
"Oh, dia adalah sahabat baikku dalam dunia persilatan. Dirinya mengundangku untuk datang ke Hutan Barat," jawabnya sambil memasukkan surat tadi ke dalam saku baju.
"Kapan dia akan mengundangmu datang?"
"Tiga hari lagi, anak Fei,"
"Apakah aku boleh ikut?"
"Tentu saja,"
"Baiklah, terimakasih, Tuan Kai,"
Orang Tua Aneh Tionggoan tersenyum. Ia kemudian mengajak Zhang Fei untuk kembali melanjutkan perjalanannya.
Sesaat kemudian, terlihat dua ekor kuda yang dilarikan dengan sangat kencang sehingga mengepulkan debu tebal yang membumbung tinggi.
Sekitar sepuluh menit berikutnya, dua orang itu sudah tiba di pusat kota.
Ternyata, kota yang mereka singgahi sekarang merupakan kota yang tidak terlalu besar. Namun meskipun demikian, keadaan di sana terbilang cukup ramai.
Di sepanjang jalan besar, banyak berlalu-lalang para pelancong yang berasal dari berbagai daerah.
Keduanya kemudian mencari sebuah rumah makan sederhana. Setelah menemukannya, mereka langsung menuju ke sana.
Seorang pelayan rumah makan segera datang menghampiri dan menanyakan pesanan.
"Pesan nasi sayur dua, arak keras dua guci," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Baik, Tuan. Silahkan menunggu sebentar,"
Pelayan itu lalu kembali ke belakang untuk segera menyiapkan pesanan pelanggannya.
Keadaan di rumah makan pada saat itu cukup ramai. Apalagi sekarang adalah jam makan siang. Karenanya tidak heran apabila semua meja yang ada hampir terisi penuh.
Untunglah rumah makan yang dikunjungi mempunyai beberapa orang karyawan, sehingga meskipun sedang ramai, namun mereka bisa menyediakan pesanan pelanggan dengan cepat.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Zhang Fei dan Orang Tua Aneh Tionggoan sudah keluar dari rumah makan tadi. Saat ini mereka sedang berjalan di sebuah jalanan besar.
Keduanya mengikuti terus jalan yang panjang itu sambil mengawasi keadaan sekitar. Begitu tiba di penghujung jalan, tiba-tiba mereka menyaksikan ada sepuluh orang yang sedang memeras para pedagang kecil.
"Cepat berikan semua hasil daganganmu!"
"Ayo keluarkan seluruh uangmu,"
"Tidak perduli usahamu laku atau tidak, yang jelas kami minta semua hasil yang ada,"
Ucapan-ucapan seperti terdengar silih berganti. Sepuluh orang tersebut memaksa para pedagang kecil yang ada di sana.
Karena takut mendapatkan musibah, akhirnya dengan berat hati mereka segera memberikan hasil jerih payahnya hari ini.
"Manusia-manusia biadab!" kata Zhang Fei sambil mengepalkan tangan.
Dia marah melihat tingkah laku sepuluh orang itu. Darahnya langsung naik ke atas, ia siap untuk memberikan pelajaran.
"Tahan dulu, anak Fei. Jangan bertindak gegabah, lebih baik kita selidiki dulu siapa mereka," kata Orang Tua Aneh Tionggoan menahan niatnya.
"Tapi, Tuan, mereka sudah memeras para pedagang kecil. Kita tidak bisa diam melihat hal ini,"
"Aku tahu. Tapi mereka hanyalah suruhan. Orang-orang itu pasti mempunyai pemimpin,"
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Sebentar lagi kau akan segera mengerti,"
Orang Tua Aneh Tionggoan segera berjalan ke depan sana. Dia menghampiri salah satu pedagang yang menjadi korban pemerasan.
"Orang tua, siapa mereka?" tanyanya dengan nada kaku.
"Mereka adalah orang-orang jahat, Tuan. Mereka selalu memaksa kami supaya memberikan hasil dagangan,"
"Mereka melakukan hal itu setiap hari?"
"Benar, Tuan,"
"Apakah mereka berasal dari sebuah organisasi?"
"Kalau aku tidak salah, iya. Namanya Kelompok Bunga Merah,"
"Kelompok Bunga Merah? Di mana markas mereka?"
"Di sebelah sana," kata pedagang tua itu sambil menunjuk ke salah satu bangunan megah.
"Oh, baiklah. Terimakasih informasinya,"
"Bagaimana, Tuan?"
