Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Bayangan Putih


Wajah nenek tua itu langsung memerah. Merah karena marah terhadap Zhang Yi. Baginya, ucapan anak muda itu sungguh membuat panas daun telinganya.


"Bocah sialan. Nyawa di ujung tanduk pun masih berani bicara kurang ajar," katanya gemas.


"Ini mulutku, bukan mulutmu. Jadi apa yang aku katakan, itu adalah hak diriku," ujarnya sambil tersenyum dengan wajah polos.


Nenek tua itu semakin muak. Tangan kanannya diangkat ke atas. Dia ingin memukul Zhang Fei. Untunglah dirinya segera sadar akan keadaan.


"Biarkan saja bocah itu. Lebih baik kita jaga diluar," kata rekannya.


Tiga Bandit Tua kemudian keluar dari dalam ruang tahanan. Sekarang yang ada di sana hanyalah Zhang Fei seorang.


Setelah kepergian tiga orang tua itu, Zhang Fei kembali duduk bersila di lantai. Ia berusaha untuk tetap bersikap tenang.


Dalam benaknya, ia sedang berpikir. Apakah dirinya harus memaksa keluar, atau tetap menunggu keajaiban yang datang?


Jika keluar, hal tersebut memang bisa dilakukan oleh Zhang Fei dengan mudah. Tapi yang jadi masalah, di sekitar ruang tahanan itu terdapat banyak sekali penjaga yang berkemampuan tinggi. Belum lagi ada Tiga Bandit Tua yang selalu berjaga setiap saat.


Jadi meskipun bisa keluar dari ruang tahanan, namun tidak ada kepastian ia bisa keluar hidup-hidup dari kediaman Hartawan Wang.


"Hemm, kalau aku memaksa, rasanya hal ini sama dengan bunuh diri," gumam anak muda itu.


Ia berpikir lagi, kalau dirinya harus diam menunggu keajaiban, kira-kira kapan keajaiban itu akan datang? Benarkah keajaiban akan menghampiri dirinya?


Lalu, bagaimana kalau keajaiban itu tidak kunjung datang? Bukankah hal tersebut juga sama dengan mati konyol?


Untuk beberapa waktu, Zhang Fei benar-benar berada dalam kebingungan. Sudah cukup lama dia mencari jalan keluar dari masalah yang menimpanya saat ini. Sayang sekali, jalan keluar itu tidak kunjung ditemukan.


"Hahh ..."


Zhang Fei menghela nafas panjang dan berat. Dia tidak tahu, apa yang harus dilakukannya sekarang.


Karena semakin dipikir semakin bingung, maka pada akhirnya pemuda itu lebih memilih untuk tidur.


###


Malam hari sudah tiba. Udara malam ini terasa dingin menusuk tulang.


Zhang Fei masih tetap duduk bersila. Sampai sekarang, belum ada sedikit pun makanan yang diberikan oleh Hartawan Wang untuk dirinya.


Dia mulai merasa lapar. Perutnya merengek minta di isi.


Walaupun dirinya adalah pendekar, tapi tetap saja, pendekar juga manusia. Dan selaku manusia, makan adalah salah satu kebutuhan yang utama.


"Bocah tengik, apakah kau lapar?" tanya kakek tua yang merupakan anggota dari Tiga Bandit Tua.


"Tidak," jawab Zhang Fei sambil menggelengkan kepala.


"Apakah kau haus?"


"Juga tidak,"


"Hemm, benarkah?"


Sambil bertanya demikian, kakek tua itu juga sedang minum arak. Ia bahkan minum tepat di hadapan muka Zhang Fei.


"Arak ini nikmat sekali," katanya lalu tertawa keras.


Melihat hal itu, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Zhang Fei kecuali hanya menelan ludah.


Ia mungkin bisa menahan lapar. Tapi pemuda itu tidak mungkin bisa menahan hasrat untuk minum arak.


Namun untuk sekarang, sepertinya dia harus benar-benar bisa tahan terhadap godaan.


"Percuma saja. Aku tidak suka arak," katanya sambil memalingkan muka.


"Hahaha ... benarkah? Aku tidak percaya bahwa di dunia ini ada pendekar yang tidak suka minum arak," katanya sambil kembali tertawa.


Sementara itu diluar ruang tahanan. Tepatnya di sekitar rumah kediaman Hartawan Wang. Keadaan di sana tampak masih ramai.


