
Dua orang tokoh yang dipanggil namanya langsung berjalan dari tenda masing-masing menuju ke tengah arena. Begitu berhadapan, satu sama lain segera membungkukkan badan dan memberikan hormat.
Bagi orang yang tidak tahu, hal ini mungkin akan disebut wajar. Tetapi bagi yang tahu, maka dari gelagat itu saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa dua Kekaisaran tersebut memang telah mengadakan kerjasama.
"Hemm ... saat berhadapan dengan Pendekar Tangan Bayangan dan aku, orang-orang dari dua Kekaisaran itu tidak pernah memberikan hormat. Tapi sekarang ... ketika keduanya dipertemukan, masing-masing langsung membungkuk. Memang keparat manusia-manusia itu," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan memaki-maki kedua tokoh yang ada di tengah arena tersebut.
Dia jelas kesal dengan kejadian itu. Karena pada saat berhadapan dengannya, orang-orang itu tidak mau menghormat. Bahkan membalas penghormatan yang dia berikan pun seolah-olah tidak sudi.
Sebaliknya, mereka malah memandang sebelah mata kepada dirinya.
"Tenang Tuan Kiang. Ini bukan persoalan besar, kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti," bisik Pendekar Tombak Angin sambil tersenyum.
Dewa Arak Tanpa Bayangan segera mengangguk, tetapi dia tidak berbicara lagi.
Sementara itu, di tengah arena, kini Pendekar Pedang Hijau dan Pendekar Empat Pedang sudah terlihat mulai bertarung.
Gerakan keduanya sama-sama cepat. Bahkan mereka juga sama-sama memiliki kelincahan yang hampir setara.
Orang-orang dengan kemampuan rendah pasti tidak akan bisa melihatnya dengan jelas. Tapi bagi mereka yang sudah memiliki kemampuan tinggi, tentu saja masih bisa menyaksikan apa yang terjadi sebenarnya.
"Mereka sedang bertarung, atau sedang menari?" Zhang Fei bertanya-tanya sambil tetap memandang ke depan sana.
"Ternyata Ketua Fei juga menyadari akan hal ini," ucap Pendekar Pedang Perpisahan sambil berbisik di telinganya.
"Ya, tentu saja, Tuan Wu. Apalagi kedua mataku juga masih normal,"
Pendekar Pedang Perpisahan mengangguk-angguk beberapa kali. Dia pun memahami bagaimana perasaan Zhang Fei saat ini.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus mengambil tindakan," katanya dengan tegas.
"Tahan, Ketua Fei!" Kaisar Song Kwi Bun yang sejak awal tidak banyak bicara, tiba-tiba saja berkata tidak kalah tegasnya.
Ia kemudian melirik ke arah Zhang Fei dan melanjutkan ucapannya. "Apa yang akan Ketua Fei lakukan?" tanyanya lebih lanjut.
"Aku akan menghentikan pertarungan mereka dan menanyakan kenapa keduanya tidak berani menyerang secara serius,"
"Jangan bercanda, Ketua Fei,"
"Aku tidak bercanda, Kaisar. Aku serius," walaupun dia sudah kesal, tapi sebisa mungkin Zhang Fei berusaha untuk tetap berbicara sopan kepadanya.
Kaisar terlihat tersenyum simpul. Namun walaupun bibirnya tersenyum, ekspresi mukanya tetap datar. Seolah-olah dia tidak percaya bahwa Zhang Fei mampu melakukan tindakan.
"Pertarungan yang melibatkan Pendekar Pedang Hijau dan Pendekar Empat Pedang itu, bukanlah pertarungan kelas bawah. Meskipun mereka berdua tidak berani menyerang secara serius, tapi bukan suatu hal yang mudah untuk menghentikannya. Aku rasa, tidak banyak orang yang bisa melakukannya. Bahkan Tuan Kiang sendiri pun, mungkin tidak sanggup," ucap Kaisar yang pada saat itu sudah mengembalikan pandangannya ke depan sana.
Setelah mendengar ucapan tersebut, seketika amarah Zhang Fei langsung meluap. Ia mengepal kedua tangannya dengan kencang.
Bagaimanapun juga, dia adalah manusia yang memiliki hawa nafsu. Walaupun sudah berusaha sabar, tapi buktinya kesabaran yang dia lakukan tersebut tidak mendapatkan hasil.
