
"Maaf, aku telah datang terlambat," kata Zhang Fei begitu di sudah berada di depan Empat Datuk Dunia Persilatan.
"Ah, tidak perlu meminta maaf, anak Fei," kata Orang Tua Aneh Tionggoan menjawab cepat. "Lagi pula, kami pun belum lama tiba di sini,"
Yang lainnya segera ikut menganggukkan kepala. Sekarang Zhang Fei sudah duduk di kursi yang tersedia. Bau harum makanan mewah dan lezat yang ada di hadapan mereka, membuat perut berbunyi.
"Mengapa masih diam saja? Mari kita makan," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Dia langsung mengambil alat-alat makan. Begitu pula dengan yang lain. Karena tidak mau membuang-buang waktu, mereka pun segera menyantap semua hidangan tersebut.
Kegiatan sarapan pagi itu dilangsungkan dengan khusu. Lima orang tersebut tidak ada yang berbicara. Sehingga hanya dalam waktu sebentar saja, semua makanan yang tadi memenuhi meja, sekarang tinggal tersisa piring-piringnya saja.
Beberapa saat kemudian, setelah semua kegiatan selesai, Dewa Arak Tanpa Bayangan segera mengajak yang lainnya untuk segera berlalu dari sana.
"Mari kita menuju ke Istana Kekaisaran sekarang. Aku takut Kaisar sudah menunggu kedatangan kita,"
"Benar," sahut Dewi Rambut Putih sambil menganggukkan kepala. "Lagi pula, kita tidak boleh membuang waktu dengan percuma,"
Setelah semuanya setuju, mereka langsung bangkit dari tempat duduk masing-masing dan segera keluar dari rumah makan itu.
Suasana pagi hari di Kotaraja sangat ramai. Di jalan raya pun sudah banyak orang-orang yang berlalu-lalang. Tidak hanya warga sekitar saja, malah para wisatawan pun sudah ada yang pergi ke tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi di hari itu.
Bau harum menu sarapan pagi dan teh hangat yang dituang ke dalam cawan tercium menusuk hidung. Bau-bau semacam itu terus tercium di setiap tempat.
Lima orang tokoh dunia persilatan itu berjalan secara beriringan. Kehadiran mereka di tengah-tengah banyak orang, diketahui sebagian pendekar rimba hijau.
Mereka yang melihatnya, ada yang langsung membungkukkan badan memberi hormat, dan ada pula yang melemparkan senyuman hangat.
Sepanjang jalan, secara tidak langsung kelima orang tersebut menjadi pusat perhatian. Banyak orang yang merasa senang karena bisa bertemu dengan Empat Datuk Dunia Persilatan secara bersamaan.
Di samping itu, orang-orang tersebut juga merasa kagum kepada anak muda yang berjalan beriringan dengan para tokoh angkatan tua tersebut.
"Siapa anak muda itu?"
"Aku rasa dia bukan anak muda sembarangan,"
"Hebat benar pemuda itu, bisa berjalan bersamaan dengan Empat Datuk Dunia Persilatan,"
Bisikan-bisikan seperti itu terdengar tanpa henti di antara kerumunan orang-orang yang ada. Mereka pun terus memandangi Zhang secara diam-diam.
Sementara itu, tanpa sadar kelima orang tersebut sudah tiba di perempatan besar. Baru saja mereka sampai, tiba-tiba dari arah depan sana ada serombongan orang berkuda. Yang menaikinya adalah para prajurit Kekaisaran dengan menggunakan pakaian lengkap.
Di posisi paling depan, ada pula seorang pria tua yang mengenakan pakaian serba mewah. Dari jarak jauh saja, siapa pun sudah bisa merasakan kewibawaan besar yang keluar dari tubuhnya.
Bersamaan dengan semua hal tersebut, Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan seketika menghentikan langkah. Mereka memandangi rombongan berkuda tersebut.
"Selamat datang di Kotaraja, Tuan-tuan. Maaf kalau kami terlambat menyambut kedatangan kalian," kata pria tua yang memimpin rombongan berkuda setelah dia turun dari atas kudanya.
"Aih, rupanya Jenderal Guan," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tersenyum hangat.
