
"Hahaha ..." Biksu Sembilan Nyawa tertawa sangat lantang sekali. Ia pun tertawa dalam waktu yang cukup lama.
Para pendekar kelas rendah yang ada di sekitar area itu segera merasakan tubuhnya sedikit tergetar. Hal tersebut ditimbulkan dari suara Biksu Sembilan Nyawa yang memang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.
Jadi, tidak heran kalau para pendekar rendah itu sedikit terganggu.
Lewat beberapa saat kemudian, datuk sesat itu sudah selesai tertawa. Ia kembali menatap Zhang Fei dengan tatapan yang sangat tajam.
"Aku harus menyerah kepada bocah ingusan sepertimu? Jangan bermimpi, anak muda. Jangan mentang-mentang kau menjabat sebagai Ketua Dunia Persilatan sehingga berpikir bahwa semua orang tidak berani kepadamu. Sampai kapanpun, aku tidak akan mau menyerah," katanya dengan tegas.
Ia berhenti sebentar untuk mengambil nafas. Setelah itu segera berkata lagi. "Justru alasan aku mencarimu adalah karena ingin membalaskan dendam dia orang suruhanku,"
"Oh, maksudmu adalah Nenek Bungkuk Beracun dan Fu Wei?" tanya Zhang Fei memotong ucapannya.
"Kalau bukan mereka, siapa lagi?"
"Aku mengerti,"
"Kau memang harus mengerti. Karena itulah, aku tidak sudi untuk menyerah kepadamu,"
Biksu Sembilan Nyawa kemudian melirik kepada pria yang berada di sisinya. Walaupun dia juga sudah tua, tapi jelas umurnya masih berada di bawah ia sendiri.
"Wan Yu, bunuh pemuda keparat itu!" katanya sambil menunjuk ke arah Zhang Fei.
Orang yang dipanggil segera mengangguk. "Aku akan segera melaksanakan perintahmu, guru,"
Ia langsung melakukan persiapan. Wan Yu mengumpulkan tenaga dalam dengan jumlah banyak. Hawa murninya disalurkan ke seluruh tubuh.
Bersamaan dengan itu, Zhang Fei sedikit terkejut. Ternyata orang itu adalah murid dari Biksu Sembilan Nyawa!
'Pantas saja Nona Mei tidak sanggup melawan mereka berdua,' batinnya sedikit mengerti.
Zhang Fei mulai mengawasi gerak-gerik Wan Yu. Setiap gerakannya tidak pernah lepas dari pandangan mata yang tajam tersebut.
"Biar aku yang menghadapinya!" kata Yao Mei sudah siap melangkah ke depan.
"Tidak, Nona Mei," ucap Zhang Fei sambil memegangi pergelangan tangan gadis itu.
"Kenapa? Aku sendiri juga sanggup membunuhnya," jawab Yao Mei sambil menoleh sekilas ke arah Wan Yu.
"Aku tahu. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk itu. Tubuhmu sudah mengalami luka. Jadi kau harus tetap berada di sini,"
"Luka seperti ini, bagiku bukan apa-apa,"
Yao Mei adalah tipe gadis yang keras kepala. Jadi tidak perlu heran ketika dia tidak mau mendengar ucapan orang lain.
"Aku juga tahu, Nona Mei," Zhang Fei tetap berkata dengan lemah lembut. "Tapi, kau harus tetap diam di sini,"
"Kenapa?"
"Karena aku tidak mau kau mendapat luka lebih banyak lagi. Aku tidak ingin melihatmu menderita,"
Suaranya terdengar dalam dan tulus. Seperti juga tatapan matanya pada saat itu. Yao Mei yang mendengarnya pun seolah-olah belum percaya dengan sepasang telinganya.
Ia berdiri mematung sambil membalas tatapan mata Zhang Fei. Untuk beberapa saat, keduanya kembali saling pandang.
"Kau bisa mendengar apa yang aku ucapkan, bukan?" tanya Zhang Fei memastikan.
"Ya ... aku bisa mendengarnya,"
Zhang Fei tersenyum sebagai tanggapannya. Ia kemudian menarik tangan gadis itu sehingga betaa di sisinya kembali.
"Maka dari itu, tetaplah di sini,"
Setelah berkata demikian, dengan segera Zhang Fei maju tiga langkah ke depan. Jaraknya dengan lawan hanya terpaut sekitar dua tombak saja.