Zhang Fei merasa diremehkan dan dipandang sebelah mata. Kalau ia diperlakukan seperti itu oleh orang lain, mungkin dirinya tidak akan terlalu menanggapi.
Tapi, bagaiamana jika yang memperlakukan hal itu adalah Kaisarnya sendiri? Orang yang dulu sangat percaya dan perhatian kepadanya.
Mengapa Kaisar bisa berubah pandangannya? Apakah hal itu disebabkan karena kejadian yang telah menimpanya beberapa waktu lalu?
Tanpa sadar, hawa pedang yang sangat tajam dan pekat tiba-tiba keluar dari setiap pori-pori di tubuhnya. Kaisar dan orang-orang di sisinya langsung kaget setengah mati.
Mereka semua langsung menoleh ke arah Zhang Fei dengan tatapan terkejut.
"Ketua Fei, kau ..."
Ucapan Kaisar Song Kwi Bun tidak bisa berlanjut. Sebab bertepatan pada saat itu, Zhang Fei sudah melesat dengan cepat ke depan sana.
Ia melesat bagaikan kilat. Tidak ada seorang pun yang dapat menahannya lagi. Lebih daripada itu, tidak ada seorang pun pula yang menyangka bahwa Zhang Fei akan mengambil langkah tersebut.
"Celaka!"
"Sepertinya Ketua Fei sudah tidak bisa lagi menahan emosi,"
"Anak muda itu sangat ceroboh!"
"Benar-benar bodoh! Kenapa dia nekad melakukan hal itu?"
Para Datuk Dunia Persilatan Kekaisaran Song memberikan komentarnya. Kebanyakan dari mereka tidak ada yang menyangka dengan langkah Zhang Fei.
Namun di antara semua komentar, rasanya hanya komentar Kaisar saja yang terdengar menyakitkan.
"Dia bukan bodoh! Dia hanya melakukan apa yang menurutnya pantas untuk harus dilaukan!" kata Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan tegas.
Kaisar kaget mendengar ucapan tersebut. Ia segera menoleh ke arahnya. Siapa sangka, pada saat yang bersamaan, ternyata Dewa Arak Tanpa Bayangan juga sedang menoleh.
Dua pasang mata yang tajam langsung bertemu.
Anehnya, sesaat kemudian justru malah Kaisar lah yang mengalihkan pandangan lebih dulu
"Kau benar, Tuan Kiang. Aku keliru, aku telah keliru. Aku telah memandang Ketua Fei sebelah mata, aku ini benar-benar Kaisar yang bodoh," ucapnya mengakui sambil merasa sangat menyesal.
Para Datuk Dunia Persilatan tidak ada yang berbicara. Mereka hanya sempat melirik sekilas sambil tetap menutup mulutnya.
Bersamaan dengan itu, ternyata Zhang Fei sudah tiba di tengah arena. Pada saat ia sampai di sana, pertarungan yang melibatkan dua tokoh kelas atas itu sedang berlangsung seru.
Walaupun di antara mereka tidak ada yang serius, tapi tetap saja pertarungan itu terlihat menegangkan.
Ketika dua batang pedang berkelebat dengan kecepatan tinggi, pada saat itulah dari arah lain, ada dua tangan manusia yang tiba-tiba masuk ke tengah-tengahnya.
Trang!!! Trangg!!!
Suara nyaring terdengar. Bunga api pun memercik dengan jelas.
Semua orang yang hadir memelototkan matanya. Kalau tidak melihat kejadian itu secara langsung, niscaya siapa pun tidak akan percaya dengan peristiwa ini.
Bagaiamana mungkin di dunia ini, ada orang yang bisa menghentikan pertarungan kelas atas dengan cukup mudah?
Semua orang pasti sepakat bahwa hal itu sangat mustahil.
Tetapi kalau kenyataan sudah terpampang di depan mata, mau bagaimana lagi?
Dalam pada itu, Pendekar Pedang Hijau dan Pendekar Empat Pedang terlihat baru menyadari akan situasi. Keduanya ikut memelototkan mata ke arah Zhang Fei.
"Hei, apa-apaan kau ini?"
"Apakah kau sudah gila? Mengapa kau berani sekali menghentikan pertarungan kami?"
Keduanya bertanya hampir secara bersamaan. Nada suara mereka saat itu antara marah dan kaget setengah mati.
Ditanya demikian, Zhang Fei segera memberikan senyuman dingin kepada mereka. Setelah itu, dengan ringan ia melepaskan dua batang pedang pusaka yang baru saja dipegangnya.