"Ikut saja denganku,"
Tanpa banyak membuang waktu lagi, Orang Tua Aneh segera menaiki kuda dan melarikannya dengan kencang menuju ke markas Kelompok Bunga Merah.
Karena jaraknya tidak terlalu jauh, maka dalam waktu singkat saja mereka sudah tiba di tempat tujuan.
"Sepertinya ini markas Kelompok Bunga Merah," gumamnya sambil memperhatikan bangunan megah yang tidak berada jauh dari tempatnya berada.
"Apakah orang-orang tadi adalah anggota Kelompok Bunga Merah?"
"Sepertinya begitu,"
"Baiklah. Aku akan memberikan pelajaran kepadanya,"
Zhang Fei langsung menggeprak kudanya. Kuda jempolan itu berlari kencang menuju ke pintu gerbang. Begitu sampai di sana, ia langsung mengirimkan pukulan jarak jauh dengan tenaga cukup besar.
Blamm!!!
Pintu gerbang yang terbuat dari kayu itu langsung hancur berkeping-keping. Para penjaga yang ada segera berlarian mencari tempat aman.
"Siapa yang menjadi pemimpin dari Kelompok Bunga Merah ini?" tanya Zhang Fei dengan suara lantang.
"Hei, manusia mana yang berani mengacau di sini? Apakah kau sudah bosan hidup?"
Seorang pria bertubuh tinggi tiba-tiba muncul di depannya. Kemudian di belakang orang itu, ada pula puluhan anggota Kelompok Bunga Merah.
"Jangan banyak bicara. Suruh keluar pemimpinmu," katanya dengan tegas dan penuh wibawa.
Pada saat itu Zhang Fei sudah terburu nafsu. Dari dulu, dia paling tidak suka melihat penindasan. Apalagi penindasan itu dilakukan terhadap orang-orang kecil. Karena itulah tidak heran apabila kemarahannya sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Ada perlu apa kau mencari pemimpin kami?"
"Aku ingin memenggal kepalanya supaya rakyat dan pedagang kecil di kota ini bisa hidup tenang,"
"Kurang ajar. Tutup mulutmu anak muda!"
Orang tinggi kekar yang diduga pemimpin dari puluhan anggota itu bicara dengan mata melotot. Sesaat kemudian, dia sudah mencabut golok dan diikuti oleh yang lainnya.
"Bunuh bocah ini!" ujarnya memberi perintah.
Wushh!!! Wutt!!! Wutt!!!
Puluhan bayangan manusia sudah berlompatan. Mereka siap menghajar Zhang Fei sampai meregang nyawa.
Sementara itu di belakangnya, Orang Tua Aneh Tionggoan masih terlihat duduk di atas punggung tangan kuda, dekat pintu gerbang yang hancur. Ia sengaja membiarkan Zhang Fei bertindak semau hatinya.
Apalagi dia pun setuju dengan langkah yang diambil oleh anak muda itu.
"Anak Fei, aku serahkan urusan ini kepadamu," katanya berteriak.
"Baik, Tuan. Kau diam saja di sana sambil minum arak," jawab Zhang Fei sambil melompat dari punggung kuda.
Wushh!!!
Ia mengibaskan kedua tangannya ketika masih berada di tengah udara. Kibasan tangan itu mendatangkan deru angin yang cukup kencang. Puluhan anggota tadi langsung terlempar ke segala arah.
Wutt!!!
Selesai melakukan hal itu, Zhang Fei segera melanjutkan serangannya. Ia menyerang si pemimpin tadi dengan mengirimkan lima pukulan beruntun.
Pemimpin itu terkejut melihat kemampuannya. Namun dengan cepat dia kembali menguasai diri dan langsung menyambut serangan.
Wutt!!! Wutt!!!
Golok tajam di tangannya di gerakkan. Bayangan golok langsung memenuhi udara.
Clangg!!!
Suara nyaring terdengar. Entah bagaimana caranya, tapi tahu-tahu golok itu sudah patah menjadi dua bagian.
Bukk!!!
Pemimpin tersebut langsung terlempar jauh ke belakang sana setelah salah satu pukulan Zhang Fei dengan telak menghantam tubuhnya.
Dalam waktu yang sangat-sangat singkat itu, dirinya telah membuat kekacauan di markas Kelompok Bunga Merah.
"Mana pemimpin kalian?" tanyanya kembali sambil berteriak.