menghindari serangan musuh. Tapi karena semakin lama, orang tua itu semakin berniat membunuhnya, maka Zhang Fei pun tentunya tidak bisa tinggal diam lagi.


Pada saat menemukan waktu yang tepat, dia langsung mencabut keluar Pedang Raja Dewa dari punggungnya.


Sringg!!!


Pedang pusaka itu dilolos keluar. Cahaya kemilau segera terlihat. Hal itu menandakan betapa tajam dan berbahayanya senjata tersebut.


Si orang tua tidak tinggal diam lebih lama. Kembali dirinya menyerang dengan jurus pedang khas dari partainya.


Namun kini, setelah Zhang Fei mencabut pedang pusaka itu, maka usahanya menjadi tidak mudah lagi. Benturan nyaring mulai terdengar. Awalnya Zhang Fei tidak berniat untuk melukai. Dia hanya ingin menangkis setiap serangan yang diberikan oleh musuh.


Jurus pertama dari Kitab Pedang Dewa sudah digelar. Perlawanan mulai sengit. Petinggi Partai Gunung Pedang itu kaget saat menyaksikan jurus pedang lawannya.


Gulungan sinar putih keperakan segera menyilaukan mata. Anak muda itu mulai membalikkan keadaan. Meskipun pengalaman musuh lebih banyak darinya, tapi soal usia, jelas dia pemenangnya.


Maka dari itu, tidak heran apabila di petinggi mulai kesulitan dalam menghadapi Zhang Fei.


"Sampai kapan kalian menjadi penonton?"


Di tengah-tengah jalannya pertarungan, mendadak ia berkata kepada semua rekannya. Dia sungguh kesal kenapa mereka masih diam. Padahal sudah jelas bahwa dirinya mulai terdesak.


Sementara itu, ucapan barusan seolah-olah menyadarkan mereka semua dari lamunan. Secara serentak, para pendekar tua tersebut langsung mencabut senjata dan menyerang Zhang Fei.


"Bagus. Ternyata benar apa kata guruku. Orang-orang aliran putih sekarang, tidak ada bedanya dengan aliran hitam," kata anak muda itu setelah dia melihat lawannya main keroyok.


Diam-diam, Zhang Fei mengeluh di dalam hati. Kalau dirinya harus melawan mereka secara bersamaan, maka kesempatan untuk menang rasanya sungguh mustahil. Apalagi kemampuan para pendekar tua itu, berada satu atau dua tingkat di atasnya.


'Kalau keadaannya terus seperti ini, aku pasti bakal mampus,' batinnya berkata.


Zhang Fei mulai kebingungan. Untuk menang, sudah tentu tidak mungkin. Tapi dia juga tidak mau tewas sekarang.


Tugasnya masih banyak. Perjalanannya pun masih sangat panjang. Dah lagi, impiannya sama sekali belum tercapai.


Bagaimana mungkin dia boleh mampus? Tidak, dia tidak boleh mati di tangan mereka.


"Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan!"


Wushh!!!


Setelah posisinya semakin terdesak, tiba-tiba pemuda itu berteriak lantang. Dia langsung mengeluarkan jurus keempat dari Kitab Pedang Dewa. Jurus terakhir yang baru dia kuasai saat ini.


Cahaya putih seakan-akan menutupi alam semesta. Gulungan sinar pedang langsung menggulung ke arah lima belas pendekar tua itu.


Mereka kaget setengah mati setelah melihat bahwa anak muda itu ternyata mempunyai jurus yang dahsyat.


Orang-orang itu juga berusaha untuk mengeluarkan jurus hebatnya masing-masing. Hanya saja, usaha tersebut selalu menemui halangan.


Zhang Fei sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengeluarkannya!


Setelah mengeluarkan jurus Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan, situasi di arena pertarungan sedikit mengalami perubahan.


Dia yang tadinya berada di bawah angin, secara perlahan mulai bisa menyeimbangkan keadaan. Pedang Raja Dewa terus menerus memberikan ancaman kepada mereka yang berada di dekatnya.


Setiap serangan anak muda itu tidak pernah terhenti. Melainkan sambung-menyambung dan selalu mengincar titik rawan di tubuh manusia.


Sekitar sepuluh jurus kemudian, perjuangannya mulai menemui hasil. Dua orang pendekar tua mengalami luka berat. Mereka tidak mampu melanjutkan pertarungan lagi.


Melihat hal itu, Zhang Fei merasa girang. Ia kembali menyerang dengan ganas.


Tapi untuk yang sekarang, dia juga menemui kesulitan. Apalagi setelah tiga petinggi Partai Gunung Pedang mengeluarkan jurus gabungan miliknya.


Sinar pedang milik Zhang Fei mulai redup. Diganti dengan cahaya keperakan dari pihak lawan. Beberapa saat dia berusaha bertahan, tapi hal tersebut tidak bisa berlangsung lama.


Apalagi, dari setiap penjuru terdapat serangan yang mampu mencabut nyawanya.