Kebetulan, pada saat itu, Wan Yu juga sudah selesai melakukan persiapannya. Sekarang, ia tinggal melancarkan serangan saja.
Dan serangan itupun pada akhirnya benar-benar datang!
Datang dengan cepat. Tepat. Dan diluar dugaan.
Wushh!!!
Setiap tebasan itu mengincar titik yang berbahaya. Kalau lawannya adalah pendekar kelas dua, mustahil dia bisa menahannya. Jika yang menjadi sasaran adalah adalah pendekar kelas satu, rasanya ia pun akan merasa kesulitan.
Sebab serangan itu sangat cepat. Jurus pedangnya juga bisa dibilang aneh. Sepertinya itu adalah jurus pedang dari beberapa perguruan yang sengaja digabungkan.
Namun Zhang Fei tidak termasuk ke dalam kelas itu. Ia bukan pendekar kelas dua. Bukan pula pendekar kelas satu.
Zhang Fei bahkan telah lebih daripada itu!
Meskipun bagi orang lain serangan tersebut sulit ditebak dan ditangkis. Tapi bagi dia adalah sebaliknya!
Wushh!!!
Ketua Dunia Persilatan ikut bergerak. Pedang Raja Dewa sudah berada dalam genggaman tangan. Tapi, pedang itu masih belum dicabut keluar dari sarungnya.
Trangg!!!
Hanya dengan gerakan sederhana saja, Zhang Fei telah berhasil menahan setiap serangan Wan Yu. Percikan bunga api membumbung tinggi memancar ke empat penjuru.
Pedang Wan Yu tertahan tepat di tengah-tengah bagian sarung pedang. Murid Biksu Sembilan Nyawa itu benar-benar terkejut.
Dia tidak percaya bahwa serangannya mampu dibaca dan dipatahkan dengan mudah.
Padahal selama ini, ia sudah banyak melatih dirinya sendiri. Terutama sekali terhadap sesuatu yang berhubungan dengan pedang.
Hasil latihannya itu memang mendapat bayaran yang setimpal. Ia jarang menemukan tandingan. Setiap orang yang bertarung dengannya, pasti akan tewas dalam waktu yang tidak lama.
Sebagai murid dari seorang Datuk Dunia Persilatan, ia memang tidak boleh membuat gurunya merasa malu. Maka dari itulah, Wan Yu terus berlatih setiap harinya.
Namun sayang sekali, semua latihan itu, semua kekuatan yang dimilikinya, ternyata masih belum mampu mengecoh pandangan mata Ketua Dunia Persilatan!
"Gerakanmu memang cepat. Tapi kau telah melakukan satu kesalahan," kata Zhang Fei dengan nada hambar.
"Kesalahan apa itu?"
"Kau terlalu berambisi!"
Wushh!!!
Zhang Fei mendorong pedangnya ke depan. Wan Yu terpental tiga langkah ke belakang.
"Kenapa kau tidak mencabut pedangmu?" tanyanya sebelum melanjutkan pertarungan kembali.
"Aku tidak perlu mencabutnya," jawab Zhang Fei dengan tenang.
"Kenapa?"
"Karena kalau aku mencabut pedang ini, maka nyawamu tidak akan bisa diselamatkan lagi!"
"Tidak masalah!" jawab Wan Yu dengan tegas. "Justru aku ingin melihat bagaimana kemampuan Ketua Dunia Persilatan dalam hal ilmu pedang,"
"Kau tetap tidak akan mampu melihatnya,"
"Minimal, aku bisa merasakannya!"
"Baiklah. Jika itu yang kau mau, aku akan mewujudkannya,"
Wushh!!!
Wan Yu rupanya sudah tidak sabar. Tepat setelah Zhang Fei berkata seperti itu, dia langsung kembali melancarkan serangan berikutnya.
Kali ini, ia mengeluarkan jurus pedang yang jauh lebih hebat dari sebelumnya. Pedang di tangan kanan tokoh sesat itu seolah-olah telah bertambah banyak.
Orang yang menjadi sasaran pasti akan merasa bingung karena sulit untuk membedakan mana pedang yang asli.
Sementara Zhang Fei, saat ini ia masih tetap berdiri dengan tenang. Ia seakan-akan tidak tahu bahwa ada orang yang telah siap mencabut nyawanya.
Jurus lawan sudah semakin dekat. Tinggal beberapa langkah lagi, Wan Yu bisa menjangkau Zhang Fei dengan pedangnya!