Ternyata pemimpin rombongan berkuda itu bukan lain adalah Jenderal Qi Guan. Orang yang paling berjasa dalam pertempuran di perbatasan Timur beberapa waktu lalu.
Jenderal Qi Guan tertawa hangat kepadanya. "Apa kabar kalian semua?" tanyanya menyapa lima orang tersebut.
"Kabar kami baik, Jenderal Guan," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan cepat. "Bagaimana dengan dirimu sendiri?"
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba dari belakang muncul lima orang prajurit. Masing-masing dari mereka menuntun satu ekor kuda dan langsung diberikan kepada para tamu istimewa tersebut.
"Terimakasih,"
Setelah menaiki kuda, orang-orang tersebut langsung berjalan bersama-sama menuju ke Istana Kekaisaran.
###
Sekitar belasan menit kemudian, rombongan tersebut akhirnya tiba di depan pintu gerbang. Para penjaga yang ada di sana segera membukakan pintu yang tinggi dan kokoh itu.
Halaman Istana Kekaisaran ternyata benar-benar luas. Di sana juga terdapat beberapa taman bunga dan kolam-kolam yang berisi ikan hias.
Ratusan orang prajurit berdiri sejajar di kanan dan kiri jalan. Mereka langsung memberikan hormat ketika Jenderal Qi Guan dan yang lain melewatinya.
"Rupanya Kaisar benar-benar mempersiapkan segalanya," kata Zhang Fei berbisik kepada Orang Tua Aneh Tionggoan yang kebetulan berada di sisinya.
"Kau benar, anak Fei. Aku sendiri tidak menduganya,"
Pada dasarnya, kelima orang tersebut memang tidak pernah menyangka bahwa kedatangan mereka akan disambut semewah ini.
Perasaan Zhang Fei saat ini tidak karuan. Ada rasa senang, bangga, ada pula perasaan terharu.
Terhadap hal yang dialaminya sekarang, Zhang Fei merasa semua ini seolah-olah mimpi di dalam tidurnya.
Setelah beberapa waktu kemudian, akhirnya rombongan tersebut tiba juga di pintu utama. Di sana ada lagi belasan orang yang menyambutnya.
Selesai saling hormat satu sama lain, dia langsung membawa semua tamunya masuk ke dalam Istana Kekaisaran.
Ruangan utama itu benar-benar mewah. Di dalamnya terdapat banyak benda-benda antik yang bernilai tinggi. Pada dinding ruangan, ada banyak pula lukisan yang merupakan hasil karya pelukis terkenal di Tionggoan.
Zhang Fei memandangi semua itu dengan tatapan mata penuh kekaguman. Sampai saat ini, dia masih tidak percaya bahwa dirinya bisa masuk ke dalam Istana dan bahkan bakal langsung bertemu langsung dengan Kaisar.
Tanpa terasa, mereka sudah sampai di sebuah ruangan. Dua orang penjaga di sana tampak memberikan hormat kepada Jenderal Qi Guan.
"Silahkan masuk, Jenderal. Kaisar sudah menunggu," kata salah satu dari mereka.
"Baik. Terimakasih,"
Dua penjaga langsung membuka pintu. Jenderal Qi Guan segera mengajak yang lain masuk ke dalam. Ternyata, ruangan itu adalah tempat khusus yang hanya digunakan untuk menerima tamu-tamu istimewa.
Di dalam sana ada seorang pria berumur sekitar enam puluhan tahun yang sedang duduk di atas kursi mewah yang berukir seekor naga.
Pria itu mengenakan pakaian yang sangat mewah. Jubahnya terbuat dari sutera emas yang ditaburi intan permata.
Wajahnya tampan dan berwibawa. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan langsung merasa segan.
Pria yang dimaksud tersebut bukan lain adalah orang nomor satu di Tionggoan, khususnya di Kekaisaran Song. Kaisar Song Kwi Bun adanya!
Di belakang Kaisar ada lagi dua orang bertubuh tinggi besar. Kedua orang itu mengenakan pakaian warna putih. Di punggungnya masing-masing terdapat sebatang pedang.
Tatapan mata mereka benar-benar tajam dan tidak berperasaan. Siapa pun yang memandang mata itu, ia pasti akan langsung bergidik ngeri.