
Kini di halaman tersebut sudah terjadi lima arena pertarungan. Masing-masing dari tokoh yang terlibat sudah mengeluarkan kemampuannya tersendiri.
Benturan tulang dan benturan antar senjata tajam terdengar tiada henti. Percikan bunga api yang tercipta dari setiap benturan, tampak membumbung tinggi ke tengah udara.
Berbagai macam hawa senjata terasa dan cukup menekan area sekitar. Belasan jurus sudah berlalu kembali. Tapi lima pertarungan itu masih saja berlangsung sengit.
Di antara pertarungan yang ada, rasanya hanya pertarungan kolik Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Tian Lu saja yang paling menegangkan.
Kedua orang itu adalah tokoh angkatan tua dunia persilatan. Pengalaman bertarung mereka sudah kelewat banyak. Sehingga walaupun jurusnya masing-masing sangat cepat dan berbahaya, tapi sedikit banyak, kedua belah pihak masih bisa mengakalinya.
Hal itu tentu saja ditimbulkan dari pengalaman mereka pribadi.
Saat ini yang berada di posisi menyerang adalah Tian Lu. Dua buah tangannya bergerak cepet dan mampu mengeluarkan sinar transparan yang berasal dari tenaga sakti miliknya.
Sinar-sinar itu mirip seperti belasan ular yang datang dari setiap penjuru mata angin. Selama banyak tahun, rasanya Tian Lu sudah sangat jarang mengeluarkan jurusnya yang bernama Pukulan Ular Gunung tersebut.
Alasannya adalah karena jurus itu memerlukan tenaga yang sangat besar. Di sisi lain, jurus Pukulan Ular Gunung yang sekarang diperagakan juga sangat hebat, sehingga jarang ada musuh yang mampu melawannya.
Tian Lu merasa sayang untuk mengeluarkan jurus tersebut dalam setiap pertarungannya. Kalau jurus-jurus biasa saja mampu mengalahkan lawan, lalu untuk apa pula dia harus mengeluarkan jurus tingkat tinggi?
Bukankah hal tersebut terlalu berlebihan?
Akan tetapi siapa sangka, saat ini, mau tidak mau, pada akhirnya terpaksa dia harus mengeluarkan jurus itu kembali.
Jurus Pukulan Ular Gunung semakin terlihat sangat dahsyat. Bau busuk mendadak tercium dari setiap pukulan yang dilontarkan oleh Tian Lu.
Dewa Arak Tanpa Bayangan semakin waspada. Dia tahu, jurus pukulan yang sekarang dikeluarkan oleh lawannya itu mengandung rahasia tersendiri.
Salah satunya adalah jurus tersebut mengandung racun!
Walaupun racunnya tidak bisa dirasakan secara langsung, namun dia dapat mengetahui akan hal tersebut. Karena alasan itulah selama beberapa jurus belakangan, Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak berani mengadu telapak tangan maupun pukulan secara langsung.
"Dewa Arak Menggetarkan Langit!"
Orang tua itu tiba-tiba berteriak sangat nyaring. Suaranya begitu menggelegar bagaikan halilintar yang menyambar di siang bolong.
Belum selesai gema suara yang dihasilkan, mendadak dirinya meraih Guci Emas Murni. Ia lebih dulu menenggak arak dari dalamnya sebanyak beberapa tegukan.
Pada tegukan yang terakhir, Dewa Arak Tanpa Bayangan telah membuat Tian Lu terkejut.
Arak yang ia tenggak itu tidak ditelan seperti biasanya. Melainkan malah disemburkan dengan cepat ke tengah udara.
Wushh!!!
Butiran arak yang bertebaran di tengah udara terlihat bagaikan rintik air hujan di pagi hari. Bedanya, kalau air hujan terasa dingin, maka semburan arak barusan justru terasa panas.
Setelah itu, Dewa Arak Tanpa Bayangan kembali membentak. Ia kemudian melancarkan pukulan secara beruntun ke arah Tian Lu.
Sekarang setelah mengeluarkan jurus tersebut, dia tidak takut lagi terhadap racun yang terkandung dalam jurus Pukulan Ular Gunung.
Karena sebenarnya, salah satu manfaat dari arak yang sudah tersimpan di dalam Guci Emas Murni adalah bisa menetralkan racun.