Para penjaga masih duduk di setiap pos yang ada seraya pesta minum arak dan berbincang-bincang dengan rekannya.


Suara gelak tawa terdengar begitu memekakkan telinga. Bau arak juga mulai terbawa oleh hembusan angin malam.


Namun pada saat-saat seperti itu, tiba-tiba dari kejauhan sana, muncul sebuah bayangan putih yang berkelebat dengan sangat cepat.


Bayangan putih tersebut datang dari sebelah barat. Begitu tiba di dekat tembok pembatas, bayangan itu langsung melompat. Hanya satu lompatan, tembok yang tingginya hampir dua tombak, bisa ia lewati dengan mudah.


Setelah berhasil melewati tembok pembatas yang tinggi, bayangan putih tadi kembali melesat dengan cepat.


Sayangnya, penjagaan di kediaman Hartawan Wang saat itu sangatlah ketat. Apalagi setelah sebelumnya ada kejadian penyusup yang berhasil masuk ke dalam.


Karena hal tersebut, akhirnya kehadiran bayangan putih tadi berhasil diketahui juga oleh para penjaga yang terdapat di sana.


"Penyusup ... penyusup," seorang penjaga tiba-tiba berteriak.


Teriakannya itu langsung mendatangkan rekan-rekannya dari beberapa penjuru.


Hanya sesaat saja, puluhan penjaga sudah mengurung bayangan putih yang ternyata adalah seorang kakek tua berusia sekitar delapan puluh tahunan.


"Siapa kau?" tanya seorang penjaga.


"Kau belum pantas untuk mengetahui siapa aku," jawab kakek tua berpakaian serba putih.


Tidak mau membuang waktu dengan percuma, kakek tua itu langsung mengambil langkah. Dia melepaskan pukulan jarak jauh ke empat penjuru mata angin secara bersamaan.


Pukulan itu sangat cepat. Kekuatan yang terkandung di dalamnya juga dahsyat.


Gulungan angin tajam datang menerpa para penjaga. Mereka yang tidak keburu menghindar, terkena serangan cukup telak.


Sekitar delapan orang terlempar ke belakang. Mereka merasakan tubuhnya sakit. Seolah-olah ada sesuatu yang telah menghantam dirinya.


Tidak berhenti sampai di situ saja, kakek tersebut kembali melancarkan serangan susulan. Kali ini, semua penjaga langsung dia incar secara bersamaan.


Gulungan angin muncul kembali. Hawa dingin terasa menusuk tulang. Karena saking cepat dan dahsyatnya serangan kedua itu, maka para penjaga yang mengepung si kakek tua pun tidak bisa mempertahankan dirinya lagi.


Puluhan orang terlempar ke berbagai penjuru. Keadaan mereka persis seperti dedaunan kering yang terbang karena hembusan angin kencang.


Setelah berhasil membereskan para penjaga, kakek tua itu kembali meneruskan langkahnya.


Hanya saja, sebelum langkah itu lebih jauh, ia kembali dihadang oleh orang-orangnya Hartawan Wang.


Jumlah penghadang yang sekarang tidak banyak. Hanya berjumlah lima orang saja.


Tetapi walaupun begitu, si kakek tua juga tahu bahwa lima orang ini bukanlah manusia biasa. Setidaknya, mereka adalah orang-orang persilatan yang mempunyai kemampuan cukup tinggi.


"Tua bangka, sepertinya kau bosan hidup," kata salah satu dari mereka.


"Yang harusnya bicara seperti itu adalah aku, bukan dirimu,"


Wushh!!!


Si kakek tua menyerang pertama kali. Telapak tangan kanannya diarahkan ke dada lawan. Kalau serangan itu berhasil mengenai sasaran dengan telak, dapat dipastikan orang tadi akan mengalami luka yang parah.


Bukan hal mustahil pula kalau nyawanya bisa melayang.


Tapi untungnya dia sudah menduga akan hal ini. Sehingga sebelum telapak tangan tiba di depan mata, ia sudah bergerak dengan cepat.


Empat rekannya tidak tinggal diam. Mereka pun langsung ikut turun tangan ke dalam pertarungan.


Pukulan dan tendangan datang silih berganti. Serangan mereka cepat dan akurat.


Sayangnya, si kakek tua serba putih bisa menghindari semua serangan dengan cukup mudah.