Barusan Dewa Arak Tanpa Bayangan sengaja menyemburkannya ke tengah udara, dengan tujuan supaya orang-orang di sekitarnya tidak terkena efek dari racun tersebut.
Wutt!!! Wungg!!! Wungg!!!
Tian Lu semakin tertekan. Tenaganya saat ini sudah berkurang cukup banyak akibat terlalu lama menggunakan jurus Pukulan Ular Gunung.
Dia berada di posisi bimbang. Kalau terus menggunakan jurus Pukulan Ular Gunung, mungkin Tian Lu masih bisa mengimbangi setiap serangan Dewa Arak Tanpa Bayangan. Namun sayangnya hal tersebut akan membahayakan dia sendiri.
Karena ketika nanti tubuhnya sudah kehabisan tenaga, niscaya pada detik itu juga Tian Lu akan menjadi korban dari jurus ciptaannya sendiri.
Namun kalau dia menarik jurus tersebut, sudah tentu dirinya tidak akan mampu melayani semua serangan Dewa Arak Tanpa Bayangan. Hanya saja, benteng pertahanannya akan lebih kuat karena tenaga yang tersedia sudah tidak digunakan secara paksa lagi.
Kedua hal tersebut mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Tian Lu benar-benar bingung harus memilih yang mana.
Akibatnya serangan yang dia lancarkan tidak karuan lagi. Konsentrasinya juga buyar. Beberapa pukulan Dewa Arak Tanpa Bayangan telah berhasil mengenai tubuhnya dan menimbulkan rasa sakit yang tidak bisa digambarkan.
'Tidak ada pilihan lagi. Aku rasa, jalan terbaik satu-satunya adalah mengadu jiwa dengan tua bangka itu,' batin Tian Lu.
Dia sudah mengambil keputusan. Dirinya akan memilih pilihan pertama tadi!
Wutt!!!
Semua tenaga yang tersisa dikeluarkan detik itu juga. Posisinya langsung membaik. Situasi di arena pertarungan juga berbalik hanya dalam waktu singkat.
Kini giliran dia yang mencecar Dewa Arak Tanpa Bayangan. Datuk Dunia Persilatan itu terdesak. Ia sedikit kewalahan.
Pukulan Tuan Lu juga semakin banyak yang bersarang di tubuhnya.
"Mati kau, tua bangka!" teriak Tian Lu dengan nada lantang.
Wutt!!!
Pukulan terakhir segera dia lancarkan. Tangan kanannya mengarah ke bagian dada. Kalau sampai mengenai sasaran dengan telak, niscaya Dewa Arak Tanpa Bayangan akan langsung tewas seketika.
Apalagi pada saat itu dirinya terlihat seperti orang lemah. Seolah-olah dia sudah tidak memiliki kemapuan lagi untuk memberikan perlawanan.
Hal itu tentu saja membuat Tian Lu semakin gembira. Dia yakin, dirinya akan keluar sebagai pemenang.
Namun siapa nyana, tepat sebelum pukulan tersebut mengenai dada Dewa Arak Tanpa Bayangan, tiba-tiba dari arah kanan berkelebat bayangan kuning keemasan.
Wutt!!! Prakk!!!
Guci Emas Murni milik Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan telak mengenai batok kepala Tian Lu. Kepala orang tua itu langsung remuk, darah segar keluar dari setiap lubang di kepala.
Tanpa sempat mengatakan sesuatu, dia langsung ambruk ke tanah pada saat itu juga.
Tian Lu telah tewas! Tewas seca mengenaskan!
"Hahh ..." Dewa Arak Tanpa Bayangan menghembuskan nafas lega.
Harus diakui, pertarungan yang dia jalani barusan adalah salah satu pertarungan paling sengit dan menegangkan dalam sejarah hidupnya.
Tanpa berucap sepatah kata pun, orang tua itu segera menyeret tubuh Tian Lu ke pinggir arena. Dia langsung berjongkok dan melakukan pemeriksaan kepadanya.
Sementara di satu sisi, pertarungan Orang Tua Aneh Tionggoan yang melawan dua orang pendekar kelas satu juga terlihat menarik.
Kedua orang itu rupanya merupakan ahli pedang lemas. Hal tersebut bisa dilihat saat ini, mereka sedang mencecar Orang Tua Aneh Tionggoan dengan jurus-jurus pedang yang digabungkan satu sama lain.